
"kamu Ngga apa apa sayang?" Suara Bariton itu bertanya kepada sang menantu yang tengah menghidangkan sarapan pagi.
Wajah Ais pagi ini tampak sangat pucat tak seperti biasanya, memang benar dari malam hari dia merasa sangat pusing, mual dan tak enak badan. Namun karena di kampus ada persentasi sudah jelas dia harus datang.
Gadis cantik berjilbab itu menggeleng "Ngga kok Dad, cuman sedikit pusing aja." Jawabnya sambil duduk dan menuangkan nasi untuknya.
"Apa perlu Mommy panggilkan dokter nak?" Tawar Gina yang sama merasa khawatir terhadap menantunya itu.
Pasalnya anak sulungnya Al tengah berada di luar negeri karena urusan yang mendadak.
"Kamu kenapa Ais?" Tanya gadis cantik yang baru saja turun dari lantai dua, mendengarkan bahwa Ais kurang sehat membuat nya penasaran.
Nana dan Ais selalu menggunakan kata kata yang sopan ketika berada di rumah karena status mereka kini berganti menjadi adik dan Kaka ipar berbeda ketika di luar rumah mereka akan menunjukkan sikap bersahabat mereka yang sudah lama mereka bangun.
"Ngga apa apa kok Na, mungkin aku hanya kecapean aja." Nana mengangguk lalu dia duduk dan meraih roti coklat kesukaannya.
"Bentar, tapi muka Lo pucat gitu? Gue hubungi Bang Al yah." Nana yang hendak meroboh ponselnya mendadak berhenti ketika Ais mencegahnya.
"Jangan! Dia mungkin lagi sibuk, aku tidak ingin menganggu nya biar lah mungkin ini hanya pusing biasa." Ujar Ais sambil tersenyum.
"Baik lah, ya sudah kamu jangan dulu pergi ke kampus." Gina mengusap kepala Ais yang tertutup oleh jilbabnya, gadis itu menggeleng.
"Ngga Mom, Ais harus pergi hari ini adalah tes persentasi dan hal itu tidak boleh terlewatkan."
"Kau memang benar benar keras kepala." Pekik Nana kesal.
"Yah sudah, habiskan makan mu lalu minum obatlah terlebih dahulu Sebelum berangkat." Ucap Aidan sambil mengunyah makanannya.
"Iya Dad."
"Ais! Beneran Lo ngga apa apa? Tapi itu muka Lo pucat banget." Ucap Nana melirik Ais yang berada di sebelahnya.
"Ngga kok, bawel banget sih lo!" Ketus Ais, jika jujur kepalanya sangat pusing, badannya sangat lemas tapi dia harus tetap kuat dan tidak ingin membuat semua orang khawatir terhadap nya.
"Yeahhh, lu mah gue tanya malah gitu! Oke deh kalo ada apa apa gue bakalan langsung hubungi Bang Al."
"Serah lu deh!"
Tak lama mereka sampai di depan kampus, mereka turun dari mobil dan berjalan menuju kelas.
"Hallooo!!!" Sapa keras Iqbal dan Andri membuat Nana dan Ais mendengus.
"Waalaikumsalam." Ucap Nana dan Ais membuat kedua cowok itu saling menatap dan menyengir.
"Eh iya, Assalamualaikum Bu Hajjah."
"Serah lu!" Ketus Nana yang menarik tangan Ais melewati kedua cowok itu.
"Bentar! Muka Lo kenapa? Lo sakit?" Tanya Iqbal ketika memperhatikan wajah Ais yang sedikit pucat.
"Gue ga apa apa, emang kenapa?" Tanya Ais bingung, pasalnya dia tidak tahu bahwa wajahnya kini sangat lah pucat.
"Emang keliatan Na?" Ais bertanya kepada Nana, membuat gadis itu tersenyum "Iya OGEB!! Gue udah bilang Lo ga usah masuk tapi Lo? Dah lah keras emang kepala Lo!"
"Hei! Semua orang juga memiliki kepala yang keras masa iya kepala lunak!" Ralat Ais membuat Nana mengangguk ngangguk.
"Serah lu deh!"
"Dah Ayo kita ke kelas!" Ajak Andri, kedua cowok itu berjalan di belakang para gadis cantik itu.
"Oke, sekarang kita bakalan langsung aja test persentasi bahasa Indonesia kemarin, untuk mempersingkat waktu saya akan menunjukkan dua orang dua orang yang akan maju ke depan dan mempresentasikan hasil nya." Jelas dosen perempuan yang berdiri di depan semua para mahasiswa di kelas itu. "Untuk persentasi pertama saya tunjuk Andri dan Nata."
'Huh, kenapa aku harus bersama dia! Kenapa tidak dengan Reval menyebalkan!!' Batin Nata yang mulai maju diikuti oleh Andri.
