Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan

Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan
(Bukan) Murid yang baik


__ADS_3

"QIN LU YAN."


Lu Yan tersentak kaget, beberapa hari ini kenapa orang suka sekali mengagetkannya saat sedang tidur.


Beruntung ia punya jantung yang kuat.


"Ada apa Guru?." Tanya Lu Yan tak mengerti.


"Ada apa? Kau tanya ada apa? Bukannya mendengarkan kau malah tidur?." Ucap Guru itu.


Lu Yan menggaruk rambut yang tak gatal dan menunduk, "Maafkan aku."


"Kalian bisa istirahat sekarang." Ucap Guru Peng pada murid lainnya lalu menatap Lu Yan, "Kau ikut aku kekantor."


.....


Lu Yan menatap dua guru dihadapannya sambil menunduk. Tidak datang selama 2 hari, lalu datang di hari ketiga dengan terlambat dan bahkan setelah itu ia tertidur saat pelajaran.


Ckckck Lu Yan memang bukan murid yang baik..


"Katakan kenapa sebelumnya tidak datang?." Tanya Guru Lin, Kepala pelatihan Olimpiade.


"Aku punya urusan penting." Jawab Lu Yan singkat.


"Sepenting apa? Apakah sangat penting sehingga kau tidak menganggap serius kompetisi nanti? Apakah bagimu Pelatihan ini lelucon? Atau apakah kau jenius sehingga menurutmu pelatihan ini tidak penting?." Tanya Guru Lin secara bertubi-bertubi.


Jika dikatakan pelatihan itu baginya memang tidak terlalu penting, secara alami dia bodoh dalam memahami sesuatu dan butuh waktu lebih lama dari yang lainnya.


Bukankah Qin Lu Yan yang asli juga begitu? Dia menyiapkan diri dalam kompetisi sebelumnya saja membutuhkan waktu satu tahun lebih.


"Maafkan aku."


"Jangan minta maaf, katakan alasannya." Ucap Guru Lin.


"Aku bekerja jadi beberapa hari ini aku menyiapkan itu, bahkan aku baru saja pulang dari perjalanan yang lumayan jauh jadi aku kelelahan dan tidur. Maafkan aku." Ucap Qin Lu Yan lagi.


Guru Lin memperbaiki kacamata nya dan menghela nafas pelan, "Kau bekerja?."


Lu Yan mengangguk.


Guru Lin terdiam sejenak, "Apa kau tidak punya orang tua? Dari biodata yang kami terima kau punya kedua orang tua."


"Aku sudah lama pergi dari rumah, lagi pula mereka bukan orang tua kandungku." Jawab Lu Yan.


"Guru, jika aku tidak bekerja bagaimana aku bisa mendapatkan makanan?." Ucap Lu Yan dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Jika kau tidak boros, maka bukankah seumur hidupmu tidak perlu bekerja."


Lu Yan berbalik menatap seorang pria tua masuk, ia mengerutkan alis nya dan sedikit menunduk.


"Ternyata Kau." Lao Xue tersenyum ngelihat Qin Lu Yan lalu menggeleng pelan, "Kita bertemu lagi."


"Benar." Ucap Qin Lu Yan.


"Profesor Xue ada apa tiba-tiba disini?." Tanya Guru Lin.


"Ah aku mendengar ada murid yang bernama Qin Lu Yan di sini jadi aku datang." Ucap Lao Xue.


Lu Yan yang mendengar nama nya disebut merasa bingung, ia belum memberitahukan namanya pada Lao Xue ini bukan?.


"Ah tapi kenapa kau berbohong." Ucap Lao Xue.


"Kakek Xue, aku tidak berbohong. Kau ingat bukan perhiasan yang kau beli dariku, dari uang itu aku membuka usaha agar tidak perlu lagi menjual barang berharga ku." Ucap Qin Lu Yan memberikan alasan.


Lao Xue menatap Lu Yan dengan serius kemudian ia menoleh pada Guru Lin, "Kalian bisa pergi terlebih dahulu, aku akan berbicara pada anak ini."


"Baik." Guru Lin dan Guru Peng keluar menyisakan Lu Yan dan Lao Zhang.


"Duduklah." Ucap Profesor Xue.


"Baik."


"Tidak perlu Kakek Xue, aku sudah menjualnya lagipula aku tidak terlalu suka cincin itu." Ucap Lu Yan menolaknya dengan cepat, dia sudah memakai uangnya jika dikembalikan maka bukankah ia harus mencari uang ganti.


