Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan

Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan
Undangan ke pesta


__ADS_3

"Ouh benar aku dengar kau mendapat persenjataan lagi?." Ucap Wei Yuan dengan tatapan tajam.


Sekretaris Gao berkeringat dingin dan mengangguk, "Benar, Ling Yi ingin kita tidak ikut campur dalam urusan nya jadi dia memberikan kita senjata."


"Kembalikan padanya, tanpa ia minta pun aku tidak akan pernah ikut campur dalam perbuatan kotornya." Ucap Zhang Wei Yuan.


"Baik. Oh dan juga-" Sekretaris Gao memberikan Tablet nya pada Wei Yuan dan menunjukkan foto Lu Yan yang sedang di depan mobil.


Lalu ada juga foto dan video saat ia keluar memeriksa A'ming yang menangkap penjahat.


"Gadis ini sangat menarik." Ucap Zhang Wei Yuan dengan senyum lebar, "Sekretaris Gao kau sudah membeli gedung nya bukan?."


Sekretaris Gao mengangguk, "Tuan dapat tinggal di sana kapanpun."


"Bagus, aku juga tidak sabar untuk bertemu gadis itu lagi."


_&_&_


Lu Yan bersin beberapa kali, ia menatap soal didepannya dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia ingin menangis dan pulang, dia benar-benar ingin menangis.


Lebih baik dia dipukul dengan tangan daripada menyerang pikiran nya.


"Guru aku sudah selesai."


Lu Yan menatap Hao Ran yang telah menyelesaikan soal nya dan keluar dan menghela nafas lelah.


"Guru aku juga sudah selesai."


"Guru aku selesai."


Satu persatu siswa keluar dari ruangan hingga tersisa beberapa orang, Lu Yan yang agak jengkel menjawabnya dengan sembarangan.


Dia hanya perlu menjawab apa yang ia ketahui.


Setelah selesai menjawab semua soal, Lu Yan bangkit berdiri, "Guru, aku selesai."


Lu Yan keluar dari kelas dengan nafas lega, ia menatap Yan Jun yang menunggunya dengan penasaran, "Kau bukankah ikut kompetisi Fisika?."


"Em memang hanya saja ternyata ada..." Yan Jun mendekatkan bibirnya pada telinga Lu Yan, "Ada orang yang ku benci."


Lu Yan mengangguk paham, "Lalu kenapa kau menungguku?."


"Biar aku antar." tawar Yan Jun dan langsung mendapat gelengan dari Lu Yan.

__ADS_1


"Itu." Tunjuk Lu Yan pada mobil yang sudah menunggunya.


"Baiklah kalau begitu, kita berpisah disini. Sampai jumpa." Ucap Yan Jun dan masuk kedalam mobilnya lalu pergi.


Setelah melihat nya pergi Lu Yan yang baru saya akan membuka pintu mobil mundur beberapa langkah melihat orang-orang berpakaian hitam yang keluar dari mobil nya.


Ah di tambah dengan Qin Yi Heng dan juga A'ming.


"Lu Yan kau sungguh tidak mudah." Keluh Qin Yi Heng.


"Ada apa lagi?." Tanya Lu Yan malas.


"Kau tidak tinggal di hotel, bahkan kau meninggalkan mobil khusus untukmu dan juga..." Qin Yi Heng menepuk A'ming, "Dia sama sekali tidak mengabari ku tentang mu."


"Lalu apa?."


"Aih Kau memang keren." Ucap Qin Yi Heng dengan semangat, "Tidak ada yang bisa lepas dari pengawasan Yi Feng tapi kau-"


Yi Heng menunjuk Lu Yan, "Tidak hanya membantah nya kau bahkan mengabaikannya."


"Tapi Lu Yan darimana kau mendapatkan semua uang itu jika tidak diberi Yi Feng?."


Sebelum Lu Yan menjawab Qin Yi Heng menepuk tangannya, "Apa kau punya pacar orang kaya?."


"Ah aku tau hal itu, adikku yang cantik pasti punya pria luar biasa dibelakangnya." Ucap Qin Yi Heng lagi.


Lu Yan menatap nya sambil menghela nafas pelan, kedua bersaudara ini begitu berbeda. Yang satu tampak pendiam dan yang satunya lagi sangat cerewet.


