
Lu Yan sampai ke tempat lelang bersama Lao Mu, ia terdiam sejenak menatap orang-orang yang hadir.
Mereka dari kalangan atas dan juga...
Sombong seperti biasanya.
"Ayo masuk." Ucap Lao Mu.
Dengan wajah datarnya ia masuk kedalam tempat lelang, ada banyak orang yang menyapa namun tidak ia pedulikan sama sekali.
Lu Yan tau bahwa orang tua didepannya sangat-sangat tertutup dan tidak suka orang mendekatinya.
Ia akan berlaku dingin dan menatap orang lain dengan tatapan merendahkan.
Lu Yan dan Lao Mu duduk di barisan paling depan, dengan bersama Lao Mu tentu saja ia juga akan mendapat sedikit rasa hormat dari orang-orang itu.
"Tuan Zhang tidak biasanya kau akan datang."
Lu Yan melirik ke samping, tak jauh dari tempatnya ada Zhang Wei Yuan yang bersama sekretarisnya.
Apakah karena dia disini maka Wei Yuan itu juga datang?
Mengikuti dari rumahnya hingga masuk ke tempat lelang, Lu Yan belum tau maksud Wei Yuan sebenarnya.
Jika dikatakan menyukainya maka Lu Yan tak percaya, jelas dia punya rencana dibelakangnya.
"Lukisan mu akan di lelang terlebih dahulu karena kau juga akan ada urusan lain. Kau harus lihat se berharga apakah lukisanmu itu."
Lu Yan mengangguk, Lukisan miliknya yang telah dipasangi bingkai kini diperlihatkan.
"Lukisan ini merupakan Lukisan dari beberapa ratus tahun yang lalu dilukis Pelukis yang misterius dan tak bernama namun lukisan nya selalu diberi pujian oleh banyak bangsawan. Untuk harga awalnya adalah 1 juta yuan." Ucap pembawa acara.
Beberapa orang mengangkat nomornya dan mulai menaikkan harga.
"1 juta 100 ribu yuan."
"Hei terakhir kali lukisan pelukis ini terjual 10 juta yuan. Menambah 100 ribu itu payah."
"3 juta yuan."
"7 juta yuan."
Lu Yan tersenyum kecil dan menatap lukisannya yang berharga, lukisan ini dibuat saat ia melihat kondisi perang.
Saat itu ia belum menjadi jenderal dan hanya prajurit yang menjaga dibelakang.
Melihat darah yang tumpah membawa kenangan nya kembali.
Peperangan itu menyedihkan.
"15 juta yuan."
Lu Yan melirik Wei Yuan, dia juga ikut menawar.
"18 juta yuan." Lu Yan tersentak kaget melihat ke sampingnya, Lao Mu juga ingin lukisan itu.
"Tuan Mu sudah mengangkat tangannya, kita tidak bisa melangkah lebih jauh lagi." Ucap salah seorang peserta lelang.
__ADS_1
"20 juta yuan." Ucap Wei Yuan dengan santainya.
"25 juta yuan." tambah Lao Mu lagi.
"30 juta yuan." Wei Yuan menatap lukisan itu dengan penuh minat lalu melirik Lu Yan dengan tatapan nakal.
Tuan Mu hendak mengangkat tangannya lagi namun segera dihentikan Lu Yan, "Guru, aku punya lukisan seperti itu. Jika kau mau aku bisa memberikannya."
"Kau masih ada?." Ucap Lao Mu dengan alis mengerut.
Lu Yan mengangguk dan menambahkan, "Lukisan itu tidak kalah bagus dengan yang ini."
"30 juta yuan, adakah yang ingin menambah? Jika tidak maka Lukisan ini akan terjual. 1..."
"Tidak kalah bagus bukan?."
Lu Yan mengangguk.
"Tapi aku tidak bisa menerimanya secara cuma-cuma." Ucap Lao Mu.
"Baiklah kalau begitu akan ku jual padamu."
"Baiklah." Ucap Lao Mu yang sudah menyerah membeli lukisan didepan.
Lu Yan tersenyum tipis, sifat Lao Mu ini mengingatkannya pada kakek nya.
"Lu Yan."
"Yan'er."
"Anakku..."
Ia menatap Lao Mu dengan pandangan yang mulai mengabur dan berucap dengan susah payah, "Guru aku pergi dulu."
