
Aku pernah mendengar sebuah kutipan bahwa orang yang mahir menyembunyikan perasaan adalah orang yang sangat perhatian. Entah benar atau nggak, aku hanya ingin tetap berada di posisiku yang sekarang. Di balik sikapku yang tenang selama ini di depannya, tentu ada rasa yang bergejolak, ingin berada di sisinya sedekat-dekatnya, menjadi orang terpenting dalam hidupnya, menjadi perempuan yang setiap hari dia sapa. Tapi, aku tahu di sinilah seharusnya aku berdiri, dengan jarak yang berusaha aku jaga, karena ku tahu aku dan dia tak bisa bersama.
-Aisha Mughny Anggara
Gadis itu masih enggan untuk membuka matanya, satu Minggu dua hari pun berlalu semua orang nampak khawatir mereka tak henti hentinya berdoa untuk kesembuhan Ais. Semua sudah tau perasaan Ais kepada Al begitu pun dengan sebaliknya mereka mengetahui hubungan keduanya seperti apa.
Aleen dan Sihab tidak marah karena mereka juga mengerti masa masa remaja itu seperti apa.
Ruangan VIP 2 itu ramai oleh Sahabat dan keluarga dari sosok gadis berjilbab yang tengah koma itu.
"Ais.. kapan lo bangun?? bukan kah lo bilang kalau lo mau berjuang terus buat manusia es itu." Lirih Fay menatap Ais, Alat bantu pernafasan masih terpasang di hidung nya.
"Iya, kata nya lo mau beli boneka panda yang besar itu.. ayo kita ke sana gue janji deh bakalan beliin buat lo." ujar Zelica.
"Eh bocah tengil lo ga bosan apa, tidur mulu udah seminggu lebih lo kaya gini. ngga cape apa? kata nya lo mau dapetin hati Al, tuh orangnya udah meleleh gimana?." Ucap Rama.
"Ais hiks.. sekolah sepi tanpa lo.. hiks gue mohon bangun buka mata lo.. gue duduk sendirian lo tega? hiksss.. gue mohon LO HARUS BANGUN AIS!!!! HIKS LO HARUS BANGUN!!!." Teriak Nana membuat suasana menjadi benar benar sedih, Gina dan Aidan tak kuasa melihat putri nya seperti ini.
Al yang memperlihatkan pun tak terasa bahwa air matanya sedari tadi mengalir..
Tutttt..... Tuttt...
Suara monitor membuat semua orang menoleh, Sihab dengan cepat menekan tombol darurat.
Aleen sudah menangis sedari tadi dia bahkan beberapa kali pingsan.
"Dokter tolong anak saya, selamat kan dia." Ucap Sihab, Aidan mengelus pundak Sihab seraya memberinya semangat.
"DOKTER!! TOLONG ANAK SAYA!! AISS MAMI MOHON BANGUN NAK! BERTAHAN HIKSSS." Teriak Aleen, Gina dengan siap memeluknya dia juga sama merasakan sakitnya seorang ibu yang melihat anaknya terbaring tak berdaya.
"AISSS... AKU MOHON BERTAHAN." Ucap Al memengang tangan Ais yang terpasang selang infus itu.
"Saya harap kalian tenang, dan silahkan tunggu di luar." Ucap Dokter itu.
Nana dengan keras ingin tetap berada di samping Ais namun Rama membujuknya untuk ikut keluar.
"Mas, hiks gimana kalau Ais kenapa napa." Ucap Aleen memeluk tubuh tegap Sihab.
"Kita berdoa yah sayang"
"Mom hiksss aku ga mau kehilangan Aiss." Ucap Nana memeluk tubuh Mommy nya.
__ADS_1
Di dalam ruangan dokter Ervan masih sibuk memeriksa Ais dia berusaha untuk menyelamatkan gadis itu.
"Suster pasang Alat Defibrillator sekarang."
Defibrillator atau Pacemaker atau alat pacu jantung juga memungkinkan dokter untuk mempertahankan stimulasi listrik ke jantung untuk memulihkan dan menstabilkan ritme normal jantung
"1, 2, 3." Ucap Suster mencoba memeberikan aba abanya
Dokter yang mendengar aba aba dia menempelkan alat Defibrillator itu ke tubuh Ais dengan itu tubuhnya terguncang
Deg Deg Deg..
"Kita coba sekali lagi.."
"1, 2, 3.."
Deg Deg Deg...
Tutttttt...........
Suara nyaring monitor itu membuat dokter Ervan dan sang suster saling menatap.
"Kita udah ga bisa menyelamatkannya lagi."
Di keluar ruangan dengan wajah yang benar benar kecewa, semua orang yang melihat itu langsung berhambur untuk mengetahui keadaan Ais.
"Bagaimana dokter?? anak saya baik baik saja kan???" Tanya Aleen dengan mata yang berlinang air mata.
Al berjalan dan berhadapan lurus dengan dokter Ervan "Bagaimana keadaan nya, dia baik saja kan?? dia ngga mungkin ninggalin aku dok." Lirih Al yang lagi lagi Air mata itu terus mengalir.
