Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
55. Sambutan Sang CEO


__ADS_3

Kepercayaan adalah bentuk loyalitas tertinggi orang kepada kita, ketika mereka melihat bahwa kita mampu mengemban tugas yang diberikan kepada kita. Kita mungkin merasa tidak yakin dengan kemampuan kita sendiri, tetapi hasil kerja kita yang akan menunjukkan siapa kita sebenarnya.


Eda Sally


*****


Sakti menarik napas sebentar, kemudian berbalik ke arah Shandra dan membungkuk memberi hormat. Shandra tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Sakti pertanda menyuruhnya untuk memberikan sambutan.


"Pertama-tama, terima kasih atas kesempatan berharga ini, dan kepercayaan yang diberikan kepada saya oleh nona muda."


"Saya merasa tidak mampu berdiri di sini, karena saya sadar akan keterbatasan saya."


"Jika hari ini saya mendapatkan kemurahan hati seorang CEO yang sudah berpengalaman dan sangat pandai, saya justru semakin merasa bahwa saya ini hanyalah debu yang dipilih untuk berdiri di sini."


"Saya harap, Bapak / Ibu tidak memandang saya dari kacamata siapa, tetapi dari kacamata apa, artinya apa yang akan saya bawa untuk perkembangan perusahaan ini ke depan."


"Jika nanti di dalam apa yang saya kerjakan dan ada hal yang menyimpang, jangan sungkan untuk memberikan teguran bagi saya."


"Dan saya sendiri tidak akan keberatan, sepanjang apa yang Bapak / Ibu berikan sebagai masukan adalah sesuatu yang sangat bermanfaat untuk kebaikan Viktoria Grup ke depan."


"Namun, di kesempatan ini, saya juga perlu menekankan bahwa saya besar dan terbentuk dari dunia hitam."


"Karena itu, saya tidak akan segan untuk melenyapkan siapa pun yang berani mencari jalan untuk menjatuhkan saya dan Viktoria Grup."


"Mungkin apa yang saya sampaikan ini merupakan sebuah lelucon, tetapi sebagaimana yang sering dilakukan oleh nona muda, maka saya pun sama dengan nona muda, yaitu tidak pernah main-main dengan setiap perkataan saya."


"Jika ada yang ingin Bapak / Ibu tanyakan, saya persilahkan sebelum saya menutup sambutan saya." Ujar Sakti sambil menatap seluruh hadirin di dalam ruangan mewah tersebut.


"Baik! Jika tidak ada pertanyaan, maka pesan saya sebelum saya mengakhiri sambutan saya adalah, kerjakan apa yang menjadi tugas Bapak / Ibu tanpa berniat mencampuri urusan orang lain."


"Karena keinginan untuk mengetahui urusan orang lain terlalu dalam bisa membunuhmu. Terima kasih." Ujar Sakti sambil menutup sambutannya.


Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan mendengar apa yang disampaikan Sakti.


Mereka terlihat saling berbisik, entah apa yang dibisikkan. Yang pasti mereka akan menyesal karena ternyata sang CEO baru lebih kejam dari yang mereka sangka.


Bu Laela yang paham akan situasi tegang dan bisik-bisik diantara sesama karyawan, segera mempersilahkan Sakti untuk meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Saat Sakti berdiri, semua hadirin juga berdiri dengan sikap sempurna seperti orang yang hendak melakukan baris-berbaris karena ketegangan yang sedang melanda mereka.


Ketegangan itu mulai berakhir saat Sakti, John dan Shandra serta Bu Laela sudah menghilang dibalik pintu.


Shandra langsung menepuk pundak Sakti dengan bangga sambil tersenyum begitu mereka telah berada diatas mobil untuk pulang.


"Tak ku sangka kamu akan memberikan sambutan se-mengerikan itu. Aku pastikan mulai hari ini, mereka akan menghindari cctv di kantor jika ingin melakukan gosip atau hal lain yang akan membuat sang CEO baru marah." Ujar Shandra.


"Ah! Nona terlalu berlebihan. Saya hanya ingin mereka tidak pernah punya pikiran jahat dalam hati mereka untuk melakukan sesuatu yang bodoh." Jawab Sakti.


"Aku rasa mereka akan berpikir seribu kali jika ingin melakukan kecurangan di dalam pekerjaan mereka." Ujar Shandra.


