
Pilihan tersulit dan paling menyakitkan dalam hidup ini adalah ketika kita diberi kesempatan untuk hidup tetapi kehidupan yang diberikan itu hanya membawa rasa sakit dan kepedihan.
Mungkin kita berpikir bahwa mengakhiri hidup adalah lebih baik daripada hidup yang dirasakan seperti sebuah bencana yang membuat jiwa semakin merana.
Eda Sally
*****
Shandra masih memandang Frans. Ia sungguh sangat marah mendengar pengakuan Frans.
Jika aku tidak membuatmu merasakan sakit karena telah merencanakan yang jahat kepadaku, dan membalas kebaikanku dengan kejahatan, maka jangan panggil aku Shandra Wilson.
Karena amarah yang sudah tidak bisa dibendung, Shandra langsung menyayat seluruh tangan dan wajah Frans dengan pisau yang tadi dipakainya untuk menyayat ibu jari Frans.
"Bunuh aku saja. Jangan menyakitiku seperti ini." Kata Frans dengan air mata yang terus meleleh di wajah dan sudah bercampur dengan darah yang keluar karena sayatan yang dilakukan oleh Shandra.
"Apa kau tidak melihat apa yang sedang aku lakukan? Aku sedang membunuhmu secara perlahan, dan kau akan mati dengan cara yang menyakitkan." Kata Shandra dengan senyum liciknya dan terus menyayat badan Frans.
John menutup mulutnya erat-erat dengan kedua tangannya karena ia bisa merasakan kesakitan yang dialami Frans.
Kenapa aku harus jatuh cinta dengan wanita ini? Ah! Aku tidak peduli. Aku sudah terlanjur mencintainya. Persetan dengan kebiasaan anehnya. Selesai menikah, aku takkan membiarkannya melakukan hal gila seperti ini lagi. John.
"Tolong hentikan siksaanmu terhadap anakku. Bunuh aku saja, tetapi jangan siksa anakku seperti itu. Aku mohon!" Pinta Raffe Waller melihat apa yang dilakukan Shandra
Plak!
Shandra menampar Raffe Waller dengan sangat keras karena mengganggu aktififasnya. Raffe Waller meringis menahan sakit karena tamparan yang sangat keras dari Shandra di pipinya.
Tak ku sangka tamparannya bisa sesakit ini. Padahal tangannya kecil dan mungil. Dia ini manusia atau iblis? Raffe Waller
"Aku sedang konsentrasi kenapa kau menggangguku? Jika aku tidak menyuruhmu berbicara, maka diamlah dan jangan mengundang emosiku."
"Kau ingin aku berhenti? Aku akan berhenti, tetapi dia tidak akan selamat." Kata Shandra sambil membuang pisaunya.
Branden langsung memungut pisau tersebut dan segera membersihkannya. Frans Waller sudah pingsan karena darah yang keluar dari seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang. Aku akan menembaknya, agar ia langsung mati. Aku kasihan melihatnya." Kata John Bruno. Ia tidak tega melihat kondisi Frans seperti itu.
"Diam di tempatmu dan jangan mencampuri urusanku. Ingat! Shandra Wilson tidak pernah mengampuni musuhnya. Jadi aku harap tuan John Bruno belajar untuk sedikit tahu diri." Kata Shandra dengan ketus.
John diam seribu bahasa mendengar perkataan Shandra. Ia tak menyangka Shandra akan berkata seperti itu.
Wanita ini sangat dingin. Ia bahkan tidak peduli aku akan tersinggung atau tidak. Padahal aku adalah calon suaminya. Bagaimana bisa ia tanpa beban berbicara seperti itu kepadaku? Tunggu saja nona manis. Aku masih bersikap manis karena belum menikahimu, jadi kau bebas melakukan apa saja. Jika sudah menikah, maka kau harus tunduk kepadaku. John Bruno.
"Ok! Aku minta maaf." Kata John sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Lalu, bagaimana dengan ayahnya, tuan Raffe Waller?" Tanya John Bruno.
Raffe Waller memandang tajam ke arah John dengan penuh kebencian karena beberapa detik yang lalu ia baru saja bernapas lega karena ia menyangka bahwa Shandra tidak akan menghukumnya.
