
Membuat janji dan komitmen untuk hidup bersama dengan orang yang kita cintai bukan hal yang mudah. Tantangan dalam pernikahan berasal dari diri kita sendiri. Kita harus berani mengalahkan ego kita untuk tidak berpaling dari pasangan dengan alasan apapun. Karena mencintai dalam bentuk nyata tidak semudah mengucapkan kata cinta yang terdengar indah di telinga.
Eda Sally
*****
Shandra mematutkan diri di depan cermin kamar hotel milik keluarga Dalmiro. Ia tak henti-henti menatap wajahnya yang baginya kelihatan aneh karena sejak kecil sampai sekarang ia tidak pernah berkenalan dengan yang namanya make-up.
Wajah polosnya terlihat dengan berbagai polesan sana sini yang membuat wajahnya benar-benar berbeda.
Tukang rias yang sudah selesai melaksanakan tugasnya nampak puas dengan hasil kerjanya. Sementara Shandra terlihat menarik napas panjang menahan kesal karena ia harus menahan diri untuk feminim dalam beberapa jam ke depan.
Shandra yang tidak bisa melawan kehendak grandpa dan papanya tidak bisa melakukan apapun untuk menolak pernikahan yang sudah diatur.
Hari ini adalah hari pernikahan mereka. Sejak terakhir kali papanya menguji kemampuan dengan John Bruno, sejak itulah ia tidak bertemu dengan pria itu sama sekali. Karena dalam tradisi mereka, calon mempelai tidak boleh bertemu dengan alasan apapun jika sudah ditetapkan tanggal untuk pernikahan.
"Nona muda, saya mohon maaf jika nona kurang puas dengan riasan saya." Kata tukang rias ketika melihat wajah Shandra masih cemberut.
"Riasan anda bagus Sekali. Tetapi jika anda tidak keberatan, bisakah riasannya dihapus saja? Saya merasa ngeri melihat wajah saya sendiri seperti ini." Jawab Shandra tanpa dosa.
"Maafkan saya jika tidak bisa melakukan itu nona muda! Karena tuan besar telah memerintahkan kepada saya untuk merias nona muda dengan hati-hati dan hasil yang bagus."
"Jika saya menghapusnya, itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk merias lagi. Padahal satu jam lagi pernikahan nona muda akan dilangsungkan."
"Saya ingin menikah dengan wajah apa adanya. Saya tidak suka dengan yang namanya kepalsuan. Kalau wajah saja sudah dibuat palsu, bagaimana dengan hati?"
Tukang rias itu mengangakan mulutnya mendengar perkataan Shandra. Ia tak menyangka seorang wanita akan berkata seperti itu di hari pernikahannya. Padahal kebanyakan wanita justru membayar mahal di hari pernikahannya agar terlihat lebih cantik dari biasanya.
Dia memang cantik tanpa make-up, tetapi seorang pengantin wanita akan terlihat lucu di hari pernikahannya jika ia tidak di make-up sama sekali. Tukang rias.
"Apakah sudah selesai?" Tanya tuan Wilson yang baru saja datang untuk membawa putrinya keluar menuju ruang akan dilangsungkannya pernikahan putrinya.
__ADS_1
"Sudah selesai tuan." Tukang rias yang menjawab karena Shandra sama sekali tidak menoleh ke arah papanya.
"Putri papa semakin cantik. Aku mencintaimu gadisku. Maafkan papa yang harus memaksamu menikah di usia yang masih terbilang sangat muda, bukan karena papa tidak mencintaimu lagi, tetapi papa tahu bahwa papa akan semakin tua, dan kekuatan papa untuk melindungimu pun akan berkurang."
"Papa tidak tahu batas umur papa sampai kapan. Papa hanya ingin agar jika nanti papa atau grandpa tiada, setidaknya sudah ada orang yang menjagamu." Kata tuan Wilson dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Dalam hati kecilnya ia tidak tega, tetapi ia ingin agar putri semata wayangnya bisa menemukan pelindung yang tepat.
"Terima kasih pa. Maafkan Shandra yang sudah kesal sama papa." Kata Shandra sambil bangkit dan memeluk papanya.
Aku tidak boleh menangis di depan papa. Aku ingin papa bahagia. Shandra.
