
"Gue harap lo baik baik aja, gue ga tau kalau ternyata itu kamu Sha." lirih seorang pria tampan yang tengah berdiri di depan pintu kamar rumah sakit sambil memperhatika seorang gadis berhijab yang tengah terbaring koma tak berdaya itu.
"Maafin gue.." lanjut nya lagi.
"All.." Suara Bas milik Aidan membuyarkan lamunan Al,
Al menoleh dan memeluk sang Daddy "Ini semua salah Al Dad hiks.." Isak Al, Aidan sangat kaget ketika melihat putra nya ini menangis terisak Aldio dia pria dingin yang mungkin orang anggap dia tak punya hati, namun mereka salah di balik kedinginan itu dia menyimpan rasa cinta kepada orang yang dia sayangi.
"Sudah kita doakan saja Ais semoga dia cepat sadar dan doakan juga adik kamu Nana biar cepat pulih, tawakal yah Bang."
Setelah kejadian 1 minggu yang lalu membuat Al amat terpuruk begitu pun dengan dua keluarga besar itu. Sudah 1 Minggu berlalu Ais masih dalam keadaan koma tusukan pisau itu sangat dalam sehingga dia banyak kehilangan darah.
Nana yang baru sadar 3 hari yang lalu membuat Keluarga itu bernafas lega, Nana gadis itu masih enggan berbicara kepada Abang nya Al. dia masih sangat marah mengingat kejadian satu minggu yang lalu itu.
Al selalu berusaha kerasa untuk mendapatkan maaf dari Nana, Semua temannya tak henti berdoa dan memberikan semangat untuk mereka.
Flashback satu minggu yang lalu...
Jlebbb...
"AHHH."
"AIS!!!!!!!!."
Al tersentak saat Faras hendak menusuk nya, namun dengan cepat Ais menarik tangan nya hingga pisau tajam milik Faras itu mengenai tubuhnya seragam putih nya kini berubah menjadi merah ketika darah segar mengalir deras.
Nana menutup mulutnya ketika darah keluar dari perut Ais. Ais memegang perut yang terkena pisau itu tubuh nya seketika lemas namun dengan cepat Al menahannya sehingga kini Tubuh Ais berada di pangkuannya Al.
Nana menghampiri Ais yang tengah tergeletak tak berdaya di dekapan Al itu, buliran bening lolos di pelupuk mata Al. Ais tersenyum ketika Al mencoba membantu nya.
"Ais hikss,, gue mohon bertahan hiks.." Tangis Nana pecah, Ais melirik Nana dan tersenyum dia menahan sakit yang amat mendalam.
"Na - Na - Na Ma, Maaf gu gue ud udah bi bikin lo terjeb bak disi sini." Ucap Ais berbata bata.
Nana Menggeleng "Ngga!! ini bukan salah lo hikss!! lo harus bertahan demi gue yahh lo harus kuat hiks.."
Ais tersenyum, lalu dia menoleh ke arah Al dia mencoba mengelus tangan Al yang tengah memegang tangan kirinya itu "Ma, Maaf kar karena Ak aku udah bi bikin Na Na ber ada disini dan mak kasih udah ma mau menjadi cin cinta per tama Ais jan jangan benci Ais Kak Al." Ucap Ais suara itu mengecil Al mengeratkan genggaman di tangan Ais.
Mata Ais kini sudah tertutup Al menangis begitu pun dengan Nana, semua orang yang berada di sana menangis melihat Ais tak sadarkan diri.
__ADS_1
"AISSS GUE MOHON BANGUNNN!!!." Teriak Al kerass dia merengkuh tubuh Ais dalam pelukannya.
Nana berdiri dan menghapus air matanya menatap tajam ke arah Al.
"Sekarang Abang puas?? Abang puas melihat Ais seperti ini? Abang tau? dia udah banyak menyelamatkan dan menolong Nana Bang, Hikss tapi apa? Abang malah mengatakan sesuatu yang tak pantas dia dengar hiks.. Nana benar benar kecewa sama Abang hiks.."
Nana berkata dengan tangisan yang tak berhenti, Al masih memandang Naja sambil terus mendekap Ais di pelukannya.
"Dan asal Abang tau? Ais itu perempuan yang daru dulu Abang cari!! Gadis yang udah menolong Abang ke dua kalinya waktu Abang masih kecil!! Abang ingat? hikss apa yang udah lakukan, seberapa bencinya Abang ke dia hiks." Lanjut Nana, Al membeku mendengar ucapan Nana dia melirik Ais lalu kini menatap Nana.
"Mak- maksud kamu ini..."
