Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
06. Balas Dendam


__ADS_3

Prinsip yang selalu berlaku diantara sesama anak manusia adalah, perlakukan orang lain dengan baik sebagaimana anda ingin diperlakukan.


Ada orang yang tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan orang lain terhadapnya, tapi ada orang yang akan tetap mengingat perlakuan orang lain, dan sedapat mungkin akan mencari celah untuk membalaskan dendam dan sakit hatinya.


Eda Sally


*****


"Huh! Dasar manusia tidak punya etika. Berani-beraninya dia menjebakku. Dia pikir dia siapa. Jangan pikir aku akan diam. Aku akan tunjukkan kepadamu siapa aku sebenarnya." Kata Shandra kesal jika teringat dengan kelakuan Renan terhadapnya.


"Jangan pikir aku akan diam setelah apa yang kau lakukan Renan!" Kata Shandra sambil meninju sansak yang dia pakai untuk berolahraga pagi ini.


Shandra sedang berolahraga tapi pikirannya masih melayang pada kejadian dua hari lalu, dimana Renan menjebaknya.


Bagaimana pun juga, papa tidak boleh tahu tentang hal ini. Aku akan membereskan Renan dengan caraku sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Aku ingin memberikan pelajaran pada si brengsek tidak tahu diri itu. Gumam Shandra.


Setelah melakukan olahraga sebentar, Shandra melirik jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 06.30. Shandra segera bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, karena hari ini ada mata kuliah kelas pagi.


"Ah! Sarapannya nanti di kampus saja. Aku sudah telat." Kata Shandra setelah selesai mandi dan bersiap-siap.


"Bu! Tolong sarapanku disiapkan ya! Aku sarapan di kampus saja." Kata Shandra memberi perintah kepada maidnya yang bertugas mengurus sarapan Shandra.


Shandra segera menyambar tas dan perlengkapan kuliah lainnya, kemudian menuju meja makan dan mengambil bungkusan yang sudah rapi diatas meja.


Tanpa membuang-buang waktu, Shandra segera berlari menuju parkiran dan mengambil mobilnya dan segera menuju kampus.


Untung papa berangkat pagi ke luar kota, jadi aku tidak perlu menghabiskan waktu untuk sarapan bersama.


"Huh! Gara-gara terlalu memikirkan manusia kotor itu, aku jadi bangun kesiangan." Kata Shandra pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Shandra telah tiba di kampus. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera menuju ke kelas. Terlihat ada beberapa orang mahasiswa yang sudah ada di ruangan.


Shandra langsung menuju tempat duduknya, dan tanpa mempedulikan teman-temamnya ia segera menyantap sarapannya. Teman-temannya tidak ada yang berani menegur, karena sudah terbiasa dengan sikap Shandra yang seperti itu.


Setelah sarapannya hampir habis, tiba-tiba seorang pria tampan masuk ke kelas mereka. Shandra segera membereskan sarapannya dan duduk dengan tenang. Ia bingung kenapa pria itu langsung duduk di kursi yang biasanya di pakai dosen.


"Selamat pagi semuanya." Sapa pak Radyth.


"Selamat pagi." Jawab Shandra dan teman-temannya kompak.


"Oya! Perkenalkan namaku Radyth. Mulai hari ini aku akan menggantikan pak Bachtiar mengajar, dan otomatis mengasuh mata kuliahnya juga. Aku rasa cukup perkenalannya dan kita langsung saja." Kata pak Radyth mengakhiri perkenalannya.


"Pak! Apa saya boleh tanya?" Kata Vina mengangkat tangan.


"Iya kamu mau tanya apa?" Jawab pak Radyth.

__ADS_1


"Apakah bapak masih single? Jika masih Vina boleh daftar dong." Kata Vina yang disambut tawa seisi kelas, kecuali Shandra yang tidak peduli. Jangankan tertawa, senyum pun tidak.


"Jawabannya nanti saja. Kita sudah terlambat, dan aku tidak mau membuang-buang waktu. Kita langsung membahas materinya." Kata pak Radyth sambil menampilkan materi dilayar. Anak-anak mengikuti mata kuliah tersebut dengan tenang.


Sesekali pak Radyth melirik ke arah Shandra.


Kenapa dia beda ya? Dari tadi tidak tersenyum sama sekali. Bahkan teman-temannya tertawa pun dia hanya diam. Hmmmm gadis yang manis.


Setelah selesai mata kuliah tersebut, Shandra tidak mempedulikan pak Radyth dan teman-temannya yang masih cari perhatian dengan pak Radyth. Ia segera keluar tanpa mengatakan apapun. Pak Radyth hanya memandang punggungnya sambil tersenyum penuh arti.


