
Kita tidak akan selalu berada di zona nyaman, karena hidup selalu penuh dengan kejutan. Ketika kita merasa bahwa semua baik-baik saja, maka kita harus semakin meningkatkan kewaspadaan, karena bisa saja bahaya sedang mengancam kita. Waspadalah dan berjaga-jagalah senantiasa, karena hidup adalah sebuah misteri yang mungkin sulit dipecahkan.
Eda Sally
*****
Shandra tetap memainkan handphonenya tanpa mempedulikan dua pria yang sementara berdebat. John yang duduk di sampingnya tahu bahwa Shandra tidak suka. Karena itu ia memilih diam dan membiarkan pria asing itu duduk di depan mereka.
Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan sudah diantarkan. Shandra mengangkat wajahnya dan melihat sekilas ke arah pria itu kemudian bertanya:
"Siapa namamu tuan?"
"Kenalkan! Nama saya Espen nona. Senang berkenalan denganmu." Jawab Espen penuh semangat sambil mengulurkan tangan.
John menahan amarah melihat Shandra berbicara dengan orang asing itu. Rasa cemburunya menggerogoti hatinya. Ingin rasanya ia memukul meja di hadapannya, namun ia masih ingat petuah Shandra agar tidak memarahinya di tempat umum.
John berusahan menahan tubuhnya yang bergetar karena menahan emosi yang sudah memuncak.
"Tarik kembali tangan tuan Espen. Tolong berlaku sopan kepada orang lain. Apa tuan tidak belajar sopan santun?" Ujar Shandra.
"Maaf! Saya hanya ingin mengenal nona lebih dekat." Jawab Espen dengan jujur.
"Apa tuan tidak mendengar apa yang suami saya katakan tadi? Tolong pindah kembali ke meja tuan agar tidak mengganggu suasana makan siang kami."
"Dan saya harap, tuan jangan pernah membandingkan diri lagi dengan suami saya. Karena jika dia tidak tampan seperti katamu, maka saya tidak akan menikah dengannya."
"Sampai di sini apakah sudah jelas? Jika sudah silahkan pindah sebelum saya memaksa tuan." Tegas Shamdra.
"Wow! Wanita pemberani. Aku tertantang." Ujar Espen sambil berdiri kemudian meninggalkan Shandra dan John menuju ke mejanya yang tidak jauh dari situ.
Menarik sekali. Baru kali ini aku melihat wanita yang cukup berani dan cerdas seperti ini. Baiklah! Kamu harus membayar semua hinaan yang baru saja kamu katakan kepadaku. Siapa yang berani berkata kasar dengan Espen, maka kematian tidak lagi ada jarak diantara mereka. Espen.
"Terima kasih, sayang! Aku mencintaimu." Ujar John sambil mengecup pipi Shandra.
"Ayo makan! Jangan terlalu banyak drama." Tegur Shandra dengan wajah datar kemudian makan.
Shandra dan John makan seolah tidak terjadi apapun. Mereka juga sudah melupakan kehadiran Espen.
Selesai makan, Shandra dan John segera keluar meninggalkan restaurant tersebut. Mata Espen mengawasi kemana perginya suami istri itu.
"Apa kamu masih ingin ke istana klasik itu?" Tanya John sambil terus merangkul Shandra.
__ADS_1
"Aku rasa cukup untuk hari ini. Kita bisa mengunjungi istana besok. Aku ingin istirahat." Jawab Shandra.
"Baiklah. Kalau begitu kita langsung pulang saja." Balas John.
Mereka pun segera pulang. John dan Shandra menumpang sebuah taksi. Sebenarnya mereka bisa saja menyewa mobil, tetapi John ingin tetap menjaga suasana romantis dengan Shandra.
Menurutnya, jika mereka menyewa mobil, maka ia akan fokus memgemudi sehingga tidak bisa memeluk sang istri.
Sepanjang jalan pulang, John terus memeluk Shandra sambil tidak henti-hentinya mencium sang istri. Shandra ingin protes, tetapi ia malu jika driver nanti mendengar pertengkaran mereka. Karena itu ia membiarkan sang suami melakukan aktifitasnya.
Tiba-tiba, mobil direm secara mendadak oleh driver. Shandra segera membuka mata untuk mengetahui apa yang terjadi. Sejak tadi ia menutup mata menikmati ciuman sang suami.