Mereka mulai mempresentasikan hasilnya. Sedari tadi Ais merasa sangat mual, kepalanya semakin sakit dia menenggelamkan wajahnya di lipat kedua tangannya. Nana yang menyadari itu merasa sangat khawatir dia terus memperhatikan Kaka iparnya itu.
__ADS_1
"Beri tepuk tangan untuk mereka!!!"
Prok Prok Prok!
Nata dan Andri kembali duduk, "selanjutnya saya tunjuk Reval dan.... Nana kamu boleh maju." Suara dosen itu menyadarikan pandangan Nana, gadis itu merasa sangat terkejut.
"Ah sa-saya Bu?" Ujar Nana gugup.
"Iya kamu!"
"Udah sana maju banyak omong Lo!" Pekik Iqbal kesal.
"Lu marah marah Mulu PMS lu?" Ucap Nana yang berhasil membuat suasana menjadi riuh karena tawaan mereka.
Reval terkekeh dan menarik tangan Nana, mereka mulai mempresentasikan hasilnya, terlihat sekali kekompakan yang mereka pancarkan, membuat semua siswa fokus terhadap kedua insan itu.
'Gue setuju banget kalau Reval sama Nana.'
'Benar! Mereka sama sama Cantik dan Tampan.'
'Iya, liat deh kompak banget kan kaya pasangan gitu.'
Suara dari orang orang yang memuji Nana dan Reval membuat Nata badmood tingkat dewa, sedari tadi dia terus mendengus dan terlihat sekali wajah kesalnya melihat Reval dan Nata.
Setelah selesai, Nana dan Reval duduk di bangku nya Masing-masing "Aisah dan Iqbal silahkan kalian maju." Peringatan dosen itu, Ais perlahan berdiri, bercekalan di meja agar tubuhnya tidak jatuh.
"Sutt, sutt, Na! Ais kenapa?" Tanya Reval berbisik, Nana menoleh "Dia sakit." Ucap Nana, Reval mengangguk dan kembali fokus kedepannya.
Tak lama, kepala Ais Samakin pusing rasa mualnya kembali terasa, dia berpegangan kepada Iqbal membuat cowok itu menoleh.
"Lo ngga apa ap-- ASTAGHFIRULLAH AIS!!"
"AISSS!!!"
* * *
"Saya harap kalian tenang dan tunggu terlebih dahulu di sini." Ucap suster lalu menutup pintu UGD itu.
Nana benar benar gelisah sampai sampai dia menintikkan air matanya, Reval yang melihat itu memeluk tubuh mungil Nana mendekapnya dengan lembut.
Iqbal, Andri dan Nata pun ikut ke rumah sakit. Iqbal yang merasa kelelahan karena membopong tubuh Ais di sodorkan Air Aqua oleh Nata. Dia sendiri tak ingin munafik Nana memang butuh Reval saat ini.
Tak lama Gina dan Aidan datang secara bersamaan, "Sayang! Bagaimana keadaan Ais nak?" Tanya Gina dengan nada khawatir. Nana yang menyadari kedatangan Mommynya dia memeluk Gina Air matanya kembali tumpah dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada Ais.
"Nana masih belum tau Mom, dokter masih di dalam bersama Ais hiks." Isak Nana, Gina mengelus rambut panjang Nana.
"Sudah jangan menangis, berdoa aja semoga dia baik baik saja."
"Daddy tadi sudah menghubungi Abang kamu jadi sekarang kamu tenang yah." Aidan tersenyum lembut kepada Nana.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dokter keluar dari ruangan UGD itu, semua orang berdiri dan menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" Aidan bertanya dengan nada yang di buat setenang mungkin.
"Begini Tuan, Nyonya, Saya memilik dua kabar sekaligus. Satu kabar baik dan satu kabar buruk." Jelas Dokter Rudy, Dokter khusus keluarga nya itu.
"Apa itu dokter?" Tanya Nana heran.
"Mari ikut saya."
Aidan, Gina dan Nana masuk kedalam ruangan "Kabar baiknya Menantu Tuan dan Nyonya kini tengah mengandung, dan usia kandungannya menginjak dua Minggu."
Aidan, Gina juga Nana tersenyum lebar mereka beberapa kali mengucapkan hamdalah "Alhamdulillah, lalu kabar buruknya?" Aidan bertanya dengan serius.
"Kabar buruknya, kondisi Nyonya Ais sangat lemah, karena suhu badannya yang tinggi membuat si janin menjadi rentan. Untung saja Dia segera di bawa ke rumah sakit, kalau tidak mungkin janin nya tidak akan selamat. Untuk itu saya menyarankan untuk Tuan dan Nyonya memperhatikan kondisi Menantu Anda, jangan biarkan dia terlalu banyak beraktivitas atau melakukan kegiatan yang akan membuat dirinya menjadi lemas." Jelas Dokter Rudy, "Dan untuk gejala mual mual saya akan memberikan vitamin untuk Nonya Ais, jadi Tuan dan Nyonya tidak usah khawatir akan gejala itu karena itu memang yang di rasakan ibu hamil pada umumnya."
