
Reina.
"Mommy, Dad Cepet dong keburu sore nanti." Teriakku yang menunggu Mom dan Dad turun dari atas lama bener mereka.
"Berisik! Ga usah teriak teriak dong!." Gerutu si Abang es yang ada di sebelah ku.
Aku mendengus "habisnya lama banget.. Takutnya nanti baby nya keburu keluar."
Dia melirik ku, biasa aja kali bang liatnya ga usah gitu serem aku "Kita itu mau menjenguknya bukan mau nemenin Tante Aleen Lahiran." Ucapnya, aku berpikir sebentar iya juga sih.
Aku tersenyum ke arahnya sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatal.
"Banyak kutu!." Ucapnya, parah emang dingin dingin ngeselin nih orang.
"Sialan!."
"Ayo berangkat." Sahut Dad dan Mommy yang baru turun mereka menggunakan baju Biasa namun terlihat elegant. Sudah tua tapi banyak gaya
"Ngapain aja sih Mom lama bener?." Ucap ku sambil berjalan menuju mobil.
"Kan harus rapi." Jawabnya, please deh mom ini mau ke rumah sakit bukan mau kenikahan harus rapi.
"Sudah tua banyak gaya." Umpat si manusia Es.
"Tumben bener bang!."
"Abang memang selalu benar, kamunya aja yang selalu menyalah Artikan." Aku mendengus kesal emang ga akan bener kalau udah debat dengannya.
"Dad dan Mommy emang sudah tua tapi tidak terlihat tua." Ucap Dad sambil menjalankan mobilnya.
"Iya iya terserah kalian deh."
Aisha.
Dari pulang sekolah tadi aku berada di rumah sakit, oh iya aku sampai lupa kalau Mama aku tuh sebenarnya sedang mengandung dan sekarang adalah hari lahirannya, dari pagi Dad sudah menelpon ku namun aku tak mendengar nya karena kan aku sedang ada di kelas.
Aku melihat menunggu Papa dan Mama di luar ruangan, yak, Mama di temani Papa katanya kalau mau melahirkan butuh seseorang di samping nya wahhh aku ingin jika nanti sudah menikah saat aku melahirkan suamiku lah yang menemaniku wkwk.
Hoekkk Hoekkk
Suara itu, pasti baby nya udah lahir.. . Ahhhh aku ga sabarr tapi kok ini pintu ngga kebuka buka yahh buat ku benar-benar penasaran. Aku mondar mandir bingung. Namun di saat aku bingung ini Nana dan keluarganya datang.
"Assalamu'alaikum." Ucap mereka serentak, aku berdiri dan tersenyum
"Waalaikumsalam wr wb. Kalian dat--"
"Ais!! Gimana udah keluar belum?." Tanya nya Ckk, cewek tengil. Belum juga aku beres ngomong dah di potong aja dasar! Siapa lagi kalau bukan Nana! Wahhhhhh ada Abang es juga ternyata.
"Apanya yang keluar?." Tanya ku bingung dan melepaskan pelukan kami.tatapan ku kini fokus pada pria ganteng itu ahhhh melelahkan aku jadinya.
"Iya bayinya lahh parahhh emang lo." Dengus nya sambil menghentakkan kakinya.
"Bayi siapa?."
Aku melihat dia menangkup kedua pipiku lalu berucap"Ais ku sayang... Apa baby Mom kamu udah lahir?." Ucapnya secara perlahan aku mengangguk dan tersenyum.
"Ahhhh iya alhamdulillah udah Na... Tapi kok pintunya belum kebuka yah."
__ADS_1
"Sabar sayang bentar lagi kali." Ucap tante Gina sambil mengelus bahuku
"Apa kah dia cewe apa cowo yah?." Pikir Om Aidan memegang dagunya dengan satu telunjuk. Aku menggeleng.
Aku melirik Kak Aldio yang tengah duduk di samping Tante Gina itu, tatapannya fokus pada gadget yang ia genggam, fokus bener Kak ga bisa apa fokus sama aku sekali aja huff. Halu Ais Halu ah.
Ting!
Pintu terbuka kami semua berdiri dan berjalan ke arah dokter, kata dokter adikku itu cowo, aku bergegas masuk dan melihat Mama yang sedang menggendong tubuh merah my baby di atas kasur rumah sakit dan Papa yang ada si samping nya mengelus hangat rambut mama.
