Salve Caritate

Salve Caritate
Bab 7 : Bukan Petekilan tapi jadi diri sendiri


__ADS_3

Hai!!!


Happy ReadingšŸ˜jangan lupa like,rate and vote yah


Sampai di sekolah mereka langsung pergi ke kelas melewati setiap koridor sekolah, seperti biasa mereka menjadi pusat perhatian Nana yang cantik dengan seragam lengan pendek juga rok yang di atas lutut dan Ais yang lembut kan anggun memakai seragam panjang dan hijab pasmina putih terlihat bersih.


Disini memang kebanyakan orang-orang dari Indonesia, bahasa yang di gunakan juga bermacam-macam namun ini bukan hal yang sulit bagi Nana karena ia sudah tinggal cukup lama di negeri ini, Daddy nya yang sangat lebih dari cukup membiayai Nana Les berbagai bahasa sejak Nana menginjak Sekolah dasarnya di sini.


Dan jarang orang yang memakai hijab seperti Ais hanya satu atau beberapa orang saja, Dan orang orang luar seperti Inggris, Amerika, Prancis mereka juga ada yang bersekolah di sini. Jadi tak jarang kita menemukan orang-orang bule berambut pirang itu.


Mereka berjalan berdua dan beriringan seperti biasanya, namun kali ini di saat mereka menjadi pusat perhatian ada juga tatapan yang berbeda dari seseorang, tatapan yang menunjukkan begitu iri dan benci, tapi menurut Nana ini sudah biasa karena menyimpan dendam dalam diam itu tradisi di sini.


Tiga orang cewe yang mungkin berasal dari Indonesia, London dan Inggris ini tengah memperhatikan dua orang cewe yang sedang menjadi perhatian itu. Dengan kedua tangan di depan dada menunjukkan keangkuhan sang pemilik.


"Grice lo kok natap cewe itu penuh dengan kebencian banget!." Tanya salah satu temannya. Zelica


"Bener, dan Doa you have business with him?." Tanya temen yang satunya.Fay.


"No.. I just want to reply to what happened the other day( tidak, aku hanya ingin membalas apa yang terjadi tempo hari). " Ucap Grice di sertai senyum sinis nya itu.


"Indeed What, apa yang terjadi??. " Tanya Fay bingung.


"Nanti gue kasih tau!" Grice berjalan duluan meninggal kan ke-dua teman teman nya itu.


"Kenapa sih si Grice?." Tanya Zelica pada Fay yang juga sama sama bingung.


"Lo nanya ke gue, gue aja bingung shitt.. "Densus Fay yang kesal dan pergi menyusul Grice.


" Lahhhh ni orang main pergi pergi aja!! Oiii!! Tunggu kenapa ha! " Teriak Zelica yang di tinggal sendirian.


Hari ini aku tengah duduk dik kursi bangku sekolah ku Ais yang ada di depan ku lebih memilih berbalik untuk bergosip, ckck bergosip memang kebiasaan kita saat tengah menunggu dosen.


"Na lo udah dapet kabar dari sahabat kecil lo?." Tanya Ais ke gue lah pasti.


"Emmm gue ga tau, nomor telepon nya aja gue ga tau apa lagi kabarnya **** lo!." Ketus gue.


"Hadehhh ya lo minta donggg Naaa!!."Sahutnya lagi aku memikir sejenak.


" Minta ke siapa ishhh lo mahh.. . Tau gue ga ketemu sama dia." Dengus ku yang lagi lagi kesal abis.


"Ke mother and Father nya lah, dia kan hidup otomatis punya bokap dan nyokap, dan lo bisa minta nomor nya ke mereka gimana sih." Ucapnya serius dan aku memikir kok tumben ini otak bener yah, renovasi dimana?


"Tumben otak lo pinter!." Ucap seseorang yang baru datang dari arah pintu.


Wahhh manusia batu datang nih, kedatangan nya membuat kaum hawa luluh seketika.


"Rama lo datang-datang langsung ngumpat gue! Lo sehat?." Ketus Ais kesal.


"Tapi bener lo tumben lo pinter juga.. . Dan yang bodoh nya kok gue ga kepikiran yah selama ini." Ujarku yang benar benar tak kepikiran akan hal ini.


"Lo nya aja yang terlalu sibuk merindu." Ucap Rama yang duduk di sebelah gue.


Para gadis seperti biasa iri melihat kedekatan mereka bertiga "Rama..... Sini dong bareng kita kita." Ucap salah satu siswa genit.


Rama hanya melirik sekilas tanpa ekspresi biasa.


