
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bertemu dengan orang yang pernah menolongmu. Apalagi, orang yang menolongmu adalah seorang asing yang melakukan hal itu karena rasa kemanusiaan.
Walaupun harus di akui bahwa setiap manusia itu berbeda dalam cara berpikir dan motivasi untuk melakukan kebaikan bagi orang lain.
Eda Sally
*****
John Bruno yang masih bengong dengan lamunannya kaget ketika melihat Shandra sudah berjalan ke meja tempat mereka makan tadi.
Hah? Malah pergi tanpa mengatakan apapun. Aku sudah seperti orang yang mengajak teman pria makan malam, bukan wanita. Dia benar-benar tidak peka dengan perasaanku terhadapnya. Aku harus lebih sabar menghadapinya.
"Apa kamu masih ingin di sini?"
"A...Tentu saja tidak. Kita akan pulang bersama."
"Baiklah. Terima kasih atas undangan makan malamnya. Jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi, aku akan langsung pulang." Shandra berkata sambil mengambil tasnya.
"Baik. Kita akan pulang bersama. Aku akan mengantarmu sampai rumah."
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri."
"Maaf! Karena aku yang mengajakmu dan ini sudah malam, maka aku akan tetap mengantarmu." John Bruno bersikeras.
"Aku tidak bermaksud memaksa. Tetapi aku juga tidak ingin sesuatu terjadi padamu di jalan. Kamu tanggung jawabku saat ini."
Shandra tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Ia kemudian langsung berjalan keluar dari ruang VIP dan menuju ke luar.
Shandra fokus pada langkahnya diikuti oleh John dan tidak memperhatikan sisi kiri kanannya sampai ia mendengar ada yang memanggil namanya.
"Kak Shandra?"
Shandra menoleh dan mencari sumber suara. Matanya kemudian melihat seorang gadis cantik yang tersenyum padanya kemudian berjalan ke arahnya dan memeluknya. Shandra tetap kaku dan berdiri di tempat tanpa membalas pelukan gadis tersebut.
"Bernike? Rupanya kamu juga di sini."
"Iya kak. Ini aku sama kakakku. Namanya kak Frans."
"Kak! Ini kak Shandra yang aku ceritakan pada kakak. kak Shandra yang menolongku di pesawat waktu aku pulang libur dari Indonesia."
"Oh! Terima kasih banyak nona sudah menyelamatkan adik saya. Kami tidak bisa membalas kebaikan nona. Jika nona tidak keberatan, kami ingin mengundang nona ke rumah. Dady dan mami tentu akan sangat senang jika nona berkenan datang."
Frans kemudian berdiri dan menjabat tangan Shandra serta mewakili Bernike mengucapkan terima kasih. Bernike nampak mengatupkan kedua tangannya di dada dengan penuh harap agar Shandra menerima undangan kakaknya.
John Bruno yang berdiri di belakang nampak gusar karena ada pria yang menawari Shandra untuk datang ke rumahnya. Ia sangat cemburu dan ingin menghajar pria di depannya. Namun, karena Frans meminta dengan baik-baik, John masih bisa menahan diri.
"Boleh ya kak? Please!"
Bernike memohon dengan terus memandang kepada Shandra dan menunggu jawabannya.
"Ahm. Akan saya pikirkan. Minta alamatmu saja. Jika ada waktu, saya akan datang."
Bernike segera menyerahkan kartu nama yang diambil dari Frans dan langsung diberikan pada Shandra. Shandra tidak sedikit pun melihat kartu nama itu. Setelah menerimanya, ia langsung memasukkannya pada tasnya.
__ADS_1
"Kalau begitu bolehkan aku main ke rumah kakak?"
"Tentu. Boleh saja. Tapi tidak di hari efektif. Kamu boleh datang jika weekend."
"Terima kasih kak. Aku akan datang."
"Ok. Kami akan pulang sekarang. Silahkan lanjutkan makannya."
"Kak! Boleh aku tanya sebentar?"
"Apa yang mau kamu tanyakan."
"Apakah kakak yang di belakang itu pacar kak Shandra?"
