
Semakin jauh kita berjalan, semakin banyak kita melihat banyak hal baru. Berjalanlah sejauh mungkin dan pelajarilah banyak hal baik, tetapi jangan pernah lupa untuk kembali. Karena saat kau kembali, kau akan melihat banyak hal yang kau rindukan di sini. Kembalilah jika kau lelah!
Eda Sally
*****
John tidak membantah apapun yang dikatakan Shandra.
Malamnya, Shandra menyampaikan rencana perjalanannya ke Indonesia kepada grandpa, grandma, dan papa. Grandpa dan grandma yang diberitahu tentang rencana keberangkatan Shandra dan John hanya bisa diam.
"Apa kau tidak ingin istirahat dulu?" Tanya grandpa.
"Makin cepat aku kesana makin baik." Jawab Shandra.
"Papa akan menemani kalian." Ujar Wilson menawarkan diri.
"Apa papa akan berperan sebagai obat nyamuk?" Tanya Shandra yang disambut tawa oleh mereka semua.
*****
Keesokan paginya, mereka semua mengantar Shandra dan John ke bandara. Mereka sangat menyayangi Shandra dan tidak ingin berpisah walau hanya beberapa hari.
Pasalnya, Shandra baru saja pulang bulan madu dan akan berangkat lagi. Tetapi mereka juga tahu bahwa Shandra selalu tidak ingin dihalangi jika hendak melakukan sesuatu.
"Cepat pulang ya, Nak?" Ujar Grandma dengan khawatir.
"Setelah semua urusan selesai, aku akan langsung kembali." Jawab Shandra sambil berjalan masuk diikuti oleh John yang masih berbalik dan melambaikan tangan. Sementara Shandra berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
"Apa kamu tidak merindukan mereka?" Tanya John ketika berhasil menyusul Shandra.
"Jangan terlalu banyak drama, John! Aku bukan wanita cengeng." Jawab Shandra dengan ketus.
Mereka kemudian langsung masuk karena mereka memilih kelas bisnis. Shandra ingin bisa istirahat dengan nyaman di pesawat, karena itu ia memilih kelas bisnis.
Perjalanan ke Indonesia tidak mengalami apapun. Begitu turun di bandara, Shandra langsung berjalan ke arah konter taksi untuk memesan taksi. Namun baru saja ia melangkah, sebuah suara yang tidak asing di telinga menyapanya.
"Selamat datang kembali bos."
Shandra langsung berbalik mencari sumber suara. Nampak Sakti dan empat orang anak buahnya sudah berdiri di belakangnya.
"Sakti? Padahal aku ingin memberikan surprisse. Pasti papa yang mengabarimu." Ujar Shandra sambil memeluk Sakti.
John hampir pingsan karena menahan rasa cemburu begitu melihat Shandra memeluk Sakti tanpa ada beban sama sekali. Ia hanya mampu mengeluarkan batuk buatan agar Shandra segera sadar.
"Hentikan sifat cemburumu itu, John! Mereka sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri." Ujar Shandra.
"Maafkan saya tuan muda." Ujar Sakti sambil membungkuk dan memberi hormat kepada John.
"Dia adalah orang bimbingan papa secara langsung, jadi lebih baik jangan cemburu jika tidak ingin dihajar." Ujar Shandra.
"Mana mungkin saya berani memukul tuan muda? Lagi pula wajar kalau tuan muda cemburu. Bos kan istri tuan muda." Jawab Sakti.
__ADS_1
"Jangan membuat kepalaku pusing. Ayo berangkat!" Ajak Shandra sambil berjalan.
"Jangan dimasukkan ke hati, Tuan! Bos memang seperti itu kalau bicara, tetapi hatinya sangat baik." Bisik Sakti kepada John.
"Terima kasih." Jawab John singkat sambil tersenyum.
Mereka keluar dari bandara dengan satu mobil hanya ada John, Shandra, dan Sakti. Sementara keempat pengawal tadi menggunakan mobil lain dan mengiring mereka dari belakang.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, sampailah mereka di rumah yang sangat dirindukan Shandra.
Semua pelayan yang melihat kedatangan Shandra segera berbaris menyambut kedatangannya. Shandra langsung menuju ke kamarnya diikuti oleh John. Sementara Sakti dan anak buahnya memilih untuk menunggu.
Begitu masuk kamar, John dikagetkan dengan dekorasi dan poster yang menghiasi kamar Shandra. Ia tak menyangka bahwa selera istrinya akan seperti ini.
