Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
45. Hobby yang Sama (Part 1)


__ADS_3

Ketika hati cenderung untuk selalu melakukan suatu hal berulang kali tanpa lelah, maka sadarlah bahwa itu adalah sebuah bakat yang perlu dikembangkan. Apa yang kita sukai mungkin tidak akan sama dengan yang orang lain sukai, tetapi satu hal yang harus kita ingat adalah, jangan pernah berhenti mengembangkan diri menjadi lebih baik.


Eda Sally


*****


Shandra yang mendengar teriakan John, segera memukul driver itu tepat di ketiaknya sehingga ia kesakitan dan cengkramannya di leher Shandra jadi longgar.


Dikarenakan sangat marah dengan apa yang dilakukan sang driver kepadanya, maka tanpa pikir panjang lagi dan begitu mendapat kesempatan, Shandra langsung memutar leher driver itu dan terdengar bunyi "krak".


Sang driver langsung lemas tak bernyawa. Mobil yang hampir jatuh ke tebing mulai oleng. Begitu melihat ke belakang, Shandra langsung panik. Dengan cepat, ia membuka pintu mobil dan melompat keluar dari mobil.


Setelah sampai di luar, Shandra melihat mobil itu seperti sedang berada di sebuah gantungan. Karena masih marah dengan perlakuan driver padanya, maka tanpa ampun lagi, Shandra langsung menendang mobil itu dengam sekuat tenaga. Seketika mobil itu jatuh dari sisi tebing itu ke bawah.


Tak lama kemudian terdengar ledakan yang sangat keras dari arah bawah. John Bruno yang sejak tadi berlutut dengan lemas dan menutup mata karena takut terjadi sesuatu dengan Shandra, segera membuka mata begitu mendengar bunyi ledakan.


John langsung mengelus dada ketika melihat Shandra baik-baik saja. Ia kemudian berlari ke arah Shandra dan memeluknya dengan sangat erat seolah tidak akan hari esok lagi.


"Syukurlah! Aku takut sayang. Maafkan aku. Harusnya aku tidak menyuruhmu tetap berada di dalam mobil." Ujar John dengan khawatir.


"Lepaskan John! Apa kamu ingin membunuhku? Aku tidak bisa bernapas karena pelukanmu sangat erat." Protes Shandra.


John segera melonggarkan pelukannya dan dengan perlahan mengecup kening Shandra sangat lama. Ia seolah menumpahkan semua rasa di dalam kecupannya karena beberapa menit yang lalu, ia hampir kehilangan wanitanya.


"Mana handphonemu?" Tanya Shandra sambil menadahkan tangannya meminta handphone John.


John bingung melihat kelakuan istrinya, namun ia segera merogoh handphonenya di saku jaket dan memberikannya kepada Shandra.


Shandra terlihat mengutak-atik handphone John beberapa saat, kemudian tersenyum dan mengembalikan handphone itu.


"Ayo pergi!" Ujar Shandra sambil berjalan.


"Kemana? Apa kau ingin melepaskan pria itu begitu saja?" Tanya John dengan bingung.


"Ikut saja! Jangan banyak tanya!" Jawab Shandra.


Saat melewati keempat orang itu yang sudah menjadi mayat, John merogoh kantong celana salah satu diantara mereka dan mengambil handphonenya. Ia juga tak lupa mengambil semua senjata mereka dan membawanya ke dalam mobil.


Mereka kemudian mengambil mobil ke empat pria yang tadi menghadang mereka dan segera berangkat. Shandra menyuruh John duduk di sampingnya, sedangkan ia sendiri yang mengemudikan mobil.

__ADS_1


"Apa kau sudah tahu alamat rumah orang itu?" Tanya John.


"Apa kau lupa aku ini siapa?" Shandra tidak menjawab tetapi balik bertanya.


"Hmmmm! Aku tahu, istriku adalah pemimpin mafia White Lion, dan tidak ada yang tidak bisa dilakukannya." Ujar John sambil tersenyum.


Tangan John dengan reflek membelai rambut Shandra, kemudian memiringkan kepala dan mencium pipi Shandra dengan lembut.


"Aku sedang memgemudi, John! Tolong hentikan perbuatan gilamu itu." Protes Shandra.