Sementara itu, Shandra segera menuju kelas Renan, dan kebetulan ia melihat Renan yang baru keluar dari kelas. Ia segera menghampiri Renan.


Renan yang melihat Shandra berjalan ke arahnya tersenyum senang karena berpikir bahwa Shandra pasti menyukainya sehingga datang mencarinya.


"Hai Ndra!" Sapa Renan.


"Hai juga." Balas Shandra.


"Ren! aAku mau ajak kamu jalan-jalan boleh nggak?" Kata Shandra.


"Boleh kok Ndra. Siapa yang nggak senang jalan-jalan sama gadis cantik seperti kamu. Jangankan jalan-jalan, diajak nikah pun aku mau." Kata Renan.


Shandra tidak mempedulikan ocehan Renan. Ia segera menuju parkiran, yang langsung diikuti Renan.


"Ok." Kata Renan mengangkat tangannya membentuk hurif "O".


Mereka segera keluar dari kampus. Shandra segera mengarahkan mobil menuju salah satu markasnya di kota itu. Renan yang tidak curiga mengikuti mobil Shandra sambil bersiul-siul.


Tumben baik! Biasanya juga jutek.


Setelah 10 menit, mereka tiba di markas tersebut. Shandra memarkirkan mobilnya di halaman yang cukup luas diikuti oleh Renan.


"Kenapa kesini Ndra? Ini rumah siapa?" Tanya Renan.


Shandra tidak menjawab. Wajahnya terlihat dingin dan datar. Renan mulai sadar bahwa ia sedang dalam bahaya.


"Ayo masuk." Kata Shandra dingin.


Renan berpikir untuk melarikan diri, tapi ia melihat penjagaan yang terlalu ketat, tidak akan mudah baginya untuk melarikan diri. Ia tidak sadar waktu masuk karena gerbang masuknya jauh dan ia pikkr bahwa itu adalah lokasi sebuah rumah makan atau taman.


Renan hanya mampu mengikuti langkah Shandra dari belakang. Begitu sampai di dalam, Shandra langsung menghajar Renan tanpa ampun. Renan pun membalas serangan Shandra. Anak buah Shandra yang melihat Renan membalas serangan Shandra segera bergerak tapi segera ditahan oleh Shandra.


"Jangan ada yang bergerak. Biarkan aku mengurusnya dengan tanganku sendiri." Kata Shandra mengangkat tangannnya ke arah anak buahnya.


Renan yang kalah kemampuan beladiri dari Shandra segera dirobohkan hanya dengan beberapa kali pukulan dan tendangan. Setelah melihat Renan tergeletak tak berdaya, Shandra segera memerintahkan anak buahnya untuk mengikat Renan.

__ADS_1


Anak buah Shandra segera melakukan perintah bosnya. Mereka mengikat tangan dan kaki Renan kemudian meletakkannya dekat kaki Shandra yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya.


Tiba-tiba, Sakti masuk dengan tergopoh-gopoh karena barusan di telpon oleh anak buahnya bahwa bosnya sedang ada di markas.


"Bos!" Sapa Sakti sambil menunduk memberi hormat.


Shandra hanya menganggukkan kepala.


Shandra segera mengambil pisau bedahnya dan mulai menggores wajah Renan. Renan berteriak kesakitan.


"Ampun Ndra! Ampun." Kata Renan memelas.


"Aku melakukan ini agar wajah tampanmu itu cacat, sehingga kamu tidak menggunakannya untuk menggoda wanita lain." Kata Shandra.


Renan berteriak pilu ketika darah mulai menetes dari wajahnya.


"Aku tidak akan membunuhmu karena kamu masih kuliah. Aku hanya akan membuat wajahmu cacat." Kata Shandra sambil menambahkan goresan di bagian tubuh lainnya.


Renan yang tidak bisa menahan sakit rasa, sampai tidak sadar kalau ia sudah mengompol sejak tadi.


"Cihhh! Menjijikkan!" Kata Shandra.


"Sakti, setelah ini kamu bawa dia ke rumah sakit untuk mengobati lukanya." Kata Shandra.


"Baik bos." Jawab Sakti.


"Dan kamu! Ingat untuk tidak memberitahukan siapa pun tentang apa yang aku lakukan. Jika tidak, nyawamu adalah bayarannya." Kata Shandra sambil menunjuk Renan.


"Ini adalah pelajaran bagimu yang mau bermain-main denganku." Tambah Shandra.


Setelah berkata demikian, Shandra segera meninggalkan mereka dan kembali ke rumahnya.


Sementara itu Sakti segera membawa Renan ke rumah sakit karena luka goresan yang cukup serius di tubuh Renan dan membuat Renan pingsan.


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2