Kakek Xue mengangguk paham kemudian menatap gelang dipergelangan tangan Qin Lu Yan dengan mata berbinar, "Gelang ini darimana kau membelinya?."


"Ini peninggalan keluarga ku." Jawab Qin Lu Yan.


Lao Xue menghela nafas kecewa, ia kira gelang seperti itu ada yang menjualnya.


"Nona perhiasan mu sangat antik dan langka. Ouh benar, cincin itu setelah kutanyakan pada temanku setidaknya seharga 30 juta yuan. Apakah tidak apa menjualnya 20 juta yuan?."


"Benarkah?." Ucap Lu Yan, dia tidak tau menahu harga cincin itu jadi dia menjualnya secara sembarangan dengan informasi yang sedikit.


Tapi menurutnya 20 juta yuan itu sudah termasuk mahal, "Tidak apa Kakek Xue, lagipula aku sudah menjualnya."


"Satu lagi, kau benar benar tidak menganggap serius pelatihan ini? Jika iya maka kau bisa mengurus usahamu saja." Ucap Kakek Xue lalu melanjutkan, "Guru Lin itu tidak suka pada murid yang tidak serius dalam belajar."


"Kakek Xue aku ingin belajar, hanya saja seperti yang kukatakan sebelumnya. Tapi aku janji aku akan belajar mulai serius sekarang." Ucap Lu Yan berjanji.


Entah kenapa ia merasa dejavu, bukankah saat kecil ia pernah berjanji juga pada kakek nya untuk belajar dengan baik dengan imbalan kakek nya harus sembuh.

__ADS_1


Tapi siapa sangka saat ia sedang belajar di tempat yang jauh, kakeknya meninggal tanpa ia disampingnya.


Dan karena hal ini juga Lu jadi tidak ingin belajar apapun.


"Bagus, aku akan membicarakan nya pada Guru Lin. Kau bisa langsung pergi." Ucap Lao Xue.


"Baik. Tapi Kakek Xue apa kau tau bagaimana aku bisa menjual barang-barang antik seperti gelang ini?." Tanya Lu Yan, setidaknya walau saat ini dia tidak akan menjualnya namun siapa yang tau apa yang akan terjadi di masa depan.


"Kau ingin menjual ini?."


Lu Yan menggeleng , "Aku hanya bertanya saja."


"Aku memiliki teman yang paham dengan barang-barang antik." Ucap Lao Xue, ia lalu menulis sebuah alamat dan juga nomor telefon lalu menyerahkan nya pada Lu Yan, "Dia susah di hubungi, jika kau ingin menemuinya kau bisa langsung kerumahnya dan katakan bahwa kau disuruh Kakek Xue."


"Baik, terima kasih Kakek Xue.  Lu Yan beranjak berdiri dan keluar dari Ruang Guru, sebelum kembali ke kelas nya ia memberi hormat pada Guru Lin dan Guru Peng.


Walau Lu Yan tampak semena-mena dan tak sopan namun dihadapan orang tua yang tidak punya masalah dengannya Lu Yan akan tetap hormat.


Karena bukankah beradab dulu berilmu?


Walau pun terkadang ia sedikit tak sopan tapi itu tidak pernah di luar batas. Setidaknya ia selalu berusaha mengontrol sikapnya.


.....


Guru Lin dan Guru Peng yang melihat Lu Yan keluar segera masuk.


"Profesor Xue kau mengenal anak itu?."


"Kami hanya pernah mengenal beberapa kali." Jawab Lao Xue kemudian melanjutkan, "Biarkan dia belajar, ouh dan juga dimana Qin Lu Yan? Aku ingin bertemu dengannya."


Guru Lin dan Guru Peng mengerutkan alis dan saling memandang.


"Profesor Xue, yang tadi itu Qin Lu Yan." Ucap Guru Lin.


"Apa?."


..._&_&_...


"Tuan apa rencana nya masih dilanjutkan?." Tanya Sekretaris Gao.


"Apa maksudmu?." Tanya Balik Wei Yuan.


"Tuan Zhang ada di kota C dan juga sepertinya dia ingin bertemu Qin Lu Yan." Jawab Sekretaris Gao.


"Keluarga Qin menipu keluarga Zhang dan kakek masih mengharapkan perjodohan?." Ucap Wei Yuan tak percaya namun kemudian ia tersenyum miring, "Tapi anak itu juga cukup menarik."

__ADS_1


__ADS_2