
Mengumbar kemesraan di publik dan media sosial tidak menjamin bahwa hubungan kita dengan pasangan kita baik-baik saja. Karena kebahagiaan sebuah keluarga terletak pada rasa saling menghormati satu sama lain, dan saling mencintai tanpa syarat.
Eda Sally
*****
Sakti dan Lisa mengantarkan Shandra dan John ke Bandara. Sakti terlihat menahan tangis. Air matanya yang sudah ia tahan sejak tadi tidak mau berkompromi. Air matanya menderas begitu saja ketika ia berdiri di hadapan Shandra.
"Apa Lisa menyakitimu di malam pertama kalian?" Tanya Shandra.
"Jangan menggoda saya nona muda. Saya akan sangat merindukan nona muda." Jawab Sakti jujur.
"Kamu dan Lisa boleh bulan madu ke Jerman. Aku akan memberikan tiketnya setelah aku sampai di sana dan menyesuaikannya dengan waktuku." Ujar Shandra sambil menepuk bahu John.
"Saya sangat merasa kehilangan, Nona." Ujar Sakti.
"Kita masih bisa bertemu. Tenang saja. Kamu kan CEO. Jika kamu ingin ke Jerman, tidak ada masalah soal uang kan?" Balas Shandra meyakinkan Sakti.
Sakti tak mengatakan apapun. Ia tetap menunduk karena air matanya tidak mau berhenti melakukan demo.
Shandra segera memeluk Sakti ketika ia melihat bahwa pesawat akan berangkat beberapa menit lagi.
"Jaga kesehatan dan tetap lakukan yang terbaik. Jika ada kendala, cepat hubungi aku. Semoga kalian cepat diberi momongan." Ujar Shandra kemudian beralih memeluk Lisa.
"Doa yang sama untuk nona juga." Lisa yang menjawab.
"Kamu tidak salah jalan waktu malam pertama kan?" Goda John sambil memeluk Sakti dan Lisa bergantian. Setelah itu, ia menggandeng tangan Shandra dan berjalan masuk menuju pesawat.
Sakti hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan John.
"Mereka pasangan yang luar biasa." Ujar Sakti sambil merangkul Lisa dan segera naik ke mobil yang diparkir tidak jauh dari situ.
*****
Shandra dan John yang sudah sebulan berada di Jerman kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Sejauh ini, hubungan mereka baik-baik saja. John setiap hari meluangkan waktu agar makan siang bersama dengan sang istri.
Siang ini, mereka pun janjian untuk makan bersama di resto milik keluarga Bruno, tempat John pertama kali menyatakan perasaannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya John ketika melihat wajah Shandra pucat.
"Aku hanya sedikit pusing. Setelah ini aku akan langsung pulang untuk istirahat." Jawab Shandra.
Pada saat waitress baru saja menghidangkan makanan, Shandra langsung mual melihat aneka makanan yang dihidangkan. Ia langsung lari ke wastafel dan menumpahkan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam perutnya
"Kamu kenapa?" Tanya John dengan bingung.
"Ayo ke Rumah Sakit." Ujar John sambil membimbing tangan Shandra.
__ADS_1
Mereka segera menuju ke Rumah Sakit. Sambil berjalan John menelpon daddynya untuk menghubungi keluarga Dalmiro.
Andre Dalmiro yang mendengar cucu satu-satunya sakit, langsung memerintahkan Branden untuk mengantarkannya dengan sang istri dan sang putra dengan cepat ke Rumah Sakit. Karena takut terjadi sesuatu pada cucunya, mereka bahkan sampai sebelum John dan Shandra sampai.
John tidak bisa melarikan mobilnya dengan kencang karena Shandra akan semakin mual jika ia sedikit kencang. Akhirnya ia memilih untuk jalan perlahan sambil menyandarkan kepala sang istri ke pundaknya sambil menyetir.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di Rumah Sakit. John kaget karena daddynya dan orang tua Shandra sudah sampai di Rumah Sakit.
John langsung menggendong Shandra dan membawanya masuk. Tubuh Shandra sangat lemas karena terlalu banyak muntah.
Dokter segera memeriksa kondisi Shandra. Andre Dalmiro dan yang lainnya terlihat mondar mandir tidak jelas. Mereka takut terjadi sesuatu pada Shandra.
Tak lama kemudian, dokter yang memeriksa Shandra keluar dengan wajah sumringah. Saking khawatirnya, mereka semua berdiri dengan serentak dan menanyakan kalimat yang sama.
"Bagaiamana kondisi putri kami, Dok?"
Untuk sesaat dokter bingung harus menjawab yang mana. Dokter hanya menggelengkan kepala.
"Yang mana suami nona yang sakit." Tanya dokter.
"Saya, Dok. Apa istri saya baik-baik saja?"
