Salve Caritate

Salve Caritate
Bab 16 : Mereka memiliki sifat dan watak yang sama


__ADS_3

Hari minggu adalah hari di mana kebebasan bagi para siswa,Mahasiswa dan pekerja. dimana di hari ini lah mereka bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya, bermain bersama dengan teman temannya. Karena Gina dan Aidan sedang berada di Kota A, Nana memutuskan untuk mengundang ke empat temannya untuk belajar bersama di rumahnya.


Nana sudah bangun sedari tadi tinggal menunggu teman temannya datang. dengan kaos putih longgar dan celana jeans pendek yang ia kenakan. rambut indahnya di biarkan tergerai.


Ting Tong.


Nana berdiri,ia begitu yakin bahwa itu adalah teman temannya. ia berlari membuka pintu.


Cklek.


Mata Nana melotot ketika melihat dua pria yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kok dia melotot sih?why?" bisik Reno ketelinga Demian. Demian tersenyum


"Haiiii De! Ada Abang Al nya ga?" Tanya Demian sambil tersenyum manis.


"Ah.. itu ada kok di dalam Kak silahkan masuk." Nana membuka pintu nya lebar.


"Ga usah lebar lebar De! muat kok. kita ga gendut." Celetuk Reno membuat Nana memdengus kesal.


"Bang!!! Abang!!! Ada temen nihhh." Teriak Nana ketika sudah sampai di dalam rumah.


Aldio turun dengan pakaian rumahnya. hanya menggunakan kaos putih juga celana pendek. sama sama kek adiknya huh!.


"Ga Usah teriak teriak! Bukan hutan." Omel Aldio yang sudah berdiri di depan Nana.


"Hmmm...sorry Abanggnya Nana yang Tampan." Nana mencubit kedua pipi sang kaka.


"Ahkmmm." Dehem Reno. membuat Aldio dan Nana menoleh


"Ehh ada kalian. Ngapain? mau minta makan? sorry Asisten rumah tangga gue belum masak." Umpat Aldio.


"Gila lo!!." Pekik Demian.


"Kita ga di suruh duduk nih?" Celetuk Reno.


"Silahkan Lantai tersedia buat kalian pada." Ucap Aldio sambil duduk di sofa. Lalu melirik kedua temannya.


"Mendingan Balik yu! kita duduk di luar aja sekalian." Ketus Demian.


"Hahah! Pemarah lo! gue bercanda kok silahkan duduk!." Aldio tertawa melihat muka teman temannya.


"Al, Ade lo cantik yah." Celetuk Demian melirik Nana yang duduk di samping Aldio sambil merebahkan kepala nya di dada sang Abang.


Nana melirik sinis " Nana emang cantik. Ga usah di puji."


"Waw! Mereka memiliki sifat dan watak yang sama." Timbal Reno smabil tertawa.


"Sama?" Nana dan Al bebarengan


"Iya sama sama Garang dan Galak." jawab Reno sambil bersender pada sofa.



Aldio melempar sandal milik nya ke arah Reno dengan cepat ia menangkapnya.


" Au ah Nana ke kamar dulu." Ketus Nana beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah tangga. namun langkahnya terhenti dengan suara bel yang di tekan seseorang dari luar.


Nana berbalik menatap ke arah Aldio. "Ngapain bengong di situ. sana buka!." Titah Al.


Nana mengangguk dan berjalan ke arah pintu


"Nana!!!!!" Teriak Ais,Fay dan Zel sambil memeluk Nana.


"Oii!!! Gue sesek nih!!." Pekik Nana sambil berusaha melepas pelukkan ketiga sahabatnya.


Mereka mengeraikan pelukkannya dan menatap Nana " Sorrry Na!." Ucap mereka serentak.


Nana melipat kedua tangannya kesal. "Kalian mau bunuh gue secara perlahan gitu ha?"


"Ngga...kita cuman kangen kamu heheh." Ais memeluk kembali sahabatnya.


"Udah ah Masuk yu! lama lama di sini yang ada gue di peluk mulu sama tiga kunti." Ucap Nana asal. membuat ketiga sahabatnya itu mendengus kesal.


