
Cinta itu layaknya angin, aku tidak bisa melihatnya tetapi aku bisa merasakannya.
- Aldio Putra Syam Pratama -
"Kita harus pindah secepatnya." Ucap seorang pria paruh baya yang tengah duduk di kursi ruang tamu besarnya.
"Tapi kenapa Dad? kenapa kita harus pindahh?"Tanya Pria tampan bermata hitam itu.
"Kita sudah lama menetap di sini, dan perusahaan Daddy di sana juga membutuhkan Daddy."
"Sayang, apa kita memang harus pindah dari sini?"
"Iya sayang, kita harus pindah. Mereka butuh Aku buat mengurus semuanya sudah terlalu lama kita di sini."
"Tapi Rama masih sekolah, dia ga mungkin berhenti."
"Dia bisa meneruskan nya di sana lagi pula di sana kan ada Sekolah besar milik pengusaha besar dia bisa masuk ke situ."
"Daddy... Bagaimana dengan Nana? Rama ngga bisa begitu saja meninggalkan nya."
"Besok malam dia bawa ke sini kita akan makan bersama."
"Iya Dad."
Pembicaraan itu membuat seorang Rama di kulut kesedihan. Dia tidak bisa membantah kedua orangtuanya tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Seseorang yang berarti baginya.
Dia berjalan lemas ke kamarnya meraih Handphone dan berjalan ke arah balkon. Jarinya lincah mencari nama Seseorang yang kini dia rindukan.
"My Princess." Dia tersenyum melihat foto profil perempuan yang dia beri nama My Princess itu.
Dia menekan panggilan video dan tak lama muncul lah wajah ceria milik gadis itu, dia semakin tak tega untuk memberi tahu tentang kepergiannya.
"Haiii!!! Ramaaaa kok lo tumben sih ngajak video call ke gue."
Rama tersenyum manis.
"Salam dulu baru nanya!."
"HEHEH! iya gue lupa Assalamualaikum pria tampan se kota London."
"Waalaikumsalam my princess,, lah kok se kota London kenapa ngga se Dunia."
"Dihh itu mah maunya lo, eh kenapa telepon Nana? kangennnn yahhhh???"
"Dihhh pede benar tuh mulut, ngga gue cuman mau mastiin lo masih hidup ngga."
"Parahhh lo Ram gila!!."
"HEHEH, Lo lagi di luar yah? ngapain dingin tau, nanti ada angin masuk ke tubuh lo."
"SALAHHH RAMA!!! YANG ADA MASUK ANGIN!! KESEL AHHH!!."
Lagi lagi pria tampan itu terkekeh melihat wajah kesal Nana dari sebrang itu.
"DUHH ANAK KECIL NGAMBEK CUP CUP NANTI CANTIKNYA ILANG LOH!!."
__ADS_1
"Au Ah Gue Bete sama Lo!! bye!!!."
Nana mematikan panggilan video nya, Rama Terkekeh lalu Handphone nya kembali bergetar.
"Kok nelepon lagi? kenapa? masih kangen yah!!."
"Ngga!! gue lupa salam, Assalamualaikum bye!!!."
bip..
"HAHA!! Waalaikumsalam."
_o0o_
Seorang gadis cantik dengan Dress tidur bawah lutut itu tengah berdiri di atas balkon, baru saja dia mendapatkan panggilan dari Pria tampan menyebalkan baginya.
"Huh..Nyebelin banget si Rama!!." ketusnya.
"Udah lama gue ga denger suara Reval,, emmm dia lagi ngapain yahhh.." Nana menolog sendiri sambil menatap langit malam yang indah.
"Ehhh, kan gue waktu itu save nomor nya tapi dimana yah??" lanjutnya lagi.
Tangannya mencari cari nama Reval di kontaknya, tapi hasilnya nihil dia tidak menemukan nama Reval.
"Duhhh dimana yah.." Nana terus berfikir, rambut panjangnya berterbangan kecil akibat angin malam.
"Ahhh gue lupa, kan gue ga save di Handphone yah tapi--- OMYAGADDD GUE BENER BENER LUPA NOMOR NYA ADA DI BAJU YANG GUE PAKE WAKTU ITU." Nana berlari ke arah Lemari mencari cari baju yang dia kenakan tempo hari.
shitt... umpat nya ketika dia tidak menemukan baju itu.
Namun langkah nya terhenti saat mendegar gelak tawa Abang esnya itu, Dia mengintip di depan pintu yabg ternyata tidak tertutup rapat itu.
"HAHAH!! Kamu ini sangat lucu sya."
'Wahhh bang Al tertawa lebar itu? sejak kapann???' Batin Nana bingung.