"Maaf.."
"Maaf apa dokter?" Tanya Reno,
"Maaf, karena saya tidak bisa menyelamatkannya dia sudah pergi kepada sang pencipta." Jelas Dokter.
| Aldio POV |
Aku sungguh menyesal mengabaikan dia selama ini, sekarang? aku benar-benar merasa kehilangan, kehilangan sosok yang selama ini selalu membuat ulah, yang selalu mengejar ngejarku selama ini.
"Maaf, karena saya tidak bisa menyelamatkannya dia sudah pergi kepada sang pencipta." Jelas Dokter,
__ADS_1
Berita ini membuat berbagai tusukkan menghantam ku begitu saja.
"NGGA DOK!!! DIA PASTI SELAMAT!!! DIA ANAK YANG KUAT DOK!!." Teriak Tante Aleen.
"DOK!! DOKTER BOHONG KAN? DIA PASTI BAIK BAIK AJA KAN? DIA PERNAH BILANG KALAU DIA AKAN SELALU ADA UNTUK KU!!!!." Teriak ku, aku meremas rambutku frustasi melihat Nana dia sangat sangat rapuh sekarang.
"Dok, apa kami boleh melihat nya sekarang?" Tanya Om Sihab, dia terlihat sangat tegar tapi aku yakin dia juga merasakan sakit yang mendalam bagi sosok ayah untuk Ais.
Di saat bersamaan kami memasuki ruangan itu, terlihat Ais yang sudah tidur tenang mungkin, kesedihan ini tak bisa di pungkiri.
Aku berlari dan memeluk erat tubuh lemas Ais.
"SYA, KAMU NGGA BOLEH NINGGALIN AKU HIKS KAMU NGGA BOLEH NINGGALIN KITA SEMUA!!! KITA SEMUA SAYANG SAMA KAMU KU MOHON BUKA MATA MU!!."
Cup, aku daratkan kecupan di kening nya.
| Reina POV |
Benar benar kenyataan yang sangat sulit di terima, aku ngga bisa mengikhlaskan Ais dengan begitu saja dia adalah orang terlemot yang aku punya.
Sahabat yang selalu ada di saat aku tengah terpuruk, dan baru kali ini aku melihat Bang Al serapuh itu. terlihat dari matanya yang kecewa dan di situlah kesedihan nya terlihat jelas.
Aku berlari memeluk Bang Al yang tengah mendekap tubuh kaku Ais "Abang hiks... ngga mungkin bang hiksss, Nana ga bisa kehilangan Ais hikssss Bang hikss ini cuman bohongan kan??"
Abang membalas pelukanku, Aku melihat Tante Aleen yang sudah pingsan. Mommy menemaninya di ruang rawat.
"AISS, LO GA BOLEH PERGI! HIKSS NANTI SIAPA YANG PALING LEMOT DI ANTARA KITA HIKS.. LO HARUS BANGUN... KITA SEMUA BUTUH LO HIKS." Fay juga ikut menangis.
"IYA HIKS,, LO TEGA SAMA KITA.. INI BOHONGAN KAN? LO PURA PURA KAN??! AYO BANGUNN INI NGGA LUCU!! LO UDAH JANJI SAMA KITA HIKSS." Aku memeluk tubuh kaku Ais.
"AIS, GUE MOHON!! KEMBALI, DI SINI KITA NUNGGU LO BANGUN, KITA UDAH SABAR BUAT NUNGGU LO TAPI LO? LO MALAH PERGI HIKSS LO NINGGALIN KITA HIKSS!! LO CURANG!! LO JAHAT HIKSSS GUE GA MAU LO PERGI." Kali ini aku melihat Sosok Zel yang menangis, zel adalah sosok yang paling bodo amat itu kini memperlihatkan kepedulian nya.
"DADDY!!! OM!! AIS MASIH HIDUP KAN?? DIA HARUS DISINI!! DIA BERJANJI UNTUK SELALU ADA UNTUKKU DIA JUGA SUDAH BERJANJI KAN?? UNTUK MENJADI MENANTU DADDY!! DAN SEKARANG DIA?? HIKSS!!.." Rama memeluk ku dengan kuat aku dapat merasakan dingin di punggung ku aku yakin dia menangis.
Daddy dan Om sihab juga ikut menintikkan Air mata, dia sedih melihat semua remaja yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri ini terlihat jelas kerapuhannya.
Reno dan Demian juga ikut sedih melihat keterpurukan Sahabatnya Al, selama ini mereka tidak menyangka bahwa Al bisa menangis, Mereka baru pertama kali melihat Al menangis dan sefrustasi ini.
Bang Al kembali msndekap Ais, aku dapat merasakan bahwa Bang Al menyayangi Ais.
"KALIAN GA BOLEH MEMISAHKAN KU DENGAN SYASYA DIA PEREMPUAN YANG SELAMA INI AKU CARI!!! JANGAN ADA YANG MENGAMBIL DIA!!!." Teriak Bang Al, Aku benar benar sedih melihat ini semua.
__ADS_1
"Sya, Please open your eyes.." lirihnya mengecup kembali kening Ais.