"Ngomong-ngomong kenapa mencari ku?." Tanya Qin Lu Yan.


"Ah itu seminggu lagi akan diadakan ulang tahun Qin Xiao, jadi aku ingin membawamu ke kota C." Ucap Qin Yi Heng.


"Tidak mau." Tolak Lu Yan lalu masuk kedalam mobil, ia lalu melirik A'ming yang berada di samping Yi Heng, "Ayo pergi."


"Eh tunggu sebentar. Hanya pergi ke pesta saja. Kau bisa pergi satu hari sebelum pesta. Sebagai Kakakmu aku mohon tolong hadir." Qin Yi Heng memegang tangan Lu Yan namun segera Lu Yan menepisnya.


"Aku bahkan tidak mengenali Qin Xiao."


"Sebenarnya aku tidak peduli kau datang atau tidak, aku bahkan tidak peduli juga pada Qin Xiao. Tapi Yi Feng berjanji akan memberikanku mobil sport terbaru jika kau mau datang." Ucap Qin Yi Heng.


"Kau masuk saja, kita bicara didalam." Ucap Qin Lu Yan, ia merasa bahwa Yi Heng ini lebih mudah diajak bicara.


"Baik."


"A'ming ke Hotel."

__ADS_1


.....


"Jadi keuntungan apa yang aku dapatkan jika pergi ke pesta itu?." Tanya Lu Yan.


Sejujurnya dengan pergi ke kota C saja dia menganggap itu hal bagus, itu berarti dia tidak perlu belajar pelajaran mematikan eh maksudnya matematika itu.


Tapi dia juga agak ragu, bagaimana jika sampai di sana dia malah diatur?


Namun setelah dipikirkan lagi tidak ada yang bisa mengaturnya.


"Aku akan memberikanmu 50 ribu yuan ah tidak-tidak 100 ribu yuan. Bagaimana?."


Lu Yan menatap Yi Heng, ia mengulum senyum. Betapa murah hatinya dia, berbanding terbalik dengan yang satunya.


"Baik, 100 ribu Yuan. Aku berjanji akan pergi." Ucap Lu Yan.


"Kalau begitu aku minta nomer telfon dan juga nomer rekening mu." Ucap Yi Heng.


Lu Yan memberikan nya dengan cepat dan Yi Heng juga segera mengirimkan uangnya, "Aku memberimu 50 ribu yuan terlebih dahulu, setelah kau di kota C baru aku akan menambahkan kekurangannya."


"Baiklah."


"Sepertinya sudah sampai." Ucap Yi Heng melihat keluar, lalu ia membuka dompet dan memberikan uang pada Lu Yan, "Ini 10 ribu yuan untuk uang jajan mu, jika kau membutuhkan sesuatu langsung telfon aku. Walau aku tidak sekaya Yi Feng tapi tetap saja aku punya banyak uang."


Lu Yan menerimanya dengan senang hati, sepertinya di keluarga Qin ini ada Yi Heng.


Tapi tetap saja dia harus berhati-hati, Yi Heng memang baik namun bisa di llihat bahwa jika dia di usik maka... selamat tinggal!


Dia orang kejam yang sebenarnya.


_&_&_


Yi Heng menurunkan sudut bibinya, ia melirik orang berkaos biru tua di sebelahnya, "Bagaimana?."


"Dari informasi yang kami dapat seseorang bernama LY adalah pacarnya."


"LY? Siapa LY?."


Pria itu menggelengkan kepalanya, "Tidak tau, dia baru-baru ini muncul di pertandingan tinju milik Ling Yi. Untuk siapa dia dan darimana datang nya, tidak ada informasi sama sekali. Namun satu hal yang pasti, dia kuat dan juga sangat menyayangi Nona Lu Yan."


"Aku mengerti. Selanjutnya jangan awasi lagi, Yan'er pasti tidak akan menyukai hal itu. Beruntung dia punya orang baik disisinya, setidaknya orang itu lebih peduli pada Yan'er daripada keluarganya sendiri."


"Tuan, kenapa tuan terlihat tidak peduli padanya padahal tuan sangat menyayanginya?." Tanya bawahannya.


Yi Heng berpikir sejenak, "Aku tidak ingin Yan'er tak nyaman denganku."

__ADS_1


__ADS_2