"Kamu bisa langsung bertanya padanya." Kata Shandra sambil menarik paksa ujung bibirnya untuk tersenyum.
Bernike melihat ke arah John Bruno untuk bertanya. Namun, ia melihat tatapan tidak bersahabat dari John yang membuat nyalinya langsung ciut. Akhirnya ia mengurungkan niatnya.
"Maaf kak. Tidak jadi." Kata Bernike pada akhirnya dengan nada lesu.
"By!"
Kata Shandra singkat kemudian langsung pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. John hanya mengikutinya dari belakang dengan kesal. Ia tidak rela kalau sampai Frans menyukai Shandra.
Bernike dan Frans hanya mengangkat tangan dan melambai karena Shandra sudah berjalan membelakangi mereka dan tentu saja ia tidak melihat lambaian tangan kakak adik tersebut
"Bagaimana menurutmu kak? Dia sangat cantik kan?"
"Apa kakak jatuh cinta padanya?"
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya."
"Senangnya jika punya kakak ipar secantik itu. Hebat beladiri lagi."
Bernike menopang dagu membayangkan Shandra. Ia benar-benar tidak percaya ada wanita secantik itu.
"Ayo cepat! Kita harus membuntutinya. Aku ingin melihat rumahnya." Kata Frans.
"Aku setuju kak. Ayo!"
Mereka berdua langsung menuju parkiran dan melihat Shandra serta John baru saja meninggalkan parkiran. Frans langsung menancap gas mobil dan mengikuti mereka.
*****
Kalau sampai dia ingin merebut gadisku, maka dia akan berhadapan denganku. Seorang Andre Dalmiro yang sangat ditakuti di seluruh Jerman saja aku tidak gentar menghadapinga. Semoga Shandra tidak tertarik padanya. John
Setelah sampai di parkiran, John langsung masuk ke mobilnya. Ia kemudian mengikuti mobil Shandra dari belakang, dan berjalan beriringan.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di depan mansion mewah milik grandpa Shandra.
"Tidak mampir dulu?"
Tanya Shandra basa-basi ketika John turun dari mobil dan berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Jika tidak menggangu, aku ingin sekali untuk mampir dan menyapa tuan besar. Apakah tuan besar sudah tidur?"
"Sebenarnya tidak mengganggu. Biasanya jika aku keluar malam, grandpa dan grandma tidak akan tidur sebelum aku pulang." Jawab Shandra menjelaskan.
"Terima kasih."
Shandra dan John berjalan beriringan menuju rumah utama. Di ruang depan terlihat grandpa dan grandma mengobrol dengan mesra sambil berpelukan.
"Apakah kau mampu menjaga cucuku dengan baik Bruno?" Grandpa sudah bertanya lebih dulu sebelum John menyapa.
"Tentu. Saya menjaganya dengan sangat baik tuan! Terima kasih telah mengizinkan saya untuk boleh jalan berdua dengan nona Shandra."
"Hmmm! Aku sudah memberikan kesempatan. Karena itu jangan pernah kecewakan cucuku."
"Baik tuan. Akan saya ingat dan lakukan apa yang tuan katakan."
"Hmmm!"
"Saya mohon pamit sekarang tuan. Mohon maaf telah mengganggu waktu istirahat tuan."
"Iya hati-hati di jalan." Grandma yang menjawab.
John melihat ke arah Shandra dan tersenyum kemudian berbalik dan pulang.
Sementara di luar, ada dua pasang mata yang memperhatikan ketika John Bruno keluar. John Bruno segera membawa mobilnya pergi dan pulang ke rumahnya.
*****
"Mansionnya sangat mewah. Dia bukan orang sembarangan. Aku harus hati-hati jika ingin mendekatinya."
"Iya kak. Aku akan mendukung kakak jika kakak mencintainya."
"Aku sudah jatuh cinta padanya. Padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya."
"Apa kakak tidak berniat membuntuti pria yang bersamanya?"
"Tidak usah. Belum waktunya. Lagi pula pria itu tidak sulit untuk di singkirkan."
Frans tersenyum dengan seringai yang licik sambil melajukan mobil dan pulang ke rumah.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lika, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍
__ADS_1