
Satu minggu berlalu dengan cepat dan kesibukan Lu Yan adalah memasak.
Sebelumnya ia mengundang Zhang Wei Yuan untuk makan masakannya tapi siapa sangka itu akan sangat buruk?
Wei Yuan meledeknya dan juga dia harus kembali mendapatkan kemampuan memasak lagi jika ingin membuka Caf'tea.
"Qin Lu Yan daripada membuang makanan lebih baik kau belajar untuk kompetisi selanjutnya." Ucap Hao ran yang datang ke dapur sambil membawa buku, "Uang yang digunakan hanya untuk bahan masakan itu dalam minggu ini saja hampir 5 ribu yuan. Bukankah sudah kukatakan pengeluaran bulanan mu hanya 25 ribu yuan?."
Lu Yan berhenti memasak dan menatap Hao ran dengan mata menyipit, "Entah kenapa aku menyesal menjadikanmu sekretaris ku."
"Penyesalan itu sia-sia. Jika kau tidak ingin miskin di akhir bulan lebih baik berhenti memasak dan segera belajar."
"Aih Hao ran ini itu untuk kepentingan bisnis. Bisnis untuk menghasilkan uang." Ucap Lu Yan frustasi karena apapun yang ia buat rasa nya biasa-biasa saja bahkan terkadang tak enak.
Dia masih tak mengerti kenapa, padahal dulu masakannya di puji oleh Koki istana.
"Beberapa minggu lagi kau harus ke ibukota untuk ikut kompetisi lagi." Ucap Hao ran.
Matematika lagi? Lu Yan membenci nya, Dia bahkan heran bisa-bisanya dirinya dapat lolos. Apa ada
kesalahan atau kecurangan?
Lu Yan terdiam sejenak, "Hao ran bisakah aku tidak mengikutinya?."
Hao ran menatap Lu Yan tajam, "Orang lain sangat ingin mengikutinya tapi kau mau berhenti?."
"Otak ku terlalu lelah jika membahas itu, aku akan menyerah." Balas Lu Yan dan lanjut memasak.
"Lu Yan kau itu bukan orang bodoh. Dulu seberapa lelah nya kau, kau tidak akan menyerah. Demi kompetisi itu kau bahkan belajar hingga kau hampir pingsan, dan sekarang kau ingin menyerah? Bukankah dulu kau menganggapnya hidupmu?."
Tangan Lu Yan berhenti bergerak, ia lalu mematikan kompornya dan berbalik, wajah Lu Yan yang tanpa ekspresi itu membuat Hao ran sedikit takut.
"Hao ran, terkadang ada saatnya kau harus menyerah. Berjuang mati-matian yang mengakibatkan banyak kerugian itu lebih buruk daripada menyerah dengan sedikit kerugian. Aku bukan menyerah dalam hidupku, aku hanya memilih apa yang lebih baik." Lu yan menatap makanan yang ia buat lalu memakannya.
Rasa yang masuk kedalam mulutnya membuatnya sedikit terkejut, ini enak.
__ADS_1
Ia lalu memberikannya pada Hao ran, "Bukankah enak?."
Mata Hao ran terbelalak kaget, rasa ini sangat jauh berbeda dengan masakan Lu Yan yang pertama.
"Aku sudah merencanakan banyak hal. Dulu memang aku menganggap kompetisi itu sebagai jalan satu-satu nya yang kumiliki tapi sekarang tidak. Aku punya banyak jalan dan yang harus kulakukan sekarang adalah menentukan tujuan akhirnya."
"Aku bukan Orang yang jenius, aku hanya orang biasa. Jika orang pintar lainnya bisa memahami hanya dalam sekali lihat maka aku perlu berpuluh-puluh kali bahkan ratusan kali untuk memahami angka-angka itu. Aku mengetahui kemampuan ku sendiri." Yap, itu benar.
Qin Lu Yan asli dan dirinya bisa menghitung dengan cepat, tapi jika dihadapkan dengan banyak rumus itu sangat sulit.
"Jika kau tidak mau ikut aku tidak akan memaksa, tapi aku akan berhenti." Ucap Hao ran.
Mata Lu Yan mengernyitkan dahinya dan tersenyum miring, "Kau mengancam ku?."
_&_&_
"Yah ancaman nya berhasil." Lu Yan menghela nafas pelan, ia kini berada di bus yang menuju ke hotel tempat nya menginap.
Jika tidak ada Hao ran pengeluarannya akan tidak terkendali, jadi dia harus menurutinya sebelum menemukan orang baru.
Lu Yan menggeleng, selama bersama mereka dia hanya terus diam. Tidak ada orang yang menarik.
Jika tidak membaca buku, mereka akan bermain permainan yang membosankan selama beberapa saat.
Mereka semua anak-anak kecil.
"Kita sampai, ayo turun semuanya." Ucap Guru Fan lalu menatap Lu Yan, "Ayo turun."
Lu Yan mengangguk dan ikut turun, mereka masuk kedalam hotel bersama-sama meninggalkan Lu Yan yang harus mengambil koper terlebih dahulu.
Yah semua orang hanya membawa ransel biasa tidak seperti dirinya dan- gadis pesuruh itu.
Dia membawa dua koper yang isinya mungkin penuh dengan barang orang yang ia sebut sahabat.
Melihat nya kesusahan membawa barang-barang nya Lu Yan yang kasihan menawarkan bantuan, "Biar aku bantu."
__ADS_1
"Em, terimakasih." Ucapnya dengan senyum lebar.
Dia bukan gadis bodoh dan pendiam, dia selalu berbicara dengan riang namun Lu Yan heran kenapa dia mau menjadi pesuruh.
"Dia saja bu." sebuah telunjuk mengarah pada Lu Yan segera setelah ia masuk membuat Lu Yan bertanya-tanya.
"Dia bisa menumpang di kamar kosong itu."
Guru Fan menatap Lu Yan tak enak, "Lu Yan kau tidak apa-apa tidur di kamar pegawai?."
"Ah itu, kamar yang sudah dipesan di ambil oleh orang lain jadi kita kekurangan satu kamar. Ibu sebenarnya tidak apa-apa tapi Jing Mi ingin bertanya tentang pelajaran." lanjut Guru Fan.
"Memangnya tidak ada kamar lain lagi?." tanya Lu Yan dengan wajah agak kesal. Dia ingin cepat beristirahat sekarang.
"Sebenarnya ada, hanya saja itu kamar Vip. Kau mungkin tidak mampu membayarnya."
Lu Yan melirik gadis yang ia bantu, teman yang seperti itu. Pantas saja...
"Aku akan mengambil kamar VIP itu." Ucap Lu Yan dan segera menuju resepsionis mengambil kunci.
Mereka menatap Lu Yan agak kaget, sepanjang perjalanan Lu Yan tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun jadi mereka kira Lu Yan itu miskin.
Tapi tampaknya...
"Eh, apa aku boleh sekamar denganmu?." Tanya Jing Mi.
"Bukankah kau akan sekamar dengan Guru Fan?." Ucap Lu Yan lalu melanjutkan, "Aku ingin beristirahat, kalian juga beristirahatlah."
Lu Yan segera pergi dengan wajah yang tanpa ekspresi, dia benci dengan orang-orang seperti itu.
Namun dia lebih benci pada hotel ini. Hanya untuk kamar itu dia menghabiskan setengah dari uang sakunya.
Tapi...
Lu Yan mengambil sesuatu dari kantongnya, "Apa aku harus menjual ini?."
__ADS_1