
| Reina |
"Belajar yang rajin yah sayang, hati hati kalau ada apa apa hubungi aku cepat!." Huh Rasanya melelahkan jika harus berdekatan terus dengan sepasang suami istri itu, siapa lagi kalau bukan Bang Al dan Ais.
"Kenapa dengan muka mu?" Tanya Bang Al, aku melirik nya "Tidak ada, cepat sana pulang ngapain lama lama."
"Hei!! Kau ini apa apaan, lagian aku lama lama di sini juga bukan untuk terus bersama mu melainkan bersama istriku." Ucapnya Fiks parah gila, stress, miring ini orang mentang mentang udah nikah aku di lupain huh... Sombong dan bentar aku melirik Ais yang mengenakan gamis biru juga pasmina nya itu tersenyum malu, sumpah lama lama aku geli.
"Huh!!! Terserah Abang lah Nana pusing." Aku meninggalkan mereka berdua.
"Hei!!! Nana Abang hanya bercanda!!!."
"Kamu ini suka sekali membuatnya kesal."
"Rasanya menyenangkan jika aku harus membuatnya kesal dan Rasanya sudah tidak bisa hilang karena aku suka sekali menggoda mu!."
"Huh, apaan itu sudah sana pulang! Aku masuk dulu yah Bee Assalamualaikum."
"Iya, hati hati sayang waalaikumsalam."
Aku berjalan dengan kesal karena ulah Abang Al itu, entah kenapa dia suka sekali membuat ku kesal setiap hari dan setiap saat.
Hari ini aku menggunakan pakaian biasa celana jeans, kaos putih polos juga rambut yang aku biarkan tergerai.
DOR
"Astaghfirullah kau ini selalu aja membuat ku kaget!!." Aku tersentak ketika Regal tiba tiba datang dengan berlari dan merangkul ku, dari dulu hingga sekarang kelakuan ini tak pernah berubah.
"Tumben sendiri, Kaka ipar mu mana?" Ucapnya, Aku mendengus kini kami berjalan dengan Reval merangkulku membuat semua mata tertuju pada kami.
"Dia sedang membuat kisah drama Korea yang romantis sekali." Aku mengucapkan itu dengan nada kesal.
"Ha? Maksud mu?" Ya ampun pagi ini aku di buat kesal juga gemas oleh tindakan dua pria menyebalkan.
"Sudah lah lupakan aku malas membahasnya."
"Cieeeee berduaan Mulu." Pekik seseorang yang tiba tiba datang di hadapan Aku juga Reval. Demi apa hari ini aku sudah di buat kaget juga oleh tiga orang sekaligus dan ini masih pagi bagaimana dengan nanti siang atau seterusnya?? Huhhh Mommy!!!!
"Ya ampun kalian berdua udah mirip hantu tau ga?! Datang tiba tiba ngga tau asal usulnya." Pekik ku, mereka berdua mencibir "Hei! Bagaimana bisa Lo berkata seperti itu kita ini manusia tampan yang hanya ada satu dunia." Ucap pria yang mengenakan topi itu. Iqbal.
"Benar, kalau pun kita hantu sudah pasti kita mendapatkan julukan pria tertampan di alam akhirat." Timbal temannya yang merangkul Iqbal siapa lagi kalau bukan Andri.
"Hei! Gue masih ingin hidup dan tidak ingin cepat cepat menjadi hantu!! Lo aja sana duluan!." Ucap Iqbal melepas rangkulan temannya.
"Lu mah ga solid ahh."
"Bukan masalah solidnya, lu mah bicarin mati gue ga mau mati duluan gue kan belum nikah!." Dan sekarang mereka malah berdebat membuat kepala ku serasa ingin pecah begitu saja.
__ADS_1
"Hei!! Sampai kapan kalian akan berdebat seperti itu!." Ujar Ais yang datang tiba tiba sambil menaruh tangan di dadanya.
"Ehh Ais, kemana aja lo?" Tanya Reval, aku memutar bola mata ku jengah "Sudah ku katakan dia sedang membuat film drama Korea romansa."
"Ha? Siapa yang membuat film drama Korea? Apa kah kau Nana?? Wahhh kalau begitu aku mau dong jadi pemeran utamanya dimana? Korea" Dan sekarang otak Lolanya kembali seperti semula, saat ini lah aku ingin teriak pada dunia bagaimana aku menghadapi sikapnya.
"Ais lebih baik kita ke kantin yuk gue lapar." Ucap ku berusaha selembut mungkin aku melirik Reval, Iqbal dan Andri yang tengah menahan tawa. Benar benar mereka membuat ku kesal dan menderita sendiri.
"Tumben Lo ga bareng sama NaaaaaTaaaa." Ucap Iqbal sambil menyeruput minumannya dan menekan kata terakhir 'nata' aku memandang Reval yang duduk di hadapan ku. Ku rasa di saat seperti ini lah aku harus pura pura tegar.
"Oh itu, dia ada kelas siang." Jawabnya, kita mengangguk.