Pelajaran Fisika di mulai dimana pelajaran paling malas bagi Nana... Pasalnya dia tak pernah mengerti meski pun di jelaskan beribu ribu kali, ia sering tertidur di jam seperti ini bagaikan dongeng yang tak pernah ngerti menurut nya.


"Oii! Jangan tidur fokus lo." Ucap Ais setengah berbisik.


"Berisik lo palingan sebentar lagi ngajak ke kantin Bu Sari!!." Ketus ku.


"Heheh lo tau aja Na!." Ais cengar cengir sendiri.

__ADS_1


Pelajaran akhirnya di mulai meski dengan berat hati Nana mengikuti setiap pelajaran yang di terangkan nya.. Sesekali ia menutup matanya menahan ngantuk sejenak..pelajaran yang melelahkan, tapi ia harus mau karena sebentar lagi Ulangan kenaikan kelas.


Istirahat jam jam kemerdekaan bagi siswa, Seperti biasa 3 orang Sahabat itu pergi ke kantin Bu Sari untuk mengisi perutnya yang lapar, terlebih lagi Nana yang menahan haus nya dari tadi terlihat muka pucatnya.


"Tahan Na bentar lagi datang kok sabar." Ais yang melihat Nana melipat kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya itu.


Rama yang dari tadi hanya duduk kini beranjak berjalan menuju Bu Sari yang tengah sibuk oleh pesanan semua siswa. Nampak Rama berbincang dengan Bu Sari lalu kembali ke meja nya dan duduk kembali.


"Ngapain lo Ram?." Tanya Ais yang mendapat tatapan sekilas tanpa mau menjawab. Ais menarik nafas panjang huff ia tahu sifat sahabatnya yang satu ini.


Tak lama pelayan Bu Sari datang ke meja dan menaruh beberapa menu yang telah mereka pesan. Ais bingung pasalnya mereka baru memesan tadi kenapa tiba-tiba sudah datang lagi. Ntah lah pikir Ais yang penting udah datang dan Nana bisa minum untuk mengisi kembali nutrisinya.


"Na.. Na minum dulu nih." Nana menonggakkan kepalanya terlihat wajah cantik yang pucatnya. Ais membantu Nana meminum jus jeruk nya itu. Senyuman tipisnya terukir.


"Terimakasih."


"Sama sama Na sans ae!."


Mereka makan dengan tenang, Nana sudah kembali semangat, sebenarnya Nana sangat cape akan semua ini semua terlihat sulit karena fisiknya yang lemah ini.


Ais sudah tau kondisi Nana namun tidak dengan Rama, yang ia tahu Nana memang lemah tapi tak tau apa yang di derita nya selama ini, karena Nana tak pernah cerita dan tak ingin membuat sahabat nya khawatir,Namun Ais lebih dulu tau karena ia pernah mengantarkan Nana ke rumah sakit waktu ia jatuh pingsan pas upacara bendera.


__________________


Jam pulang!


"Na lo pulang sama siapa?." Tanya Ais.


"Ga tau nih bingung." Ujar ku yang bener bener bingung emang karena si manusia es tak menghubungi nya.


"Bareng gue aja." Rama tiba tiba.


"Ngga!! Nana sama gue aja!." Kilah Ais cepat.


"Gue mau ketemu kaka ipar heheh!." Ucap Ais cengar cengir sendiri.


"Haduhhhh najis bener gue jadi adik ipar lo!." Pekik Nana sambil berjalan.


"Jadi lo bareng gue aja yah." sahut Ais yang sibuk dengan ranselnya dan berjalan beriringan.


"Hmmm.. Ram gue bareng Ais aja yah lo ga apa apa kan?." Ucap Nana sambil memegang tangan Rama.


"Iya gpp, asal lo baik baik aja." Rama tersenyum hangat melihat mimik wajah Nana.


"Makasih! yah udah kita duluan yah Assalamu'alaikum." Pamit Nana.


"Gue anterin dulu kaka ipar yah Ram, byeee Assalamu'alaikum." Sahut Ais sambil menarik tangan Nana.


'Gue harap lo bahagia terus Na!.' Batin Rama melihat punggung Nana yang perlahan menjauh.


Sampai di parkiran mereka masuk kedalam mobil Sport milik Ais, Sebenarnya Nana juga ini ingin menggunakan mobilnya sendiri namun Daddy nya selalu melarang karena kekhawatiran yang selalu menghantuinya pasalnya Nana pernah kcelakaan saat berkendara Kepala nya yang pening membuat konsentrasi nya terganggu dan menabrak pohon di pinggir jalan menyebabkan ia harus di bawa ke rumah sakit.


