Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
43. Mengunjungi Dam Square dan Rijksmuseum


__ADS_3

Semakin banyak kita berkelana, semakin banyak pengalaman yang akan kita dapatkan. Tidak jarang di dalam perjalanan hidup yang sering kita jalani, kita akan bertemu dengan banyak orang, baik itu kawan maupun lawan. Tidak peduli siapa kawan atau lawan kita, karena yang paling dibutuhkan dalam interaksi kita dengan kawan atau lawan adalah sikap bijak kita.


Eda Sally


*****


Shandra yang mencoba membangun benteng agar jangan didekati John, akhirnya harus meruntuhkan benteng itu sendiri. Karena ciuman John tidak hanya berhenti di wajahnya, tetapi sudah menjalar di tempat lain.


Akhirnya keduanya berbaring dengan napas yang tidak beraturan. John yang senang karena bisa menaklukkan Shandra, segera memeluknya dengan erat tanpa berniat melepaskannya sama sekali.


"Sampai kapan kamu akan memelukku? Lepaskan, John!" Tegur Shandra pada John.


"Jangan menyuruh aku melepaskanmu karena aku masih ingin memelukmu. Apa kamu lupa aku suamimu?"


"Lepaskan, John! Jangan bawa-bawa status untuk mengekangku." Protes Shandra.


John tidak mempedulikan ocehan Shandra. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya sambil mencium Shandra berulang kali.


Jika tidak dialihkan, aku tidak akan selamat. Pria ini tidak ada bosannya sama sekali. Aku tidak ingin begini terus


"Aku ingin jalan-jalan hari ini. Ayo siap-siap." Ujar Shandra mengalihkan John.


"Kamu ingin kita kemana?" John balik bertanya sambil melonggarkan pelukannya.


"Terserah. Ayo cari tempat yang bagus." Jawab Shandra semangat.


"Bagaimana kalau Dam Square dan Rijksmuseum?" John menawarkan.


"Ok! Aku ikut saja. Jika dari kedua tempat itu dan masih ada waktu, bagaimana kalau kita mendatangi istana kerajaan yang terkenal dengan bangunan klasiknya? Jawab Shandra.


"Boleh sayang. Yang penting kami senang dan tidak bosan." Jawab John sambil mendaratkan sebuah kecupan di bibir Shandra.


"Aku tidak akan bosan. Aku hanya bosan dengan dirimu yang tidak pernah bosan di tempat tidur. Lepaskan! Aku mau membersihkan diri." Ujar Shandra sambil bergerak hendak turun.


"Karena kamu mengingatkanku mengenai urusan ranjang, bagaimana kalau sekali lagi sebelum kita pergi?" Ujar John sambil kembali mendaratkan kecupan di seluruh wajah Shandra.


"Tidak! Aku tidak ingin melakukannya lagi. Lepaskan aku." Ujar Shandra tapi tidak berusaha melepaskan diri.


"Tapi aku menginginkannya sayang." Jawab John sambil tangan dan mulutnya tidak bisa dikondisikan lagi.


Shandra yang awalnya menolak, akhirnya tidak bisa melakukan apapun ketika John sudah menguasainya dengan aktifitasnya.


John yang melihat Shandra memejamkan mata sambil menikmati perlakuannya, semakin semangat melakukan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, John mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lama di kening Shandra lalu mengakhiri aktifitasnya.


"Terima kasih sayang! Aku akan selalu mencintaimu." Bisik John dengan pelan yang membuat tubuh Shandra merinding mendengarnya.


"Ayo ke kamar mandi." Ajak John.


"Kamu masuk lebih dulu. Aku masih lelah. Nanti aku masuk setelah kamu keluar." Jawab Shandra menolak ajakan John.


Mereka kemudian bergantian membersihkan diri. Setelah selesai, keduanya keluar meninggalkan hotel dan langsung menuju ke Dam Square. Tempat ini merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi turis.


Shandra tidak puas-puas memandangi keindahan tempat itu.


"Jika kamu lelah, kita pulang saja." Tawar John ketika mereka selesai berkeliling di Dam Square.


"Aku belum merasa lelah! Ayo kita lanjut ke Rijksmuseum." Jawab Shandra penuh semangat.


"Ok! Jika kamu lelah, bilang saja agar kita segera pulang." Ujar John.