"Em, pergilah."
Lu Yan segera pergi, walau kepalanya terasa sakit dan matanya mengabur namun langkah nya tetap tegak.
Hingga ia keluar dari tempat lelang kakinya melemah dan tersungkur ke lantai yang dingin, ia memegang tiang didekatnya menahan tubuhnya tumbang. Matanya menutup sejenak, berusaha menahan rasa sakit itu.
Setelah rasa sakitnya agak mereda, ia kembali membuka mata. Namun samar-samar ia melihat Ayahnya yang sedang memegang tangannya dan juga Kakaknya sang Putra mahkota yang menatapnya dengan sendu.
"Lu Yan aku masih membutuhkanmu."
"Tolong bantu aku!."
Lu Yan kembali membuka mata namun rasa nya tubuhnya sangat lemah, tak bertenaga.
Ia seperti melewati sesuatu dan kelelahan karena hal itu, perlahan matanya kembali tertutup dan tubuhnya mulai meluruh.
..._&_&_...
"Wei Yuan." panggil Lu Yan yang sudah sadar dari tidur singkatnya.
Ia tidur di paha Wei Yuan namun tidak ada rasa canggung sama sekali, beberapa detik ia bahkan masih di posisi ini sambil menatap Wei Yuan.
"Ada apa? Kau terpesona dengan ketampanan ku?".
__ADS_1
Lu Yan menggeleng, ia lalu bangun dan duduk di samping Wei Yuan dengan kepala yang bersandar di jendela.
"Kau sakit?."
Lu Yan mengangguk pelan, "Sepertinya, tapi ini akan cepat sembuh."
"Kita akan kemana?." Tanya Lu Yan yang menyadari bahwa mobil ini melewati jalan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Ke rumahku." Jawab Wei Yuan.
"Bisakah kau mengantarkan ku ke tempat pelatihan Guru Lin?." Minta Lu Yan.
"Kau masih sakit."
"Ini hanya sakit kepala biasa." Balas Lu Yan.
"Baiklah." Ucap Wei Yuan, ia menepuk pundak supir didepannya, " Ke Pusat pelatihan Guru Lin."
Mobil berhenti sejenak, lalu berbelok.
Lu Yan menatap Wei Yuan dengan senyum tipis, "Terima kasih."
Wei Yuan tersenyum miring, sedikit tak menyangka bahwa gadis di depannya akan berterima kasih.
"Ku kira kau akan marah."
"Kenapa harus marah? Kau menolongku ya walau kau pasti ada maksud tertentu." Ucap Lu Yan.
"Maksud tertentu apa? Aku hanya menyukaimu." Bohong Wei Yuan, ya jika dia bukan berasal dari keluarga Qin bahkan dia matipun Wei Yuan tidak akan peduli.
"Menyukai?." Ulang Lu Yan dan menatap mata Wei Yuan dengan serius kemudian ia mendengus kesal, "Kau berbohong."
"Lagipula pria seperti mu tidak akan pernah menyukaiku."
Wei Yuan menaikkan alisnya, "Kenapa?."
"Aku terlalu boros, suka berbelanja dan menghabiskan uang. Menurutmu berapa banyak pria yang akan menyukai wanita sepertiku?." Ucap Lu Yan memberikan alasan, sebenarnya ia juga tidak boros.
Bahkan di kehidupan sebelumnya barang dan perhiasan yang ia punya semua adalah pemberian.
Uang yang ia dapat pun kebanyakan ia berikan kepada korban perang.
"Xiao Yan boros? Bagiku tidak apa-apa karena aku sangat kaya. Coba saja habiskan uangku jika Xiao Yan mau." Balas Wei Yuan.
"Aku sombong."
"Bukankah aku juga sombong?." Ucap Wei Yuan seperti menantang Lu Yan memberikan alasan yang masuk akal.
"Aku terlalu cantik."
"Aku juga sangat tampan, kita serasi."
"Aku bodoh."
"Tidak mungkin, kau bahkan bisa masuk ke pusat pelatihan Guru Lin." Ucap Wei Yuan.
Lu Yan terdiam sejenak, ia berpikir alasan apalagi yang harus ia buat.
__ADS_1
"Aku kasar."
"Aku juga." Ucap Wei Yuan kemudian melanjutkan, "Xiao Yan sepertinya kita sangat serasi."