
Lu Yan menatap handphone nya dan tidak peduli akan tatapan sekitar, ia memikirkan perkataan Ouyang Hong tadi tentang berbisnis.
Ia tidak bisa terus mendapatkan uang dari menjual perhiasan nya, dan tidak bisa menunggu begitu saja.
Ia harus keluar kota untuk mengumpulkan harta, tapi ia juga tidak bisa melakukannya sekarang.
"Ouh Bukankah ini ponsel keluaran terbaru? Lu Yan apa kau dibelikan oleh Ouyang Hong?." Tanya Bing Yi.
"Em." Lu Yan mengangguk singkat dan berlaku tak acuh pada Bing Yi.
"Setelah diketahui bahwa dirinya bodoh, jadi dia menggunakan kecantikannya untuk mencari uang. Lu Yan akhir nya kau sadar bahwa Tubuhmu itu bernilai." Ucap Jia Wei dengan nada merendahkan.
Lu Yan yang mendengar hal itu mematikan ponselnya dan menatap mereka dengan senyum miring, "Bodoh? Kurasa kau yang bodoh, peringkat kalian bahkan lebih rendah dariku sehingga kalian menuduhku-" Lu Yan menatap penampilan ketiga gadis yang membully nya, "Penampilan ku lebih cantik dari kalian dan juga kalian hanya tampak seperti pelayan. Tentu saja Ouyang Hong tidak akan menyukai kalian."
"Kau-" Bing Yi menunjuk Lu Yan dengan geram, ia mengangkat tangannya ingin menampar Lu Yan, namun seorang guru datang dan membuat Bing Yi mengurungkan niatnya itu dengan wajah kesal.
Lu Yan duduk dan mendengarkan dengan patuh, namun lama kelamaan ia merasa sangat bosan. Ia seperti mendengar sebuah dongeng saja hingga membuat mulutnya menguap dan ingin tidur.
Baru saja ia akan meletakkan kepalanya di atas meja, tiba-tiba Guru nya memanggilnya.
"Lu Yan, kerjakan soal ini."
Lu Yan mengangkat wajahnya dan menatap papan tulis, ia ingat Lu Yan asli pernah mempelajari ini sebelumnya hanya saja dia malas mengerjakannya.
"Lu Yan." Panggil Guru lagi.
"Aku tidak tau." Jawab Lu Yan.
"Lu Yan..." Panggil gurunya dengan penuh peringatan, namun dibalas dengan tatapan datar dari Lu Yan, "Kamu berdiri didepan kelas."
Lu Yan berdecak kesal, ia maju dan mengambil kapur lalu menatap papan tulis. Setelah menatapnya ia mulai menuliskan jawaban nya.
"Kamu benar." Ucap Gurunya ketika Lu Yan selesai menuliskan jawaban.
"Kenapa bilang tidak tau?." Tanya gurunya lagi.
"Tadi aku belum menghitungnya." Ucap Lu Yan kemudian kembali duduk ditempatnya.
__ADS_1
Pelajaran pertama berakhir, Lu Yan kembali membuka Ponsel nya. Ia menggeleng pelan melihat pesan Ouyang Hong yang memintanya bolos sekolah.
"Lu Yan, kau dipanggil kepala sekolah."
Lu Yan mengangkat kepalanya, ia beranjak berdiri dan menuju kantor kepala sekolah.
Di sana sudah ada beberapa murid yang sebelumnya juga ikut Kompetisi bersamanya.
"Lu Yan, kau datang." Ucap kepala sekolah lalu mempersilahkannya duduk.
"Mungkin kalian sudah mendengar kabarnya, sekali lagi Selamat untuk kalian karena bisa mengikuti Kompetisi ketingkat berikutnya." Ucap Kepala Sekolah dan membuat Lu Yan bingung.
"Maksudnya?." Tanya Lu Yan pelan.
Kepala sekolah menatap Lu Yan dengan senyum kecil, "Sebelumnya sekolah telah meragukan mu dan akan mengancam akan mencabut beasiswamu, kami minta maaf sebelumnya."
"Juga... Lu Yan kau tidak datang ke sekolah hampir satu minggu dan membuat kami berpikir kau akan keluar, sejujurnya bagi sekolah itu hal yang bagus hanya saja mengingat kemampuanmu dan mendengar apa yang terjadi kepadamu, kami minta maaf sekali lagi. Untuk selanjutnya kami berharap kau bisa membawa medali untuk sekolah."
