
Ada harapan dalam kerinduan, yaitu pertemuan dalam realitas.
~Reina
Pria rambut hitam, mata teduh, hidung mancung dan kulit putih itu duduk tenang di kursi taman. Netra nya fokus pada handphone yang di genggam nya, sesekali dia tersenyum melihat orang yang dia sayang bahagia jika jujur dirinya memang takut, takut kehilangan sosok penyemangat hidupnya selama ini. Dia adalah Rama Adelio Prasaja, dia sudah tau atas kedatangan Reval di London dan pertemuan mereka.
Semalam Nana menghubungi nya, memberi tahu rasa bahagia nya. Dia sendiri tak ingin egois dia memang menyayangi Nana tapi dia tak ingin memaksakan semuanya yang ada di pikirannya sekarang hanya lah kebahagiaan Nana. Sudah waktunya Nana bahagia dan menemukan kebahagiaan nya sendiri.
"Hai!!!!! Rama!!." Teriak seorang perempuan cantik dengan rambut yang di ikat kebelakang, dia berlari kecil menuju ke arah Rama.
"Nana!." Ucap Rama, dia berdiri dari duduknya melihat Nana menghampiri nya.
Netra milik Rama teruju pada sosok pria tinggi dan tampan yang berada tak jauh di belakang Nana.
Bugh...
Nana memeluk tubuh Rama, senyum nya tak luntur dari bibir mungilnya. Dia membalas pelukan Nana dengan hangat tapi di balik itu netranya tak lepas dari sosok pria yang kini berdiri di belakang Nana.
"Maaf Membuat mu menunggu Heheh." Ucap Nana girang. Rama tersenyum lalu membenarkan Rambut Nana yang agak berantakan.
"Ngga kok." Ujar Rama.
Netra coklat milik pria yang berada di belakang Nana itu menatap intens mimik teduh milik Rama.
'*Gila! itu cowo siapa? wah bukannya dia lawan gue dari Indonesia kemarin yah?' Batin Rama.
'Ha!! cowo itu bukannya lawan gue waktu pertandingan kemarin?.' Batin Reval*.
"Ahkmm sampai kapan kalian mau pelukkan?" Suara bas milik Reval Membuat Nana melepaskan Rama dan menatap wajah Reval dengan senyuman manis di bibirnya.
"Cieee kamu cemburu yah Hahah!!." Nana tertawa membuat Reval tersenyum singkat lalu mengacak rambut Nana gemas membuat sang pemilik mengembungkan pipinya.
"Owhh iyaa gue lupa, Rama kenalin ini Revaldi yang selalu gue ceritain ke lo. dan Reval ini Rama sahabat gue termuter Heheh." Ujar Nana memperkenalkan mereka berdua.
Rama dan Reval lagi lagi saling menatap.
"GUE UDAH TAU!."
"GUE UDAH TAU!."
Ucap mereka bebarengan membuat Nana saling menatap satu sama lain. "kalian udah kenal? kapann?" Tanya Nana heran.
"Waktu pertandingan Basket kemarin."
"Waktu pertandingan Basket kemarin."
Lagi lagi Reval dan Rama mengucapkan hal yang sama, Membuat Nana tambah bingung.
"Kok gue lupa sih? dan emang kalian kok bisa kenal gitu?"
"Dia lawan gue Nana."
"Dia lawan gue Nana."
Reval dan Rama saling mendegus kesal. Nana terkekeh melihat tingkah laku dua pria di hadapannya itu.
"Lo ngikutin gue ha?" Ucap Rama kesal.
"Lo kali yang ngikutin gue? lo fans gue?" Ujar Reval tak mau kalah.
"Pede banget lo!! yang ada gue jijik." Pekik Rama.
"EHH IKAN BUNTEL! NGACA DONG NGACA!!."
"SIALAN!! LO IKAN GURAME."
"BIARIN LEBIH ENAK DARI PADA IKAN BUNTEL."
"BIARIN MONTOK DARI PADA GURAME GALAK KAYAK OM OM!!."
"YANG PENTING ENAK!!."
"BO--."
"STOP!!! Husss kalian kok malah berantem sih, pusing nih gue."
"Lo sakit Na?"
"Lo sakit Na?"
Lagi lagi Rama dan Reval mengucapkan hal yang sama.
"Ehhh lo ngikutin gue mulu!!." ketus Rama.
"Lo kali!!."
"lo!!."
"lo!!."
