Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
28. Siasat Licik Frans dan Bernike (Part 1)


__ADS_3

Mempercayai orang lain itu boleh, tapi kewaspadaan juga sangat penting. Karena tidak semua orang yang tersenyum manis memiliki sikap yang manis pula. Terkadang orang tersenyum manis agar bisa menutupi kejahatannya.


Hal yang paling penting untuk menyikapi hal itu adalah percaya pada dirimu sendiri sebelum mempercayai orang lain.


Eda Sally


*****


"Jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi, Lala mau ke kamar untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai." Pinta Shandra pada grandpa dan grandmanya.


"Makan dulu, nak?" Grandma menanggapi apa yang baru saja dikatakan Shandra.


"Nanti Baretta membawa makananku ke kamar saja. Lala makan sambil kerja."


"Jangan lupa untuk istirahat juga. Kesehatanmu lebih penting dari apapun." Grandpa menimpali.


Iya. Aku sehat agar segera dinikahkan oleh kalian. Sebenarnya aku ingin memanfaatkan hari libur ini untuk bercerita dan bermanja dengan kalian, tetapi karena disuruh nikah, maka sebaiknya aku di kamar saja sambil bekerja demi mengurangi rasa stressku.


"Baik grandpa."


Shandra langsung bangun dan berjalan menuju kamarnya. Baretta mengikuti dari belakang dan siap menerima perintah.


Setelah di kamar, Shandra segera mengerjakan beberapa pekerjaan yang masih tertunda. Saking seriusnya bekerja sampai ia tidak sadar bahwa Baretta memanggilnya sejak tadi.


Baretta sendiri juga gemas karena sang nona muda seolah tidak bergeming.


Apa volume suaraku terlalu kecil ya makanya nona muda tidak dengar? Baiklah aku akan lebih keras lagi.


"Nona muda?"


"Ada apa kamu memanggilku dengan berteriak Baretta?"


"Maaf nona muda. Saya sudah panggil sejak tadi tapi nona muda tidak mendengar suaraku. Sekali lagi mohon maaf nona muda."


"Hmmm. Katakan ada apa!"


"Ada seorang gadis di depan yang mengaku sebagai teman nona muda dan ingin bertemu."


Seorang gadis? Setahuku aku di sini tidak memiliki teman, baik pria maupun wanita. Siapa ya?


"Ahmmm, baiklah! Aku akan menemuinya! Terima kasih Baretta."


"Sama-sama nona muda."


Shandra kemudian berjalan turun diikuti oleh Baretta. Ia belum bisa menebak siapa yang telah datang menemuinya di saat hatinya sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun karena pernikahan yang seolah sangat menggelitik hatinya. Langkah kakinya terhenti dan keningnya berkerut setelah melihat siapa tamu yang ada di depannya.


Berani juga anak ini. Kalau saja dia itu cowok, tentu saja sudah babak belur dari grandpa sejak tadi.

__ADS_1


"Hallo Bernike, dari mana kamu tahu rumahku?"


"Ahmmm, ahmmm,.."


Hanya itu yang keluar dari mulut Bernike. Ibarat maling, ia tertangkap basah saat mencuri. Sementara Shandra yang terlatih sebagai seorang mafia, ia bisa menangkap sesuatu yang kurang beres dari cara jawab Bernike yang gugup dan tidak lancar.


"Ok! Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Shandra tegas.


"Iya kak. Maafkan saya jika tidak sopan."


"Iya. Ada apa Nike?"


"Jika tidak keberatan, saya ingin mengajak kakak untuk ke rumah. Orang tua saya mengundang kakak untuk makan siang bersama sekaligus ingin bertemu dengan kakak."


"Sebenarnya kamu dan keluargamu tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan. Itu tidak ada apa-apanya."


"Iya kak. Tetapi ini kan hari libur, dan dady sama momy juga ada di rumah. Jadi, mereka ingin makan siang bersama."


"Hmmmm. Baiklah! Aku akan ikut denganmu."


"Terima kasih kakak." Tanpa rasa sungkan, Bernike langsung memeluk Shandra karena terlalu bahagia.


Shandra segera menyampaikan kepada grandpa dan grandma bahwa ia diundang untuk makan siang dengan keluarganya Bernike.