" Rama mana?" Tanya Nana kepada Ais sambil berjalan ke arah ruang tamu.


"Nanti nyusul." jawabnnya yang di angguki oleh Ais.


Sampai mereka di ruang tamu dan hendak menaiki anak tangga. kini tatapan mereka tertuju pada tiga pria tampan yang sedang berkumpul itu.


"Na siapa tuh?" Bisik Fay pada Nana.


"Temen temen Abang gue." jawabnya pelan.

__ADS_1


"Ganteng yah." Sahut Zelica yang mendapat toyoran dari Nana.


"Genit!."


"Kok telinga gue panas sih?" Pekik Al sambil lurus pada ponselnya.


empat orang cewe itu membulatkan matanya tak percaya ternyata Aldio mendengar semuanya.


"Hehe Abang!!." Ucap Nana cengegesan.


Reno dan Demian menoleh ke arah dimana empat cewe cantik tengah berdiri.


" Wahhhh Cantikknya!." Celetuk Demian sambil berdiri menatap ke arah Nana dan yang lain.


"Oiii mata lo mau gue tusuk?" Pekik Al.


" Heheh! sorry Al."


"Bang kita ke atas dulu yah bye. dan tolong dong bilangin ke Bi Yuki bawain makanan ke Atas yah." Ucap Nana sambil menaiki Anak tangga.


" Ngga mau." Pekik Aldio membuat Nana berhenti sehingga membuat ketiga temannya saling tubruk.


Awww


ringisnya memengang jidatnya masing masing


" Lo gimana sih Na?" Ucap Ais kesal.


Nana cengegesan kembali turun dan berjalan ke arah Aldio.


Cup.


"Kata Mom dan Dad ga boleh nakal." Nana mencium pipi Al dan tersenyum. Al hanya memutar bola matanya jengah.


" Astagfirullah!!." Teriak Seseorang membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara yang di mana Ais tengah berdiri sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa lo?" Tanya Fay melirik Ais.


"Zina mata Hey!." Ucapnya membuat semua orang tertawa.


"Hey!! Gue sama Abang Al itu adik kaka. jadi sah sah aja.. lagian cuman cium pipi bukan yang lain." Ucap Nana di sertai tawaannya.


Ais menyingkirkan tangannya dan membuka matanya melihat sekelilingnya yang di mana ia telah menjadi pusat peehatian.


"Lucu sekali dia." Sahut Reno yang melihat Ais berlari dengan menganggkat sedikit rok panjangnya.


"Emang." Ucap Aldio tanpa sadar membuat semua orang menoleh ke arahnya.


" Emang apa bang?" Tanya Nana.


" Emang..iya Emangg kan kalau kita melihat orang yang bemesraan apa lagi sampai melakukan yang ngga ngga itu zina mata." Jawab Al mencari Alasan.


" Owhhh iya udah Nana ke atas ah bye."


Nana,Ais,Fay juga Zel memilih untuk belajar di Balkon besar milik keluarga Nana ini.. mereka bisa belajar sambil memandang pemandangan yang indah dari atas. Mereka belajar terlebih dahulu sambil menunggu Rama datang.


"Wahhh Na! Bagus banget foto dong foto." Ucap Ais antusias. ia memilih tempat yang cocok untuk di foto.


"Nahh di sini Na! Foto doang." Nana mengangguk lalu mengambil ponsel milik Ais .


Ckrek..



"Wahhhhh bangus banget Na! gue upload di Instagram ahhh." Sahut Ais antusias.


"Alay lo!." Sinis Fay.


"Hahhaa Bener." timbal Zel.


"Terserah gue dong..apa jangan-jangan kalian mau ikutan yahh?? ayo sini sini."


"Ogah ah."


"Husttt mendingan kita belajar." Pisah Nana yang di angguki keduanya.


.....


" Kemana aja sih lo?" Tanya Nana saat melihat Rama berjalan ke arahnya.


"Sorry tadi gue kesiangan Hehe." Jawab Rama sambil duduk di samping Nana.


"Alesan Lo." Celetuk Ais.

