Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
30. Membunuh Tanpa Belas Kasihan


__ADS_3

Orang yang tidak memiliki belas kasihan bukan berarti ia tidak mengasihi orang lain. Ia tidak berbelas kasih karena ia benar-benar memegang prinsipnya dengan sangat kuat. Dan karena itu ia tidak akan pernah menarik perkataannya jika ia sudah berniat untuk melakukan sesuatu.


Eda Sally


*****


"Ma....af..kan a..ku!" Kata Bernike terbata.


"Aku benci kata maaf. Dan aku lebih suka orang mati yang meminta maaf karena ia tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi." Kata Shandra yang cengkraman tangannya pada leher Bernike semakin kuat.


Semakin ia mengeratkan cengkramannya, Shandra merasa semakin geram. Ia tersenyum sinis melihat Bernike yang memelototkan mata dengan terus menatapnya seperti memohon ampun agar dilepaskan.


"Beginikah caramu dan keluargamu berterima kasih? Aku tidak pernah mengharapkan itu. Karena aku melakukannya dengan tulus. Tetapi kau membuatku mengerti bahwa tidak setiap orang yang ditolong itu cukup tahu diri."


Setelah mengatakan kalimat itu, Shandra semakin mengeratkan cengkraman tangannya, dan ia melihat tubuh Bernike sudah melemas. Dengan kasar ia melepaskan cengkramannya, dan tubuh Bernike yang sudah tak bernyawa itu langsung ambruk ke lantai dengan bunyi yang cukup keras.


Frans yang sementara mengeroyok John, Branden, dan Fritz dengan beberapa anak buah yang masih tersisa, mendengar bunyi yang sangat keras itu, menoleh untuk melihat apa yang terjadi.


Frans sangat kaget ketika melihat adik satu-satunya sudah tak bernyawa. Ia langsung memisahkan diri dan berjalan ke arah Shandra.


"Akan ku bunuh kau perempuan sialan. Beraninya kau membunuh adikku." Kata Frans dengan geram.


"Bunuh? Tidak segampang apa yang kau katakan Frans Waller! Aku benci penjahat yang tak berhati sepertimu! Dan aku juga akan membuktikan kata-katamu dengan membalikkannya kepadamu sendiri." Balas Shandra tak geramnya.


Frans tidak bisa menahan gejolak emosinya. Ia menyerang Shandra dengan membabi buta. Shandra yang merasa lucu dengan semua serangan Frans, hanya berdiri diam dan menangkis. Ia tidak berniat membunuh Frans. Karena itu ia memilih untuk hanya menangkis saja.


Shandra sesekali memberikan tendangan ringan yang membuat Frans gelagapan menghadapi Shandra. Frans sama sekali tidak puas karena belum mampu menumbangkan Shandra, padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga.


"Ternyata kemampuan beladirimu sangat rendah. Kau hanya berbesar mulut dengan berlindung dibalik ketiak pengawalmu. Jika pemimpin sepertimu tidak memiliki kemampuan beladiri sama sekali, bagaimana mungkin bawahammu akan mengalahkan tiga orang jagoanku?" Kata Shandra sambil matanya menunjuk ke arah Branden, John, dan Fritz yang sudah membereskan anak buah Frans dan hanya tersisa 6 orang termasuk Raffe Waller, ayah Frans.


Frans sangat terkejut ketika ia melihat bahwa anak buahnya hanya tersisa enam orang. Ia berdiri mematung dan mempertimbangkan akan terus menyerang Shandra atau berhenti. Karena sejujurnya nyalinya sudah mulai ciut saat ia menyerang Shandra dan Shandra tidak bergeming sama sekali, tetapi malah membalas serangannya dengan tendangan dan pukulan yang ringan.

__ADS_1


"Branden! Cepat ikat banci di depanku ini dan ayahnya. Aku ingin bermain dengan mereka di rumah nanti." Teriak Shandra pada Branden.


Branden yang mendengar teriakan Shandra, segera membekuk Raffe Waller dan mengikatnya. Setelah selesai mengikat Raffe Waller, ia menarik John yang sementara menghadapi dua orang anak buah Frans agar berhenti.