"IYA!! DIA SYASYA!! Perempuan kecil yang udah menolong Abang dari maut!!." Teriak Nana.
💥💥💥💥
"Mom, Nana mau melihat keadaan Aiss." Rengek Nana yang tengah di suapi bubur itu.
Gina mendengus pasalnya anaknya ini baru pulih dua hari yang lalu, Dia memandang sang suami lalu Aidan mengangguk menandakan bahwa dia mengizinkan Nana untuk pergi ke ruangan Ais.
Gina menatap Nana lalu mengangguk "Iya udah boleh, tapi sama Mom antar yah."
Nana dengan cepat menggeleng "Ngga! Mommy belum tidur kan? Nanti Mommy sakit, Daddy juga! kalian istirahat aja Nana baik baik aja kok di sini, Nana bisa minta tolong kepada suster."
"Stttt udah deh Nana udah besar, jadi sekarang Mommy and Daddy pulang dan Suster tolong Antar aku ke Ruang VIP 2 yah."
Akhirnya Aidan dan Gina mengangguk, mereka pergi meninggalkan rumah sakit. Nana di bantu suster untuk duduk di kursi roda lalu mereka menuju ruangan di mana Ais di rawat.
Ketika Nana hendak masuk namun dia urungkan melihat Abangnya yang tengah menggenggam tangan Ais sambil menangis, Nana menyuruh suster itu untuk pergi meninggalkan nya.
"Sya Bangun.. aku tidak tau kalau itu kamu ku mohon." Ucap Al.
"Sya, maafkan aku. Aku sudah melukai mu.."
"Sya, ku mohon bangun aku banyak berhutang ke kamu, sudah tiga kali kamu menolong ku."
"Sya, Lihat aku masih menyimpan foto ini."
Al terus bergunggam, dia sedih ketika dia mengeluarkan handphone nya dan menampakan foto dirinya yang masih kecil dengan Ais yang tengah belajar mengaji itu.
__ADS_1
"Sya, lihat foto ini. lucu bukan? kamu masih mengingat nya? dulu kamu merengek meminta ku untuk mengajarkan membaca Alquran...emm aku kangen itu."
"Heii!! kamu bukannya kaka kemalin yang mau ketablak cepeda itu yah?" Tanya seorang gadis kecil berhijab merah sambil memeluk Al-Qur'an di tangannya.
"Emm iya, ini pertemuan kita yang ketiga kali, Pertama aku kita bertemu saat aku di jahili anak anak nakal dan kamu menyelamatkan ku, kedua saat aku hendak tertabrak sepeda kamu juga menolong aku, dan sekarang ketiga kita dipertemukan lagi dengan keadaan yang berbeda dan tempat istimewa." Celoteh Pria kecil itu, Gadis berhijab itu tersenyum manis.
"Heheh, abinya Kaka Payah huh!."
"Enak aja aku tidak payah, cuman belum berani dan lihat saja jika aku tumbuh menjadi orang dewasa aku yang bakalan melindungi mu."
"Kaka janji yahh" Gadis kecil itu mengacungkan jari kelingkingnya yang di sambut dengan kelingking pria tampan itu. mereka tertawa bersama.
"Bismillahirrahmanirrahim... Ayo coba." Suara lembut milik pria kecil itu dengan tlaten mengajar kan gadis kecil di hadapannya mengaji.
"Bis millah hirrah maa nirrahim."
"Bagus, meski pun begitu kamu sudah bisa mengucapkan basmalah."
"Hehe, kaka janji cama aku yah kalau udah becal kita bakalan baleng baleng telus nanti kaka yang jadi imam aku kaya Mami cama Papi."
"Hahha, iya aku janji Syasya."
"Nama aku Aisha bucan Syasya."
"Aku suka panggil kamu dengan nama Syasya."
"Terserah Kak Adio aja."
"Namaku Aldio bukan Adio."
"Aku suka panggil kaka dengan nama Adio."
"Sudah lah kamu selalu saja mengikuti ku."
Al yang mengingat itu benar benar sedih bagaimana bisa dia tidak mengenali nya selama ini. Sosok perempuan yang selalu dia rindukan, gadis kecil paling nyebelin menurut nya.
Nana yang melihat itu ikut sedih, dia sudah tau ketika Ais menceritakan semuanya saat berada di kampus Al siang itu. Awalnya dia tak percaya tapi ketika Ais menunjukkan foto dirinya dengan Abangnya itu Nana percaya.
__ADS_1
Nana menjalankan kursi roda dengan kedu tangannya menghampiri Al yang tengah menunduk itu.
"Bang.."