
"Bye!! nanti malam gue jemput yah." Rama melambaikan tangan kepada Nana, dia tersenyum dan masuk ke dalam rumah.
Di Taman tadi dekat cafe Rama memberi tahu bahwa dia mengundang Nana untuk makan malam di rumahnya. seperti di perintahkan kedua orang tuanya Rama akan memberi tahu semuanya di rumah miliknya itu.
Nana masuk kedalam rumah dengan wajah ceria nya.
"Assalamualaikum everybody... Yuhuuu...."
"Waalaikumsalam."
Nana berjalan ke arah sumber suara itu, dia menemukan kedua orangtuanya yang tengah menonton film romantis dan dia mendegus.
"Mommy Daddy kalau emang kalian mau bermesraan please deh di kamar jangan di sini.. huh menyebalkan." ucap Nana yang sudah duduk di kursi yang berbeda dengan Gina dan Aidan.
"Sayang jadi kamu cemburu melihat Mommy dan Daddy gitu?" Tanya Aidan mencoba menggoda Nana.
"Iya ngga lah!! ngapain cemburu udah ah Nana males mau tidur bye!." Nana beranjak dari duduknya.
"Hey!! kamu ini!." Teriak Aidan namun tak di gubris oleh Nana.
Nana berhenti melangkah dan menatap Gina "Mommy nanti bangunin Nana jam 6 sore oke." Teriak Nana sambil berlalu.
Gina Menggeleng dan tersenyum "Baik lahhh baikkk tuan putri."
_o0o_
"NANA!!!! BANGUN SAYANGGG RAMA SUDAH MENUNGGU TUH!!."
"NANA!!! BUKA PINTUNYA HEY!!."
Tok tok tok!!!
Sudah hampir 1 jam Gina membangunkan Nana tapi tetap saja gadis itu enggan bangun, suara Gina sudah hampir habis. Dia berdiri di depan pintu dan beberapa kali juga dia mengetuk pintu kamar putrinya itu.
"Nana!!! bangunnn!!! Rama sudd--"
Cklekk...
"Yah ampunnn Mommy Kenapa sih?? berisik banget ganggu Nana aja ah!!." Ucap Nana yang keluar dengan keadaan yang benar benar berantakan, rambutnya sudah seperti gula gula wajahnya yang kusup mirip sekali has orang bangun tdiur.
"Kamu ngga lihat, ini jam berapa??" Tanya Gina sambil berkacak pinggang.
Nana mendengus lalu melirik jam dinding kamarnya "ini baru jam 7 Mom,, APA!!! JAM 7 OMYGADDDD NANA TELAT!!!." Teriak Nana seketika.
"Kenapa Mommy ngga bangunin Nana sihhh!!!" Ketus Nana dia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hey!!! Mommy sudah dari tadi membangunkan mu tapi kamu udah kaya mayat hidup tau ga!!." Teriak Gina.
"Ahhh Mommy!!!." Balas Nana di dalam kamar mandi.
Sedangkan di ruang santai Rama menunggu sambil bermain PS ditemani Al, sudah tak aneh Gina dan Aidan kedatangan Rama adalah hal biasa. Rama akan bermain game bersama Al ketika berkunjung.
"Oi!! kok lu malah ke situ sih!!!." Teriak Al kesal.
"Gila!!! lu yang harusnya kasih perlindungan OGEB!."
"Hey!!! ahhhh Gila Nyampah tuh orang cari ribut!!."
__ADS_1
"YESSS SAVAGE!!."
"Hebat kan gue hebat!!!"
"Bacot lo!"
Tak tak tak...
Seorang gadis menuruni anak tangga panca indera nya mencari sosok yang sudah menunggu nya sedari tadi.
"MOMMY!! KATA MOMMY RAMA ADA MANA?? KOK NGGA ADA??" Teriak Nana yang masih berdiri di pengujung tangga.
"Lagi main Game Na!!" Balas Gina yang berasal dari dapur.
Nana dengan cepat berjalan ke ruang Santai, benar saja ra dan Al tengah bermain.
"Mau sampai kapan main game nya??"
"Ehhh Nana! Ayo berangkat." Ajak Rama seketika berdiri melihat Nana yang berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya.
Al menatap Rama "Lahh gue gimana?"
"Derita lo bang!!."
"Gila lo bocah laknat!!!"
Rama dan Nana pergi menuju kediaman keluarga Prasaja itu, sesampai di sana Nana di sambut dengan Hanggat oleh Adhyastha Prasaja(Daddy Rama) Aimee Cliantha Bertin (Mommy Rama).
"Ya Ampun Nana kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik." Ucap Aimee memeluk Nana, Nana tersenyum
"Jadi sama om ngga kangen nihh." Goda Adhyastha, Nana tersenyum lalu mencium punggung telapak tangan Adhyastha.
"Nahh dari pada berdiri ga jelas di depan pintu mendingan makan, Rama udah laper banget." Ujar Rama merangkul Nana masuk kedalam.
"Makan yang banyak biar cepet besar." Ucap Adhyastha melirik Nana.
Nana mengembungkan pipinya "Nana udah besar om!!"
"HAHA!!! Sudah makan dulu nanti kamu ikut aku ke taman belakang oke." Ucap Rama yang diangguki oleh Nana.
Acara jamuan pun selesai, Aimee dan Adhyastha lebih memilih pergi ke kamar mereka. sedangkan Nana dan Rama mereka tengah asik menikmati suasana malam di taman belakang rumah Rama.
