
Ketika tidak ada pilihan lain untuk menghindari kenyataan yang ada di depanmu, maka satu-satunya jalan adalah melewati apa yang sedang kau hadapi, karena yang namanya kenyataan tidak bisa kau hindari.
Setiap kenyataan pasti berbeda. Ada yang manis dan ada yang pahit. Kau hanya perlu percaya bahwa menghadapinya adalah jalan terbaik meski itu menyakitkan.
Eda Sally
*****
Shandra termenung di kamar setelah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan keluarga Alaric Bruno dan putranya. Ia memakai baju yang simple dan longgar, karena ini bukan pertemuan makan malam, tapi pertemuan untuk mempertaruhkan nama besar dan ambisi seorang Andre Dalmiro.
Baretta yang duduk di sofa dan menanti perintah sang nona muda jika diperlukan, hanya menatap dengan heran melihat penampilan sang nona muda. Pasalnya tadi ketika ia akan mengambilkan gaun untuk Shandra, Shandra menolaknya dan memilih baju sendiri.
Nona muda benar-benar beda. Ia tidak terlalu sibuk dengan urusan berpakaian yang glamour. Walaupun memakai baju yang simple, itu tidak mengurangi kecantikannya. Ah! Pada dasarnya memang cantik. Baretta.
"Aku akan memeriksa beberapa dokumen. Jika keluarga Bruno sudah datang dan grandpa memberitahu, tolong ingatkan aku."
"Baik nona muda. Aku akan menunggu informasi dari pelayan yang bertugas."
Shandra tidak menjawab dan segera membuka emailnya kemudian mulai bekerja. Karena Shandra memakai kaos oblong dan celana selutut, ia duduk dengan santai sambil bekerja. Tak lama kemudian, Baretta menerima pesan bahwa Alaric dan putranya telah tiba.
"Maaf jika tidak sopan dan mengganggu pekerjaan nona muda. Aku baru saja menerima pesan bahwa keluarga Bruno sudah datang."
"Baiklah. Kamu boleh turun lebih dulu. Katakan pada grandpa, aku akan menyusul lima menit lagi."
"Baik nona muda."
Tanpa menunggu jawaban sang nona muda, Baretta segera turun meninggalkan Shandra yang terlihat masih merapikan pekerjaannya.
Setelah merapikan pekerjaannya, Shandra berjalan ke arah cermin dan menatap wajah dan penampilannya. Ia bukan tidak ingin bertarung dengan John Bruno, tapi ia juga tidak ingin bertarung dengan orang yang tidak melakukan kesalahan.
Hal yang paling ditakutkan adalah di saat ia bertarung, ia akan semakin bernafsu untuk membunuh, dan ia takut tidak bisa mengontrol dirinya ketika bertarung dengan John Bruno.
Apapun yang terjadi, aku harus sportif. Anggap ini adalah latihan yang sering aku lakukan dengan papa. Aku tidak boleh memberi ampun jika ingin semakin kuat.
__ADS_1
Ketika membayangkan tentang moto papanya, Shandra tersenyum simpul. Ia merapikan rambutnya dengan tangannya, karena rambutnya memang dipotong sangat pendek sehingga tidak bisa di ikat. Itu yang membuat penampilannya semakin manis.
Shandra segera turun menuju ke taman belakang rumah utama. Ia melihat grandpa, grandma, Alaric Bruno dan John sudah menunggu. Semua mata menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Selamat sore tuan Bruno."
"Hallo nona muda. Senang bertemu denganmu lagi."
Shandra segera duduk di tempat yang telah disediakan. Granpa tidak memberi kesempatan kepada Shandra untuk sekedar menyapa John yang menatap Shandra dengan penuh cinta.
"Kita lebih baik segera memulai pertarungan ini agar tidak membuang-buang waktu. Apa kau sudah siap?"
Grandpa bertanya sambil menatap kepada Shandra. Shandra hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Bagaimana denganmu John?"
"Aku sudah siap tuan." Jawab John dengan mantap.
Shandra tidak menunggu dua kali. Ia langsung berdiri dan menuju arena tempat dimana biasanya dijadikan latihan atau duel. John mengikuti Shandra dengan berbagai pikiran yang berkecambuk.