Dijelaskan panjang lebar seperti itu Lu Yan tetap tidak paham. Bukan dia bodoh, hanya saja bagian akhir kalimatnya dan tentang kompetisi itu, Lu Yan sama sekali tidak ingin memahaminya.
"Untuk Kompetisi selanjutnya kalian dapat mengikuti pelajaran yang akan dipimpin Guru Lin. Mulai besok setelah istirahat kalian akan ke sana untuk mendapat bimbingan belajar dari para Guru. Baiklah, karena aku sudah mengatakan semuanya, kalian bisa kembali ke kelas kalian masing-masing."
"Yan Jun, apa maksud perkataannya? Medali apa? Memang nya kompetisi kemarin kita sudah menang?." Tanya Lu Yan.
"Lu Yan kau tidak masuk grup sekolah?." Tanya Yan Jun.
Lu Yan terdiam sejenak, dulu dia tidak punya ponsel sama sekali jadi bagaimana dia bisa masuk grup sekolah?.
"Kau bisa memasukkanku?." Tanya Lu Yan.
"Tentu saja." Ucap Yan Jun kemudian meminta ponsel Lu Yan.
Lu Yan memberikan nya dan melihat apa yang ia lakukan, semua sosial media nya dibuat oleh Ouyang Hong dan dia juga tidak terlalu peduli tentang hal itu.
"Kau belum mempunyai banyak teman?." Tanya Yan Jun kemudian menambahkan dirinya, "Kau bisa mengirim pesan padaku jika kau membutuhkan ku."
Lu Yan mengambil kembali ponsel nya dengan cepat, "Itu tidak akan terjadi."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong ponselmu itu apa Ouyang Hong yang membelikannya?."
Lu Yan mengangkat alisnya, dia tau tentang Ouyang Hong?.
"Gosip sudah menyebar ke seluruh sekolah, katanya kau pacar Ouyang Hong."
"Dia membelikannya tapi tetap saja menggunakan uangku." Ucap Lu Yan kemudian ia menunjuk Yan Jun dengan penuh peringatan, "Dan satu lagi dia bukan pacarku dan tidak akan pernah menjadi pacarku."
"Baiklah baiklah, aku tidak akan menyebutkannya lagi. Bagaimana jika kita ke kantin?."
_&_&_
"Kau ingin makan apa?." Tanya Yan Jun sambil mengeluarkan dompetnya.
Lu Yan menatap menu dan jajanan yang ada, Qin Lu Yan asli tidak pernah makan di kantin jadi dia tidak tau apa makanan yang enak.
"Pesankan saja makanan yang paling mahal." Ucap Lu Yan.
"Lu Yan meski kau sudah menjadi pacar-"
Lu Yan menatap tajam Yan Jun dan memotong ucapannya, "Sudah kukatakan dia bukan pacarku. Sudahlah pesankan saja, aku akan mencari tempat duduk."
Lu Yan duduk disalah satu tempat yang kosong sambil menunggu Yan Jun, ia menatap sekeliling nya. Tempat ini begitu bagus, namun ini bukan dunianya, dia juga tidak bisa terlalu larut didalamnya.
Entah bagaimana kondisi nya di kehidupan sebelumnya, apakah ia mati? Atau dalam keadaan koma? Dia sendiri tidak tau.
"Lu Yan, apa kau senang sekarang?."
Lu Yan mengangkat wajahnya menatap gadis yang tampak marah. Dia Bai Qian teman sekelasnya.
"Apa maksudmu?."
"Hanya karena kau memiliki pacar kaya kau bisa bertindak seenaknya? Harusnya kau sudah dikeluarkan dan tidak diperbolehkan ikut kompetisi itu lagi. Kau seharusnya tidak memiliki beasiswa itu lagi." Bai Qian berucap dengan suara keras membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Gara-gara kau aku-" Mata Bai Qian mulai berair, ia mengelap air matanya dengan cepat dan menunjuk Lu Yan, "Jika kau mendapatkan uang seharusnya kau bisa membayar uang sekolah mu sendiri kan? Tidak perlu beasiswa itu lagi kan?."
"Em, tentu saja. Aku tidak perlu beasiswa itu lagi." Ucap Lu Yan, sedari awal ia memang berniat untuk membayar biaya sekolahnya.
__ADS_1
"Wuah apa sekarang kau menjadi kaya Lu Yan?."