
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, semua siswa dan siswi di negeri London ini tiba-tiba menjadi anak kutu buku, kemana mana yang di pegang selalu buku, pembahasan mereka selalu tentang soal.
siswa yang selalu bermalas-malasan kini menjadi siswa teladan dalam seminggu, seperti sekarang Nana yang selalu membaca buku Novel remaja nya kini beralih pada buku tebal pendidikan.
Ia memang jarang membaca buku pelajaran, pendidikan atau hal yang bersangkutan dengan materi-materi pelajaran di sekolahnya. Namun meski begitu Nana selalu bisa mengisi setiap soal yang diberikan oleh gurunya dengan mudah.
berbeda dengan Ais yang dari tadi mendegus dan uring uringan sendiri, "Nana...oii...oiii." Panggil nya setengah berbisik. Nana masih fokus ia tentu mendengar suara bisikan sahabatnya.
Nana menoleh menatap Ais dengan wajah datar nya lalu bertanya dengan mengangkat satu alisnya.
Ais tersenyum senang sekian lama detik berganti menit akhirnya Nana menjawab nya "Ini gimana? gue ga ngerti." Ucapnya masih berbisik karena pengawas masih stay di depan.
Nana mencatat jawaban yang soal tadi Ais tanyakan kepadanya. "Terimakasih Nana sayang muach.." Ucapnya di sertai senyuman manis, Nana hanya mendengus dan membalikkan kertas ulangan lalu melipat kedua tangannya di atas meja menjadi bantalan untuk kepalanya.
Setelah kejadian lusa kemarin Nana selalu ceria di Rumah namun tidak di sekolah ia selalu nampak murung dan tidak banyak bicara seperti biasa, Teman temannya pun selalu bertanya namun Nana selalu mencari alasan untuk menutupi kesemuanya.
Rama? tentu ia tahu apa yang terjadi dengan Sahabatnya ini, ia mengetahui semuanya dari Aldio Abang dari Nana. Rama memang sengaja bertemu dengannya untuk menanyakan kenapa Nana berubah menjadi murung seperti itu.
Awalnya Aldio kaget karena Nana selalu menampakkan wajah ceria nya di rumah, ia baru tahu bahwa adiknya selalu murung dan sedih ketika di sekolah.
Pelajaran hari ini selesai semua siswa membereskan buku yang berserakan di atas meja mereka, dua hari lagi Ulangan selesai membuat para siswa lebih fokus dan giat.
Tanpa Nana sadari seseorang berdiri di hadapannya memperhatikan Nana yang terlihat lesu dan tidak bersemangat sedang memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.
"Ahkm." dehem nya, Nana menonggak melihat sosok pria yang selalu ada selama ini.
"Rama.." Cicit Nana pelan sambil meraih tasnya.
"Ikut gue yu." Ajaknya sambil mengulurkan tangannya. Nana menyatukan alisnya lalu menerima uluran tangannya.
"Tapi yang lain?" Tanya Nana dengan bingung.
"Kita mau pulang aja Na! mau belajar biar kaya lo ga nyontek dan fokus pada soal." Sambar seseorang, Nana menoleh melihat Fay, Zel dan Ais yang tengah berdiri dan siap untuk pulang itu.
"Tap--."
Zel menghampiri Nana dan memegang kedua pundaknya "Kita ga apa apa kok! lo ikut Rama, cari hiburan dikit biar muka lo ga kusut gitu." Ucapnya sambil tersenyum.
"Iya Na! lo ga boleh kaya gini terus! ikut sama Rama aja sekalian cari angin kan biar otak lo ga ngebul terus." Fay berucap sambil berjalan ke arah Nana,Zel dan Rama yang tengah berdiri itu.
"Bener banget Na!! apa pun yang lo hadapain kita akan selalu ada buat lo!! Jadi, tetap semangat." Tambah Ais sambil berlari kecil dan merangkul pundak Nana.
Nana tersenyum buliran bening lolos begitu saja, ia terharu melihat teman temannya peduli melihat perhatian mereka kepadanya. Tanpa di minta Nana memeluk ketiga sahabatnya itu.