"Pastikan kamu pulang dalam kondisi baik. Jika tidak, maka grandpamu ini akan melakukan sesuatu yang menyakiti teman kecilmu itu. Kakek tidak akan pernah mengampuni siapapun walaupun itu hanyalah seorang gadis kecil." Kata grandpa tegas sambil menatap Bernike.


"Grandpa tahu jika tidak sembarang orang bisa menyentuhku?"


"Aku percaya padamu. Namun, aku mengatakannnya agar kamu waspada." Kata grandpa seolah memberikan kode pada Shandra agar waspada.


"Thank you, grandpa!"


Shandra berjalan keluar bersama Baretta menuju ke mobil Shandra.


"Kamu bawa mobil sendiri?"


"Tidak kak. Tadi saya memakai jasa taksi."


"Ok. Kita pakai mobilku saja."


Branden yang melihat Shandra, segera membukakan pintu belakang untuk Shandra. Namun, Shandra melewatinya dan membuka pintu bagian depan.


"Untuk hari ini, kamu tidak usah temani aku. Kamu temani dari rumah saja. Tolong bukakan pintu untuk nona Bernike." Kata Shandra kepada Branden sambil menaruh tangannya di telinga menirukan orang yang sedang menelpon.


"Nona yakin akan pergi sendiri?"


"Aku Yakin, Branden!"

__ADS_1


Shandra mengemudikan mobilnya sambil terus berkomunikasi dengan Bernike menanyakan arah ke rumah Bernike, walaupun ia sendiri sudah tahu dari kartu nama yang diberikan Bernike.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah rumah mewah. Shandra kagum dengan desain rumahnya yang unik.


"Selamat datang di rumah kami kak." Kata Bernike memberikan sambutan.


"Terima kasih atas sambutannya, Nike."


Mereka memasuki pintu utama, dan Shandra kaget karena di sana sudah berdiri banyak orang yang berbaris dengan rapi menyambut kedatangannya.


Kenapa jadi sangat formal seperti ini? Ini benar-benar undangan makan siang atau sebuah jebakan?


Shandra menarik ujung bibirnya dan tersenyum melihat orang-orang yang berbaris dengan rapi sepanjang pintu masuk di rumah mewah itu seolah akan menyambut seorang pemberontak yang mengajak perang kepada mereka.


Mereka terus berjalan melewati sebuah ruangan seperti lorong yang sangat panjang dan dan sampailah mereka di sebuah ruangan luas yang menyerupai aula. Shandra tertegun ketika melihat sebuah meja panjang dengan berbagai jenis makanan yang sudah terhidang di sana.


Shandra kagum dengan cara mereka menata makanan di meja makan yang terkesan sangat rapi.


Tiba-tiba, dari arah tangga,turunlah tiga orang dengan pakaian yang sangat mewah, dan ketiganya adakah seorang pria muda dan sepasang orang tua. Si pria sangat rapi dan tampan, serta dikenali oleh Shandra. Sementara yang sepasang suami istri paruh baya tidak dikenali oleh Shandra.


Hmmmmm! Rupanya dia ingin pamer kuasa dan harta padaku? Apa dia pikir aku akan tertarik karena dia memiliki kuasa dan harta? Inikah cara mereka berterima kasih dengan menyuruhku menunggu? Aku akan menunjukkan padamu siapa yang lebih berkuasa dan lebih kaya.


"Selamat datang Nona Shandra. Maafkan kami yang membuatmu menunggu hanya karena sebuah makan siang." Kata momy-nya Bernike.


Shandra memilih untuk tidak menjawab. Ia lebih memilih diam dan ingin melihat sejauh mana orang sombong itu akan pamer padanya.


"Kenalkan. Saya momy-nya Frans dan Bernike, dan ini dady-nya. Senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu."


Shandra hanya mengangguk dan masih tetap diam. Ia mengamati keadaan sekelilingnya dan mulai memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia bisa merasakan nada bicara yang tidak familiar dan tidak menunjukkan seseorang yang akan berterima kasih.


Rupanya kalian ingin bermain denganku? Baiklah! Kita akan bermain.


Bersambung.


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2