__ADS_1
"Gitu yah dok, tapi kondisinya akan kembali pulih kan?" Tanya Gina dia benar benar khawatirz dokter Rudy tersenyum "Tentu Nonya, kita berdoa dan tunggu perkembangan selanjutnya"
"Baik dok, terima kasih. Kalau begitu saya ingin melihat kondisi Menantu kami." Ucap Aidan.
"Mommy, Daddy maafkan Ais yah sudah membuat kalian khawatir." Ucap Ais lemah saat dia baru sadar, senyuman tipis terukir ketika melihat para sahabatnya juga datang ikut menjenguknya.
Gina mencium kening Ais lembut "Ngga sayang, sudah tugas kami menjaga kamu dan merawat kamu sepenuhnya."
"Emangnya Ais sakit apa Mom?" Tanya Ais, Semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum, Nana terkekeh geli mendengar pertanyaan Ais.
"Lah kok Lo ketawa sih uhukkk uhukkk." Ucap Ais yang di iringi batukkannya "Hei! Kau ini sedang sakit jangan marah marah Mulu!" Pekik Nana
"Kamu ngga sakit sayang, hanya saja kamu perlu menjaga diri sekarang jangan sampai kecapaian dan melakukan hal hal yang akan membuat diri kamu lemas Nak." Jelas Aidan
"Maksud Daddy apa? Ais baik baik aja kok." Jawab Ais polos, "Ais sekarang di badan Lo udah ada calon keponakan gue! Jadi blog harus jaga diri Lo oke!!" Ucap Nana semangat, Reval yang melihat senyum Nana terukir indah membuat nya ikut tersenyum.
'Dari dulu senyuman itu selalu manis dan indah.' Batin Reval, tanpa sadar Nata melihat itu membuatnya kembali kesal.
"APA!!! A-apa aku ha-"
"Iya Nak, ada baby di sini." Gina tersenyum dan mengelus lembut perut rata Ais.
Gadis berjilbab itu tersenyum bahagia dia mengelus perut rata nya, akhirnya Allah memberikan hadiah paling besar dan mewah untuknya.
"ini akan menjadi kabar baik untuk Al." Ucap Gadis itu tersenyum haru.
Brak!!
"Sayang!!" Teriak seorang pria yang membuka pintu dengan keras, pria itu masuk dengan setelan jas yang masih lengkap dan peluh yang bercucuran.
"Bang Al."
"ABANG!"
"Kak Al!."
Aldio, pria itu baru saja tiba dari London. Dia langsung terbang dengan pesawat pribadinya ketika mendengar bahwa Ais masuk rumah sakit.
Dia langsung memeluk tubuh sang istri yang terbaring lemah, semua orang yang melihat itu tersenyum betapa besar cinta yang mereka tunjukkan.
Al mencium kening Ais "kamu ngga apa apa kan? Apa yang sakit? Kenapa bisa pingsan seperti ini?"
"Hei! Berhentilah memberikan pertanyaan padanya, dia ini baru sadar tapi kau malah memberikan ribuan pertanyaan kepadanya huh suami macam apa kau ini!" Omel Nana, Al melirik sang adiknya itu.
"Hei! Berhentilah berbicara aku tidak berbicara dengan mu!" Tukas Al, Nana memutarkan bola matanya jengah.
"Abang ini di kasih tau malah marah aneh banget! Udah deh yah seharusnya Abang tuh bilang terimakasih sama aku juga yang lain udah bawa Ais secepat mungkin kalau tidak semuanya akan terlambat."
"Apa nya yang terlambat?"
"Iya, kalau Ais sampai telat datang ke rumah sakit kita semua bakalan kehilangan calon baby itu."
"Apa baby?" Al masih tidak mengerti dengan yang di ucapkan Nana, Gina tersenyum lalu memeluk putra satu satunya itu.
"Abang akan menjadi seorang ayah." Ucapnya lembut.
"Apa!" Al nampak terkejut, lalu dia melirik Ais ya g tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca
"Ap-apa kamu tengah mengandung?" Tanya Al dengan nada yang tak percaya, Ais mengangguk dan tersenyum. Al memeluk erat Ais dan menciumi nya terus menerus.
"Hei!! Berhentilah menebar keromantisan kalian!" Pekik Iqbal,
"Udah Yu bubar, dunia ini serasa milik mereka berdua huh!" Timbal Andri.
"Terimakasih Sayang..." Al kembali memeluk Ais dan menghiraukan perkataan teman temannya.
__ADS_1