Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
03. Pria Nekat


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, Shandra akhirnya tiba di rumahnya.


Begitu masuk pintu gerbang, dari jauh ia sudah melihat papanya.


Shandra tidak segera memarkir mobilnya di tempatnya. Ia hanya membuang kunci ke arah Ray, sopir papanya begitu turun dari mobil. Ray yang sudah hafal dengan kelakuan Shandra, tanpa berkata, segera menuju mobil dan membawa mobil menuju tempat parkir.


"Hallo gadisku. Bagaimana penyelidikannya, dan apa yang kamu temukan?" Tanya papa.


"Orangnya sudah Lala kirim ke neraka pa." Kata Shandra cuek dan segera masuk ke dalam rumah.


"Oya? Coba jeaskan kepada papa." Kejar papa Shandra yang melihat Shandra sudah masuk dan segera menuju kamarnya di lantai 2.


Shandra tidak mempedulikan papanya. Dalam pikirannya ia harus segera mandi, karena semakin ia mencium bau amis darah, emosinya akan semakin naik, dan ia akan gampang marah.


Sebelum masuk kamar mandi, ia memandang wajahnya sebentar di depan cermin kamarnya, dan menarik ujung bibirnya sambil tersenyum sinis tanda puas dengan hasil buruannya siang ini.


Semakin kalian berani sama papaku, aku pun akan semakin gila berburu dengan kalian. Kata Shandra dalam hati.


Ia menutup mata sebentar, dan kemudian segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia tidak ingin pekerja di rumahnya mencium bau amis darah di tubuhnya. Makanya ketika sampai, ia tidak mau berbicara panjang lebar dengan papanya dan segera menuju kamar.


Setelah mandi, Shandra segera keluar dari kamar mandi dan menuju taman belakang rumahnya. Ia sudah tahu bahwa papa pasti menunggunya di sana untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab tadi. Karena taman belakang merupakan tempat ia dan papanya sering membicarakan bisnis dan urusan dunia hitam. Jika mereka di sini, maka tidak ada yang akan berani ganggu, kecuali ada yang urgent.


"Sini sayang!" Kata papanya sambil menunjuk kursi di sampingnya.


Shandra tidak mengatakan apapun, dan segera duduk di tempat yang ditunjuk papanya.


"La, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa kamu sudah mengirim orang yang mengacau ke neraka?"


"Lala sudah membunuh orang itu pa." Kata Shandra.


"Kenapa harus secepat itu? Papa hanya menyuruh kamu menyelidiki pelakunya, dan bukan membunuhnya."


"Betul pa, tapi Lala juga nggak bisa sabar terus menerus melihat orang nggak berguna seperti itu masih bernafas."


"Hmmmmmm! Papa percaya, kamu pasti punya alasan. Jadi tolong katakan siapa dan apa motifnya."


"Jadi begini pa. Orang itu adalah suruhannya Pak Chris, salah satu klien papa. Dan yang buat Lala langsung membunuhnya adalah, dia seorang karyawan di kantor papa. Namanya pak Beny."


"What? Pak Beny? Itu kan salah satu orang kepercayaan papa juga."


"Dan aku akan membereskan Chris dalam waktu dekat setelah tanda tangan kerja samanya selesai."

__ADS_1


"Nah! Salah papa di situ karena terlalu mempercayai orang yang nggak bisa di percaya." Kata Shandra.


"Selama ini dia bekerja dengan sangat baik, makanya papa mempercayainya juga." Kata papa


"Dan aku tidak mempercayainya, makanya aku langsung mengirimnya ke neraka." Kata Shandra.


"Papa bangga sama kamu. Karena cara kamu melenyapkan musuh, lebih halus dan rapi dari papa." Kata Papa.


Shandra hanya tersenyum mendengar perkataan papanya.


Tiba-tiba, ada seorang anak buah tuan Wilson datang.


"Tuan, mohon maaf mengganggu. Ada seorang pria di pintu gerbang yang ngotot ingin masuk." Katanya temannya non Shandra.


Shandra dan papanya sama-sama menaikkan alisnya. Karena yang papa tahu, Shandra tidak memiliki teman sama sekali. Sementara Shandra juga bingung karena dia merasa tidak memiliki teman pria.


"Suruh masuk." Kata tuan Wilson.


"Baik Tuan."


