
Aku tersenyum ke arah bunda "Biarlah seperti ini dulu bun."
Nana menatap ku dengan senyuman yang mengembang di bibirnya "Akhirnya aku dan kamu bertemu." Ucapnya Aku tersenyum lalu mengacak rambutnya gemas.
____________________
"Unda kenapa Kaka Cantik berpelukan telus cama Kaka Leval?" Celoteh Reva, aku tersenyum ke arah nya dan mencium gemas pipi gembulnya.
"Karena...kaka rindu sama kaka Cantik ini." Ucap ku yang menatap Nana.
"Kapan makannya Aku sudah lapar." Ucap seseorang yang berdiri di samping Tante Gina, Pria tampan ahh itu pasti Bang Al. aku berlari dan memeluk nya.
"Abang!! bagaimana kabar mu?" Tanya ku sembari memeluk nya.
"Lepasinln gue jijik di peluk peluk sama lo." Buset, ini orang kenapa jadi dingin bener.
"Yahh elaa lemes bener tuh mulut udah kaya mulut buaya aja." Pekik ku kesal.
"Dia memang begitu Rev, cowo dingin sok cool dan sok jual mahal tingkat kegantengan nya memang tinggi tapi nyakinya rendah." Celetuk Nana.
Aku terkekeh kecil "Hahah, kamu ini, emang lo ngga kangen apa ke gue ha?" Tanya ku yang kembali menatap pria dingin itu.
"Najis bener, gue mual liat adek gue yang galau tiap hari merindukan sosok yang biasa biasa aja muka mirip mimi peri aja bangga." Ujarnya sembari memakan Beefsteak miliknya.
Aku mendengus "Gila lo manusia es jadi jadian." Kesal ku.
"Husss makan makan, kalian tuh yah jauh rindu giliran ketemu berantem udah kaya perang dunia kedua aja." Ujar Om Aidan.
Kami semua terkekeh, aku senang melihat suasana seperti ini, akhirnya moments yang aku harapkan sekarang terwujud, bisa bertemu dengannya lagi adalah hal terindah bagi ku.
"Reva!! Kaka foto yah buat kenang kenangan nanti." Ucao Nana yang duduk di samping Reva, tepatnya Reva berada di tengah tengah kami.
"Boleh Kaka."
"Oke, 1,2,3..."
Ckrekk..
"Wahh cantik nya." Ujar Nana melihat foto Reva di handphone nya.
"Iya dong Kakanya juga tampan apa lagi adiknya." Ucap ku.
Dia mendengus "Ngga nyambung tau ga!!."
"Kaka Nana cantik cama kaka Leval Tampan cocok deh." Celetuk Reva, Nana membuang muka aku yakin dia salting,hahah wajahnya sangat lucu jika seperti itu aku merindukannya sangat.
"Mereka memang cocok." Ujar Tante Gina, Aku tersenyum ke arahnya.
"Mommy apaan sih." Ucap Nana sambil menyeruput minuman nya.
Aku mengacak gemas rambut nya, entah dari dulu aku selalu senang mengacak rambutnya rasanya tak pernah hilang sampai saat ini.
"Reval!! udah dong liat rambut Nana jadi gini hemmm." Dengusnya membenarkan rambut nya yang agak berantakan, aku terkekeh melihatnya.
"Kamu sekarang kelas berapa?" Tanya Om Aidan.
" Aku naik kelas 12 Om." Jawabku.
"Bentar, perasaan tante pernah liat kamu deh... owhhhh bukan kah kamu pemenang pertandingan kemarin?" Ujar Tante Gina, aku tersenyum dan mengangguk.
"Hebat banget Rev!! ngga kaya Ayahnya tuh dia bisa apa?" Celetuk Om Aidan. Aku terkekeh melihat wajah kesal Ayah.
"Sialan lo!! ngehasut anak gue."
"Fakta Bro!."
Drttt drttt...
__ADS_1
Tiba tiba Ponsel ku berbunyi, aku meroboh nya nampak nama "Nathalia 🐙" di situ.. aku sangat bingung di sisi lain dia kekasih ku di sisi lain juga kini aku bersama orang spesial di samping ku.
"Kenapa ga di angkat?" Tanya Nana, aku gugup sendiri bagaimana kalau dia tau?
"emm itu la--"
"Dari siapa? Pacar lo yah?" Ucap Bang Al, sial kenapa manusia es ini bisa tau, tapi aku harus bisa menyembunyikan ini.
"Sekuat apa pun lo nyembunyiin sesuatu pada akhirnya bakal ketahuan juga." Ujarnya lagi, Membuat aku benar-benar terpojok,
"Reval." Ujar Nana, aku meliriknya.
"Angkat dulu sayang." Timbal Bunda yang tengah menggendong Reva yang tertidur itu.
"Iya Bun."
Aku menggeser tombol warna hijau ke kanan, jujur rasa gugup ini menyelimuti ku.
"*Assalamualaikum hallo, Reval kamu lagi apa di sana? kok ngga menghubungi ku hari ini?" Tanya Nata dari sebrang sana.
"Waalaikumsalam Nat, sorry gue lagi kumpul bareng keluarga." Jawab ku.
"Gue? kok kamu ngomong nya gue sih aku ga suka Reval."
"Maaf."
"Owh iya boleh aku ngomong sama Tante Anita ga? aku kangen banget."
"Hemm boleh dong."
Aku menyodorkan handphone ku ke Bunda, bunda tersenyum dan menatap wajah Nata yang berada di sebrang sana, kini telepon beralih menjadi Video call
"Hallo Tante!!."
