
Qin?
Lu Yan memandang pria itu, dia dari keluarga Qin? Apa dia di kirim Qin Yi Feng?.
"Kerjasama kita itu tergantung padanya." Ucap Pria itu menunjuk Qin Lu Yan.
Kepala sekolah menatap Qin Lu Yan sejenak dengan bingung, "Maksud Tuan Qin?."
"Hei Qin Lu Yan, apa kau ingin aku menyumbangkan komputer disini?." Tanya Pria itu kemudian melanjutkan ,"Ouh Yi Feng juga bilang dia mau membangun gedung tambahan dan memberikan fasilitas-fasilitas yang lebih lengkap lagi. Namun jadi atau tidaknya terserah mu."
"Kau siapa?." Tanya Qin Lu Yan.
Pria itu maju mendekati Qin Lu Yan dan mencubit pipi Qin Lu Yan dengan cepat, "Aku Kakak ketiga mu, Qin Yi Heng."
"Yi Heng? Ah aku punya kakak lagi." Ucap Lu Yan jengkel, satu saja sudah menyebalkan ditambah ini lagi?.
"Ada apa? Kau tidak senang?." Tanya Yi Heng dan di angguki Lu Yan.
"Kau ingin menyumbang atau tidak, itu tidak ada urusannya denganku." Ucap Lu Yan pada Yi Heng kemudian ia menatap kepala sekolah, "Untuk beasiswa ku, mulai hari ini dan seterusnya aku akan membayar biaya sekolah sendiri. Dan jika Kepala sekolah keberatan dengan beasiswa ku sebelumnya kau bisa membuat tagihan berapa banyak uang yang pernah ku gunakan."
"Ah satu lagi biaya perbaikan kelas, kau juga bisa meminta ganti rugi padaku dan aku akan segera membayarnya." Ucap Lu Yan kemudian ia membungkuk berpamitan pergi.
Qin Yi Heng menatap Lu Yan yang pergi dengan bangga, "Ah dia tidak menyianyiakan gen keluarga Qin, dia pantas menjadi adikku."
"Eh Kepala Sekolah berbuatlah yang adil, jika bukan karena Yi Feng aih aku tidak tau bagaimana nasib sekolah ini sekarang. Dan untuk kerja sama kita, aku akan memikirkan nya lagi." Ucap Qin Yi Heng lalu pergi.
....
"Hei Lu Yan." Panggil Yi Heng sambil berlari mengejar Lu Yan.
"Wuah kau sama sekali tidak peduli padaku." Ucap Yi Heng kecewa.
Lu Yan melirik nya dan berhenti berjalan, "Sebelumnya Yi Feng dan sekarang Yi Heng, kalian dua bersaudara sebaiknya tidak menggangguku."
__ADS_1
"Menganggu? Lu Yan kami ini membantumu." Ucap Yi Heng.
Lu Yan menyeringai, membantu apa? Karena mereka dia hanya bisa membatasi pergerakannya.
"Jika ingin membantuku, maka pergilah dan jangan pernah perduli lagi. Belasan tahun kalian tidak pernah menganggap ku ada, jadi sebaiknya terus seperti itu saja." Lu Yan hendak melangkah pergi namun Yi Heng memegang tangannya.
Ia menarik Lu Yan menghadapnya dengan kasar, "Lu Yan menurutmu karena siapa kau bisa berbangga diri dan menikmati kehidupan mewah? Juga menghabiskan uang? Bukankah kau bisa sangat sombong karena kau bagian keluarga Qin? Menganggap mu tidak ada? Baik, tentu saja itu bisa dilakukan."
"Berbangga diri? Menikmati kehidupan mewah?." Lu Yan menatap Yi Heng tajam, "Yi Heng, kehidupanku adalah karena ku. Menghabiskan uang? Yi Heng seharusnya kau bertanya pada Yi Feng apakah dia pernah memberiku uang? Sepeserpun aku tidak pernah mengambil uang nya, jadi aku menghabiskan uang itu tidak ada hubungannya dengan kalian."
Yi Heng kehabisan kata-kata, ia membiarkan Lu Yan pergi dan dengan cepat menelfon Yi Feng, "Yak Yi Feng, kau tidak pernah memberikan adik kesayangan ku uang?
"Yi Heng kau sangat tidak sopan." balas Yi Feng diujung telfon, "Aku sedang rapat, nanti akan ku hubungi lagi."