"STOP!!! KALIAN BISA GA SIH AKUR, CAPE GUE JADI PENONTON KALIAN DARI TADI, KALAU RAME SIH GUE SUKA KAYA FILM DRAKOR GITU!! LAH INI? UDAH KAYA FILM SI KANCIL NGELAWAN BUAYA!." Pekik Nana Membuat Rama dan Reval bungkam.
"Maaf Na." Ucap Rama Sambil menunduk.
__ADS_1
"maafin gue Na." Ujar Reval yang sama ikut menunduk.
"Iya iya deh iya.. yah udah kita jalan jalan yuk." Ucap Nana menggandeng kedua tangan pria tampan itu.
Kini Nana berada di antara mereka, sambil tertawa senang, dia sangat bersyukur bisa di pertemukan oleh Rama yang sangat baik dan penyayang dan dia juga sangat senang bisa bertemu dengan Reval kembali sang sahabat kecil nya yang selama ini dia rindukan.
"Es Cream Vanilla Coklat 2." Ucap Rama
"Es Cream Vanilla Coklat 3 ."Ujar Reval
"Waduhhh Kasep kieu ey si Mas, kok kalian bisa barengan kembar nya? aduhh meni kasep kasep pisan." ujar si penjual es cream monas yang berjualan di pinggir jalan itu.
"Bentar, Sejak kapan orang sunda ada di London!." Tanya Rama heran.
Reval Menggeleng "Ngga tau gue juga aneh, tuh orang bisa masuk ke negeri ini yah?"
Rama mengangguk "Bener banget! apa jangan jangan dia pakai pintu kemana saja milik Doraemon?"
"Sialan lo!! mana bisa lah."
"Aduhhh Si Kasep malah debat gini, jadi mas kasep ini mau pesan berapa?".
Reval dan Rama terperanjat kaget "tiga bang."
"Lama banget sih kalian." Ujar Nana yang baru melihat Rama dan Reval datang dengan masing-masing memegang es cream monas.
"Sorry tadi ada orang sunda nyasar."
"Orang sunda nyasar? kok bisa?"
Rama dan Reval Menggeleng "Orang gila kali." celetuk Rama.
Senja telah tiba, seakan menghipnotis tiga remaja yang tengah menyaksikan sinar jingga keemasan yang menjadi pemandangan indah di pantai ini.
Pikiran ketiga remaja itu melayang jauh, Mereka kini berada di pantai, permintaan Nana di wujudkan oleh dua pria tampan di sisinya itu. Ketiganya memeluk lututnya masing masing duduk di antaranya tebih tebing tinggi mata mereka menikmati keindahan senja ini.
"Terimakasih kalian udah mau mengajak gue ke pantai untuk menyaksikan indahnya senja." Ucap Nana melirik Reval dan Rama.
"Sama sama Na, gue ingin liat lo bahagia sebelum gue balik ke Indonesia." Ujar Reval.
Nana mengangguk dan tersenyum "Makasih, karena udah mau menyempatkan diri untuk bersama gue."
"Dan Rama, makasih karena lo selalu ada buat gue." Ujar Nana menatap Rama,
Rama mengangguk "seperti janji kita sebelum nya, bahwa kita akan selalu bersama bukan?" Nana membenarkan ucapan Rama dengan anggukan nya.
Nana melirik Reval "Rev, lo juga akan nepatin janji lo kan? nunggu gue balik ke Indonesia." Tanya Nana, Reval menatap Nana hatinya sakit ketika dia mendengar ucapan Nana, seharusnya dia memberi tahu hubungannya dengan Nata.
"Ak--."
"Siapa tuh angkat dulu." Ucap Nana melirik Reval, Reval mengangguk dan berjalan agak jauh dari Nana dan Rama.
"Hallo sayangg!! kok kamu dari tadi susah banget di hubungi?" Ujar seseorang dari balik telepon.
Reval mendegus dia harus bisa membuat ekspresi sebaik mungkin "Maaf sayang, aku tadi lagi bermain sama Reva."
"Owhh iya? diamana dia sekarang? aku rindu emmm." ujar Nata,
"Dia tidur sayang, kecapean katanya, kamu lagi apa?"
"Emmm aku lagi nunggu kamu pulang, lama banget."
"Heheh maaf yah, besok atau lusa aku pulang kok."
"Owh iy--."
"REVAL!!!" Terak Nana, Reval terperanjat dan menoleh dengan cepat melihat Nana melambaikan tangannya dia mengangguk.
"Siapa itu dari sayang? kik suaranya aku ngga pernah dengar yah?"
"Ahh iya itu teman aku sayang, Nanti aku cerita kan deh. aku tutup dulu yah Assalamualaikum."
