
Semakin bertambahnya usia, semakin kita sadari bahwa ada banyak hal yang harus kita lanjutkan, dan juga ada hal yang harus kita lepaskan. Melepaskan suatu hal bukan berarti tanggung jawab telah usai, karena dari situlah kita akan melihat bahwa masih ada hal lain yang lebih prioritas yang membutuhkan uluran tangan dan pemikiran kita.
Eda Sally
*****
Keesokan paginya, Shandra mengajak John untuk mengunjungi perusahaan papanya yang ada di Indonesia.
John yang diajak seperti itu tentu saja senang, karena ia juga penasaran dan ingin melihat perusahaan keluarga Dalmiro yang ada di Indonesia.
Saat memasuki kantor, John dibuat kagum dengan sebuah bangunan bergaya Eropa yang sangat megah. Walaupun kagum, John tidak terlalu heran karena ia tahu seperti apa keluarga Dalmiro. Di Jerman saja, bangunan kantor mereka paling megah, apalagi di Indonesia.
"Papamu memang pandai memilih tempat berbisnis." Ujar John.
"Maklumlah! Jiwa bisnis keluarga Dalmiro." Jawab Shandra sambil tersenyum.
Mereka berjalan sambil bercakap-cakap, dan tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di depan ruang CEO.
Begitu melihat bahwa yang datang adalah Shandra, Bu Laela, sang sekretaris kepercayaan papanya tergopoh-gopoh menyambut kedatangan sang nona muda. Bagaimana tidak? Karena ia sudah tahu nona mudanya itu seperti apa karakternya.
"Selamat pagi nona muda. Selamat datang kembali. Senang melihat nona di sini lagi." Sapa Bu Laela dengan sopan.
"Selamat pagi Bu Laela. Duduklah! Ada yang ingin saya bicarakan." Shandra langsung pada inti pembicaraan.
"Ada apa nona muda? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bu Laela dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Jika harus memilih, Bu Laela lebih suka berhadapan dengan tuan besar daripada harus berhadapan dengan nona muda.
"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa mulai hari ini, papa tidak akan bekerja lagi di sini, karena kami akan sama-sama tinggal di Jerman."
"Mengenai jabatan CEO, itu akan diberikan kepada orang lain. Jika Bu Laela tidak keberatan, saya akan memberikan jabatan CEO ini kepada Bu Laela." Ujar Shandra.
"Terima kasih, Nona! Tetapi saya rasa lebih baik saya tetap pada jabatan saya."
"Siapa pun yang akan menjadi CEO, saya akan melakukan semuanya seperti saat ada tuan besar, sehingga ia hanya tinggal menambahkan yang perlu saja." Jawab Bu Laela.
"Baiklah! Terima kasih atas kesetiaan Bu Laela. Saya, atas nama keluarga Dalmiro mengucapkan terima kasih."
"Jika ada hal yang ingin Bu Laela sampaikan, katakan saja!" Ujar Shandra.
"Untuk Sementara tidak ada nona! Tetapi Jika ada hal yang mendesak, saya akan cepat menyampaikannya kepada nona muda." Jawab Bu Laela.
__ADS_1
"Saya harap seperti itu, Bu! Jangan bebani papa dengan urusan pekerjaan. Semua hal yang terkait dengan perusahaan, dibicarakan langsung dengan saya saja." Ujar Shandra.
"Maaf, Nona! Apakah ini...." Kalimat Bu Laela terhenti saat tangannya tak sengaja menunjuk John yang sejak tadi hanya duduk di sofa sambil melipat tangan tanpa mengatakan apapun.
"Iya betul! Ini suami saya, Bu!" Jawab Shandra sopan.
"Benar-benar tampan nona! Sangat serasi dengan nona muda!" Ujar Bu Laela jujur.
Shandra hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala mendengar perkataan Bu Laela.
"Mohon maaf tuan muda, jika sambutan kami kurang berkenan." Ujar Bu Laela dengan sopan kepada John.
"Tidak apa-apa Bu Laela. Saya di sini hanya sebagai suami nona muda. Yang patut mendapat sambutan dan penghormatan adalah nona muda, bukan saya."
