Salve Caritate

Salve Caritate
Bab 29 : Menggemaskan


__ADS_3

Mencoba untuk membuka lembaran baru dan melupakan lembaran lama memang sulit, terlebih lagi Kedua nya telah menghabiskan waktu bersama sama membuat kenangan indah berdua.


Kadang perasaan berbeda dengan isi sebenarnya, tapi kenyataannya akan selalu sama dengan keadaan.


Belajar mencintai seseorang memang sulit namun kita harus yakin bahwa cinta datang dengan seiiring nya.


Sama seperti pria bermimik teduh itu, hari pertama membuka lembaran baru ini dia awali dengan senyuman tentunya, senyuman ini ntah asli apa palsu hanya dia yang tahu.


"Lo kenapa sih senyum senyum gitu? kesambet apa lo?" Tanya Andri melirik Reval yang tengah memegang gadget hitamnya.


"Salah makan kali dia." Celetuk Iqbal.


"Kepo banget sih urusan orang." Tukas Reval menaruh handphone nya ke saku celana Seragam yang ia kenakan.


Kini Reval dan kedua temannya tengah duduk di bangku kelasnya, hari ini semua pelajaran kosong jadi waktunya para siswa bersenang-senang, menikmati waktu kosong ini.


"Hai!!." Teriak Seorang perempuan berambut panjang lurus, dengan rok seragam di atas lutut juga tas yang ia kenakan. Nata.


"Hai!!." Ujar Andri dan Iqbal bebarengan.


"Haii Nat." Ucap Reval sambil tersenyum manis lalu ia menepuk bangku kosong di sebelahnya. Nata tersenyum dan duduk di samping Reval.


Reval mengelus rambut panjang Nata dengan lembut, Refleks Andri dan Iqbal melempar pandang.


"Kalian? sehat?" Tanya Iqbal.


"Alhamdulillah kita sehat, iya ga Nat." Jawab Reval sambil merangkul Nata.


"Kalian pacaran?" Tanya Andri memincing kedua matanya.


Nata dan Reval saling pandang dan tersenyum, Kedua beranjak menggenggam tangan satu sama lain " Kepo lo!." Ketus Reval sambil berjalan meninggalkan Andri dan Iqbal.


"Sarap tuh orang!!." Pekik Andri.


"Bener banget!." Ujar Iqbal.


"Tapi gue yakin ada sesuatu nih soalnya kan Reval ga pernah sedekat itu dengan cewe, kecuali Sahabat kecil nya itu." Ucap Andri yang di angguki Iqbal


"Bener banget!." Ujar Iqbal lagi.


"Kita harus cari tau, ga bisa dong kita diam aja."


"Bener banget!."


Andri melirik ke arah Iqbal dan menoyor kepala Iqbal kebelakang "Bener banget bener banget, benerin tuh muka lo!."


"Emang muka gue kenapa?"


"Mirip Monyet tetangga gue!." Ucap Andri berlalu meninggalkan Iqbal.


"SIAL!!." Teriak Iqbal mengejar Andri.


•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


"Sakit banget Na hiks!." Rintih Ais memegang perutnya yang terasa sakit.


"Gimana dong, Lo balik aja yah?." Ucap Nana khawatir.


"Iya Mendingan lo balik aja dari pada lo kesakitan." Ujar Zel yang di angguki oleh Fay.


"Lo sih udah datang bulan ngga pake segala jadi kan gini. mana obat biasa lo ga di bawa lagi ahh." Cerocos Nana kesal.


"Udah dong Na ngomel nya, cape gue dengerin ceramahan lo udah kaya mamah dedeh aja." Celetuk Ais yang masih memegang perutnya.


"Terus gimana? kita sekarang ada latihan buat perpisahan nanti kelas 12." Ucap Fay panik sambil mengigit jari jempol nya.


"Kalian ga usah khawatir, gue pulang sendiri aja." Lirih Ais lesu.


"Ngga! lo ga boleh pulang sendiri dalam keadaan kaya gini." Ucap Nana sambil berfikir.


"Sakit banget Na Awwww!!." Pekik Ais yang merasa perutnya semakin sakit.


Fay dan Zel mencoba memberi minyak angin untuk meringankan rasa sakitnya.


"Bentar." Nana meroboh sakunya dan mengeluarkan handphone dengan case biru langit nya, ia menekan dan menguhubungin seseorang.


"Hallo Bang!!." Ucap Nana panik sambil mondar mandir.


"Salam!." Ujar Al dari sebrang dengan suara datarnya.

__ADS_1


"Eh Assalamualaikum wr wb."


"Waalaikumsalam apa?" Tanya Al to the poin, nana menarik nafas panjang lalu membuangnya.


"Bang, bantuin Nana dong, Ais lagi kesakitan Abang bisa jemput ga? Antar dia ke rumah tante Aleen." Ucap Nana dengan gemetar ia takut jika Abangnya marah.


