
Qin Lu Yan memandangi sekitar restoran, dan menjual perhiasan nya hari ini dan menjadi bersemangat.
Sebelumnya dia ingin membeli perhiasan modern dan juga banyak hal lainnya, hanya saja dia tidak bisa terlalu boros ketika tidak ada uang yang masuk kedalam kantongnya.
Qin Lu Yan menundukkan kepalanya memberi hormat, ketika mendapati Tuan tua bersama istrinya yang kini sedang menatapnya.
Lu Yan segera menghampiri mereka dan tersenyum, "Maaf, apa sudah menunggu lama?."
"Tidak, kamu baru saja sampai." Balas Tuan Tua itu.
"Nona, perhiasan apa yang kau bawa?." Tanya istri tuan tua itu tak sabaran.
Lu Yan tersenyum kemudian ia mengeluarkan kotak perhiasan, didalamnya terdapat sebuah cincin dengan batu berlian pink yang menghiasinya, "Maaf jika ini mungkin tidak sesuai dengan yang kalian inginkan, tapi berlian ini juga termasuk langka."
"Berlian ini memang langka." Ucap Tuan tua itu menyetujui ucapan Lu Yan, "Lalu Nona kau mau menjualnya dengan harga berapa?."
"Aku sudah mencari tau, bahwa setidaknya berlian ini seharga 20 juta atau 30 juta Yuan, ditambah bahan dan pembuatan cincin tersebut mungkin aku bisa meminta 30 juta Yuan?." Ucap Qin Lu Yan.
"Baik, 30 juta Yuan." Ucap Tua tua itu menyetujui.
Melihat bahwa Tuan Tua didepannya, dengan cepat setuju, Lu Yan tidak bisa tidak mengagumi nya.
"Tuan tua, kau pasti sangat menyayangi cucumu." Ucap Lu Yan dengan nada iri, sebelumnya Ayah kaisar yaitu Kakek nya juga sangat menyayanginya hanya saja orang baik selalu cepat pergi jadi saat remaja ia sudah tidak bisa merasakan kasih sayang kakek nya lagi.
Tuan Tua dan Nyonya tua itu menunduk sambil menghela nafas pelan, "Selama belasan tahun tidak dapat menyayangi nya tentu saja setelah kembali harus menyayangi nya sepenuh hati. Walau tidak bisa menebus waktu belasan tahun itu, setidaknya kami akan melakukan apapun untuknya sekarang."
Qin Lu Yan menaikkan alisnya, jadi baru akan bertemu cucunya?.
Tapi tetap saja Cucu itu begitu sangat beruntung.
"Ouh setelah lama berbicara aku tidak tau nama Tuan dan Nyonya." Ucap Qin Lu Yan.
"Ah kau bisa memanggilku Kakek Xue dan istriku kau bisa memanggilnya Nenek Ma. Setidaknya kita sudah bertemu beberapa kali, tidak apa bukan mengakrabkan diri." Ucap Lao Xue.
"Baik, Kakek Xue? Nenek..." Lu Yan berucap dengan canggung.
"Ah aku bisa memberikanmu cek sekarang." Ucap Lao Xue, ia menulis disebuah kertas dengan cepat lalu memberikannya pada Qin Lu Yan.
Qin Lu Yan bingung sejenak, kemudian ia mengangguk mengerti.
"Ini kartu namaku, jika ada masalah saat mencairkan uang nya kau bisa menunjukkan kartu namaku."
"Baik..baik."
_&_&_
"Nona, hari ini kita akan kemana?." Tanya A'ming yang mulai mengikutinya dari depan kamar.
Lu Yan tak menjawab, ia malah berdiam diri ditengah-tengah lalu lalang orang yang keluar masuk hotel.
Benar juga, Bagaimana dia bisa pergi? Dia lupa bahwa Ouyang Hong hari ini memiliki acara keluarga.
__ADS_1
Lu Yan berbalik menatap A'ming, "Kau bisa menyetir?."
"Tentu Nona."
"Kalau begitu minta mobil pada Yi Feng, aku akan menunggumu disini." Perintah Lu Yan.
A'ming mengangkat alisnya terdiam sejenak.
"Pergi sekarang, kau tenang saja aku tidak akan kabur."
"Baik Nona."
......
A'ming mengikuti Lu Yan dengan bingung, mereka memasuki Gang yang dipenuhi oleh orang-orang sepertinya.
Ini adalah jalan menuju tempat pertandingan.
A'ming menatap Lu Yan didepannya, ia memakai wig untuk menyamar.
"Nona, Apa kau akan bertemu Ouyang Hong disini?." Tanya A'ming menebak.