"Hei! Biarkan aku menyelesaikan mereka." Kata John dengan nada tinggi karena Branden menariknya.


"Biar aku yang membereskannya. Tuan harus membereskan pria yang sedang mendekati nona muda. Apakah tuan tidak cemburu melihatnya mendekati nona muda?" Kata Branden memanasi John.


John segera mengalihkan tatapannya kepada Frans. Ia sangat geram melihat Frans yang berdiri dekat Shandra.


"Aku akan membunuhmu sialan." Kata John sambil melompat dari jauh dan hendak mendaratkan tendangan mautnya di leher Frans.


Shandra yang melihat hal itu segera menarik Frans dan menghindari serangan John. Shandra tahu bahwa tendangan itu akan langsung mematikan, dan ia tidak menginginkan hal itu karena ia ingin melihat Frans mati dengan perlahan-lahan dan menyakitkan di tangannya sendiri.


John kaget karena serangannya tidak mengenai korban yang dia incar, dan itu membuatnya sangat marah ketika mengetahui bahwa Shandra yang melakukan hal itu. Rasa cemburu mulai menyerang hatinya.


"Kenapa kamu membelanya? Aku ingin membunuh pria tidak tahu diri ini." Kata John dengan amarah yang meluap-luap karena terbakar rasa cemburu.


John menarik napas panjang pertanda lega saat mendengar alasan Shandra menyelamatkan Frans. Padahal ia sudah berpikir yang bukan-bukan.


Hmmmmm! Semoga hatimu hanya untukku. Jangan membuatku mati karena rasa cemburur. Jika kau membuatku sampai cemburu, maka aku akan membunuh setiap pria yang mencoba untuk mendekatimu.


"Nona, semuanya sudah beres. Apa ada yang perlu saya bereskan lagi?" Tanya Branden dengan napas yang tak beraturan karena baru saja membereskan anak buah Frans bersama Fritz.


"Tidak perlu. Cepat ikat Frans, dan masukkan dia serta ayahnya ke mobil, kemudian bawa ke rumah sekarang juga." Kata Shandra sambil melangkah keluar.


"Baik nona muda." Kata Branden kemudian segera mengikat Frans dibantu oleh Fritz.


John yang melihat Shandra sudah keluar segera berlari dan mengejar Shandra. Ia seperti seorang anak kecil yang mengejar ibunya karena takut ditinggal.


Branden yang melihat kelakuan John hanya menggelengkan kepala sambil menghembuskan napasnya dengan kasar yang mengeluarkan bunyi. Fritz menatap Branden sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa senyam senyum sendiri?" Tanya Branden dengan kasar.


"Aku lucu melihatmu marah dengan orang yang sedang jatuh cinta." Kata Fritz menggoda.


"Marah? aku sama sekali tidak marah. Aku hanya heran melihat kelakuan orang yang sedang jatuh cinta. Rasanya aneh, menyebalkan, dan sangat kekanakkan." Kata Branden sambil menyeret tubuh Frans yang sudah diikatnya.


"Makanya cepat jatuh cinta biar tahu rasanya seperti apa." Balas Fritz.


"Kamu saja tidak tahu apa itu cinta malah mengguruiku. Cepat seret kakek tua itu. Aku bosan melihat gigi tonggosnya yang sangat menyakiti mataku." Kata Branden sambil terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun pada Fritz yang menyeret Raffe Waller dengan susah payah karena Raffe Waller sangat gemuk.


"Huh! Kenapa juga dia menugaskan aku untuk kehabisan napas dan tenaga hanya demi menyeret gajah kaki dua ini?" Kata Fritz kesal sambil menendang Raffe Waller.


"Hei! Jangan di tendang. Itu bukan bola." Teriak Branden pada Fritz.


"Setidaknya aku bisa melampiaskan rasa kesalku padanya." Kata Fritz membela diri.


Setelah berhasil membawa Raffe Waller sampai mobil, Fritz langsung masuk ke dalam mobil dan duduk. Ia membiarkan Branden susah payah mengatur posisi duduk Raffe Waller dan Frans yang sementara terikat.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2