"Ahhh iya sayang waalaikumsalam."
Reval berjalan kembali ke arah Nana dan Rama dan kembali duduk.
"Siapa?" Tanya Nana
"Teman aku Na." jawab Reval.
Nana mengangguk "Senja mau berakhir, kata Bang Al kalau kita melihat senja mau berakhir dan berubah menjadi gelap kita bisa memejamkan mata kita dan menyebutkan keinginan kita dalam hati, dan sekarang gue mau coba bareng bareng sama kalian, mau yah?"
Nana melirik keduanya, Rama dan Reval mengangguk dan tersenyum dia setuju dengan usul Nana ini akan menjadi momentum indah bagi ketiganya.
Perlahan mereka memejamkan kedua matanya, mencoba menikmati suasana indah ini menghirup udara segar di pantai ini.
"Tuhan, apa yang aku harus lakukan, aku tak ingin melihat kedua perempuan yang aku sayang sedih dan terluka mereka sangat berarti bagi ku. Aku membutuhkan waktu untuk mengartikan perasaan ini, jika jujur aku sangat senang sekarang bertemu dengan Nana mengubah segalanya aku bersyukur bisa bertemu kembali dengannya dan menghabiskan waktunya bersama nya, Terimakasih Tuhan karena engkau telah menemukan kembali aku dengannya."
Reval mencurahkan semuanya dengan memohon dan berdoa kepada sang kuasa, dia sangat yakin bahwa Allah akan mengabulkan permintaan nya walaupun dia tak tau kapan itu terjadi.
"Tuhan, aku sangat sangat bahagia kenapa? engkau tau? karena aku bertemu kembali dengan nya sahabat kecil ku Reval! aku bertemu dengannya dengan keadaan yang berbeda dia tumbuh menjadi pria sangat tampan, dan aku yakin pasti banyak perempuan yang menyukainya, dan aku harap Reval bakalan menepati janji dulu. Tuhan aku ingin sembuh dari penyakit yang di deritaku selama ini karena aku ingin selalu menghabiskan waktu bersama orang-orang yang aku sayangi, Membuat kenangan indah bersama mereka. Aku harap semua doa ku ini sampai kepada mu."
Tanpa sadar Nana meneteskan air matanya, hanya itu yang dia inginkan selama ini. sudah cukup penyakit yang dia derita selama ini membuat hidupnya berbeda dari kehidupan teman temannya.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin ini bukan cinta. Ini hanya rasa suka, rasa penasaran, rasa nyaman, sebuah ketertarikan yang membuat pikiranku tak bisa lepas dari dirinya. Aku yakin kamu yang sedang mengalaminya pun setuju, bahwa hal-hal kecil yang telah dia lakukan sanggup membuatmu terbawa perasaan. Tetap saja, apapun bentuknya, hati nggak bisa berbohong tentang apa yang dirasakannya. Berulang kali aku menyangkal, bahkan sedikit menjauh darinya, semakin sulit untuk diabaikan. Aku harap kamu Nana bahagia."
Tidak mudah jika kita berada di posisi Rama sekarang, sulit itu yang dia rasakan mencoba untuk menghempaskan semua perasaan yang tumbuh itu tidak mudah. tapi prinsip nya hanya satu yaitu melihat Nana bahagia itu sudah cukup.
_o0o_
| Aldio POV |
Sungguh kesialan ku terganggu ketika Mommy menyuruh ku memberikan bingkisan untuk Tante Aleen, dengan terpaksa dan malas hati aku harus pergi ke rumah bocah ingusan itu.
Entah suatu keburuntungan si bocah itu atau Mommy yang mencari kesempatan, intinya sekarang aku sudah berada tepat di depan pintu rumah Tante Aleen dengan bingkisan di tanganku.
Ting tong...
aku menekan bell rumahnya dan tak lama nampak asisten rumah tangga nya yang keluar.
aku berusaha tersenyum meski susah karena kata Mommy kita harus wajib memberikan senyuman kepada orang yang lebih tua, kalau aku sih bodo amat terkecuali orang orang yang menurut ku itu perlu aja.
"Assalamualaikum bi, ada tante Aleen nya?"
"Waalaikumsalam den Al silahkan, nonya sudah menunggu di dalam."
Aku mengangguk dan melangkah masuk menuju ruang tamu, nampak Tante Aleen tengah duduk dengan baby Ab di pangkuannya.
"Assalamualaikum Tante." Ucapku.