__ADS_1


"Bener tuh!." Timbal Fay dan Zel bebarengan.


"Kompak bener kek Upin Ipin." Ucap Rama enteng sambil mengeluarkan ponselnya.


"Gila lo..mereka mah botak kita mah kagak!." Umpat Fay yang mendapat Acungan dari Zel.


"Bener banget!."


"Lo kok malah main hp? bukunya mana?" Tanya Ais yang melihat Rama merebahkan dirinya dan memainkan game onlinenya itu.


"Ga bawa."


"Lo ga bawa? Lah terus belajar nya gimana?" Nana ikut bicara


"Udah pintar." Ucap Rama sombong.


"Cih, Sombong bener!." Umpat Nana yang memutar bola matanya.


Mereka belajar cukup lama, begitu juga dengan Rama yang bermaim game online cukup lama..hingga sore tiba mereka menutup bukunya memilih untuk istirahat. Nana merebahkan kepalanya di perut Rama. Fay, Ais dan Zel memilih untuk turun ke bawah menambah makanan yang sudah habis di makan oleh mereka.


"Na!." Rama membuka suara


"Hem."


Rama mengelus Rambut Nana lembut.


"Capek?" tanyannya


"hem."


"Na!."


"Hem."


"Kalau seandainya gue pergi gimana?" tanya Rama membuat Nana menyeritkan dahinya.


"Pergi aja ga masalah." Jawabnya.


Rama beranjak bangun membuat Nana ikut bangun. mereka duduk saling berhadapan. Rama menatap mata Nana dengan hangat. Lalu mengelus rambut panjang milik Nana.


"Kalau gue pergi jauh?." Tanya Rama sambil menyelipkan rambut nana ke belakang telinga.


"Jauh? kemana? emang lo tega ningalin gue?" Tanya balik Nana.


" Maka dari itu Gue ga bisa ninggalin lo Na, Lo itu segalanya bagi gue."


"Gombal."


"Serius loh gue."


"Masa... Udah Ah mendingan foto yu." Nana mengeluarkan ponselnya lalu menekan kamera dan menjauhkan handphone nya .


Ckrekk..



"Lahhh kok malah ngehindar sihh..jadi kan ga keliatan." Omel Nana yang melihat hasil fotonya yang hanya menampakan sedikit rambut Rama.


"Hehe...nanti takutnya lo jadiiin foto gue di wallpaper lagi." Rama terkekeh pelan melihat wajah kesal Nana.


"Ga banget!! orang gue mau panjang foto lo di buku Yasin Huh!." Nana berdiri dan meninggalkan Rama yang tertawa puas.


"Hei!! JADI CEWE JANGAN GALAK GALAK NANTI GA ADA YANG SUKA!." Teriak Rama yang melihat punggu Nana mulai menjauh.


Ais di tinggalkan oleh Fay dan Zel dengan alasan ingin melihat taman rumah Nana. Awalnya Ais menolak tak ingin di tinggalkan namunnn apa boleh buat. Ia duduk di meja makan dengan Minuman di tangannya.


Ais seketika gugup melihat Aldio ada di dapur berjalan ke arah lemari es. Ais memperhatikkan setiap gerak gerik Al.


"Tampan banget aih kamu Kak." Gunggamnya pelan sambil menahan wajahnya dengan kedua tangannya.


Aldio melirik Ais yang tengah memperhatikkannya itu " Ngapain lo liat liat?" Tanya nya datar seperti biasa.


"Kaka Tampan!." Ais tersenyum lebar berharap mendapatkan ucapan terimakasih darinya.


Aldio memutar bola matanya lalu fokus pada botol minuman yang ia buka.


"Pelit!." Celetuk Ais. Aldio melirik ke arahnya menaikan alisnya satu seraya bertanya.


"Pelit?"


"Iya Pelit. Ngomong aja pelit kak padahal kan ngomong gratis... GE RA ---- Ihhhhh nyebelin." Teriak Ais yang ucapan nya terpotong karena Aldio meninggalkannya tanpa sepatah kata apa pun.


' Untung gue sayang Kak! kalau ngga gue bunuh sekarang juga.' omel Ais dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2