"Emang seberapa penting sih Nata buat Lo?" Aku membulatkan mata ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ais.
Kini semua orang tertuju pada Reval, aku merasa deg degan dan resah sendiri menunggu jawabannya "Haha! Apa apaan sih kalian, yah Nata sama penting nya kaya kalian." Jawabnya.
"Tapi kok gue serasa bukan orang penting yah buat Lo." Ucap Andri.
"Ya kali, Reval menempatkan mu sebagai moodbooster ngarep aja lu kaya cicak." Pekik Ais, aku terkekeh ketika melihat mereka berdebat.
"Gue ini normal oi! Masa iya gue jadiin Lo moodbooster gue kan ga banget." Ujar Reval lagi.
"Terus siapa dong moodbooster lu itu, Nata or Nana?" Tanya Iqbal,
"Hei!! Kenapa kau bawa bawa nama gue ha!." Ketus ku. Ais menyenggol bahuku "Bilang aja lu senang Na ga usah pura pura domba!."
"Jadi siapa?" Tanya Iqbal lagi, ini bocah kekeh banget sama pertanyaan nya.
"Yahh Na---"
"Reval, Nata nyariin Lo tuh." Pekik seorang gadis yang tiba tiba menghampiri meja kami, semua mata tertuju pada Reval terutama aku. Kenapa di saat seperti ini dia harus muncul sih.
"Pendek umur tuh bocah." Dengan Andri.
"Panjang OGEB!" Ralat Iqbal.
"Ok gu--"
"Suruh aja dia ke sini." Ucap Ais dengan cepat memotong ucapan Reval, Aku mendengus kesal sangat kesal
"Oke" ucap gadis itu lalu berlalu meninggalkan meja kami.
_o0o_
Di tempat lain.
Seorang gadis yang memakai rok hitam sebatas lutut juga switer crop nya tengah berdiri memperhatikan seseorang yang tengah bercengkrama dengan riang bersama teman temannya itu.
__ADS_1
Seorang gadis menghampiri nya "Nat, katanya Lo aja yang kesana nyamperin."
"What!!." Pekik gadis itu cepat.
"Masa iya Reval bilang seperti itu."
"Bukan Reval sih, tapi gadis berjilbab biru itu." Ucap gadis itu menunjuk Ais menggunakan dagunya.
"Baik lah, terimakasih." Gadis itu mengangguk dan pergi meninggalkan Nata yang tengah menahan kesal itu.
Nata berjalan dengan kesal menuju meja Reval namun langkahnya kembali seperti biasa ketika
Dia hendak sampai.
"Hai Reval, Hai semua." Sapanya, dia mengalihkan mata semua orang yang ada di meja itu.
"Hai"
"Hai! Katanya kamu masuk siang kok sudah datang?" Tanya Reval lembut.
'Acara apa lagi ini.' batin Nana yang memperhatikan keduanya dengan bersandar di kursinya dan tangan yang di lipat di depan dada.
"Ah, itu aku ada pelajaran tambahan iya pelajaran tambahan." Jawabnya.
"Tapi bukan maksud Lo buat ngikutin Reval diam diam kan?" Ucap Ais dengan santai, Nana memejamkan matanya, bagaimana bisa seorang Ais berkata kejam seperti itu.
"Lo ga duduk? Kenapa bisul?" Pekik Andri, Ais, Iqbal dan Nana menahan tawanya.
Reval di buat kesal oleh teman temannya yang bersikap tidak sopan kepada Nata "Kenapa kau berbicara seperti itu?" Pekik Reval sambil berdiri dari kursinya.
"Lah terus kenapa juga kau membela dia." Ucap Iqbal kesal.
"Sudah lah mendingan kita pergi." Ajak Nata, gadis itu berhasil membuat semua orang di sana merasa kesal, Reval mengangguk dan berlalu bersama Nata.
'Kau sudah berubah Reval, dulu kau selalu ingin bersama ku dan dulu waktu mu dihabiskan bersama ku kini, semuanya berbeda.' batin Nana berusaha tersenyum.
"Kenapa kamu telat membela ku dan kenapa kamu tidak pergi meninggalkan mereka demi aku." Nata yang kesal meluapkan kekesalannya kepada Reval.
Cowok itu mendengus dia benar benar di buat bingung oleh gadis di hadapannya "Maaf, tadi aku ingin menemui mu cuman Ais lebih dulu menyuruh teman mu untuk pergi."
"Oh jadi kamu mendengarkan kata kata dia gitu?"
"Kau ini membela siapa sih? Aku apa Mereka?" Lanjutnya.
Reval mengangguk pundak Nata "Sudah jangan marah marah terus, mendingan sekarang kita masuk nanti aku akan bicara dengan mereka."
Nata tersenyum "baik lah ayo."
__ADS_1
Tanpa mereka sadari seorang gadis berdiri tak jauh dari mereka, dengan Air mata yang mulai turun dia tersenyum akan hal itu. Tersenyum karena melihat betapa sakitnya ketika seseorang yang sangat istimewa itu berubah.