"Eh Yi Feng.." Yi Heng berdecak kesal, Yi Feng mematikan telfonnya dan tidak peduli apa yang dikatakan nya.
Apa dia tak suka Lu Yan?
Ia kemudian menatap kebawah, Lu Yan saat ini sedang berjalan keluar sekolah padahal saat ini masih jam pelajaran.
Namun semua sia-sia, jarak yang begitu jauh bagaimana ia bisa mengejar?.
Tapi... jika Yi Feng tidak memberikannya uang, kenapa dia sangat percaya diri membayar kerugian dan juga bersama siapa dan kemana dia pergi?.
_&_&_
"2 juta yuan? Apa kau bercanda?." Tanya Lu Yan pada Ouyang Hong dan temannya.
Mereka saat ini berada disebuah gedung 2 tingkat yang tak terpakai. Rencananya Lu Yan ingin membeli tempat itu untuk membuka sebuah kafe.
"Aih Ouyang Hong kau juga tau bukan aku ditipu untuk membeli tempat ini seharga 5 juta yuan, 2 juta yuan menurutku cukup pas." Ucap teman Ouyang Hong.
Lu Yan mengitari seluruh sudut tempat itu, ia juga melihat-lihat keluar. 2 juta yuan benar-benar tidak sepadan.
__ADS_1
"Bos, bagaimana?." Tanya Ouyang Hong.
"Gedung ini sangat kotor, butuh renovasi. Belum lagi ada banyak barang berserakan yang berarti mungkin ada orang yang masuk ketempat ini. Benarkan tuan?."
Pria itu mengangguk, "Aku pernah mencoba membuka kafe tapi semua berantakan."
"Jalan menuju tempat ini merupakan jalan buntu, disebelah gedung juga ada gang sempit yang merupakan sarang preman. Membuka toko harus punya keberanian untuk menghadapi mereka dan juga siap menanggung kerugian. Bahkan untuk dihuni juga tidak ada yang berani. 1.5 juta yuan, aku sudah berbaik hati." Ucap Lu Yan membuat pria itu ragu sejenak.
Melihat bahwa pria itu masih ragu, Ouyang Hong segera menambahkan, "Bos kalau begitu kita tidak perlu membelinya, hanya rugi saja. Lebih baik kita cari yang lain."
"Baiklah, baiklah. Daripada aku tidak mendapatkan apapun, lebih baik rugi sedikit." Ucap Pria itu menyetujui.
Lu Yan tersenyum mereka menyelesaikan transaksi dengan cepat.
"Jika kau berkunjung kesini, tanpa membuat janjipun kau bisa mendapatkan tempat dan satu lagi.. Untukmu gratis seumur hidup." Ucap Lu Yan dengan manis.
"Baik, baik. Semoga bisnismu berkembang dengan bagus."
Setelah pria itu pergi, Ouyang Hong menatap Lu Yan dengan aneh, "Bos kau tau kita akan rugi tapi masih tetap membelinya."
"Siapa bilang kita akan rugi?." Balas Lu Yan, "Tempat yang tenang seperti ini, tidak ada lagi. "
"Keluarga mu sangat berbaik hati memberikanmu banyak uang, tidak seperti ayahku yang perhitungan." Ucap Ouyang Hong jengkel dengan nasibnya.
Lu Yan memutar matanya malas, dia tidak akan menjelaskan. Biarkan dia berpikir seperti itu daripada bertanya-tanya asal uangnya.
"Ouyang Hong besok kau cari orang untuk memperbaiki tempat ini, malam nanti akan ku kirim rancangan tempat ini dan juga rincian barang yang harus kau beli." Ucap Lu Yan dan diangguki Ouyang Hong.
"Baik bos, lalu bagaimana dengan para preman itu? Bukankah nantinya mereka akan menganggu?."
"Semua sudah kupikirkan, biarkan saja Hong Li dan A'ming yang memberikan pelajaran kepada mereka." Ucap Lu Yan yang percaya diri bahwa Hong Li akan mau bekerja dengannya.
"Hong Li?." Ouyang Hong terdiam sejenak, kemudian bertepuk tangan dengan semangat, "Hong Li mantan Raja Tinju itu? Bos kau mempekerjakannya?."
__ADS_1
"Akan."