
Karena kecerdasannya dan ketepatannya dalam bertindak, Shandra, walaupun masih kuliah dan masih terlalu muda, tapi ia adalah tangan kanan papanya dalam menangani musuh-musuh papanya. Ia tidak segan membunuh siapa pun yang berusaha menjebak atau pun menipu papanya dalam dunia bisnis.
Sebagai anak dari seorang mafia, Shandra tentu sudah di ajari berbagai cara dan teknik dalam menghadapi orang-orang di dunia bisnis dan dunia hitam (mafia).
La?"(Panggilan sayang papa kepada Shandra / Lala)."
"Kemarin ada anak buah papa yang menyampaikan bahwa pembangunan apartemen di kota X mengalami gangguan dari orang-orang tak dikenal."
"Oya? Gangguan seperti apa yang mereka alami pa?" Tanya Shandra.
"Katanya setiap kali mereka menurunkan material, jumlah yang diterima selalu tidak sesuai dengan orderan, dan bahkan jumlahnya semakin kurang beberapa hari terakhir ini." Kata papa
"Lalu, apa yang harus aku lakukan pa?" Shandra menimpali.
"Papa minta tolong kamu selidiki penyebabnya apa."
"Oke pa! Nanti siang sepulang dari kampus, Lala segera ke sana."
Tentu saja Shandra tidak akan ke sana. Ia hanya perlu menelpon Sakti, tangan kanannya untuk menyelidiki apa yang terjadi di sana, dan kemudian baru ia akan mengambil tindakan.
Setelah selesai berbicara dengan papanya, Shandra segera berangkat ke kampus. Sepanjang perjalanan ia memikirkan perkacapan dengan papanya.
Siapa yang sudah berani mengusik papa. Sepertinya sudah lama tanganku tidak membunuh orang, dan tanganku rasanya gatal untuk segera membunuh orang yang sudah berani mempermainkan papa.
Sambil berjalan, pikiran Shandra terus berkecambuk, dan tanpa disadari, ia telah tiba di kampus. Shandra segera menuju tempat parkir dan memarkir mobilnya.
Begitu keluar dari pintu mobil, Ina dan gengnya segera menghadangnya.
"Hei, manusia sombong, jangan mentang-mentang cantik dan pintar ya, nggak mau berteman dengan semua orang." Kata Ina
"Iya, benar! Jangan-jangan ini juga mobil pinjaman, tapi lagaknya seperti orang kaya." Sely menimpali.
Shandra tidak menanggapi perkataan mereka.
"Sudah selesai ngomongnya? Aku mau ke kelas."
"Hei urusan kita belum selesai." Kata Ina sambil memegang tangan Shandra.
Kaget karena tangannya dipegang, Shandra langsung memelintir tangan Ina, dan hal itu sontak membuat Ina mengerang kesakitan.
"Sekarang jawab aku. Yang sombong itu siapa. Aku atau kamu!" Kata Shandra.
"Lepaskan tanganku." Kata Ina
__ADS_1
Shandra justru semakin kuat menekan tangan Ina.
"Jika kamu tidak menjawab, maka tanganmu akan aku patahkan."
Karena tidak kuat menahan rasa sakit karena tangannya di plintir dan ditekan, Ina segera menjawab.
"Iya aku yang sombong. Lepaskan tanganku."
"Oke, bagus kalau sadar. Dan ingat! Ini yang terakhir. Jika terulang lagi, maka aku tidak akan segan untuk membunuhmu."
Setelah berkata, Shandra segera pergi meninggalkan mereka.
Hmmmmm, buang-buang waktu aja. Untung belum terlambat. Untung aku juga masih sadar ini di kampus. Kalau tidak, sudah kupatahkan lehernya. Dia belum tahu siapa aku sebenarnya.
Shandra segera masuk ke kelas, dan mulai mengikuti tatap muka seperti biasa.
Setelah selesai jam kuliah, Shandra segera menuju parkiran, mengambil mobilnya dan segera meninggalkan kampus. Setelah agak jauh dari kampus ia segera menepi dan menghentikan mobilnya kemudian menghubungi seseorang.
"Hallo? Bagaimana dengan tugas yang aku berikan tadi. Kamu sudah dapat orangnya?" Kata Shandra
"Sudah bos!" Jawab Sakti dari seberang.
"Katakan Sakti, siapa yang sudah berani berkhianat dan mau merugikan papaku." Kata Shandra.
