Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan

Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan
Rumah baru


__ADS_3

Lu Yan menghitung mutiara nya dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum.


Dari semua mutiara yang ia punya ia mengambil sekitar 5 butir mutiara yang berbeda. Itu adalah mutiara yang menurutnya langka.


Apalagi Mutiara hitam ini yang dibawakan oleh Paman nya yang baru pulang setelah 15 tahun lamanya, itu adalah kesayangannya.


Trrttt...drrttt


Lu Yan melirik ponselnya dan segera mengangkat panggilan itu dengan hormat, "Halo Guru."


"Pria tua itu setuju menukar rumahnya dengan barang antik itu. Tapi kau juga harus membayar beberapa biaya tambahan." Ucap Lao Mu diseberang telfon.


"Aku setuju, namun guru sudah mengatakan bahwa aku akan menyicilnya kan?." Ucap Lu Yan.


" Aku sudah mengatakannya. Tapi Lu Yan aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikiranmu. Rumah itu memang agak murah tapi benar-benar pembawa sial. Kenapa kau masih mau membelinya?."


Lu Yan tersenyum penuh rencana, "Kakek kau masih percaya itu? Walaupun itu benar aku juga orang yang penuh keberuntungan. Kalau begitu katakan padanya nanti aku akan segera ke sana."


Lao Mu menutup telfonnya, Lu Yan semakin bersemangat. Rencananya benar-benar berjalan dengan mulus.


"Aih tapi tetap saja sedikit membosankan jika terus menang."


...


"Nona, rumah siapa ini?." Mulut A'ming menganga lebar, bagaimana tidak? Tempat itu sangat-sangat luas dengan sebuah Rumah Induk yang besar dan juga beberapa paviliun yang mengelilingi Rumah induk itu.


Lu Yan tak acuh pada A'ming, ia turun dari mobil dan menatap rumah didepannya dengan tangan menyilang.


"Bukankah sangat bagus?."


A'ming mengangguk, "Tapi terlihat kuno dan juga suasana disini agak menyeramkan."


Lu Yan membuka pagar rumah itu dan tersenyum lebar, seorang pria tua yang berada didalam menghampirinya dengan wajah datar.


"Nona yang akan menempati rumah ini?."


Lu Yan mengangguk, "Seharusnya Kakek Wang sudah mengatakannya kan?."


"Tapi Nona, apa nona yakin akan tinggal disini?."


A'ming yang mendengar hal itu menatap Lu Yan kaget, "Nona, kau membeli rumah ini?."

__ADS_1


"Tidak, aku hanya menukar rumah ini dengan sebuah barang."


Mendengar jawaban Lu Yan, A'ming menatap sekelilingnya, "Barang apa yang bisa ditukar dengan rumah besar ini?."


"Barang yang penuh keberuntungan ditukar dengan rumah yang penuh kesialan, menurutmu sebanding?."


"Nona tau bahwa rumah ini memiliki kutukan, tapi Nona tetap ingin tinggal disini?." Tanya Pria tua itu tak percaya.


Lu Yan tersenyum miring, "Siapa yang berani mengutukku."


"Nona jangan meremehkan, jika kau terkena kutukan itu maka kau mungkin tidak akan bisa keluar dari tempat ini lagi."


"Berapa banyak yang sudah mati?."


Pria tua itu mengangkat alisnya, Lu Yan sama sekali tidak takut tapi apa? Orang-orang yang tinggal sebelumnya juga sombong sepertinya, tapi pada akhirnya mati disini.


"Mungkin puluhan." Ucap Pria itu dan melanjutkan, "Sebelumnya 1 keluarga meninggal bunuh diri, ada juga yang tiba-tiba jatuh sakit setelah tinggal disini, lalu ada juga yang menjadi korban pembunuhan. Bahkan yang sempat tinggal disini menjadi tamu juga tak luput dari hal itu, mereka sakit dan tak lama kemudian meninggal."


