Salve Caritate

Salve Caritate
Bab 9 : Glice yang malang


__ADS_3

Haiii!!


Happy ReadingπŸ€—


Jangan lupa like, vote and rate yah..


πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§


Plak!!


Plak!!


Plak!!


"Lo harus merasakan apa yang dia rasakan!." Rama membalas semua perbuatan mereka pada Nana.


Rama menampar satu persatu ketiga gadis itu, lalu berbalik badan dan menggendong tubuh mungil Nana menuju UKS, Ais berdiri dan membiarkan Nana di bawa oleh Rama, lalu ia menatap tajam ketiga gadis itu yang tengah memegang kedua pipinya yang terasa panas akibat tamparan.


"Gue pastikan kalian berdua keluar dari sini!!." Teriak Ais murka, tanpa mereka sadari sekarang mereka telah menjadi pusat perhatian para siswa lain di situ.


Ais berbalik dan meninggal tiga gadis itu dalam keadaan yang benar benar malu, kisrah - kisruh terdengar di telinga mereka, berita ini tersebar dengan cepat.


Seseorang menghampiri Glice, Fay dan Zelica yang tengah berdiri itu sambil terus menatap Ais yang mulai menghilang.


"Lo ga tau siapa Ais?." Tanyanya.


"Gue tau dia cewe so suci! Cih, cewe murahan!." Pekik Glice percaya diri.


"Emang kenapa lo nanya kaya gitu?." Tanya Fay songong.


"Kalian Cantik - cantik tapi kudet, lo ga tau apa kalau Aisha itu Putri dari pemilik sekolah ini!." Ucap salah satu siswa yang sedang menonton adegan itu.


"HAHAHA!! Ga mungkin lah Gila yah kalian!!." Tawa Glice menggema.


"Aisha Mughny Anggara, Memang Anak saya? Kenapa? Anda tidak percaya?." Ucap Seseorang tiba tiba datang, setelan jas berwarna hitam putih, dasi berwarna senada sepatu bersih hitam mengkilat dan tatapan tajam membunuhnya.


Deg....


"Tu-tu Tuan Si si Sihab... " Sahut Glice berbata bata.


Sihhab datang dengan angkuh dan berwibawa beserta tatapan dinginnya membuat siapa pun merinding melihat nya.


Semua orang mendadak diam, tak berani mengeluarkan kata kata, termasuk Glice and the gank yang wajahnya berubah pucat, Sihab dan kedua bodyguard nya sudah berdiri di hadapan mereka.


"Tuan... Ka, ka kam---"


"Sekarang kalian bertiga keluar dari sini dan jangan pernah kembali menginjakkan kaki ke sini!!!." Teriak Sihab murka.


Ketiga cewe itu berlutut memohon sambil menangis sejadi - jadinya. Namun tak di gubris oleh Sihab, ia memilih pergi meninggalkan ruangan koridor itu. Semua mata tertuju pada Glice and the gank rasa iba muncul namun ini pantas untuk mereka yang jahat.


Di UKS.


"Gue mohon lo harus kuat Na!." Rama terus berucap sambil terus membopong tubuh mungil Nana.


Sampai di UKS ia meletakkan Nana di Bangkar dan segera memanggil dokter dengan cemas ia menunggu di luar sambil terus membolak-balikan tubuh nya khawatir.


Ais dengan setengah lari sambil memegang roknya yang panjang menuju UKS rasa khawatir, panik menjadi satu satunya yang ia rasakan sekarang. di lihat olehnya Rama tengah di landa kekhawatiran yang sama olehnya.


"Ram gimana keadaan Nana!." Ais bertanya dengan nafas yang tak teratur.


Belum sempat Rama menjawab dokter lebih dulu keluar "Dok! Gimana keadaan teman saya??." Tanya Rama dan Ais bebarengan.


"Kita harus segera membawa nya ke rumah sakit." Jelas dokter.


Rama tanpa Ba bi bu berlari dan kembali membopong Nana keluar.


Dokter yang melihat itu menggeleng kepalanya pelan "Bocah, belum juga gue ngejelasin main sabet aja."


Ais yang melihat itu tersenyum lalu ia menghubungi supir pribadi nya agar siap di parkiran. Sampai di sana Rama menaruh tubuh lemas Nana di kursi belakang. Ais dan Rama pun ikut masuk kedalam.