"Karena perusahaan ini adalah milik nona muda, bukan saya." Jawab John dengan sopan.
"Tuan terlalu rendah hati. Nona memang tidak salah memilih pasangan." Puji Bu Laela.
"Bukan nona muda yang memilih saya, tetapi saya yang memilih nona muda." Jawab John meralat perkataan Bu Laela.
"Oh, maafkan saya tuan! Tuan hebat, bisa mendapatkan nona muda." Ujar Bu Laela.
"Dia wanita yang istimewa, Bu Laela!" Jawab John.
John tersenyum mendengar perkataan Bu Laela. Ia semakin kagum pada istrinya. Semakin hari, ia malah merasa bahwa ia semakin jatuh cinta pada wanitanya, walaupun wanitanya itu selalu jutek dan cuek.
"Apa kalian sudah selesai membaca puisi? Jika sudah kami akan segera pulang." Tegur John kepada John dan Bu Laela yang asyik membicarakan dirinya.
Shandra bukan tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, namun ia sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen yang diserahkan Bu Laela.
"Maaf nona muda!" Ujar Bu Laela.
"Tidak apa-apa Bu Laela. Saya akan menemui kandidat CEO yang sudah saya pilih agar besok sudah bisa berkantor di sini." Jawab Shandra.
"Terima kasih nona muda." Balas Bu Laela.
"Tolong dipikirkan lagi, Bu Laela! Apa Bu Laela yakin tidak ingin menerima jabatan CEO?" Tanya Shandra sekali lagi sebelum mereka meninggalkan kantor papanya.
"Saya sangat yakin dengan keputusan saya nona muda." Jawab Bu Laela dengan mantap.
"Baik, Bu Laela! Terima kasih atas kerja kerasnya selama ini."
__ADS_1
"Walaupun nanti ada CEO baru, saya harap Bu Laela yang mengatur semuanya seperti biasa. Saya dan papa sudah menganggap Bu Laela seperti keluarga kami."
"Kami sangat mengharapkan bantuan Bu Laela untuk mengurus perusahaan ini." Ujar Shandra sungguh-sungguh.
"Saya sangat berterima kasih atas kepercayaan tuan besar dan nona muda kepada saya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakam semuanya seperti yang nona muda dan tuan besar harapkan." Jawab Bu Laela.
"Saya juga sangat berterima kasih. Kami akan pamit sekarang. Besok saya akan ke sini bersama kandidat CEO yang saya katakan. Saya harap Bu Laela berkenan membimbingnya." Ujar Shandra.
"Baik nona muda. Besok saya akan menunggu. Dan saya juga siap membimbing kandidat CEO pilihan nona muda." Jawab Bu Laela dengan mantap.
Shandra dan John segera meninggalkan kantor. Sambil berjalan John terus saja merangkul tubuh Shandra.
"Ini di kantor, John! Tolong jaga sopan santun." Tegur Shandra pada John.
"Aku sedang memeluk istriku sendiri. Lalu tidak sopannya dimana?" Tanya John dengan bingung.
"Orang Indonesia tidak sama dengan orang-orang di negaramu, John!" Shandra berusaha menjelaskan.
"Aku paham. Tetapi kecuali kamu masih jadi pacarku. Kamu sudah sah sebagai istriku, jadi untuk apa aku harus sembunyikan kemesraanku dengan istriku sendiri?" Jawab John.
Shandra memilih untuk diam daripada harus berdebat. Ia berjalan terus dan membiarkan John tetap melakukan apa yang dia inginkan.
Setelah sampai di parkiran, Shandra langsung masuk dan duduk tanpa mengatakan apapun. John langsung memeluk Shandra begitu ia berhasil duduk di samping Shandra.
"Apa di dalam mobil aku juga tidak boleh memelukmu?" Tanya John sambil menggoda Shandra.
"Tentu saja boleh! Sangat boleh! Karena nanti malam, kamu harus puasa." Jawab Shandra cuek.
"Hah?" John.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