"Hallo Nata."
"Tante dimana, kok ramai banget."
"Teman lama?"
"Iya teman lama Reval itu loh Na... Tuttt tuttt*."
Tiba tiba jaringan di Indonesia buruk membuat panggilan mereka terputus.
"Ahhh gilaa, kenapa harus ga ada sinyal sih!! btw siapa yah temen lama Reval?? ahh nanti juga di cerita kali." Ujar Nata yang kemudian berbaring di atas ranjang nya.
"Loh kok mati sih Kak?" Tanya Bunda kepada Reval, Reval mengangkat bahunya lalu menggeleng.
"Sinya kali." Ujar Reval yang di angguki oleh bunda.
"Siapa tadi?" Tanya Nana bingung.
"Owhhh itu temannya Reval Na, namanya Nata dia sangat dekat dengan Reval." Jawab Abraham.
Nana mengangguk "Nata yah."
'Kok serasa familiar yah namanya, ahh mungkin itu hanya halusinasi aku aja.' batin Nana.
"Kok bengong?" Tanya Reval melirik Nana yang tengah bengong itu.
Nana tersenyum lalu menggeleng "Ngga kok heheh."
Aldio sangat bosan dengan suasana seperti ini, dia tak terbiasa dengan suasana Ramai, dia lebih memilih bermain game online nya, tapi Seketika chat masuk dari seseorang, dia berdecak kesal pasalnya notifikasi itu mengganggu nya, dia melihat siapa yang memberi pesan nampak nama "Bocah Tengil"
BocahTengil.
[19:31mp] Hai kak!
[19:31mp] udah pulang ?
__ADS_1
[19:31mp] kata Nana kalian lagi di luar yah?
[19:31mp] kemana kok ngga ngajak Ais sih?
[19: 50mp] Kaka!!.
Aldio mendegus lalu mengetik papan keyboard nya
AldioSyham.
[20:01] Berisik lo!.
BocahTengil.
[20:01] Kaka tau ga, Kaka itu bikin aku serasa jadi penulis novel terkenal.
AldioSyham.
[20:05] ????
Ais yang berada di kamarnya tersenyum senang melihat pesan nya di jawab oleh Al, yah meski singkat dan balasnya lama itu adalah sesuatu yang langka baginya.
BocahTengil.
[20:05] Soalnya ada keindahan yang jarang ditemuin di dunia nyata, kenal sama Kaka misalnya
Tanpa Al sadari ujung bibir nya terangkat mengukir senyuman tipis, Nana yang melihat itu menyipit kan matanya heran.
AldioSyham.
[20:05] Receh lo!
"Abang chatan sama siapa sih?" Tanya Nana benar benar penasaran.
"Kepo!." Ketus Al lalu memasukkan handphone nya kedalam saku.
"Lagi kasmaran dia." Celetuk Aidan yang langsung mendapatkan tatapn tajam dari Al.
Selesai makan Nana dan Reval izin untuk berjalan jalan mengelilingi mall berdua, mereka menuju lantai paling atas di mall ini, Nana ingin sekali menyaksikan bintang dan indahnya kota London di malam hari bersama seseorang yang sangat istimewa baginya.
Mereka duduk di tebing itu, tanpa rasa takut Nana membiarkan kakinya menggantung begitu pun dengan Reval. Nana melirik Reval.
"Reval! kamu tau ga aku ga nyangka bisa bertemu kembali dengan mu."
Reval melirik Nana "Benar, Rasanya seperti mimpi, tapi nyatanya ini memang kenyataan."
"Kamu bakal balik ke Indonesia?" Tanya Nana kali ini ia fokus memandang bintang di atas.
Reval memengang kedua tangan Nana "Aku harus sekolah Na, jadi aku bakalan kembali ke Indonesia, tapi sebelum itu kita habiskan waktu bersama di sini."
Nana tersenyum "Iya juga, Aku harap bisa terus bersamamu."
Reval tersenyum "Aku harap begitu."
"Aku tahu jika disetiap tatapan, kita akan terhalang oleh jarak dan juga waktu. Namun, aku akan tetap yakin jika nanti kita akan bertemu kembali seperti ini." Ujar Nana menyadarkan kepalanya di bahu Reval,
"Reval!."
"Hmm."
"Aku kangen kamu."
"Aku juga."
Hari ini adalah hari paling bahagia, ketika aku bisa bertemu kembali dengannya melihat senyuman manis di bibirnya, melihat tawa yang sudah lama sekali aku tak mendengar nya, Nana gadis kecilku ini tumbuh menjadi perempuan cantik selama ini kita selalu bertemu tanpa di duga, Kesedihan dan kelelahan ku terbayar sudah hanya dengan bertemu dengannya.
- Revaldi -
Bahagia itu bisa sangat sederhana. Hal-hal yang mungkin kecil dan tampak sepele justru bisa jadi sumber kebahagiaan yang tak bisa dinilai dengan uang. Seperti sekarang aku senang bisa bertemu kembali denganya melepas semua kerinduan selama ini.
__ADS_1
Mungkin kamu juga pernah mengalami atau berada di situasi seperti ini. Ketika kamu bisa bertemu dengan teman lama dan ternyata dia tak berubah, kamu dan dia bisa merasakan keseruan yang sama. Masih bisa tertawa dan usil sama seperti dulu. Dan itu sudah cukup menggambarkan arti bahagia yang sesungguhnya.
- Reina -