"Kamu sudah makan? ayo lahh makan dulu nanti kamu tambah sakit.."
'Busettt kok gue geli yang Denger nya! ini Bang Al kesambet apa.' Ucap Nana menolog
"Apa aku harus kesana agar kamu mau makan?"
'Lahh Bang Al? seromantis ini?? sejak kapan??'
"Ehh seperti ada yang sedang menguping pembicaraan kita deh sya."
Nana masih terus merempetkan telinganya di pintu kamar Al, tanpa dia sadar Al merasakan kehadiran Nana tapi dia mencoba pura pura tak tahu.
Cklek...
Brughh
Awwww
"ABANG!!!!!."
__ADS_1
Nana tersungkur saat pintu tiba tiba terbuka Membuat Nana meringis, dia menatap tajam Al.
"GILA YAH LO BANG!!!." Teriak Nana
"Lo yang gila nguping pembicaraan gue." ketus Al di iringi kekehan kecil.
"Siapa itu Kak?" Yak, suara Ais mengalihkan Keduanya.
Nana melotot ketika tahu bahwa yang membuat Al tertawa itu adalah Ais.
"Eh Nana!! sejak kapan lo di situ."
Dan entah sejak kapan panggilan telepon berubah menjadi panggilan call membuat Ais dapat melihat Nana yang tengah duduk di lantai dengan wajah yang kesakitan.
"HAHAHA!! YA AMPUNNN NA!! LO NGAPAIN DUDUK DI SITU?? KAYA NGGA ADA KURSI AJA LO HAHA!!." Tawa Ais pecah begitu saja, Al pun ikut tertawa melihat nya berbeda dengan Naja yang mendegus kesal dia berdiri dan menatap Ais tajam dari Handphone Al itu.
"HE!! INI SEMUA GARA GARA LU YAH!! GILA KALIAN BERDUA MALAH KETAWAIN GUE, LU KIRA INI KOMEDI APA!!." Ketus Nana kesal sambil melipat kedua tangannya, hal itu justru membuat Ais semakin terbahak.
"Sayang, udah lah kasian dia wajahnya sudah merah menahan malu Hahah!!." Ucap Al menatap Ais dengan tatapan lembut, Ais yang hanya mengenakan mukena putih itu seketika blushing mendengar kata 'sayang' dari Al.
"TERUS AJA TERUS!! UMAR KEROMANTISAN KALIAN!! GA LIAT DI SINI ADA ORANG APA!!!." Ketus Nana yang langsung berlalu meninggalkan Al yang terbahak itu.
Ais menatap Al dari sebrang "Susul sana Adik Bee, kasian loh Haha!!" Ucap Ais, Al tersenyum mendengar ucapan lembut dari Ais.
"Ya udah aku mau turun dulu, kamu jangan lupa makan yah dan jangan tidur terlalu malam." Pesan Al yang di angguki oleh Ais.
"Byee Assalamualaikum Bee!!." Teriak Ais yang langsung mematikan handphone.
Al terkekeh kecil melihat tingkah konyol Perempuan yang sudah menjadi kekasih nya itu lebih tepat calon tunangannya.
"Waalaikumsalam sayang." Ucapnya.
Al menuruni anak tangga menyusul Nana yang tengah mengadu kepada Aidan dan Gina. dia duduk di samping Aidan sedangkan Nana merebahkan dirinya di paha sang Mommy.
"Ngapain ke sini?? udahan bucinnya?? udah deh sana!! bucin sana!!." Ketus Nana sambil mengunyah chiki yang dia peluk.
Gina terkekeh melihat tingkah laku putrinya.
"He!! bilang aja kamu iri iya kannn??" Goda Al menarik kecil rambut Nana.
"Ihhh diem deh!! Nana lagi ga mood buat ngomong sama Abang!."
"Masa sihhh!!!."
"Bodo Amat!! Sana jauh jauh!!."
"Huss, udah dong kok malah berantem sihh Mendingan kita sekarang kalian tidur sudah malam ini." Ucap Gina yang di angguki keduanya.
"Nahhh gitu anak yang baik." Ujar Aidan melihat Nana dan Al berhenti dan mengikuti perintah sang istri.
"Yah udah Mom, Dad dann Manusia gila Nana naik dulu yah byee Good Night." Ucap Nana berlari kecil menaiki anak tangga.
"Gilla lo bocahh tengil!!." Teriak All.
"Yah udah deh Abang juga, kalau lama lama di sinikan bisa jadi nyamuk bye Good Night." Pamit Al lalu berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
Aidan Gina hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah laku kedua anaknya itu.