Shandra sudah berdiri dengan memasang kuda-kuda sambil melihat aba-aba dari grandpa. Begitu aba-aba dimulai, tanpa memberikan kesempatan sedikit pun, Shandra segera melompat dan mendaratkan tendangan yang mengenai John tepat di lehernya.
John yang memang tidak siap dan tidak ingin bertarung dengan Shandra langsung terlempar akibat tendangan Shandra yang sangat keras. John terlihat menahan sakit dan mencoba untuk bangkit.
Alaric Bruno melihat kepada putranya yang menatap ke arahnya dan menganggukkan kepala dengan senyuman seorang ayah yang menunjukkan rasa bangga pada putranya. John langsung mengingat pesan dadynya sebelum berangkat.
Jangan takut untuk menghajarnya dengan keras, jika kau mencintainya. Karena jika kau tidak membalas pukulannya sama sekali, kau tidak akan pernah mendapatkan cintanya
John bangkit dan tersenyum ke arah Shandra. Shandra langsung melancarkan tendangan keduanya dengan kembali melompat. John yang sudah siap berhasil menghindari tendangan Shandra dan berkelit ke samping. Dengan cepat tangannya langsung memukul Shandra tepat di pinggang bagian kiri, yang membuat Shandra meringis menahan sakit.
Demi mempertahankan harga dirinya, Shandra yang sudah terbiasa bertarung dan menahan rasa sakit, segera mengontrol dirinya dan kembali melanjutkan pertarungan. Mereka sama-sama mengeluarkan semua kemampuannya, namun belum ada yang tumbang.
John melihat celah kita Shandra melompat dan akan menendangnya, namun berhasil ia hindari dengan menundukkan kepala. Ketika melihat Shandra membelakanginya, John langsung mengunci Shandra dari belakang.
__ADS_1
Shandra meronta untuk melepaskan diri, tetapi John menguncinya dengan sangat kuat. Shandra tidak kehilangan akal. Ia segera mengangkat kakinya dan menendang dari depan keatas, dan ujung ibu jari kakinya tepat mengenai John di matanya, yang reflek melepaskan kedua tangannya karena berusaha memegang matanya yang sakit.
Shandra memanfaatkan kesempatan itu dan memburu John kemudian melepaskan satu pukulan yang telak mengenai perut John. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh karena pukulan Shandra di perut John sangat keras.
John tidak mempedulikan rasa sakitnya. Ia segera berbalik dan dengan gerakan yang sangat cepat melompat dan tendangannya tepat bersarang di paha Shandra yang sementara melompat untuk menendangnya.
Shandra meringis karena tendangan John yang sangat keras mengenai pahanya. Ia berusaha berdiri dengan satu kaki untuk membalas serangan John, namun John yang tidak tahan melihat Shandra harus pincang karena paha kirinya yang kena tendangannya, segera mengatupkan tangan di dada pertanda ingin mengakhiri pertandingan. Shandra kaget dengan kelakuan John dan berjalan dengan tertatih ke arah tempatnya tadi untuk duduk mengikuti John yang sudah mendahuluinya.
Grandpa tersenyum dan menepuk bahu John yang duduk di dekatnya.
"Aku merestui lamaranmu untuk cucuku. Kau hanya perlu berusaha untuk mendapatkan hatinya, karena ia sangat dingin pada pria."
"Terima kasih tuan. Aku akan berusaha lebih keras."
John Bruno seolah melupakan semua rasa sakit yang baru dialaminya ketika bertarung dengan Shandra. Ia memang mengakui bahwa Shandra sangat hebat dalam bertarung.
Sementara Shandra tidak tersenyum sama sekali. Ia cuek dan melihat ke lain tempat ketika grandpa mengatakan bahwa ia menerima lamaran John Bruno.
Buang-buang waktu saja. Kalau pada akhirnya diterima, kenapa juga harus bertarung untuk menghabiskan waktu dan tenaga. Dasar keluarga Dalmiro yang aneh.
Setelah basa basi sebentar, Alaric Bruno segera pamit untuk pulang bersama putranya.
John Bruno tersenyum dengan mesra ke arah Shandra. Sementara Shandra hanya menarik ujung bibirnya yang kaku dengan sebuah senyuman yang tidak pantas disebut senyum.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