Di sekolah benar benar dalam keadaan ramai akibat berita tadi pagi, Rama yang termasuk pria dingin, cuek kini terlihat rasa khawatir dan perhatian nya kepada Nana, juga berita tentang di usir nya Glice oleh pihak sekolah membuat berita tadi pagi ini menjadi trending topik.


Hingga sampai di rumah sakit Nana langsung di tanggani oleh Dokter, Ais memegang kedua tangannya seraya berdoa agar keadaan temannya baik baik saja, Rama yang lebih memilih ke mushola untuk menjalankan ibadah dan mendoakan seseorang yang ia sayang baru sebagai sahabatnya itu, baru sahabat bisa bisa seseorang yang baru ia cintai nantinya. Rama Rama duh.


Rama.

__ADS_1


'Na gue harap lo baik baik aja.'


Setelah dari mushola gue bergegas menuju ruangan UGD yang di mana Ais masih setia menunggu dokter yang sedang memeriksa Nana di dalam. Terlihat rasa paniknya. Gue menghampiri nya dan duduk di samping Ais.


"Dokter udah keluar?" Tanya gue datar dan mendapat gelengan pelan sebagai jawaban Ais, gue hanya mengangguk.


Kalian tau kenapa sikap gue gini dingin, datar?gue juga ga tau lah! sikap gue ini udah dari lahir cuy. Yahhh mungkin Mom gue pas lahiran mukanya datar datar aja jadi kek gini Sikap guenya datar, untung bukan muka gue yang ikut datar. Heheh.


Ting! Dokter keluar, seketika gue dan Ais berdiri panik lalu menghampiri dokter yang baru saja keluar itu.


"Gimana dok keadaan nya?" Tanya Ais.


"Dia harus di rawat untuk hari ini, karena fisiknya yang lemah akan membuat kinerja tubuh tidak stabil dan jika di paksakan ini akan menjadi fatal, apa lagi akibat pukulan keras mengenai kepala nya penyakit Anemia nya yang di sebabkan oleh kurangnya sel darah merah atau sel darah merah yang tidak berfungsi dalam tubuh. Ini menyebabkan aliran oksigen berkurang ke dalam organ tubuh. boleh sebab itu untuk saat ini dia harus di rawat di sini. Jika keadaanya besok stabil ia boleh pulang." Jelasnya.


Anemia? Kok gue ga tau sih? Nana punya penyakit itu dan Ais? Kok dia hanya mengangguk seperti nya dia sudah tau duluan dari gue, ckk dasar cewe main rahasia rahasiaan.


"Terimakasih dok!." Ucap Ais sedangkan gue? Hanya tersenyum pastinya.


"Iya sama sama, sekarang pasien sudah di pindah kan ke ruang rawat jadi, Kalian sudah bisa melihat keadaan nya." Jelasnya lagi membuat kita mengangguk mengiyakan.


Dokter itu pergi, setelah kepergian nya gue buru buru masuk ke dalam namun Ais menahan gue dengan memegang ujung baju seragam yang gue pake. Gue menyatukan alis tebal gue seraya bertanya.


"Gue mau telepon dulu keluarga Nana, lo jagain dia." Ckk, decak gue kesal cuman itu? Ga usah pake narik narik juga, gue bukan kucing Oi


"Hmmm"


Dia berjalan menjauh, gue buru buru membuka pintu, tak lama terlihat gadis mungil, cantik sahabat gue paling imut paling ngerti yang kalau mau apa apa harus gue turuti manja. Pikir gue sambil tersenyum.


Gue berjalan perlahan menghampiri bangkar yang di tiduri olehnya, perlahan tangan gue memegang salah satu tangan Nana yang sedang di pasang selang infus itu.


"Cepat sembuh." Ucap gue sambil tersenyum.


Nyaman, itu yang gue rasakan ketika memandang wajah sahabat gue ini. Duh kok gue baper sih, dasar!!! stop it Ram! Aku dan dia hanya sahabat!


Mayfair.


Prank!


Suara jatuh begitu saja, membuat Aldio dan Aidan berjalan menuju dapur menghampiri Gina yang tengah membersihkan pecahan pecahan gelas di atas lantai.