Pasalnya, semua poster yang ditempel di sini poster para petinju kelas dunia dan beberapa tokoh kungfu yang sudah melegenda. John tidak melihat satu pun barang kesukaan cewek di kamar Shandra.
"Mandi dulu, John! Apa yang kau lihat?" Tegur Shandra.
"I love you." Hanya itu yang dikatakan John, kemudian mengecup bibir Shandra perlahan dan menuju kamar mandi.
Shandra yang merasa gerah segera menyusul John untuk mandi bersama.
John kaget ketika Shandra masuk, karena John tidak menutup pintu.
"Tumben! Biasanya tidak ingin mandi bersama." Tegur John.
"Aku sedang gerah, John! Jangan menggodaku!" Balas Shandra.
"Maaf nona muda." Sebaiknya makan dulu. Kami sudah menyediakan hidangan yang akan menghangatkan perut nona, dan menghilangkan rasa lelah!" Ujar salah satu pelayan mendekati Shandra.
Shandra segera mengajak John, Sakti dan anak buahnya untuk makan bersama.
Selesai makan, Shandra mengajak mereka ke ruangan tempat biasanya Shandra berlatih sambil mengobrol di situ. Tempat itu bersih dan sangat terawat. John segera memeriksa alat latihan Shandra satu persatu.
Pantas saja istriku sangat pandai bertarung. Semua peralatan ada di sini. Dia pasti berlatih dengan sangat keras. John.
"Bos! Tuan muda sangat tampan." Ujar Sakti.
"Apa kau sedang tidak normal, Sakti?" Tanya Shandra pada Sakti.
"Maaf bos! Saya berkata apa adanya. Bos memang pandai memilih pasangan." Jawab Sakti.
"Bas bis bos. Sampai kapan kau akan memanggilku bos? Aku bosan dengar kata itu, Sakti." Tegur Shandra.
"Ehmm, maaf nona muda." Ujar Sakti.
"Hmmmm! Nona muda lagi." Jawab Shandra.
"Sayang, apa kamu rutin berlatih di sini?" Tanya John sambil meninju sebuah sansak.
"Ini tempatku latihan setiap pagi." Jawab Shandra.
__ADS_1
"Pantas saja!" Ujar John.
John kembali duduk dan bergabung dengan mereka.
"Apa White Lion tidak ada masalah?" Tanya Shandra pada Sakti.
"Sejauh ini tidak ada masalah, nona. Semuanya seperti biasa saat nona masih di sini."
"Hanya saja, kita terpaksa harus melenyapkan beberapa pesaing bisnis tuan besar, karena beberapa kali anak buah kami memergoki mereka sedang membuntuti tuan besar." Jawab Sakti.
"Kerja yang bagus Sakti. Jangan pernah memberikan ampun jika kamu temukan hal seperti itu."
"Jangan pernah memberikan kesempatan kepada musuhmu, karena sekali musuhmu memiliki kesempatan, ia akan semakin menggila untuk melakukan hal yang lebih." Ujar Shandra.
"Saya akan selalu ingat pesan nona." Jawab Sakti.
"Oya! Apakah aku sudah memiliki calon ipar?" Tanya Shandra kepada Sakti.
"Sebenarnya ada nona, tetapi aku takut nona melarangku untuk menikah karena nanti tidak ada yang akan mengurus White Lion." Jawab Sakti jujur.
"Besok pagi kenalkan aku dengan calonmu itu dan segera urus pernikahan kalian dalam waktu dua hari ini sebelum aku kembali ke Jerman." Ujar Shandra.
"Hah? Secepat ini, nona?" Tanya Sakti kaget.
"Iya. Lebih cepat menikah akan semakin baik. Dan kau juga mulai memiliki tujuan hidup dengan memikirkan pasanganmu." Jawab Shandra.
"Apa kamu sudah mulai memikirkan diriku, sayang?" Goda John sambil merangkul Shandra kemudian mengecup bibirnya dengan lembut.
"Aku tidak suka memikirkanmu." Jawab Shandra dengan ketus. John hanya tertawa dengan jawaban Shandra.
"Nona, bisakah pernikahan saya ditunda saja? Saya merasa benar-benar belum siap." Ujar Sakti jujur.
"Aku tidak mau tahu! Dalam waktu dua hari ini kau harus melangsungkan pernikahanmu."
"Apa kau ingin menjadi bujang lapuk dan karatan?" Shandra
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1