"Ga!." Al menolak tanpa berfikir terlebih dahulu dengan Nada yang ketus.


"Abangggg please kasian dia... kita sibuk ada latihan, Ais kesakitan bang, Nana ga bisa liat Ais seperti ini, bantu dong."


"Emang dia sakit apa sih sampai merepotkan semua orang." Pekik Al kesal.


Nana memutar bola matanya malas "Dia lagi dapet Bang, sekarang perut dia merasa sangat sakit."


"Dapet? Dapet apa?" Tanya Al begitu polos, sungguh dia tak mengerti apa yang adiknya tengah bicarakan itu.


"Undian!!!." Ketus Nana merasa kesal.


"Undian? iya bagus lah, terus kenapa dia kesakitan gitu?"


"Abangnya Nana yang tampan, Ais sedang datang bulan dan sekarang ia sedang merasakan sakit di bagian perutnya, bisa kah Abang membantu Nana dengan cara mengantar Ais ke rumah nya dengan selamat?" Jelas Nana dengan sabar dan lembut yang ia buat buat, sungguh sebenarnya ia merasa kesal dan ingin memberikan bogeman hebat kepadanya.


Al yang sedang berada di rumah mengangguk ngangguk, ia tahu jika rasa sakit yang di akibatkan oleh datang bulan rasanya sangat sakit, ia sering melihat Nana adiknya jika kedatangan pasti begitu merepotkan semua orang.


"Bang!." Ujar Nana.


"Hem."


"Bantuin dongg, Ais sama sama cewe kaya Nana dan ini rasa sakitnya itu ga bisa di jelasin rasanya sakit banget."


"Iya." Singkat Al.


"Iya Apa?"


"Iya abang ke sana." Ucap Al finnal membuat Nana tersenyum senang.


"Makasih Abang!! langsung ke UKS aja yah bye see you muach..."


"Hem waalaikumsalam."


"Eh iya Assalamualaikum."


"Gue sayang banget sama lo Is." Ucap Nana sambil tersenyum.


Fay dan Zel memeluk Nana dari samping "Kita juga sayang banget sama lo Na!." Ucapnya.


Tak lama mereka menunggu, kini tiba lah Al seorang pria tampan dengan pakaian casual dan muka datar pasti nya, ia memasuki ruangan UKS dan melihat ke empat cewe yang tengah menunggunya.


Ais yang masih tertidur tak menyadari kedatangan Al, ketiga cewe itu tersenyum ke arah Al berbeda dengan Nana yang berhambur memeluk tubuh kekar milik Al.


"Kak makasih yah sudah datang." Ucap Nana tersenyum.


"Hem."


"Siapa Na?" Lirih seseorang yang tengah terbaring di atas Ranjang itu,


Semua orang menoleh ke arah nya, Ais. yang tengah terbaring lemah dengan wajah pucat tersenyum ke arah Al.


"Kak Al." Lirihnya "Ngapain?" Tanya nya sambil mencoba berdiri, Nana berlari dan membantu Ais.


"Bang Al bakalan anterin lo pulang, maaf kita ga bisa anterin lo balik." Jelas Nana yang di angguki Ais, kemudian ia menatap Al yang tengah berdiri dengan wajah datar nya.


"Emangnya Kak Al ngga terpaksa gitu?" Tanya Ais polos sambil menatap Al.


"Terpaksa lah!." Jawab Al ketus, Ais tersenyum kecut mendengar jawaban Al.


Nana yang melihat itu memberi kode Al, ingin sekali ia memberi banyak cabe untuk mulut nya yang pedas itu. "Ngga lah, Bang Al ikhlas kok lo tenang yah." Ucap Nana yang di angguki oleh Ais.


"Ayo!." Ajak Al melirik Ais.


Ais tersenyum dan berjalan mengikuti Al.


"Lo kuat? bisa jalan ga?" Tanya Fay sambil membantu Ais turun dari Ranjang.


"Bisa kok kalian tenang aja." Jawab Ais.


"Iya udah kalau gitu kita balik ke kelas yah, lo harus sehat oke. bye!!!." Ucap Nana yang di ikuti oleh Fay dan Zel.


"Bye."

__ADS_1


Nana, Fay dan Zel pergi ke kelas untuk melanjutkan latihan mereka yang tertunda, sedangkan Ais berjalan kecil di belakang Al Sambil menunduk. Ia sadar banyak pasang mata yang melirik ke arahnya terutama ke arah Al, tatapan yang sangat sulit di artikan namun bagi Al itu hal biasa ia berjalan dengan cuek dan dinginnya.


Brughh.


Ais tak sengaja menabrak punggung seseorang yang berada di depan nya.


"Lo bisa ga sih jalan ga usah nunduk gitu? Ada apa di lantai sehingga lo merhatiin lantai terus?" Pekik Al sinis sambil menarik tangan Ais dan berjalan dengan cepat.


