Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
36. Pernikahan (Part 2)


__ADS_3

Keputusan untuk tetap setia pada satu cinta merupakan sebuah komitmen yang tidak mudah untuk dilakukan. Karena terkadang kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa cinta kita mungkin tidak terbalas atau belum mendapat tempat di dalam hati orang yang kita cintai. Tetap sabar dalam penantian hingga cinta layak dan mendapat penerimaan dalam hati orang yang kita cintai.


Eda Sally


*****


Shandra diam mendengar perkataan dua pria itu. Ia terlihat gugup karena John Bruno sudah mengulurkan tangan untuk menggandengnya.


Untuk sesaat, Shandra menundukkan kepala dalam-dalam dan belum berani mengulurkan tangannya. Semua undangan menahan napas ketika melihat bahwa John sudah mengulurkan tangan sejak lima menit yang lalu. Tuan Wilson yang melihat hal itu segera bertindak.


"Gandenglah tangan John! Karena mulai sekarang, ia yang akan senantiasa ada di sampingmu. Kau harus terbiasa untuk menggandeng tangan suamimu dalam suka maupun duka."


"Jangan pernah mengecewakan John dengan alasan apapun. Jadilah istri yang baik dan hormatilah suamimu sebagaimana yang harus dilakukan oleh seorang wanita."


Setelah berkata demikian, tuan Wilson mengangkat tangan Shandra dan mengalungkannya di tangan John yang sudah terulur sejak tadi.


"Terima kasih sayang." Bisik John di telinga Shandra lalu mulai berjalan menuju altar.


Proses peneguhan janji nikah berjalan dengan lancar. Tiba saatnya mempelai pria harus mencium mempelai wanita sebagai tanda cinta karena telah diteguhkan.


Shandra terlihat menundukkan kepala dan menahan rasa gugup, karena hal inilah yang paling ia takutkan.


John perlahan membuka cadar yang menutupi wajah Shandra. Untuk sesaat John menatap wajah Shandra dengan lekat seolah meminta persetujuan untuk melakukan hal itu.


Para undangan menahan napas ketika melihat John masih menatap wajah Shandra dan belum melakukan apapun. John menarik napas panjang karena menahan rasa gugup dan hasratnya untuk mencium Shandra.


"Aku mohon izin untuk menciummu." Bisik John dengan pelan.


Shandra hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan John, karena itu hal yang wajib dilakukan. John menurunkan wajahnya dengan perlahan, dan dengan lembut mengecup bibir mungil itu dengan penuh cinta dan lama menahan bibirnya di sana seolah ingin menikmati rasa itu lebih lama lagi.


Tubuh Shandra langsung bergetar ketika John berhasil mengecup bibirnya. Wajahnya terlihat pucat dan rasa gugup sangat terlihat.


John yang memahami hal itu segera memeluk Shandra dengan mesra dan membenamkan kepala Shandra di dadanya karena tubuh Shandra masih gemetar.


Semua undangan nampak bertepuk tangan karena ini hal langka yang jarang terjadi, dimana seorang pria langsung memeluk mempelai wanita ketika selesai menciumnya. Mereka tidak menyadari bahwa Shandra sedang mengalami rasa gugup yang sangat hebat.


"Jangan takut. Aku tidak akan melakukan hal diluar batas yang akan menyakitimu. Percayalah padaku!" Ucap John dengan lembut kemudian melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Shandra berusaha menguasai hatinya karena acara akan dilanjutkan. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum.


Acara demi acara telah dilewati, dan semua undangan mengikuti acara dengan antusias. Keluarga Dalmiro yang melegenda itu menyajikan acara yang sangat mewah sehingga para undangan sangat menikmatinya.


Setelah semua acara selesai, Shandra dan John diarahkan untuk menuju ke kamar pengantin yang telah disiapkan.


Shandra tidak mengatakan apapun ketika John dengan setia masih menggandeng tangannya. Sepanjang jalan menuju kamar, John sesekali menunduk dan mengecup rambut Shandra, yang membuat Shandra seolah tersengat aliran listrik.


"Keluar John! Aku ingin mengganti baju!" Perintah Shandra kepada John saat mereka sudah berada di kamar.