Dia menoleh aku dapat liat senyuman manis di bibirnya "waalaikumsalam kamu sudah sampai Al?" Tanya nya, aku mengangguk dan menghampiri nya, menaruh bingkisan yang Mommy berikan itu di atas meja.
"Kata Mommy ini untuk Tante dan Baby Al."
"Bilangin ke Mommy kamu, terimakasih yah." Ucapnya aku mengangguk.
"Owh iya Al kamu tunggu di sini tante mau memberikan sesuatu ke Mommy kamu juga, dan boleh tante minta tolong?" Ujarnya lagi aku mengangguk.
"Apa tante?"
"Titip baby Ab dulu yah, Tante mau kebelakang dulu."Aku mengangguk mengiya kan.
Tante menaruh baby Ab di pangkuanku, aku berusaha mengajak baby Ab bermain Nampak nya dia akan seperti pria friendly terlihat dari wajahnya yang ceria dan murah senyum. aku tersenyum saat melihat dia menjawab obrolan ku.
"Caca cicu ucu ada baba utu." Aku terkekeh mendengar nya saat dia menunjukkan boneka Bobo milik nya di televisi.
"Baby Ab lucu sekali yahh." Ujar ku, entah kenapa merasa senang bisa bermain dengan.
Tak Tak Tak...
Teriak seseorang yang menuruni anak tangan dengan sempoyongan.
"MAMI!!! AIS LAPER NIH!! MAMI DI MANA SIHH!!" Aku menoleh mengikuti arah suara itu, Baby Ab menandak diam yang sama menoleh mengikuti sumber suara itu.
Seketika mata ku membulat melihat seorang gadis dengan baju tidur panjang bergambarkan Doraemon, Rambut panjang nya terlihat jelas acak acakan matanya masih sedikit terpejam.
"CACAC HAHAHA!!." Tawa baby Ab pecah melihat sang kakanya seperti orang pinggir jalan itu. Aku terkekeh sambil memberikan instruksi agar dia mau diam.
"MAMI!! ITU BABY AB HUAAA KENAPA AHMMM!! MAMI DIMANA SIHHH??" Ucapnya setengah menguap, entah mengapa dia sangat lucu kalau begitu.
"IYA ADA AP-- ASTAGHFIRULLAH AIS!!!! KAMU KELUAR TIDAK MENGGUNAKAN HIJAB??" Teriak Tante Aleen Membuat Bocah Tengil itu terperanjat kaget dan berjalan ke arah dapur."
"Mami apa apaan sih! Di sini ga ada siapa siapa tau lagian udah biasa kan Ais ngga pakai Hijab fi rumah." Ujarnya sambil berjalan ke arah dapur lalu meneguk Air minum yang ada di atas meja.
"AIS!! KAMU ITU LIAT SIAPA YANG DATANG!! KAMU NGGA MALU APA?" Ucap Tante Aleen lagi yang melihat tingkah anaknya itu, Aku terkekeh dan menggendong Baby Ab.
"Siapa sih??" Dia menoleh "Ohh Kak Al." Ucapnya dia kembali meneguk Air minum nya hingga habis.
"APA!!! KAK AL!!" Teriaknya Membuat gelas yang dia pegang jatuh dan pecah, Aku terperanjat kaget mendengar suaranya itu, itu suara apa toa masjid berisik banget gelas aja ikut hancur apa lagi gendang telinga orang orang.
"MAMI KOK GA BILANG SIH!! AIS GA PAKE JILBAB NIH!!." Ketusnya,
Aku melihat nya dia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya, aku yakin dia sangat malu aku terkekeh dan menggeleng kan kepalaku bagaimana bisa dia sudah besar namun sikapnya masih sangat ceroboh.
"Tante Al pulang yah, Takutnya Mommy menunggu Al." Ucapku berpamitan.
Tante Aleen tersenyum lalu mengangguk "Iya Al Makasih yah Nak."
Aku tersenyum "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam hati hati nak!."
Aku mengangguk lalu berlalu meninggalkan kediaman keluarga Anggara itu.
| Author |
"MAMI!! MANA KAK AL NYA?" Ujar Ais yang baru turun dengan pakaian rapi juga hijab yang dia kenakan terlihat sangat fresh.
"Udah pulang!."
"What?? Udah pulang??"
"Hmm."
"MAMI!!! AIS CAPE CAPE MANDI MESKI MALAS, PAKAI MINYAK WANGI SATU BOTOL HABIS DAN TERNYATA??? KAK AL UDAH PULANG?? SIA SIA SUDAHH!!."
"Lebay Kak Lebay!!."
__ADS_1
"Tau ah Mami ngeselin!!."