"Makasih, gue sayang kalian." Ujarnya sambil terus memeluk ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Rama tersenyum simpul melihat pemandangan yang ada di depannya itu "Udah ayo! keburu sore." Ajaknya yang di angguki oleh Nana.
"Gue pergi yah! bye!." Nana berpamitan kepada sahabat nya itu. lalu memegang tangan Rama dan mengikuti nya.
"Gue harap lo bahagia terus Na!." Gunggam Fay sambil memandang punggung Nana dan Rama yang mulai menghilang.
"Bener! dia terlalu baik untuk di sakiti." Tambah Zel.
"Ahhhh melow banget hari ini.." Ucap Ais sambil merengek. Fay dan Zel yang melihat itu bergidik ngeri lalu berjalan duluan.
"OII KAMPRET!! MAIN NINGGALIN AJA LO!." Teriak Ais sambil mengejar kesua sahabatnya itu.
kicauan suara burung mengisi keheningan di bukit ini, bukit yang lumayan tinggi, bukit yang hijau oleh Amparan rumbut rumput kecil, bukit yang hanya mereka berdua saja yang tau.
Bukit Ranana, memang aneh namanya. Bukit ini milik mereka berdua, di tempat ini lah mereka bertemu dengan keadaan yang tidak indah. mereka mempercantik bukit ini dengan bunga bunga indah di sekelilingnya.
Bukit Ranana, singkatan dari Rama dan Nana. Nana dan Rama menemukan bukit yang tidak terurus dan tidak di miliki oleh siapa pun. di sini mereka bertemu, Nana menemukan Rama seorang diri, di sini mereka saling terbuka dan menjadi sepasang sahabat.
Flashback 7 tahun yang lalu...
Gadis kecil dengan rambut panjang bergelombang berjalan seorang diri, nampak nya gadis ini tengah marah dan sedih. Nana! gadis berusia 8 tahun itu tengah marah kepada kedua orang tuanya yang tak bisa mengerti akan dirinya.
Gadis ini sengaja pergi dari rumah untuk mencari kesenangannya sendiri, ia melihat bukit yang sangat sangat tidak terurus, bukit ini seperti tidak ada pemiliknya. langkah kecilnya berjalan menuju bagian tertinggi dari bukit ini.
Namun langkah nya terhenti seketika melihat Pria kecil tengah duduk sambil memeluk lutut kecilnya pandangan nya jauh ntah kemana.
"Siapa kamu?" Tanyanya, sontak gadis kecil ini berhenti. seperti nya pria ini merasakan kehadirannya. namun ia butuh seseorang saat ini ia melangkah kan kakinya kembali dan duduk di samping pria itu.
"Hai!." Sapa gadis ini sambil menoleh menatap wajah pria kecil ini dari samping.
Pria kecil ini masih bergeming fokus pada pandangan nya yang kosong.
"Kamu okey? kamu baik baik aja?" Tanya nya lagi, tapi lagi lagi tak di jawab olehnya. gadis itu mengikuti arah pandang pria kecil ini
"Hai." Ucapnya, membuat gadis itu menoleh dan tersenyum.
"Hai! Aku Reina kami boleh panggil aku Nana." Ucap Nana mengulurkan tangannya.
Pria itu menerima uluran nya lalu tersenyum tipis "Rama."
Mereka saling mengenal, ntah apa yang membuat suasana yang awalnya hening kini menjadi ramai oleh ocehan keduanya. Dengan terbuka mereka menceritakan isi hatinya saat ini, menceritakan semuanya yang mereka alami
"Kamu benar orang tua selalu aja mengatur apa yang kita mau." Ujar Nana saat mendengar cerita Rama.
Ternyata Pria kecil ini tak jauh dari kehidupan gadis kecil ini.
__ADS_1
Rama pria kecil itu selalu merasa bahwa hanya dirinya lah sendiri di antara keluarga nya. kehidupan nya tak sebebas anak anak pada umumnya yang selalu membuat moment indah bersama kedua orang tuanya, tapi tidak dengan Rama, dia dari kecil hingga tumbuh menjadi pria kecil yang berusia 9 tahun ini selalu di tinggal pergi oleh keduanya, ia dia di urus oleh babysister sendiri.