Di dalam mobil tentu saja mereka tidak diam saja berbagai gosipan mereka keluarkan, Nana senang jika bersama kedua temannya itu , sedikit melupakan rasa rindunya selama ini, Tapi berbagai cara agar melupakan nya tetap saja hasilnya nihil lagi lagi dia di landa kerinduan yang mendalam.


Indonesia.


Pria tampan baru saja keluar dari kamarnya sambil berjalan cepat ia menghampiri sang Bunda dan Ayah nya itu dengan senyuman yang mengembang ia duduk di kursi meja makannya. keputusan nya sudah bulat bahwa ia ingin merubah menjadi dirinya sendiri.


"Pagiii Bun, Yah!." Sapa Reval.


"Pagii sayang.. . Are you ok?." Tanya Ab sang Ayah.


"Yesss, aku ok, why?."

__ADS_1


"Ayah,, Reval kita sudah kembali seperti dulu! Lihat lah Sayang,, dia jauh berbeda dengan Reval yang kemarin." Jelas Anita


"Owhhh iya, kok Ayah ga tau yah?."


"Ayahnya aja yang kudet ah!." Pekik Reval yang membawa tawa keduanya.


"Reval pamit yah Assalamu'alaikum!." Pamit Reval yang sudah pergi menggunakan motor besar kesayangan nya.


"Waalaikumsalam!." Jawab keduanya.


Sampai di sekolah tentu saja Reval menjadi pusat perhatian para wanita, Bagaimana tidak? Saat ini Reval menggunakan seragam lengkap dan rapi, jaket kulit hitam yang di gunakan nya.ia membuka helm milik nya dan turun dari motor besar kesayangan nya itu.


"Pagi Broo!." Teriak Reval tak seperti biasanya yang hanya diam dan cuek.


Andri dan Iqbal saling pandang lalu beralih memandang Reval "lo sehat?." Tanya Andri heran.


"Huuh bener lo ga sakit kan?." Iqbal ikut bertanya juga.


Tak!!


Awwww!!


1


Satu citakan berhasil menyentuh dahi Andri dan Iqbal.


"Ehhh lo gila yah?? Yah gue sehat lah kalau ga sehat gue ga akan sekolah bodoh!." Pekik Reval kesal.


"Ya kali sikap lo yang dingin berubah menjadi petakilan gini ehhh!." Ucap Andri.


"Bener lo.. HAHAHA!." Tawa Iqbal mengisi ruangan itu.


"Lo gila yahh!! Salah mulu perasaan gue ah, dan lo harus tau gue bukan Petekilan tapi berubah jadi diri sendiri." Reval memukul kedua bahu teman6 itu.


"Val tuh Nata ke sini, ehhh bawa apa tuh?." Ucap Andri yang melihat gadis cantik berseragam pendek itu berjalan menghampiri mereka.


"Haiiii Semua!." Sapa nya.


"Haii Natt!." Jawab mereka serentak.


"Owh iya nih buat lo Vall!." Nata menyodorkan sesuatu kepada Reval.


"Wahhh apa nih Nat?." Tanya Reval antusias, Nata di buat bingung biasanya Reval hanya melirik nya dan berbicara dengan dingin tapi ini?? Wahhhh pergantian sejarah nih.


Nata memandang Andri dan Iqbal seperti memberi kode "Itu Nata si Reval dah tobat dia..." Sahut Andri.


"Huuh... Dia bosen sama sikap dinginnya katanya jadi ganti deh sama sikap Petekilan nya HAHA!."


Iqbal sambil melirik Reval yang tengah memeberikan tatapan tajam nya itu.


"Owh iya??Bener Val?." Tanya Nata mmenatap Reval.


Iya, anggukan sebagai jawabannya "Gue ga berubah jadi Petekilan cuman berubah jadi diri sendiri aja sans aja ga akan malu maluin kaya mereka berdua." Reval melirik teman temannya itu.


"Parahhh lo Vall!!."


"Ehh thanks yah!! Nanti gue buka di rumah! Soalnya kalau di sini bisa bisa dia orang cowo tengil kepo lagi!." Ucap Reval menatap Nata dan menyindir kedua temannya.


"Kalau mau nyindir pake bismillah dong... Suka bener aja lo mah." Sahut Andri memeluk pundak Reval.


"HAHAHA!." akhirnya mereka tertawa bersama.


Semua di sekolah menjadi bingung akan sikap Reval yang biasanya dingin ini menjadi pria seperti biasanya pembuat ulah, dan suatu keberuntungan bagi para kaum hawa yang sudah lama menunggu senyuman dari bibir pria taman ini.

__ADS_1


__ADS_2