
"Lah lo Sob, kok ga bilang sih ada di sini? kalau dari kemarin lo bilang gue kan pasti usahain untuk bertemu dengan mu sob!."
"Sorry banget bro, gue ga bilang serius gue lupa! lagian ke sini gue bukan liburan tapi nganterin Reval pertandingan basket kemarin di Manchester city mewakili Indonesia dan Alhamdulillah ialah pemenang nya."
"Owhh iya? jadi dia pemenang pertandingan kemarin? sayang banget gue ga ikut, padahal sob Nana ke sana loh."
"Lo mah so sibuk benget bro, owh iya? kok gue ga liat Nana sih? gue lupa dia sudah Remaja sekarang, pasti wajahnya sudah berubah menjadi gadis cantik."
"Iya dong dia kan anak gue pasti beautiful, lagian gue yakin Nana bakalan senang kalau tau kalian di sini apa lagi ada Reval dia pasti sangat bahagia, lo telat ah!."
"Heheh sorry bro, nanti gue kabarin lagi deh kalau ke London, kita bikin surprise buat anak anak kita nanti oke."
"Ide bagus tuh, gue tunggu kabar baiknya sob."
"siap bro, gue tutup yah Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam sob."
"Daddy!!!." Teriak Nana sambil memeluk Aidan dari samping yang tengah memegang handphonenya itu.
Yah, Ab lah yang menelepon Aidan dan memberi tahu bahwa ia kemarin ada di London selama tiga hari. Ab benar benar lupa akan temannya yang satu ini. Aidan yang mendengar suara sahabatnya begitu senang, 11 tahun sudah mereka tak saling sapa, hanya lewat chat mereka mengabari itu pun jarang.
Aidan juga senang mendengar Reval memenangkan pertandingan Bola Basket tahun ini, tapi ia juga sedih tidak bisa bertemu dengan mereka. apa lagi ia sangat ingin memberikan Putri tercinta nya itu kejutan dengan datangnya Reval ke London.
"Daddy! tadi teleponan sama siapa sih?" Tanya Nana sambil mengambil toples yang ada di atas meja dan menaruhnya di paha mulusnya itu.
"Itu sayang Daddy kamu sedang melepas rindu dengan sahabatnya." Celetuk Gina yang baru datang sambil menaruh nampan yang berisikan minuman hangat untuk mereka.
"Owh iya? siapa Daddy?" Tanya Nana.
Aidan melirik putrinya dan mengelus hangat Rambut panjang Nana "Om Ab." Jawabnya santai, ia tahu bahwa Nana pasti akan terkejut namun selama ini Aidan tak pernah menyembunyikan apa pun dari keluarga tercinta nya. mau masalah besar atau pun kecil Aidan selalu bercerita.
Deg...
Seketika Nana duduk tegap berhenti mengunyah menatap Aidan yang ada di samping nya dengan lekat "Dad serius?" Ucap Nana sambil memandang Aidan sendu.
Aidan dan Gina tau perasaan anak bungsu nya itu, Ia selalu berusaha kuat di depan mereka tapi sebenarnya dia rapuh, Nana selalu berusaha menerima kenyataan tapi sebenarnya itu hal yang sangat sulit baginya dan mereka tau kalau selama ini Nana hanya mencari hiburan nya tersendiri.
"Iya Sayang, mereka bilang minta maaf untuk kamu, Daddy, Mom dan Abang mereka lupa untuk menghubungi kita, karena mereka bukan liburan tapi mengantar Reval bertanding sayang." Jelas Aidan sambil mengusap lembut Rambut panjang Nana.
Deg...
Reval? Reval ikut? tapi kenapa kenapa dia ngga hubungi aku? kenapa val kenapa? apa kamu tidak merindukan ku val?. Nana membatin dengan seribu pertanyaan.
__ADS_1
"Kamu tau sayang? Reval lah pemenang pertandingan kemarin, pertandingan Basket tahun ini sayang! kemarin dia yang memenangkan nya membawa piala dan kebanggaan untuk Indonesia." Lanjut Aidan sambil menatap Nana,
Deg...
"Berarti ke- kemarin Reval datang ke Manchester city Dad?" Lirih Nana, ia tak kuasa mendengar semuanya. Gina beranjak dari duduknya dan duduk tepat di samping Nana ia memegang kedua bahu anaknya seraya memberinya semangat.
"Iya sayang! apa kamu tidak bertemu dengan tante Anita?." Tanya Mom sambil mengusap lembut tangan Nana.
Nana menggeleng "Apa mereka masih di sini Dad?" Tanya balik Nana dengan serius.
"Sayang! mereka minta maaf karena mereka sudah kembali ke Indonesia tadi siang." Jawab Aidan Sambil tersenyum.
Buliran bening lolos dari pelupuk matanya "Kenapa Dad? kenapa di saat Nana ingin bertemu dengannya, tapi, tapi Tuhan seolah tak mengizinkan nya hiks.." Ucap Nana di sela tangisan nya. Gina dengan sigap memeluk anak bungsunya itu.
"Sayang, yakin lah Allah sudah merencanakan yang lebih baik dari ini Nak!." Ucap Aidan mencoba memberi pengertian kepada Nana.
Nana tersenyum simpul "Iya Dad, iya benar yang di katain Dad betul! Allah pasti merencanakan yang terbaik untuk Nana, Tapi kapan Dad?!!, Mom kapan?!!! Nana sudah menunggu ini dari lama! Nana udah nunggu Reval, Nana merindukan dia Mom Hiks..Hiks.." Nana berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"NANA!!!" Teriak Gina, Aidan yang melihat itu mengusap wajah nya kasar, ia sendiri bingung dengan keadaan ini.