"Mom stop! Biar Bi Yuki aja yang beresin. Sekarang kita bersihkan dulu darah yang ada di tangan Mommy." Aldio angkat bicara.


Gina mengangguk lalu dengan tuntunan Aidan membawa nya ke ruang tamu, Aldio membawa kotak P3K lalu mengobati tangan Gina dengan memberikan obat merah lalu di balut dengan kasa kain.


"Kok Bisa gini sih sayang?." Tanya Dad saat semuanya sudah beres.


"Ngga tau Dad mommy tiba - tiba memikirkan Nana! Apa dia baik baik saja yah?."Tanya Gina dengan nada yang khwatir


Drttttt drttttt.. . .. .


Handphone Aldio bergetar tanda panggilan masuk dari seseorang, lalu ia membuka dan nomor yang tidak di kenal tertera di situ. Ia menggeser dan mendekatkan handphone nya di telinga nya itu.


"As-" Belum sempat bicara Aldio sudah di potong oleh suara seseorang dari sebrang sana


"Assalamu'alaikum kak, ini aku Aisha temen Nana, kaka masih ingat kan cew--"


"Intinya aja!." Aldio yang tak ingin berbasa basi memotong ucapan Aisha di sebrang Sana.


Hufff.... Dengus Ais dari sebrang sana. Ais melirik handphone nya dan berucap


'Manusia es,, untung ganteng anjirr!.' gunggamnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Aldio. lalu ia mendekat kan lagi ketelingannya.


Aldio yang mendengar itu memutar bola matanya jengah, ada gadis idiot kaya dia?


Pikirnya.


"Lo masih di situ kan? Ga mati kan? Atau lo pingsan?." Aldio benar benar kesal, tentu saja kekesalannya itu di saksikan oleh kedua orang tuanya.


Ais di sana tersenyum pasalnya ia baru mendengar Aldio berbicara panjang pada dirinya.


"Kaka jahat banget sih... Aku hanya ingin ngomong kalau Nana masuk rumah sakit." Awalnya suaranya itu terlihat seperti kesal namun saat memberi tahu Nana sedang di rumah sakit suara Sedihnya itu terdengar oleh Aldio.


Aldio yang mendengar itu membulatkan kedua matanya hingga berdiri kaget.


"Astaghfirullah! Bagaimana bisa? Terus sekarang dia bagaimana? Keadaan? Dan dimana dia sekarang? Rumah sakit mana?. " Aldio sepanik mungkin tanpa sadar membuat Gina dan Aidan ikut berdiri juga.

__ADS_1


"Kak please pelan pelan.. Gue bingung mau jawab yang mana dulu." Lirih Ais yang memang benar benar bingung, tadi sikapnya dingin sekarang sekhawatir itu huff manusia es,


"Sorry, sekarang kasih tau gue dimana lo sekarang?." Tanya Aldio di buat setenang mungkin.


'Bodoh kok sikap gue kek tadi malu maluin *****.'pekiknya


"Kita ada di RS Cahya XXX." Jawab Ais dengan Nada yang masih sedih.


"Ok gue ke sana sekarang lo serlok!."


"Iya kak nanti gue kirim, ya udah gue tutup yah Assalamu'alaikum!."


"Hem, waalaikumsalam."


Setelah mematikan teleponnya kedua orang tua Aldio segera bertanya tanya... Betapa terkejut nya Aidan dan Gina mendengar bahwa anak bungsu nya itu masuk rumah sakit dengan cepat mereka pergi menunju alamat rumah sakit yang telah di kirim oleh Ais tadi.


πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§πŸ’§


Ais yang sudah selesai menghubungi Aldio iya bergegas menuju kamar rawat Nana, dengan tergesa-gesa ia membuka pintu dan menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali ia lihat. Kini Nana yang sudah sadar dan sedang di suapi makanan oleh Rama membuat nya merasa Lega.


'Akhmmm ' deheman Ais menyadarkan keduanya. Ais berjalan menghampiri keduanya, lalu tersenyum melihat Nana dengan senang hati ia membalas senyuman sahabat nya itu.


"Lo udah sadar Na? Gimana keadaan lo sekarang?." Tanya Ais lembut sambil mengelus sayang rambut Nana.