"Ada apa tuan?" Tanya John dengan kesal tanpa melihat karena aktifitasnya terganggu.
"Sepertinya ada yang menghadang mobil kita tuan." Jawab sang driver.
John dan Shandra sama-sama terkejut dan segera menatap ke depan. Mereka melihat jalanan ini agak sepi, dan memang ada empat orang sedang memegang senjata sudah berdiri depan mobil.
"Sebenarnya ada apa tuan?" Tanya John.
"Saya juga tidak mengerti tuan." Jawab driver.
"Kamu tetap di dalam mobil, biar aku yang akan menghadapi mereka." Ujar John sambil sekilas mengecup bibir Shandra.
"Kamu tetap di sini. Aku curiga pada driver, karena ini bukan jalan menuju hotel. Jangan biarkan ia lolos." Bisik John di telinga Shandra.
Shandra yang mendengar bisikan John, menatap tajam ke arah driver dengan mata buas seorang pembunuh. Ia menahan diri untuk tidak melakukan apapun sambil melihat situasi.
"Maafkan kami, tuan! Ada apa?" Tanya John sambil memasang wajah bodoh ketika ia sudah turun dari mobil.
"Serahkan istri anda." Jawab salah satu diantara mereka.
"Apa salah istri saya?" John masih bertanya namun mata dan otaknya bekerja sama mempertimbangkan ruang geraknya.
"Istri tuan tidak salah. Bos kami menginginkan istri tuan."
"Jika begitu, ambil saja istri saya, dan tolong selamatkan nyawa saya karena nyawa saya lebih penting dari istri saya tuan." Ujar John.
Cihhh! Awas saja. Kamu tidak akan dapat jatah nanti malam. Shandra membatin saat mendengar apa yang dikatakan John.
"Hei! Kau tunggu apa lagi. Cepat antarkan wanita itu kepada tuan kita. Suaminya memberikannya dengan rela kepada tuan kita." Teriak salah satu dari mereka kepada driver.
__ADS_1
"Mari nona! Akan saya antarkan kepada tuan saya! Nona bisa bersenang-senang di sana, dan segera melupakan suami nona." Kata driver sambil memundurkan mobil untuk berbalik arah.
"Tidak semudah itu tuan." Kata Shandra sambil mencekik driver tersebut yang membuat mobil terus berjalan mundur karena driver tidak bisa melakukan apapun.
John yang melihat Shandra mengurus driver, langsung melayangkan tendangan mautnya tanpa disadari oleh orang yang berdiri di depannya.
Orang itu langsung tersungkur. Ketiga temannya segera mengangkat senjata, namun gerakan John lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
John melompat dan berdiri dibelakang salah satu dari mereka untuk menghindari tembakan dua orang lainnya. Hal itu membuat mereka geram karena teman mereka tertembak.
John segera merampas senjata orang yang ia jadikan tameng dan berhasil menembak salah satunya. Sementara yang satu melihat celah untuk menembak John.
Ketika John melihat bahwa orang itu menatap kebawah dan mengincar kakinya, John segera mencabut pisau yang terselip dipinggang orang yang dipakainya untuk berlindung dan dengan cepat melemparkannya pada orang itu.
Orang itu tidak dapat menghindar lagi dan langsung jatuh di tempat, karena pisau itu tertancap tepat di dahinya.
John segera menendang orang yang dijadikannya tameng dan berlari dengan sekuat tenaga mengejar taksi yang terus berjalan mundur.
Driver taksi yang melihat John berlari mengejar mereka, meloloskan tangan kirinya dan meraih senjatanya tanpa disadari oleh Shandra yang terus mencekiknya dari belakang.
Kalaupun aku harus mati, bos harus tetap mendapatkan wanita ini. driver taksi.
Mata Shandra melotot dengan sempurna ketika melihat tangan orang itu mengarahkan senjata ke arah John. Tanpa pikir panjang, Shandra segera memukul tangan orang itu sehingga tembakannya meleset. Namun, naas baginya karena orang itu mendapat kesempatan untuk menyerangnya dengan berbalik mencekiknya.
Taksi pun mundur dengan tidak beraturan lagi, yang membuat tubuh keduanya bergoncang.
"Tidak.....!" Teriak John ketika ia melihat bagian belakang mobil sudah berada di sisi tebing yang berada di pinggir jalan.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