Mereka langsung menuju ke Rijksmuseum. Lagi-lagi mereka dibuat kagum setelah sampai karena di sini semua barang antik benar-benar bernilai seni tinggi.


Dan yang lebih membuat Shandra kagum lagi, karena di museum ini terlalu banyak barang bersejarah Indonesia yang terpampang di museum ini.


Walaupun aku keturunan campuran, tetapi lahir besar di Indonesia membuatku sangat mencintai negeri itu. Hari ini, ketika aku menyaksikan ratusan ribu barang berharga Indonesia yang ada di sini, hatiku benar-benar sedih. Ah! Semoga banyak barang berharga ini segera dikembalikan seperti Keris Pangeran Diponegoro yang sudah dikembalikan waktu kunjungan ratu Belanda ke Indonesia. Shandra.


"Apa yang kamu pikirkan sayang? Kenapa wajahmu sedih?" Tanya John ketika melihat Shandra melamun sambil mengamati beberapa barang yang diletakkan di dalam kaca.


"Apakah kamu rindu Indonesia? Aku tahu, barang-barang yang kamu tatap ini milik Indonesia." Ujar John.


"Kamu juga tahu?" Tanya Shandra dengan heran.


"Apa kamu pikir aku tidak belajar sejarah Indonesia? Aku justru ingin ke Indonesia untuk melihat negeri yang indah itu, yang sering dibicarakan orang."


"Bagaimana kalau kita mengambil waktu untuk ke Indonesia? Aku penasaran dan ingin melihat negeri itu dengan mataku sendiri." Ujar John penuh semangat.


"Aku senang mendengar bahwa kamu menyukai Indonesia. Ok! Kita harus kesana. Kamu pasti senang jika ke Indonesia." Jawab Shandra sambil tersenyum kemudian memeluk John. Untuk pertama kalinya ia memeluk John dengan inisiatifnya sendiri.


Dia memelukku? Apa aku sedang bermimpi? John.


John mengangakan mulutnya tak percaya dengan kelakuan sang istri. Ia kemudian membalas pelukan Shandra dan mengecup keningnya.


"Aku tahu kamu rindu Indonesia. Kamu ke sini hanya karena ingin menyenangkan grandpa dan grandma." Ujar John setelah melepas kecupannya.


"Terima kasih." Jawab Shandra sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu semakin cantik jika sedang tersenyum. Tetaplah tersenyum seperti ini. Jangan pasang wajah dingin lagi. Aku mencintaimu." Ujar John.


Shandra hanya menganggukkan kepala mendengar petuah John. Setelah cukup puas mengelilingi Rijksmuseum, Shandra akhirnya kelelahan.


"Ayo kita cari makan dulu." Ajak John ketika melihat Shandra sudah tidak ada semangat lagi.


John segera meraih tangan Shandra dan membawanya menuju restorant yang berada dalam museum.


Saat mereka sudah selesai memesan makanan, John pamit pada Shandra untuk ke Toilet. Di saat sendirian itulah seorang pria mendekati Shandra sambil tersenyum.


"Maaf nona, apakah saya boleh duduk di sini?" Ujar pria itu dengan memasang senyum semanis mungkin.


Shandra menatap orang itu sekilas kemudian tunduk dan kembali memainkan handphonenya tanpa mempedulikan pria itu.


"Karena nona tidak menjawab, maka saya akan duduk." Pria itu berkata sambil duduk.


Pria itu duduk dan terus menatap Shandra. Namun, Shandra tidak mempedulikan tatapan pria di hadapannya.


"Maaf tuan! Apa ada yang bisa saya bantu? Apa yang terjadi dengan istri saya sehingga tuan terus menatapnya?" Tanya John bertubi-tubi ketika ia datang dan memdapati pria terus menatap Shandra.


"Dia istri tuan?" Tanya pria itu tidak percaya.


"Iya! Apa kau ingin bukti?" Tanya John sambil mengecup pipi Shandra dengan mesra.


"Tidak mungkin." Ujar pria di depan mereka sambil mengangakan mulutnya.


"Apa yang tidak mungkin tuan? Apa tuan ingin saya menghajar tuan agar tuan percaya? Tanya John.


"Bukan begitu maksud saya tuan. Hanya saja, istri tuan terlalu cantik." Jawab Pria itu jujur.


"Lalu apa kau pikir saya kurang tampan untuk istri saya?" Tanya John dengan emosi sambil mengepalkan tangannya.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2