"Na.."
"hmm, kenapa?" Ucap Nana melirik Rama
Mereka duduk di awas rumput rumput hijau, memeluk lututnya masing masing menatap bintang yang indah terpancar di langit hitam. Nana menyenderkan kepalanya di bahu Rama.
"Gue mau ngomongin sesuatu ke lo."
"Iya terus? tinggal ngomong lah, serius bener."
"Sebenarnya,,, gue gue.."
"Gue apa sihh?? lo suka sama cewe?? atauuu lo punya rahasia yang gue ngga tau yahhhh???" Tebak Nana menyipitkan kedua matanya.
Rama membenarkan posisinya sehingga kini posisi mereka berhadapan, dia merapikan rambut Nana yang agak berantakan itu.
__ADS_1
"Gue harus pergi."
Nana melongo dan "HAHA!!! pergi kemana lo?? jangan ngaur dehh!! please yahh kalau lu mau mati sekarang jangan dehh nanti gue kesepian.." Nana justru tertawa mendengar ucapan Rama. Rama semakin di kulut kesedihan ketika melihat tawa lepasnya Nana Mungkin suatu hari nanti dia tak akan lagi melihat tawa yang keluar dari mulut Nana.
"Lah terus kenapa lo malah ngeliatin gue kaya gitu?" Tanya Nana.
"Na gue serius.." Ucap Rama, Nana terdiam lalu menatap Rama.
"Gue harus pergi, Daddy ada urusan penting. gue harus ke luar negeri dan menetap di sana."
Deg...
"Kenapa?" Tanya Nana dengan suara yang mulai tak terdengar
"Lo yang bilang kalau lo itu sayang sama gue dan kenapa lo juga yang pergi ninggalin gue hikss,, lo selalu bilang kalau lo bakalan selalu ada di samping gue dan,,, sekarang?? lo mau ninggalin gue hikss??"
Tangis Nana pecah begitu saja, rasanya sangat sulit jika dia harus kehilangan untuk kedua kalinya. Rama menyentuh tangan Nana dan mengenggam nya erat, tatapannya lurus kepada gadis di hadapannya itu.
"Lo tau kan Na? Daddy gue sakit dan dia ingin sekali gue meneruskan perusahaan nya dan itu ngga bisa gue tolak.. maaf.."
Nana menatap Rama dengan mata yang berkaca-kaca "Kenapa lo harus pergi Ram hiks, Lo sayangkan sama gue?"
Rama mengangguk dia mengusap halus air mata yang mengalir di pipi mulus Nana "Gue sangat sangat sayang sama lo Na."
"Terus kenapa? kenapa lo harus ninggalin gue? kenapa lo harus pergi? apa lo juga bakalan ninggalin gue sendiri di sini sama seperti 18 tahun yang lalu hikss?"
Rama menunduk dia tak kuasa melihat air mata yang keluar dari mata Nana "Seandainya Daddy ga sakit gue bakalan netap di sini bersama lo Na, tapi takdir dan keadaan tidak mendukung gue."
Nana semakin terisak dia tak kuasa jika harus kehilangan Rama, Sahabat Pertama yang membangkitkan nya di dalam keterpurukan nya itu, orang yang selalu ada di saat dia sangat sangat butuh seseorang.
"Rama hikss... gue ga mau lo ninggalin gue hikss." Rama meraih tubuh mungil Nana kedalam dekapannya.
"Maaf Na, Maafin gue.." Ucap Rama di sela sela pelukannya.
Rama melepaskan pelukannya menatap wajah sendu Nana "Ada persyaratan yang harus lo lakuin Na, Pertama lo ngga boleh sedih apa lagi sampai mengeluarkan air mata berharga lo, kedua lo harus terus tertawa, ketiga lo ngga boleh lupain gue dan lo harus ingat kalau gue sayang sama lo, dan keempat tumbuh lah jadi gadis yang cantik dan dewasa kamu ngerti?"
Nana tersenyum lalu memeluk erat tubuh Rama erat dia tak kuasa jika harus menyembunyikan kesedihannya.
"Gue ga tau Ram hikss gue ga tau harus gimana sekarang.. gue ingin pulang,," Nana beranjak dari duduknya.
"Gue antar yah." Ajak Rama, Nana mengangguk.
Di sepanjang perjalanan tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Nana, gadis yang biasanya bawel itu kini berubah menjadi sosok yang pendiam. Dia terus menatap ke luar jalan sekali kali air matanya mengalir.
Sampai di depan rumah Nana masih enggan membuka mulut "Gue masuk dulu." Ucap Nana singkat, Rama mengangguk dia tau bahwa Nana kini tengah kecewa.
Nana berlalu tanpa menunggu ucapan Rama.
Gina, Aidan dam Al yang masih berkumpul di ruang keluarga itu menandakan diam ketika melihat Nana yang baru tiba berlari menuju kamarnya tak seperti biasa yang selalu menyapa terlebih dulu.
"Nana!! Sayang!!." Panggil Gina namunn Nana masih terus berjalan cepat.
"Ada apa ini?" Ucap Aidan yang khawatir akan keadaan Nana.
"Kamu tau Al kenapa Nana bersikap seperti itu?" lanjut Aidan.
"Nanti Nana akan memberi tahu Mom sama Dad kok." Ujar Al tenang meski pun dia sangat khawatir akan adiknya itu.
__ADS_1