Ais yang melihat ini berbunga bunga, ia sangat senang ketika tangannya di genggam oleh Al, ia juga senang Al berbicara kepada lebih dari dua kata.


"Cie Kak Al cie pegang pegang tangan Ais cie..." Ucap Ais sambil cengengesan dan menatap tangannya yang di genggam oleh Al.


Al refleks melepas genggaman dan berjalan duluan ke arah parkiran 'Shitt, bodoh gue bodoh kenapa coba gue pegang tangan tuh bocah!!.' Batin Al menggerutu.


mereka sekarang berada di dalam mobil, Ais memegang perutnya yang kembali merasakan sakit. Al menoleh ke arahnya ada rasa khawatir melihat Ais kesakitan namun egonya terlalu tinggi untuk menampilkan kekhawatiran nya.


"Sakit?" Tanya Al se datar mungkin.


"Iya Aw....." Rintih Ais.


"Sabar bentar lagi nyampe." Ucap Al sambil terus fokus ke depan. Ais mengangguk ia menyederhanakan kepalanya mencoba memejamkan matanya untuk menahan sakit diperutnya.


Tak lama mereka sampai di kediaman keluarga Anggara. Al melirik Ais yang tengah tertidur itu ia memperhatikan wajah polos Ais dengan hijab yang agak berantakan membuat sudut bibirnya mengangkat.


'Lucu juga kalau lagi tidur gini.' Batin Al tanpa sadar dan dengan cepat ia menggeleng kepalanya.


"Ahkmm!." Deheman Al membuat Ais terperanjat ia melirik Al.


"Ada apa Kak Al?"Tanya Ais polos.


"Dah sampai! lo mau sampai kapan tidur di mobil gue." Jawab Al ketus lalu turun dari mobil di ikuti oleh Ais.


Ais turun dari mobil dengan lesu, ia berjalan menuju teras rumah namun tubuh nya tak seimbang saat ia menaiki anak tangga yang tidak terlalu itu, Al yang melihat Ais akan terjatuh dengan cepat ia berlari menahan tubuh Ais namun siapa sangka Al justru memeluk Ais membuat gadis itu terperanjat kaget.


Waktu berhenti membuat keduanya saling menatap, Mimik coklat dan hitam itu bertemu hingga Al tersadar dan dengan cepat ia membenarkan posisi nya.


"Jalan yang benar."


'Ga sia sia gue jatuh, bisa langsung di peluk gini kalau gitu gue mau deh sering sering jatuh di depan Kak Al.' Batin Ais sambil senyum-senyum sendiri.Al yang melihat itu bergidik ngeri


Di dalam rumah.


Aleen dan Sihhab tengah berkumpul di ruang keluarga dengan baby Ab yang sedang bermain.


"Nonya di depan ada Non Ais bersama den Al." Ucap Bi Sumi asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama 13 tahun itu. ia di minta untuk ikut ke London oleh Aleen, karena keluarga ini sudah menganggap Bi Sumi sebagai orang tuanya.


"Kenapa Ais sudah pulang yah?" Tanya Aleen heran, Sihhab menggeleng lalu meraih Abdiel ke pangkuan nya.


Mereka berjalan ke arah pintu, benar saja Ais dan Al sudah berdiri di depan pintu. Aleen melihat wajah pucat sang anak membuat nya khawatir.


"Assalamualaikum Mam, Tante." Ucap Al dan Ais serentak.


"Waalaikumsalam, kenapa kok kamu pulang cepat?" Tanya Aleen bingung.


"Tante, om kata Nana, Ais sakit." Jawab Al berusaha selembut mungkin.


"Sakit? kamu sakit apa?" Tanya Sihhab heran.


"Kamu datang bulan?" Tanya Aleen mengelus pundak Ais, Ais mengangguk iya.


"Kenapa kamu ga bilang? obat ga bawa?" Tanya Aleen lagi, yang lagi lagi di angguki oleh Ais.


"Salah sendiri." Pekik Aleen.


"Udah dong Mam!! Ais lagi sakit tapi malah di beri banyak pertanyaan udah kaya main cerdas cermat aja." Celetuk Ais yang berlalu masuk ke dalam meninggalkan semua orang.


Aleen dan Sihhab hanya menggeleng melihat tingkah laku anak sulung nya itu.


'Menggemaskan' Batin Al melihat Ais berlari kecil menaiki anak tangga


"Al masuk dulu?" Tawar Sihhab


Al tersenyum "Ngga usah om, Al harus ke kamus sekarang soalnya ada tugas yang belum selesai." Jelas Al yang di angguki oleh keduanya.


"Iya udah Nak, Hati hati yah, dan Makasih udah mengantar Ais ke sini." Ucap Aleen.


"Iya Tan, sama sama kalau gitu Al pergi yah Assalamualaikum." Al melirik Abdiel lalu mencubit nya gemas. Sihhab dan Aleen lagi lagi tersenyum.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


__ADS_2