Aku berlari dan memeluk Papa "Papa!!." Ucapku sambil memeluk tubuhnya, Papa membalas pelukanku.
"Adik mu cowo sayang! Lihat lah." Aku melirik nya lalu menghampiri Mama dan mencium pipinya lalu mengelus lembut kepala adik ku, ahhh lucunya.
"Assalamu'alaikum!." Ucap seseorang yang ternyata Nana dan Family nya yang baru masuk.
"Waalaikumsalam." Jawab kami serentak, Papa berjalan dan memeluk om Aidan.
"Selamat yah bro!." Ucapnya sambil melepas pelukan mereka.
Tante Gina menghampiri Mama dan mencium pipi Mama, ihhh ga jijik apa Ma.. Eh tapi aku juga suka gitu sih sama Nana Hehe maaf Ma.. Tan. .
"Selamat Leen Aku ikut senang." Ucapnya tersenyum.
"Ya Ampun!! Nana ini adik lo cowo? Wahhh mirip sama Om Sihab ternyata, tapi matanya mirip sama Tante Aleen.. . Wahhh gantengnya." Cerocos Nana yang melihat adik ku tersayang yang kini sudah di gendong oleh Tante Gina.
"Iya dong kan Anak Om dan Tante kalau bukan mirip kami siapa lagi?." Ucap Papa sambil melirik Mama dan mencium nya hangat. Please Pa! Disini ada aku ada anak kecil lo jangan mesra mesraan di sini!.
"Bro ini Anak lo yang Cowo? Kok diam aja?." Tanya Papa melirik manusia es itu, Astaga ini manusia apa patung dari tadi hanya diam menyaksikan semuanya.
"Ahhh iya ini Aldio putra pertama gue.. Salam dong sayang." Jawab Om Aidan dan menyuruh Kak Aldio untuk mencium punggung telapak tangan Mama dan Papa.
"Emang!." Ucap ku spontan, astaga. Apa yang aku lakukan, ini bibir lemes banget sih mereka semua kini melihat ku , aku hanya memberikan senyuman termanis ku aja hehe.
"Iya kan ganteng relatif Ma.. Jadi Kak Aldio memang cowo dan pasti ganteng!." Aku mengelak dan berdoa dalam hati semoga berhasil semoga berhasil ahhh..
"Modus lo!." Si Nana ngajak ribut bener nih anak parah emang! Aku menginjak kakinya
"Aww" Ringis nya sambil mengusap usap kakinya itu aku terkekeh melihatnya.
"Tapi beneran loh ganteng kek Oppa oppa korea." Wahh parah si Papa korban drakor, malah di samain kaya Oppa Korea. Parah emang.
"yes, it's like me!." Jawab Om Aidan pede bener tuh. Tapi emang sih wkwkw.
"Tapi sikapnya ga kaya lo yah, dia mah dimana mana calm and cold sedangkan lo? Di luar aja yang dingin tapi kalau lo kan deket sama temen temen kek orang gila." Ucap Papa yang berhasil mendapatkan tawa semua orang sedangkan om Aidan hanya mendengus kesal.
"Namanya siapa Om, Tante?." Ahhhh akhirnya orang itu bersuara juga..Tapi? Ahhh kok lembut banget tumben.
"Ngga tau.. Tuh! Orangnya yang mau beri nama." Jawab Mama sambil menyunggingkan mulut nya ke arah ku. Aku gugup gugup sekali seketika semua orang melihat ke arah ku termasuk dia huuuuu..
"Jadi Siapa namanya Ais?." Tanya si Nana sambil merangkul bahu ku, ck apaan sih.
Reina.
Hari ini aku ada di rumah sakit, menengok baby nya tante Aleen dan Om Sihab lahir. Ahh lucunya saat aku melihat baby cowo itu, mirip sekali dengan Om Sihab namun hanya mata yang berbeda mirip dengan tante Aleen, kita semua masih belum tau siapa namanya, karena kata Om Sihab Ais lah yang akan memberi Nama. Ckkk dia memberi nama, aku takut sikapnya akan seperti dia. Jangan yahh boy jangann pleaseee.
"Jadi siapa namanya Ais?." Tanya ku sambil merangkul bahunya. Dia tersenyum manis, ckk so manis eoh.