"Iya! Aku memang gila sejak mengenalmu. Bahkan setelah menikah, aku semakin tergila-gila padamu. Dan aku semakin gila jika melihatmu seperti ini." Jawab John tanpa dosa.


Untung sudah jadi suami. Jika tidak, ia sudah ku hajar sejak lama. Shandra


Shandra memilih untuk tidak menanggapi John. Ia fokus dan terus mengemudikan mobil itu.


Tak lama kemudian, mereka telah tiba di sebuah rumah yang cukup mewah. Shandra menghentikan mobil itu cukup jauh dan memperhatikan suasana rumah itu. Terlihat ada beberapa pengawal yang berjaga-jaga di pintu gerbang.


"Apa kamu siap?" Tanya Shandra tanpa melihat ke arah John yang juga sibuk mengamati suasana rumah itu.


"Aku selalu siap jika bersamamu. Tetapi apakah ini tidak terlalu berbahaya? Aku takut terjadi sesuatu padamu." Jawab John yang memalingkan wajahnya dan menatap Shandra dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hei! Aku bukan pria penakut. Jika aku penakut, aku tidak akan menikahimu seperti sekarang." Protes John.


Saat mereka melewati pintu gerbang, mereka tidak diperiksa sama sekali karena para pengawal itu mengenal mobil yang baru saja masuk sebagai salah satu dari mobil teman mereka.


Shandra memarkirkan mobil itu tepat di depan pintu. Ia tidak segera turun karena masih mengecek senjata yang tadi diambil John. Setelah selesai, ia memegang dua senjata, dan sisanya diberikan kepada John.


"Jika kamu yang berhadapan dengan pria itu, jangan bunuh dia. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Apa kau mengerti?" Ujar Shandra.


"Apapun akan aku lakukan untuk istriku ini. Hati-hati sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Ujar John sambil meraih kepala Shandra dan menciumnya.


Shandra tidak memberontak sama sekali ketika John menciumnya agak lama. Matanya terus melirik ke luar mobil.


"Ayo turun sebelum terlambat." Kata Shandra mengakhiri ciuman mereka.


Shandra menganggukkan kepalanya ke arah John dan keduanya membuka pintu mobil dengan serentak. Mereka tidak menyadari bahwa sejak tadi sudah ada yang mengawasi mereka.


Begitu turun dari mobil, salah satu dari penjaga Espen menghampiri mereka dengan penuh selidik. Untungnya mereka menyelipkan senjata mereka dibalik jaket mereka.

__ADS_1


"Kenapa kalian membawa mobil teman kami?" Tanya orang itu dengan penuh selidik.


Shandra melihat ke arah John dengan tatapan penuh arti.


"Maaf, tuan! Saya disuruh oleh teman tuan untuk mengantarkan nona ini kepada tuan Espen." Jawab John.


"Oh! Pria yang pintar! Kau akan mendapat hadiah dari tuan saya jika kau memberikannya wanita secantik nona ini." Jawab orang itu.


"Apa kami boleh bertemu dengannya?" Tanya John.


"Tidak! Saya yang akan membawa nona ini kepada tuan saya, bukan kamu." Tegas orang itu.


"Tetapi, kami belum melakukan transaksi tuan. Saya ingin mendapatkan harga yang pantas untuk wanita secantik ini." Jawab John.


"Oh! Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi? Apa kau tahu, uang bukan masalah bagi tuan saya? Ia akan memberikan berapa pun demi seorang wanita. Apalagi yang kau bawa ini, menurut saya diatas standar. Tuan akan sangat puas."


"Dan biasanya tuan saya kalau sudah bosan memakai wanita seperti ini, ia akan memberikannya kepada sa..."


Belum selesai berbicara, tendangan John sudah mengenai leher orang itu, yang membuatnya langsung tumbang seketika.


"Berani sekali kau bicara untuk menjamah wanitaku? Kau belum tahu dengan siapa sedang berbicara, hah?" Ujar John penuh emosi.


"Ayo masuk! Jangan buang-buang waktu lagi.! Ujar Shandra sambil melangkah.


"Mau kemana kalian. Cepat angkat tangan!"


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2