"Wuah bahkan setelah mati mereka menyeret banyak orang." Lu Yan berucap tak percaya, matanya tertuju ke sebuah kolam tak terpakai.


"Nona?." Pak tua itu menatap Lu Yan penasaran, apa maksud ucapannya? Mereka?


"Ada berapa ruangan disini?."


Pak tua menunjukkan ketempat lainnya lagi, "Ada beberapa paviliun, sebelumnya ada tembok yang membatasi nya tapi kemudian tembok itu dihancurkan tanpa alasan."


Lu Yan mengangguk mengerti, "Halaman nya sangat luas, dan juga bukankah masih ada banyak ruangan?."


Pria tua mengangguk, "Ada dua gudang yang berisi barang-barang penghuni sebelumnya tidak ada yang berani mengambilnya karena pernah ada seorang pencuri yang ditemukan mati saat akan mengambil barang-barangnya."


Lu Yan mengangguk mengerti, "A'ming bawa barang-barang ku ke Kamar utama."


A'ming segera pergi keluar, Pak tua yang penasaran kini bertanya pada Lu Yan, "Nona tau sesuatu?."


Lu Yan tersenyum, "Mm aku memang tau sesuatu, tapi Pak tua sebaiknya jangan mengetahuinya. Karena jika kau tau, kau mungkin akan terkena kutukan itu."


"Kenapa Nona bisa mengatakan hal itu dengan percaya diri?."


"Pak tua selalu percaya diri menganggap bahwa dirimu itu spesial hingga kutukan itu tak menyentuhmu. Kau hanya beruntung, itu saja." jawab Lu Yan dengan senyum misterius.


"Nona, aku harus tinggal dikamar mana?." tanya A'ming sambil menenteng barangnya.

__ADS_1


"Kamarku."


"Kamar Nona?." Tanya A'ming memastikan


"Kau mungkin akan terkena kutukan jika tidak bersamaku." Canda Lu Yan kemudian ia menatap Pak Tua, "Terimakasih atas informasinya dan juga jangan terlalu penasaran. Terkadang ketidaktahuan itu menenangkan."


Setelah mengucapkan hal itu, Lu Yan menuju ke Rumah induk.


Pak tua itu memandanginya dengan senyum, "Sepertinya tugasku sudah selesai."


.....


"Nona benar-benar akan tinggal disini?."


Lu Yan mengangguk, "Bukankah sangat bagus?."


A'ming setuju akan hal itu tapi melihat suasana yang sangat sepi membuat dirinya sedikit merinding.


Ia lalu mengingat perkataan Pak tua itu dan merinding, "Nona, apa kau tau sesuatu tentang rumah ini?."


Lu Yan yang sedang merapikan baju nya kedalam lemari mengangguk, "Bukan hanya sesuatu tapi ada banyak hal yang aku tau. Jika kau ingin tau, bantu aku merapikan barang-barang ku."


Setelah semua baju dan barang-barang nya dirapikan, Lu Yan mengajar A'ming keluar.


Ia membawa nya ke sebuah sumur yang sudah tertutup kayu untuk waktu yang lama.


"Nona, kenapa kesini?."


"Angkat kayu itu dan lihat kedalam sumur." perintah Lu Yan.


A'ming mengangkat kayu yang mulai rapuh itu dan kepalanya masuk untuk melihat kedalam sumur tapi hanya ada kegelapan.


"Nona, tidak ada apa-apa."


Lu Yan menyeringai, "Ada mayat didalam sumur itu."


A'ming terbelalak kaget dan segera mundur, "Nona kau bercanda kan?."


Lu Yan tertawa kecil, "Aku tidak bercanda. Sumur ini adalah masalah nya dan sumber kutukannya."


"Aku tidak bisa menceritakan nya sekarang, nanti setelah pedangku datang aku akan menceritakannya. Dengan sangattt jelas."

__ADS_1


_&_&_


__ADS_2