Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan

Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan
Menabrak seseorang


__ADS_3

"Yak apa maksudmu? Apa kau tidak melihat pertandingan sebelumnya? Walau dia terlihat kecil tapi sangat kuat."


"Bertarung!."


"Bertarung!."


Penonton dibawah berseru, mereka ingin melihat bagaimana seorang Pria kecil dapat mengalahkan pria besar lainnya.


Hong Li yang melihat penonton antusias tidak bisa untuk tidak mengernyitkan dahinya, ia bingung kenapa pertandingan ini begitu diinginkan?.


Hanya seorang pria kecil? Bukankah itu sama sekali tidak menarik. Hanya dengan jentikan jarinya saja, pemuda itu dapat ia kalahkan dengan mudah.


"Paman.. Kau tenang saja aku tidak akan mempermalukan mu."


Hong Li mendengus pelan lalu mengangguk, "Baik, jika kau sangat ingin bertarung denganku. Maka... Ayo."


Lu Yan menyipitkan matanya, sudut bibirnya membentuk lengkungan. Melihat mata lawannya hati Lu Yan tidak bisa untuk tidak bergetar, pertama kalinya dia merasa sedikit takut.


Namun itu bisa dimaklumi, Lu Yan yang ini dia bahkan tidak bisa untuk melihat darah. Bahkan fisiknya tidak terlalu bagus.


Dia hanya gadis kecil dengan tubuh yang penuh tulang.


Ayunan pertama... Hong Li dapat dengan mudah mengelak.


Kedua...ketiga... Lu Yan tidak akan membiarkan pria itu mendapat kesempatan mengelak lagi.


Pada akhirnya tangan nya dan kaki nya dapat memukul Hong Li dan membuatnya terkejut.


"Wuah.. Aku telah meremehkan mu." Mata Hong Li berkilat, ia akan menganggap serius lawan didepannya.


Hong Li mengayunkan pukulannya dengan cepat, namun Lu Yan dapat dengan mudah menghindarinya.


Kedua kalinya pukulan itu akan mengenai Lu Yan, ia dengan cepat menangkisnya dan membalas serangan Hong Li.


Hong Li mundur sejenak begitu pula Lu Yan, namun ekor mata Lu Yan menangkap gerakan A'ming yang memanggilnya sambil menunjuk telfon.


Raut wajahnya khawatir membuat Lu Yan ikut khawatir pula.


"Aishhh." Lu Yan menghentakkan kakinya kesal lalu menatap Hong Li, "Sepertinya kita harus bertarung lain kali, ada hal yang harus kulakukan. Bye...bye."


Lu Yan turun dari Arena dengan cepat dan langsung menghampiri A'ming yang segera menariknya keluar.


"Ada apa?." Tanya Lu Yan ketika mereka sudah di luar.


"Tuan Yi Feng bertanya kau dimana." Ucap A'ming.

__ADS_1


"Lalu? Bukankah kau bisa berbohong dengan mengatakan aku di restoran atau lainnya."


A'ming menggeleng, "Tidak bisa Nona. Tuan Qin kedua memberikan pelacak namun aku sudah mematikannya untuk saat ini, hanya saja jika aku berbohong kemungkinan Tuan Qin kedua akan mengeceknya."


"Jadi apa yang kau katakan padanya?." Tanya Lu Yan.


"Kita sedang dalam perjalanan pulang ke hotel." Jawab A'ming membuat Lu Yan kesal.


Dia tidak menyelesaikan pertandingan nya bahkan belum berkenalan secara resmi dengan Hong Li.


"Yasudah kita kembali."


...


Lu Yan memandangi keluar jendela dengan tatapan kosong, semua ini tampak begitu tak bermakna.


Mengumpulkan uang, berbelanja, bertarung, semuanya tidak lain hanyalah untuk kepuasan dirinya sendiri.


Padahal sebelumnya ia rela mati di medan perang untuk rakyat nya, namun begitu jiwanya berpindah dia tidak memiliki tanggung jawab itu lagi.


Dia bukan seorang Putri seorang pemimpin negara, dia hanyalah seorang rakyat jelata yang bertujuan untuk hidup senang.


Ya... Dia hidup untuk Qin Lu Yan yang telah melalui begitu banyak penderitaan.


Qin Lu Yan tersentak kaget, ia menatap tajam A'ming yang telah rem mendadak.


"Nona... Sepertinya aku menabrak seseorang." Ucap A'ming kemudian ia keluar dari mobil.


Lu Yan menatap ekspresi A'ming yang tampak terkejut, menandakan bahwa dia memang telah menabrak seseorang.