Setelah berkata demikian, anak buah tersebut langsung berbalik dan meninggalkan Shandra dan papanya.


"Dari mana temanmu itu tahu rumah ini?" Tanya papa Shandra.


"Ayo kita temui tamu kita itu." Kata papa Shandra sambil beranjak dari kursi tempat ia duduk. Shandra terlihat menarik nafas malas, tapi kemudian bangkit juga dan mengikuti papanya dari belakang.


Setelah sampai depan, Shandra membelalakkan matanya melihat siapa yang datang. Karena yang datang adalah Renan, cowok paling tajir dan top di kampus, yang di kejar banyak wanita. Sementara si Renan, malah mengejar Shandra, dan bahkan selalu mencari cara untuk dekat dengan Shandra. Tapi Shandra selalu dingin dan tidak mempedulikan kelakuan Renan.


Sementara papa Shandra tidak mengatakan apapun. Ia terlihat berjalan ke arah Renan dan langsung menghajarnya.


Renan terlihat menangkis dan membalas, tapi tentu saja ia kalah telak dengan kemampuan bela diri tuan Wilson yang memang diatas rata-rata.


Jika kemampuan beladirimu seperti ini, jangan berharap untuk dekat dengan anakku. Karena pria yang akan dekat dengan anak gadisku adalah pria yang harus bisa mengalahkanku. Setelah berkata demikian, papa Shandra mengangkat kakinya dan menghantam tepat di perut Renan, yang otomatis membuat Renan langsung tersungkur.


"Pa...!cukup pa!" Kata Shandra sambil berjalan ke arah Renan dan mengangkatnya dan menyuruhnya duduk. Sementara papa Shandra terlihat sudah masuk kembali ke dalam rumah.


"Katakan! Dari mana kau tahu rumahku?" Tanya Shandra.


Renan menatap wajah Shandra tanpa berkedip.


Ya ampun, cantiknya. Dilihat dari dekat malah semakin cantik.

__ADS_1


"Hei! Apa lihat-lihat." Kata Shandra sambil menjitak kepala Renan.


"Kau tahu rumahku dari mana. Cepat Jawab sebelum kesabaranku habis." Kata Shandra.


Anu! A,,ku,,,,tadi mengikutimu setelah pulang kampus." Kata Renan.


"Apa? Kau mengikutiku?" Tanya Shandra kaget.


"Ia tadi aku mengikutimu, tapi aku melihat kamu ke luar kota, dan aku berpikir bahwa mungkin kamu ada keperluan lain. Aku nekat mengikutimu ke kota X karena aku penasaran kamu mau kemana. Karena menurutku tidak mungkin rumahmu di luar kota."


"Lalu?" Tanya Shadra lagi.


"Ketika sampai di kota X aku memarkir mobil agak jauh dari rumah yang kamu masuki, dan hanya mengamati. Aku hampir hampir putus asa ketika hampir sejam menunggu dan kamu belum keluar."


"Hmmmmm!" Shandra hanya bergumam.


"Tapi sejam kemudian aku melihat kamu keluar, dan aku segera mengikuti kamu."


"Setelah melihat kamu masuk gerbang, aku tidak berani masuk karena aku lihat penjagaannya sangat ketat, dan aku tidak yakin ini rumah kamu."


"Tapi karena aku melihat kamu tidak keluar, dan ketika aku menanyakan ke penjaga pintu gerbang aku baru yakin ini rumah kamu."


"Wow! Menarik sekali ceritanya. Jika sudah selesai, cepat tinggalkan rumahku. Aku malas basa basi. Dan ingat! Lain kali jangan pernah nekat datang jika tidak ingin babak belur seperti ini."


"Dan satu lagi. Jangan pernah ganggu kehidupanku. Dan yang lebih utama, jangan sampai seorang teman pun di kampus tahu tentang kedatanganmu ke rumahku. Karena jika tidak, maka kamu akan tahu akibatnya."


"Catat itu baik-baik." Kata Shandra.


Renan hanya menganggukan kepala, dan segera menuju mobilnya sambil memegang perutnya.


Sial! Kenapa juga aku harus berurusan dengan perempuan gila ini. Ayah dan anak sama-sama gila. Tapi justru ini yang buat aku semakin memiliki tekat untuk memilikinya. Lihat saja nanti, aku akan membalasmu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar yang positif ya readers tersayang. Happy readingπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜


__ADS_2