"Maaf bos, sebaiknya bos ke sini. Aku dan teman-teman sudah menunggu bos, dan orangnya juga sudah kami tangkap."
Setelah berkata demikian, Shandra segera melajukan mobilnya menuju kota X.
Setelah dua jam perjalanan, Shandra tiba di rumah yang di beli papanya di kota X, dan rumah itu selalu di pakai Shandra dan anak buahnya jika Shandra ke kota X.
Sakti segera berlari dan menyambut Shandra. Setelah dekat, Sakti segera menundukkan kepala dan memberi hormat.
"Selamat Datang bos."
"Mana pengkhianat itu." Kata Shandra.
"Ada di ruangan biasa bos!" Kata Sakti.
Tanpa berkata lagi, Shandra segera menuju ruangan di maksud. Ia sudah tahu ruangan yang di maksud, karena ruangan itu adalah ruangan dimana ia sering mengeksekusi dan membunuh orang-orang yang ingin menjebak papanya atau yang bermain kotor di dalam bisnis papanya.
Setelah sampai di ruangan itu, tanpa berkata, Shandra segera duduk di kursinya, mengangkat kakinya dan meletakkannya di meja, kemudian berkata:
"Oh, rupanya kau.! Sekarang katakan! Siapa yang menyuruhmu, dan apa motifnya!" Kata Shandra.
__ADS_1
Orang itu hanya diam dan tak menjawab.
"Sakti, tolong ambilkan kotak ajaibku!" Kata Shandra.
"Baik Bos." Kata Sakti sambil menuju loker dan mengambilkan kotak di maksud.
Perlu dijelaskan ya. Kotak itu bukan sembarang kotak, karena di dalamnya ada gunting, pisau, dan berbagai macam alat untuk memotong. Ia selalu menyiksa musuhnya sebelum di bunuh.
Sakti yang sudah paham dengan keinginan bosnya, tanpa disuruh ia segera membuka kotak tersebut dan meletakkannya di depan Shandra.
Shandra mengambil sebuah penjepit yang sangat tajam, dan tanpa bertanya, langsung menjepit jari kelingking orang tersebut dan dengan satu kali gerakan jari kelingking orang tersebut telah terpisah dari tangannya.
Orang itu meraung-raung kesakitan dan sangat shock ketika melihat jarinya sudah putus. Keringat mulai bercucuran dari wajahnya.
"Sekarang, aku akan bertanya, dan ingat untuk segera menjawab. Jika tidak, maka giliran jari yang lainnya. Jangan membuat kesabaranku habis."
"Siapa yang menyuruhmu." Kata Shandra
"Aku dibayar oleh salah satu Klien tuan Wilson untuk menggagalkan pembangunan apartemen tuan Wilson di kota ini."
"Siapa nama klien itu." Kata Shandra.
"Namanya pak Chris." Kata Orang itu.
"Kau tahu siapa tuan Wilson?" Tanya Shandra.
Orang itu menggelengkan kepalanya.
"Tuan Wilson adalah papaku. Dan jika kalian berani menyentuh papaku seujung kuku saja, maka bayarannya adalah nyawa."
Setelah selesai berkata demikian, Shandra segera meraih pedangnya yang selalu terpajang rapi di tembok ruangan itu, dan dengan satu kali gerakan, dan tidak disadari oleh anak buahnya, kepala orang itu sudah terpisah dari badannya.
Semua anak buahnya merinding dan tidak berani menatap ke arahnya. Hanya Sakti yang terlihat biasa saja, karena ia sudah sering menyaksikan pemandangan seperti itu.
"Sakti, kau segera urus manusia tidak berguna ini. Dan tolong pesankan makan untuk aku. Jika kalian belum makan, maka pesankan untuk kita semua."
Sakti tidak bersuara. Ia segera mendekati mayat itu dan dengan dibantu oleh anak buahnya, mereka segera menyingkirkan mayat itu dan membersihkan ruangan itu.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kurir yang mengantarkan makan telah sampai dan mereka segera makan bersama. Tidak ada yang bersuara ketika makan. Jangankan bersuara, memandang wajah sang bos saja mereka tidak berani.
"Ingat! Jangan buat gerakan yang mencurigakan jika tidak ada perintah dari aku."
Setelah berkata demikian, Shandra segera melajukan mobilnya dan kembali ke rumah.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan Lupa Like, vote, rate bintang lima, dan komentar yang positif ya readers tersayang. salam sehatπππππ€π€