Melihat bahwa A'ming tampak bingung, Lu Yan segera keluar dengan pintu mobil yang terbuka lebar, "Segera masukkan dia kedalam mobil."


"Baik nona, baik." Ucap A'ming lalu mengangkat 'orang itu' yang ternyata Zhang Wei Yuan dan meletakkannya di kursi belakang, tempat dimana Lu Yan duduk sebelumnya.


Qin Lu Yan kini berada di kursi depan, ia menatap A'ming yang wajahnya tampak datar. Namun melihat keringat di dahinya, Lu Yan yakin dia merasa cemas.


"Jangan khawatir." Ucap Lu Yan lalu menoleh kebelakang menatap Wei Yuan yang ditabrak oleh A'ming, "Kau mengemudi dengan kecepatan rata-rata, dan mematuhi semuanya jadi ini bukan salahmu. Itu salahnya."


"Melihat bagaimana dia berdarah bahkan di bibirnya ditambah pakaiannya yang berantakan, aku yakin dia lari dari sebuah perkelahian." tebak Lu Yan.


"Maaf Nona." Ucap A'ming lagi.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, A'ming sama sekali tak bersuara lagi padahal biasanya ia akan bertanya banyak hal.


Seperti... Bagaimana bisa membeli apartemen? Bagaimana bisa mendapatkan uang? Dan banyak hal lainnya.

__ADS_1


Terkadang Lu Yan akan kesal dengan nya, ia kira A'ming akan menjadi seorang pendiam ternyata dia begitu cerewet.


Lu Yan menatap A'ming yang duduk di kursi rumah sakit lalu memberikan nya kartu, "Bayar tagihannya."


"Nona tidak perlu, aku akan menggunakan uang.."


"Pakai saja, apa kau ingin membantah perkataan ku?." Potong Lu Yan membuat A'ming menerima kartu itu.


"Dia berdarah seperti itu bukan karena mu, lagipula kenapa kau merasa sangat cemas? Tenang saja." Ucap Lu Yan lagi dan diangguki A'ming.


....


"Tidak ada luka dalam, jadi kalian bisa membawanya pulang. Namun terdapat goresan pisau di bahunya, dan juga di tangannya. Jadi kalian harus sering mengganti perbannya." Ucap Dokter itu dan diangguki patuh A'ming, sedangkan Lu Yan dia benar-benar tak peduli.


Tampang pria itu tampak angkuh, ditubuhnya penuh banyak luka. Dia pria yang penuh dengan masalah, dan bahkan membawa masalah bagi dirinya juga.


Sudah hampir jam 12 malam, dia bahkan belum bisa berbaring di kasurnya.


"Sepertinya dia terlibat dalam perkelahian, apa kalian sudah melaporkan nya?." Tanya Dokter itu.


"Belum, kami tidak tau menahu soal ini. Biarkan saja dia yang mengurusnya nanti setelah sadar. Namun Dokter apa bisa dia menginap disini saja?." Tanya Lu Yan.


Dokter itu menggeleng, "Maaf, tapi ruang rawat inap sudah penuh. Ah jika ingin menggunakan ruangan VIP-"


"Tidak perlu." Tolak Lu Yan ketika mendengar kata VIP. Dia tidak mengenal pria itu, kenapa dia harus rela menghabiskan uang untuknya? Lu Yan, dia tidak rela.


"Sebentar lagi dia juga akan siuman." Ucap Dokter itu.


_&_&_


Qin Lu Yan berdiri dengan tangan terlipat dibawah dada menatap 'Pria itu' lalu menatap A'ming, "Kau bisa tidur disini untuk menjaganya, aku akan ke kamarku."


Yah, pada akhirnya Lu Yan membawa pria itu ke apartemennya daripada menunggu pria itu di rumah sakit.


"Tapi Nona, bagaimana jika Tuan Qin kedua bertanya kau dimana?." Tanya A'ming.


"Bilang saja aku meminjam Apartemen Ouyang Hong untuk menginap, bukankah mudah?." Balas Lu Yan kesal, dia sudah sangat mengantuk sekarang.


"Tapi bagaimana jika Tuan Qin kedua berprasangka buruk padamu?." Tanya A'ming lagi.


"Tapi tapi tapi, A'ming apa kau ingin aku membawa Pria ini ke hotel, atau disini saja dengan alasan itu? Lagipula bukankah kau juga disini? Dia pasti mempercayaimu bukan." Ucap Lu Yan lalu keluar dari kamar itu dan masuk kedalam kamarnya.


Lu Yan merebahkan tubuhnya dan langsung tertidur, hari ini dia sangat-sangat lelah.


_&_&_

__ADS_1


__ADS_2