"Sayang, Aku takut Nana kenapa-kenapa." Ucap Gina dengan nada khawatir khas seorang ibu.
Aidan mendekat dan memeluk nya "Kamu ga perlu khawatir sayang, dia sudah besar! sudah bisa menyimpulkan segala sesuatu dengan baik. percaya sama aku yah." Ucapnya menenangkan sang istri Gina mengangguk.
Nana membuka buku itu, ia mengingat kembali perkataan cowok tengilnya itu 'Jika kamu rindu aku, jika kamu sedang sedih, jika kamu sedang marah, jika kamu sedang menangis kecewa, kamu bisa menuliskan semua nya di sini, mengungkapkan semua nya di sini, mencurahkan semuanya di sini, meluapkan semuanya di sini, jadikkan lah buku ini tempat berbagi dan tempat bercerita mu, anggaplah kamu sedang berbagi dan bercerita pada ku.'
Kata kata itu, Nana sangat merindukan nya, Buliran bening itu jatuh tepat di lembaran kosong itu, sudah lama tak membuka nya jari lentik itu berlahan bergerak dengan pena hitamnya ia menulis dan mencurahkan semua nya.
Tuhan, aku merindukan nya
Aku ingin bertemu,
Aku ingin berjumpa,
Aku ingin memeluknya,
Aku ingin kembali menikmati waktu bersamanya,
Aku ingin kembali mendengar suara nya itu,
Aku ingin melihat wajahnya kembali,
Wajah yang sekarang aku tak tau rupanya seperti apa,
__ADS_1
Apa kabar kamu? kenapa? kenapa kamu tidak mengabari ku?
Kenapa kamu tidak berkunjung untuk sebentar saja kemari?,
Aku yakin kamu juga merasa seperti yang ku rasakan saat ini. Sakit, kecewa, menyesal semua menjadi satu.
Aku akan selalu mengingat mu, mengingat semua kenangan kita, mengingat semua hal konyol kita, mengingat bagaimana kita melepaskan satu sama lain.
Reval! Aku merindukan mu.
_o0o_
Di Indonesia keadaan sama seperti di London, Pria muda itu terlihat kesal dan kecewa, setelah mendengar penjelasan Ab, Reval sungguh menyesal rasa ingin kembali ke London menghantui ia ingin kembali dan bertemu dengan seseorang yang bertahun-tahun ia tunggu, bertahun-tahun ia rindukan bertahun-tahun ia mimpikan untuk bersamaan lagi.
Ab dan Anita juga sama seperti pasangan suami istri yang kini berada di London mereka juga menyesal tidak menghubungi keluarga Aidan dari awal, Nana dan Reval memang tak memiliki kontak satu sama lain, mereka sendiri bingung kenapa bisa last kontak.
terakhir mereka kontekan sewaktu SMP kelas 1, saat itu handphone Nana di curi orang, membuatnya kehilangan kontak semua teman temannya termasuk kontak Reval.
"Ayah, kenapa ayah bisa lupa sihh?" Tanya Reval kesal
"Maafkan Ayah Nak! Ayah terlalu senang sehingga ayah lupa jika di London ada keluarga Aidan dan Nana sahabat kecil kamu." Jawab Ab sambil memandang sang putra.
"Ahkk!! Ayah, sekarang kesempatan aku untuk bertemu dengan nya sudah tak ada lagi." Gunggamnya dengan Nada sedih.
Ab tentu saja merasakan apa yang Reval rasakan, Reval menjadi sosok pria dingin karena kehilangan Nana, ia kembali lagi menjadi Reval yang sebenarnya karena Nana. ia Nana sangat berarti baginya.
"Masih banyak waktu Nak! Jika kalian saling menguatkan dan tetap bertawakal pasti Allah akan mempertemukan kalian dengan keadaan yang lebih indah dari ini."Ucap Ab menepuk pundak sang putra.
Reval tersenyum "Amiin,, semoga aja Allah kasib Reval kesempatan untuk bisa bertemu dengan Nana." ucapnya lalu beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.
Reval memasuki kamarnya menatap langit yang gelap itu, bintang dan bulan nampak indah malam ini namun tidak dengan hatinya,
Lagi lagi ia merasakan sakit yang mendalam, seperti ia merasa bahwa gadis kecilnya itu tengah menangis. Reval berjalan ke arah laci membuka kotak berbentuk love merah itu nampak foto foto dan sepercik surat pemberian gadis kecilnya itu sebelum mereka saling lepas.
Reval berjalan ke arah balkon membuka kembali surat dengan kertas berwarna biru itu..
'Hai Reval!! ini surat untukmu, maaf karena Nana hanya memberikan mu ini, Reval tau kah kamu? kamu adalah orang paling berharga untukku, kamu adalah orang paling istimewa untukku,
karena mu Nana bisa merasakan arti kebahagiaan dan kebersamaan yang sebenarnya, Reval! maaf Nan harus pergi, Nana harus ikut bersama Daddy, Maaf jika ini menhakiti mu, melukai mu sungguh Nana pun merasa sedih dan berat untuk meninggalkan mu, tapi takdir sudah lah takdir tak bisa di ubah. Reval janji sama Nana! kalau Reval harus kuat ga boleh lemah, Reval harus bahagia ga boleh sedih, karena jika Reval sedih Nana akan ikut sedih, maka dari itu jangan bersedih cowo tengil yang Nana punya. Maafkan Nana! Nana akan sangat merindukan Reval..
Nana sayang Reval. See you..
Ia tersenyum membaca surat itu, bagaimana pun ia sudah berjanji untuk tidak bersedih " Tuhan, Aku merindukan gadis itu, izinkan lah aku untuk bertemu dengan nya, kirimkan rindu ku ini padanya lewat doa yang setiap aku panjatkan kepadamu."
__ADS_1