Babysisternya yang selalu ada, babysisternya yang selalu memberinya semangat, babysisternya yang mengurus ia hingga tumbuh menjadi sekarang.
keduanya orang tuanya selalu sibuk akan pekerjaannya, tak ada satu pun waktu untuk berkumpul, tak ada satu pun waktu untuk bercerita, tak ada satu pun waktu untuk membuat kenangan indah seperti keluarga lain.
"Kamu harus kuat! karena kamu pria Rama!." Ucap Nana sambil menepuk pundak Rama.
Pria kecil itu menoleh dan tersenyum dengan tulus "Terimakasih, kamu juga berjanji lah pada ku untuk menjadi ceria seperti biasanya, tidak baik bersedih terlalu lama." Ucapnya sambil mengangkat tangan menunjukkan kelingking mungilnya.
Nana menyatukan kelingking nya dengan kelingking jari milik Rama "Kamu juga berjanji lah untuk selalu tersenyum, jangan pernah bersedih sebab aku yakin orang tua kamu bakalan sadar nanti nya."
"Sekarang kita Sahabat." Ucap mereka serentak lalu di iringi dengan tawa dan canda oleh keduanya.
Tanpa mereka sadari dua orang sepasang suami istri itu terharu melihat pemandangan ini, mereka menyadari semua kesalahan pada anak anaknya. entah sejak kapan mereka berdiri di situ menyaksikan celotehan dan curhatan Gadis dan Pria kecil itu yang selama ini mereka tidak tau.
FlashOn.
"Na!." Panggil Rama yang sudah duduk di atas bukit dekat Nana.
Nana tersadar akan lamunannya "Hmm." deheman sebagai jawabannya Nana masih fokus kedepan.
"Gue tau apa yang buat lo seperti ini." Ucapnya, Seketika Nana menoleh menatap mimik berwarna hitam pekat itu.
"Sok Tau lo!!." Jawab Nana ketus kembali memandang ke arah depan.
"Lo ga tau kalau gue peramal lo!."
"Hmm."
"Na! Sekuat apa pun lo nyembunyiin sesuatu dari gue, gue akan tau Na! sekuat apa pun lo pura pura kuat tapi gue bisa liat itu semua bohong! gue udah lama kenal lo! gue ga mau Na lo pura pura bahagia di depan gue. Jadilah diri sendiri ketika bersama gue." Kata kata itu berhasil membuat air mata Nana jatuh membasahi pipi putih nya, Rambut nya yang tergerai bertebangan kecil oleh Angin.
"Ramaaaa hiks!." Nana Berhambur memeluk tubuh Rama dengan erat meluapkan segala kesedihan dan kekecewaan nya selama ini.
Rama membalas pelukannya dan mengelus rambut panjang Nana lembut "Lo itu segala buat gue Na! karena lo hidup gue jadi berwarna, karena lo juga gue gerasain kasih sayang kedua orang tua gue Na!." ucapnya sambil memejamkan matanya mengungkapkan semuanya.
"Makasih hiks..." Nana mengeraikan pelukkannya dan menatap Rama dengan hangat lalu kembali memeluk nya lagi.
"Berteriak lah jika itu membuat mu tenang." Ucap Rama.
Nana menatap Rama "Malu emmm."
"Cuman ada kita berdua di sini kenapa malu?"
Nana mengangguk dan berjalan ke depan membuat Rama kini berada di belakang tubuh Nana.
__ADS_1
Nana menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan "AHKKKKK!!!! GUE RINDU LO REVAL!!! GUE RINDU LO!!! GUE SAYANG LO." Teriak Nana, Rama tersenyum mendengar nya Nana melirik ke arah Rama dan tersenyum lalu ia kembali berteriak...
"RAMA!!!! GUE JUGA SAYANG LO RAMA!!!! TERIMAKASIH UNTUK SEMUANYA!!." lanjut Nana dam berlari ke arah Rama memeluk kembali tubuh Rama.