__ADS_1
"Namanya...." Ucapnya masih belum melanjutkan kan kata katanya duhhh di potong potong itu ngomong pengen dah gue potong juga tuh bibir lemesnya. Sabar Na sabar!
Ais berjalan ke arah Mommy yang sedang menggendong Baby kecil itu lalu mengelus nya. lama bener nih anak tinggal ngomong apa susahnya! "Namanya Abdiel Justin Gilbert Anggara" Ucapnya lantang, panjang bener ini nama.
"Abdiel Justin Gilbert Anggara." Kami semua mengucapkan kembali nama itu. Aku berdecak panjang sekali.
"Panjang bener Tan kek jalan tol aja..." Ucapku sambil memutar bola mata ku.
"Panggil aja De Ab." Sahut seseorang, orang yang benar benar dingin yak dingin siapa lagi kalau bukan Abangku sayang.
Semua yang ada di sini tersenyum "Bagus sayang Namanya, panggilan nya juga." Ucap Tante Aleen sambi tersenyum ke arahnya.
"Artinya." Tanya Om Sihab ke arah Ais yang tengah tersenyum itu.
"Artinya Hamba Allah yang adil dan dapat terpercaya." Ais dan Abang bebarengan membuat semua orang tersenyum berbeda dengan ku..
What? Abang sejak kapan? Sejak kapan Abang bisa kaya begituan? Bukan kah Abang hanya bisa cara membunuh dan mengeKill itu Game online.
Ais tersenyum ke arahnya, aku yakin dia baper baru juga di gituin dah baper nih bocah apa lagi di tembak mati udah di tempat. Sedangkan Abang Al malah memasang wajah datar berbeda sekali dengan dia. Namun semua orang tersenyum ke arah mereka.
"Aamiin..Alhamdulillah bagus sekali Sayang." Ucap Dad dan Mom berbarengan.
Aku melihat Om Aidan memeluknya "Aamiin, semoga Adiknya seperti Kakanya yang shaleh ini."
"Jangan!!." Ucapku teriak membuat semua orang menoleh ke arah ku. Aku ngga mau tuh bocah punya otak idiot kek dia.
"Why?." Tanya tante Aleen.
Aku tersenyum "jangan dong tante, masa ia dedenya mau di samain kaya kakanya. Nanti sama sama tololnya tante jangan dong biar kakanya aja yah yang geser adiknya jangan." Ucapku mendapatkan pukulan kecil darinya.
"Gila lo!!." Umpat nya. Semua orang terkekeh geli melihat kelakuan kami.
Sudah cukup lama kita di sini, Dad harus kembali ke kantor karena urusan mendadak. Akhirnya kami memutuskan untuk berpamitan. Aku menghampiri ade Ab yang tengah tertidur di box nya itu.
"Dede Ab, Aunty pulang dulu yah, nanti mampir lagi okey bye." Aku mengelus dan mencium nya.
"Bro gue balik dulu yah urusan mendadak nih!." Ucap Daddy pada Om Aidan. Lalu mereka berpelukan kembali, tidak bosan kah?.
"So sibuk banget sih ah lo!." Ucapnya yang mengerai pelukan mereka.
"Haha bisa aja lo!."
"Aleen aku pamit yah, sehat sehat yah," Pamit Mom yang menghampiri Tante Aleen yang berada di atas bangkarnya itu yang masih belum boleh banyak gerak.
"Iya makasih yah." Ucapnya lalu di angguki oleh mom.
Aku pun berpamitan kepada Ais dengan memeluk nya "Gue pulang yah QaQa jangan nakal sama dede Ab loh..." Ucap ku menggoda nya.
"Jijik gue!."
Ais melirik ke arah Abang yang berada di samping ku "Makasih yah" Ucapnya Abang melirik nya.
"Buat?." Tanya nya, singkat bener bang jawabnya kasian tuh.
"Buat... Ya buat jenguk Mama aku dan makasih buat nama panggilan dede Ab ini."
"Oh, sama sama." Aww sakit *****, dingin bener itu kata katanya. Datar bener tuh muka untung Ais orang paling sabar dan paling ***** jadi dia ngga ngerti.
__ADS_1
Ais hanya mengangguk kami semua pamit dan pergi meninggalkan rumah sakit, Dad yang turun di kantor nya yang akan di jemput oleh Paman Jek nanti sedangkan aku, Mom dan Abang memilih untuk beristirahat ke rumah.