Kemungkinan nya hanya itu, Yi Feng tidak memperbolehkannya bertemu Ouyang Hong jadi dia akan diam-diam bertemu dengannya di tempat dimana Ouyang Hong sering berada.
"Tidak." Lu Yan menjawab dengan santai, ia lalu masuk ke dalam toko sepi itu dan menunjukkan kartu pengenalnya pada Penjaga.
Ia menatap arena pertandingan dan juga menatap beberapa orang yang tampaknya peserta di tempat ini.
Lu Yan menatap A'ming yang berada dibelakangnya dengan tangan memegang dagu.
A'ming fisiknya juga lumayan, namun dia tidak tampak seperti amatiran.
Lu Yan menatap kedua tangan A'ming, beberapa jarinya tampak bengkok dan dipenuhi oleh bekas luka.
Ia juga menatap wajahnya lalu keseluruhan tubuhnya.
"Nona Apa yang kau lihat?." Ucap A'ming sedikit malu.
"A'ming apa kau pernah menjadi petinju?." Tanya Lu Yan.
A'ming menaikkan alisnya dan mengangguk dengan ragu, "Sebelumnya aku petinju profesional, namun karena sesuatu aku tidak lagi mengikuti kejuaraan itu lagi."
"Kenapa?."
A'ming tak menjawab, ia kini malah bertanya pada Lu Yan, "Nona apa kau ingin aku mengikuti pertandingan ini?."
"Jika iya, maka aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah ikut dan kalah." Ucap A'ming dengan suara pelan diakhir. Tampak sedikit malu akan hasilnya.
Lu Yan tersenyum miring, "Aku tau kau kalah."
"Ha?."
__ADS_1
"A'ming, kau masih belum mengenalku?." Ucap Lu Yan lalu berbalik menatap ke arena tinju.
A'ming menatap postur tubuh Lu Yan, ia kemudian membelalakkan matanya , "LY? L Y? Lu Yan?."
"Nona tidak mungkin kau-." A'ming menghentikan ucapannya, ia melihat senyum Lu Yan dan mengerti bahwa itu benar.
Dia memang LY.
Tapi bagaimana mungkin? Informasi yang ia terima dari bosnya mengatakan bahwa Lu Yan adalah orang yang sering dirundung.
"A'ming, bagaimana menurutmu tentang dia?." Ucap Lu Yan menunjuk Petinju di arena dengan dagunya.
A'ming menelan saliva nya, kemudian ia menatap ke arena, "Hong Li? Ah sebelumnya dia petinju profesional namun ia dilarang bertinju lagi setelah tidak sengaja membunuh lawan nya."
"Em?." Lu Yan memiringkan kepalanya dan menatap Hong Li, "Dia tidak sekejam itu untuk membunuh lawannya."
"Wasit kau bisa langsung menyuruh semua peserta hari ini untuk melawanku. Satu orang terlalu lemah."
Hong Li menatap lawannya dengan kecewa, sedari tadi ia bermain-main dengan lawannya.
Ia bagaikan orang dewasa yang bermain dengan seorang anak kecil. Dan itulah mengapa Lu Yan mengatakan bahwa dia tidak sekejam itu.
Peserta yang mengikuti pertandingan hari itu menggertakkan giginya melihat kesombongan Hong Li.
Satu persatu mereka maju ke arena dan bahkan wasit pun menyetujuinya.
Tidak ada aturan pasti disini.
Mereka menatap Hong Li dengan ganas, namun Hong Li membalasnya dengan senyuman.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah mereka saling bergantian menyerang Hong Li, namun serangan itu dapat dengan mudah dipatahkan olehnya.
Dia lumayan hebat, Puji Qin Lu Yan.
Tak dapat mengalahkan nya dengan berduel, mereka kini menyerang Hong Li secara bersamaan.
Namun pada akhirnya serangan itu tak berarti apa-apa, mereka semua dikalahkan dengan telak olehnya.
"Mereka semua tidak ada apa-apanya." Ucap Hong Li kemudian ia melanjutkan dengan senyum lebar, "Pertandingan selesai."
"Tidak." Lu Yan berjalan menuju Arena, dan mendongakkan kepalanya menatap Hong Li yang lebih tinggi dari nya, "Bolehkah aku mencoba kekuatanmu?."
Hong Li mengangkat alisnya dan menunduk, "Anak kecil kau seharusnya bermain bersama teman-teman mu, jangan berada disini."
"Hei bukankah itu Dewa Ly, dia disini lagi?."
"Wuah aku penasaran bagaimana jika mereka berdua bertanding."
"Heh Ly itu pasti kalah, lihat saja perbandingan tubuh mereka. Tidak perlu bertarung lagi."
catatan :
__ADS_1
1 yuan \= -+ Rp2.222