"Seperti yang lo liat, gue baik baik aja kok." Jawab Nana dengan Nada yang masih terdengar Lemas. Ais mengangguk sebagai jawabannya.


"Btw makasih yah,, kalian udah nolongin gue."


"Sans Na! Kita sahabat lo jadi udah kewajiban kita buat ngejagain lo, bener ga Ram?"


"Hem"


Aisha.


Aku seneng liat Nana udah sadar. Hufff, hari ini memang melelahkan, Sekarang kita lagi ngobrolin tentang di keluar kan nya Glice dari sekolah, kasiannn tapi ini juga hukuman buatnya. Yang aku kira Papa hanya akan menghukum nya tapi? Ini malah mengeluarkan nya dasar, tapi bagus deh biar ga ada yang nganggurin hidup aku lagi. Menyebalkan.


"Wahhhh serius loh Glice, Fay and Zelica di keluar in?." Tanya Nana dengan pelan.


Aku mengangguk mengiyakan "yah, ntah lah papa aku yang lakuin itu, aku hanya menceritakan apa yang terjadi setelah berita itu berhasil terdengar oleh telinga nya."


"Glice yang malang." Lirih Nana, ck dia terlalu baik.


Cklek... .


Pintu Terbuka mata kita tertuju pada pintu yang terbuka Nampak Tante Gina berlari dan memeluk Nana, di belakangnya sudah ada om Aidan dan tentu saja manusia es itu siapa lagi kalau bukan Aldio si Abang es.


"Nana!. Kamu baik baik aja kan? Bagaimana keadaan mu sekarang? Apa ada yang luka ? Kepala mu terasa pusing tidak? Bagaimana bisa terjadi sayang hikss.. . " Tante Gina melontarkan semua pertanyaan kepada Nana. Tentu saja Nana menarik nafas dan tersenyum hangat.


"Mom.. Pelan pelan dong! Bagaimana aku bisa jawab pertanyaan mu terlalu banyak hufff.. " Dengus nya.


"Mommy tu mengkhawatirkan kamu anak manja!." Celetuk Aldio yang kini sudah berada di samping Nana.


"Diam lo manusia Es, Mommy jangan nangis yah, Nana baik baik aja kok, cuman pening sedikit so jadi ga usah terlalu khawatir hehe."


"Bagaimana ini bisa terjadi?." Tanya om Aidan yang aku tau dia kini tengah menyimpan amarahnya, menyeramkan. Aku merasa bersalah Nana begini karena aku..


"Om, Tante maafkan Ais sebenarnya Nana begini karena Nana menolong Ais tadi." Lirih ku sambil menunduk.


"Om, Rama juga minta maaf karena Rama tidak bisa menjaga Nana dengan baik." Timbal Rama.


"Why? Kok bisa?." Tanya Aldio dengan wajah datar dan mata fokus ke Nana.


Aku semakin menunduk "Glice hendak memukul ku tadi, lalu Nana..... " Aku menangis menyesal itu lah yang aku rasakan.


"Stop! Ais ini bukan salah lo, ini semua kemauan ku, aku senang bisa menolong mu, karena aku tau kamu terlalu banyak menolong ku, jadi jangan merasa bersalah semua ini refleks tidak di sengaja, jadi buat Daddy pelase jangan salahin Ais, dia lah orang yang menolong Nana dan Rama dia lah orang yang selama ini melindungi Nana." Jelasnya membuat ku benar-benar di ambang kekecewaan, namun aku bahagia memiliki sahabat sebaik dia.


"Makasih yah kalian berdua sudah menjadi teman baik buat Nana!." Tante Gina mengusap lembut air mata di pipi ku lalu memeluk ku hangat.


"Rama thanks ya!." Aldio menepuk pundak Rama.


"Lalu dimana sekarang orang yang bernama Glice itu, biar Daddy kasih pelajaran!!. " Ucap om Aidan dengan Nada yang benar-benar marah. . .


"Tenang! Dia udah saya urus!." Ucap Seseorang yang baru saja masuk pria paruh baya menggunakan setelan jas lengkap dan menggandeng tangan istri cantiknya.


Semua orang berbalik melihat siapa yang datang dan..

__ADS_1


"PAPA!!!." Teriak ku berlari memeluk nya.


__ADS_2