"Istri tuan baik-baik saja."
"Selamat! Tuan akan segera menjadi seorang daddy. Kandungan istri tuan sudah berusia empat minggu" Ujar dokter sambil tersenyum.
Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut mereka semua.
"Kamu hebat, Nak!" Ujar Alaric Bruno sambil meninju putranya.
"Kamu memang bisa diandalkan. Kamu bia bertempur dengan hebat di tempat tidur dan mengalahkan cucunya saya." Ujar Andre Dalmiro sambil melayangkan sebuah tendangan di pinggang John.
"Dan saya perlu memberikan hadiah karena telah mampu menjebol pertahanan anak saya." Ujar Wilson sambil meninju John di perutnya yang membuat John langsung membungkuk dan memegang perutnya karena rasa sakit yang menyerangnya.
"Benar-benar keluarga aneh. Memberikan ucapan selamat dengan saling meninju." Ujar dokter sambil menepuk dahinya.
"Dan saya perlu menyampaikan terima kasih yang tulus kepada dokter karena telah memeriksa cucu saya dengan baik." Ujar Andre Dalmiro.
"Tahan rasa terima kasih tuan. Saya tidak ingin menerima ucapan terima kasih yang membawa bencana." Jawab dokter dengan wajah pucat sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Sang dokter berpikir bahwa ia juga akan dijadikan bulan-bulanan seperti John. Karena itu, tanpa pikir panjang, ia langsung berlari masuk ke dalam ruangan tempat ia memeriksa Shandra.
"Ada apa, Dok?" Tanya Shandra heran.
"Tolong sampaikan pada keluarga nona agar jangan membayar biaya administrasi Rumah Sakit atau ucapan terima kasih." Saya tidak ingin menerimanya." Ujar dokter tersebut dengan wajah pucat.
Shandra melihat keluarganya masuk dengan wajah yang penuh senyuman, tetapi tidak dengan John yang memegangi perutnya.
__ADS_1
Shandra akhirnya paham kenapa dokter itu sampai ketakutan.
"Tenang saja, Dokter! Saya yang akan membereskan semua biaya Rumah Sakit." Ujar Shandra dengan senyum manis kepada dokter.
"Selamat, Nak! Akhirnya kami akan punya teman bermain di rumah dan kami tidak akan kesepian lagi." Ujar Grandma.
"Mulai sekarang, kamu off dulu dari kantor, dan semua urusan kantor akan ditangani oleh Wilson." Ujar Andre sambil melirik putranya yang hanya menanggapinya dengan senyum.
"Aku punya permintaan kecil sebagai hadiah karena telah memberikan kalian cucu." Ujar Shandra.
"Katakan apa yang kau inginkan. Grandpa akan melakukannya." Jawab Grandpa.
"Mulai sekarang, jangan ada lagi kekerasan dalam keluarga kita. Aku tidak ingin anakku lahir dengan melihat kekerasan yang kita lakukan."
"Aku akan mengajarinya ilmu beladiri, tetapi itu hanya untuk menjaga dirinya sendiri. Jadi aku harap grandpa dan papa jangan memaksa cucu kalian untuk hidup dalam kekerasan."
"Aku harap, aku merupakan generasi terakhir keluarga Dalmiro yang hidup matinya ditentukan oleh adat dan tradisi aneh keluarga Dalmiro."
"Apa kalian setuju?" Tanya Shandra setelah berbicara panjang lebar.
"Apapun akan Grandpa lakukan, asalkan kamu baik-baik saja, dan tetap tinggal dengan Grandpa." Jawab Andre Dalmiro dengan mantap kemudian maju dan memeluk cucunya.
Semuanya pun bergilir memeluk Shandra. Sekarang tiba giliran John.
"Terima kasih telah memberikan seorang bayi walau kadang aku harus dihajar saat meminta jatah. Aku akan selalu mencintaimu, wanitaku." Ujar John sambil mengecup kening Shandra sangat lama.
Mereka kemudian meninggalkan Rumah Sakit setelah membereskan administrasi. Shandra dan John hidup bahagia dalam kehidupan selanjutnya. John dengan sifat bucinnya, dan Shandra dengan sifat cueknya.
Mereka dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai dan menjaga mereka.
T A M A T
.
.
.
.
.
Hai semuanya, jangan di unfavorit dulu ya, tidak akan ada season dua, tetapi akan ada karya baru Author untuk menggantikan karya yang sudah tamat ini. Author akan memberikan pengumuman 3 hari ke depan jika karya baru sudah up.
Judul dan alurnya dijamin seru. Ditunggu ya reader's tersayang dan kakak-kakak Author.
Terima kasih telah mendukung karya saya hingga tamat. I Love You Allπππππ
__ADS_1