"Aku ini suami sayang. Kenapa aku harus keluar?" Tanya john pura-pura menggoda Shandra.


"Keluar sebelum aku marah. Aku tidak suka mengulang perkataanku." Balas Shandra dengan ketus.


John keluar tanpa mengatakan apapun. Ia paham dengan Shandra yang belum siap dengan pernikahan ini. Berbeda dengan dirinya yang sudah sangat menginginkan pernikahan ini.


Setelah beberapa saat, John kembali masuk dan melihat Shandra sudah selesai mandi dan mengganti pakaian. John tersenyum ke arah Shandra dan berlalu ke kamar mandi.


John langsung mengganti pakaiannya di kamar mandi karena takut Shandra tidak suka jika ia keluar tanpa baju.


Keluar dari kamar mandi, John berjalan dan duduk di samping Shandra. Shandra hanya diam ketika John duduk di sampingnya.


"Aku tidak akan memaksamu melakukannya malam ini. Jadi aku harap kamu mau membantuku mencari solusi." Kata John dengan lembut sambil tangannya membelai rambut Shandra. Shandra segera menepis tangan John dengan kasar.


"Jangan lancang menyentuhku jika aku tidak menyuruhmu." Ujar Shandra dengan ketus.


"Aku hanya membelai rambutmu. Apa itu salah?" John balik bertanya. Ia sama sekali tidak marah dengan perlakuan Shandra padanya.


"Bagaimana dengan yang baru saja aku katakan! Apa yang harus kita lakukan?" Tanya John.


"Diamlah! Aku sedang memikirkan caranya." Jawab Shandra sambil mengusap wajahnya dengan kasar karena frustrasi.


Mereka lama terdiam tanpa ada yang mengatakan apapun. Shandra bingung karena ia belum siap jika harus melakukan kewajibannya sebagai istri. Tangannya dipegang oleh John saja ia sudah sangat gugup.


"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Shandra tiba-tiba ketika John memejamkan matanya karena frustrasi.


"Tanpa aku jawab pun kamu sudah tahu jawabannya." Jawab John.

__ADS_1


"Aku butuh jawaban, karena aku tidak ingin menerka sesuatu yang tidak pasti." Ujar Shandra dengan tegas.


"Entah kamu tahu atau tidak, aku tidak akan bosan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Dan aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Jangan pernah kecewakan aku." Ujar John dengan sungguh sambil menatap mata indah di depannya.


"Terima kasih. Aku belum pernah mengenal cinta. Dan aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan cinta kepada seorang pria. Maafkan jika kata-kataku kasar! Ucap Shandra dengan tulus.


"Aku paham dengan apa yang kamu pikirkan. Aku tidak akan memaksamu. Aku ingin kamu mau melakukannya karena didasari cinta, bukan karena tuntutan keluarga."


"Tetapi masalahnya, mereka ingin kita memberikannya besok pagi. Itu yang membuatku memikirkannya." John berkata dengan serius.


"Tidurlah. Aku merasa sangat lelah. Kita pikirkan lagi nanti mengenai hal ini." Ujar Shandra sambil bangkit dari sofa dan menuju ke tempat tidur.


"Boleh aku tidur seranjang denganmu?" Tanya John dengan penuh harap.


"Jangan melakukan hal yang konyol, John! Jangan sampai aku menghajarmu karena kamu sudah lancang denganku." Jawab Shandra dengan nada kalimat yang terdengar serius.


"Aku tidak akan tidur sekarang. Apakah aku boleh ke situ saat kamu sudah nyenyak?" Tanya John dengan maksud menggoda Shandra.


"Boleh saja! Tetapi jangan salahkan aku jika aku menghajarmu saat aku sudah sadar." Jawab Shandra sambil menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Sejujurnya aku sangat gugup. Tetapi jika aku tidak tegas, ia akan menyentuhku dengan lancang. Shandra


Ah! Sampai kapan aku harus menahan rasa ini untuk tidak menyentuh tubuhnya. Bahkan bibirnya masih terasa manis waktu aku menciumnya di depan altar. Aku ingin melanjutkan hal itu, tetapi wanitaku belum menginginkannya. John Bruno, sampai kapan kamu harus sabar? John


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2