"Tidak apa-apa gadisku. Entah kamu menikah atau tidak, kamu adalah gadis kecil papa yang selalu lincah dalam melakukan apapun."
"Papa ingin agar dengan pernikahan ini, kamu bisa berangsur-angsur melepas semua kebiasaan kamu selama ini."
"Ayo keluar! Orang-orang sudah menunggu kita." Kata tuan Wilson setelah menguasai hatinya.
"John ada dibalik sekat itu. Tetapi kamu tidak boleh melihatnya dibalik sekat. Kamu harus membelakanginya dan bersandar di sekat itu."
"Jika ia mengulurkan tangannya, kamu harus menggenggam tangannya dan berdoa. Waktu kalian untuk berdoa dari balik sekat hanya lima menit. Apa kamu paham?" Tanya tuan Wilson setelah menjelaskan.
Shandra mengangguk mendengar penjelasan papanya. Ia melakukan seperti yang diperintahkan papanya. Rasa gugup membuat tangannya gemetar ketika John mulai menggenggam tangannya. Walaupun gugup, Shandra memantapkan hatinya untuk berdoa.
Tuhan, aku ingin pernikahan yang langgeng seperti grandpa dan grandma. Aku tidak ingin pernikahan seperti papa, yang membuatku tidak pernah melihat wajah ibuku sendiri seperti apa. Bahkan di hari pernikahanku pun aku tidak bisa merasakan sosok ibu yang menasehatiku tentang bagaimana harus menjadi seorang istri yang baik. Tolong aku untuk bisa mencintai suamiku, dan tolong jaga hubungan kami sampai maut memisahkan. Shandra
Setelah selesai, John yang tidak terlihat oleh Shandra dan yang lainnya, segera dibawa oleh papanya menuju ke altar, sementara Shandra dirangkul papanya memasuki ruangan.
Semua undangan berdiri begitu Shandra dan papanya diikuti oleh grandpa dan grandma memasuki ruangan. Tepuk tangan diiringin lagu yang dilantunkan oleh penyanyi mengiring prosesi masuk mempelai wanita.
"Putriku adalah hartaku satu-satunya yang paling berharga. Jika suatu saat kamu tidak lagi menyukainya, tolong jangan kamu sakiti putriku ini. Kembalikanlah dia dengan cara baik-baik kepadaku, dan aku akan menerimanya dengan segenap hati."
__ADS_1
"Tetapi jika kamu menyakitinya dan kemudian mencampakkannya, maka aku tidak hanya akan membalasnya dua kali lipat, tetapi aku akan membalasnya berkali-kali lipat, dengan membuatmu tersakiti lebih dari yang telah kamu perbuat kepada putriku."
"Dan puncak dari rasa sakit yang akan kamu alami adalah, kamu akan secara perlahan kehilangan nyawamu dengan cara yang menyakitkan." Pesan tuan Wilson ketika ia sudah membawa Shandra berhadapan dengan John Bruno.
John Bruno sedikit gugup mendengar kata-kata tuan Wilson.
Untung aku menikahi putrinya karena cinta. Jika tidak, entah apa yang terjadi, karena singa jantan ini berasal dari keturunan yang sangat kejam dalam memperlakukan musuhnya. John Bruno.
"Saya akan selalu mengingat apa yang tuan katakan hari ini. Jika saya ingin jujur, maka tanpa malu saya akan mengatakan di hadapan tuan dan di hadapan semua orang, bahwa saya benar-benar tergila-gila dengan putri tuan."
"Bahkan di hari pernikahan kami yang terjadi hari ini pun, saya belum menemukan cara yang tepat untuk menaklukan hatinya."
"Mohon bimbingan tuan dan cara apa yang harus saya gunakan agar bisa menaklukkan hati putri tuan." Jawab John dengan mantap membalas pesan tuan Wilson yang penuh kekhawatiran itu.
"Bersikaplah seperti seorang pria sejati, dan kamu akan mendapatkan hati putri saya tanpa hambatan apapun." Jawab Wilson Dalmiro sambil tersenyum.
Terdengar tepuk tangan menggema di seluruh ruangan saat mendengar perkataan kedua pria itu.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