John tidak mempedulikan tatapan tajam dari Raffe Waller. Ia malah balik menatap Raffe Waller dengan lebih tajam yang membuat Raffe Waller langsung menundukkan kepala.
"Terima kasih telah mengingatkan aku. Aku sedang mempersiapkan hukuman yang pantas untuknya." Kata Shandra sambil menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.
"Apa yang harus aku siapkan nona?" Tanya Branden pada Shandra.
"Aku tahu kau sudah paham dengan apa yang harus kau persiapkan Branden. Cepat lakukan dan jangan membuatku menunggu. Waktumu hanya sepuluh menit." Kata Shandra tegas pada Branden.
Branden segera memberikan kode dengan matanya kepada Fritz untuk membantunya. Fritz yang paham dengan kode yang diberikan Branden langsung melakukan apa yang diinginkan sang nona muda.
Mereka langsung masuk ke ruang sebelah dan mengerjakan apa yang diperintahkan Shandra.
Sebenarnya hukuman apa yang dia siapkan untukku? Wanita ini terlalu kejam, dan aku takut dia akan melakukan hal yang lebih kejam kepadaku. Aku akan memohon kepadanya agar ia mengampuni nyawaku. Raffe Waller.
"Tolong ampuni saya dan jangan bunuh saya nona. Maafkan saya dan keluarga saya yang telah melakukan kesalahan besar kepadamu." Kata Raffe Waller memohon.
"Memangnya siapa yang akan membunuhmu? Aku tidak akan membunuhmu, tetapi akan memberikan hukuman yang akan kau ingat seumur hidup, dan itu akan membuatmu tidak pernah mempunyai pikiran untuk balas dendam denganku atau sekedar merencanakan sesuatu yang jahat terhadapku." Kata Shandra enteng.
"Kenapa nona tidak membunuh saya tetapi membunuh anak dan istri saya? Lebih baik saya yang dibunuh." Kata Raffe Waller dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Apa tuan Raffe belum sadar kenapa aku tidak membunuh tuan? Karena aku tahu tuan Raffe orang yang baik. Aku bukan orang yang tidak tahu berterima kasih."
__ADS_1
"Ketika aku ada di rumah tuan, tuan orang yang telah menyambutku dengan sopan, dan tidak sok pamer seperti anak dan istri tuan. Itulah sebabnya aku memilih untuk membunuh mereka daripada membiarkan mereka hidup dan menyakiti mata dan telingaku." Kata Shandra sambil berdiri.
"Apa yang akan nona lakukan?"
Tanya Raffe Waller dengan was-was karena cara Shandra menyiksa Frans di depan matanya benar-benar membuatnya sangat takut. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Shandra kepadanya.
"Aku hanya ingin rileks. Sejak kapan kau mencampuri urusanku?" Shandra balik bertanya dengan ketus.
Sepuluh menit kemudian, nampak Branden dan Fritz membawa sebuah nampan besi yang ada pegangannya. Karena dalam posisi duduk, Raffe Waller tidak melihat dengan jelas apa yang dibawa oleh kedua orang itu.
Shandra tersenyum melihat Branden dan Fritz membawa apa yang ia inginkan.
"Tutup matamu dan jangan sampai mengeluarkan suara. Aku tidak ingin mendengarkan suaramu yang fals itu. Jangan menyakiti telingaku dengan suara bebekmu." Perintah Shandra kepada Raffe Waller.
Raffe Waller melakukan apa yang dikatakan Shandra. Belum semenit, ia merasakan sesuatu yang sangat panas di beberapa bagian tubuhnya yaitu leher, punggung, lengan dan dada.
Raffe Waller hanya merasakan bahwa ia sedang terkencing. Selanjutnya ia jatuh dan tak sadarkan diri.
"Nona muda. Apa nyawanya akan tertolong?" Tanya Branden dengan tangan gemetar.
"Tenang saja. Ia tidak akan mati. Aku hanya memberikan cap budak keluarga Dalmiro ditubuhnya agar ia bekerja pada keluarga Dalmiro seumur hidup. Ia harus bersyukur karena aku masih mengampuninya.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