"Itu yang saya harapkan nona muda. Saya tidak ingin mereka melakukan sesuatu yang buruk pada perusahaan ini." Jawab Sakti.


"Aku bangga padamu. Terima kasih telah menjadi saudara yang baik bagiku. Kamulah satu-satunya yang bisa aku banggakan di sini." Ujar Shandra dengan jujur.


"Terima kasih atas kepercayaannya nona muda. Saya akan bekerja dengan maksimal. Jika ada kesulitan, saya harap nona muda tidak bosan untuk membimbing saya." Jawab Sakti.


"Soal itu kamu jangan khawatir. Masih ada Bu Laela yang akan membantumu. Beliau bisa diandalkan. Beliau juga orang kepercayaan papa sejak perusahaan ini didirikan." Ujar Shandra.


"Oya! Kami akan mengantarkanmu kembali ke Hotel. Bukankah kau harus melangsungkan malam pertama dengan istrimu?" Lanjut Shandra.


"Apa kau sudah siap untul bertempur?" Goda John.


"Siap atau tidak, saya harus siap karena sudah ada di depan mata. Semoga saya tidak salah strategi." Jawab Sakti sambil tertawa.


"Itu tidak butuh strategi khusus. Aku jamin kau akan menemukan jalanmu sendiri jika sudah ada di medan perang." Tambah John yang langsung mendapatkan satu cubitan yang bersarang di pinggangnya dari Shandra.


"Aaa.... Sakit sayang! Aku hanya sedang membantu Sakti. Kan kasian kalau ia salah jalan." Ujar John dengan senyum nakalnya.


"Mau ku cubit lagi?" Hardik Shandra sambil mengangkat tangannya.


"Jangan sayang. Apa kamu tidak kasihan jika aku kesakitan?" Goda John.


"Bukan urusanku." Jawab Shandra.


John yang sudah gemas melihat kelakuan Shandra, langsung mendaratkan satu kecupan di bibir sang istri. Sakti yang melihat sikap nekat John hanya mampu menggelengkan kepala.

__ADS_1


Tuan besar memang tidak salah memilih. Pria ini benar-benar pantas mendapatkan isi hati nona muda. Ia pria yang tahu kapan harus menyenangkan wanitanya. Bagaimana dengan aku dan Lisa? Aku tidak tahu cara menghadapi wanita yang sedang marah. Sakti


"Ayo cepat turun! Jangan melamun. Apa kau ingin membiarkan istrimu menunggu terlalu lama?" Tegur Shandra pada Sakti yang terlihat melamun.


"Apa kau sedang memikirkan teknik yang aku bagikan? Jika masih kurang, kamu boleh tanya sekarang sebelum turun dari mobil ini." Goda John.


"Saya rasa sudah cukup, Tuan! Saya akan mencoba menggunakan naluri disertai dengan teknik yang sudah tuan bagikan." Jawab Sakti sambil tersenyum.


"Hahahahhaha cerdas kamu. Aku tunggu hasilnya besok pagi." Jawab John.


"Hentikan, John!" Tegur Shandra.


"Terima kasih nona muda, terima kasih, Tuan! Saya akan selalu menunggu kabar dari nona muda jika ada hal yang harus saya kerjakan sebelum nona muda kembali ke Jerman." Ujar Sakti.


"Baik, Sakti! Aku akan menghubungimu besok. Untuk hari ini aku tidak ingin mengganggumu. Fokuslah untuk menyenangkan istrimu. Dia berhak bahagia dengan pernikahan kalian." Ujar Shandra.


"Terima kasih banyak nona muda." Jawab Sakti sambil membungkuk dan memberi hormat kemudian langsung masuk ke Hotel.


"Bagaimana dengan kita? Aku akan meminta jatah dua kali lipat untuk mengganti kekosongan semalam alias puasa yang diputuskan secara sepihak." Ujar John.


"Dan bagaimana kalau malam ini puasa lagi?" Jawab Shandra.


"Jika itu sampai terjadi, aku pastikan kamar kita akan berantakan karena aku akan berusaha untuk mendapatkan apa yang aku inginkan." Jawab John sambil mendaratkan satu kecupan di bibir Shandra.


"Yang ini untuk buka puasa." Ujar John saat melepaskan kecupannya.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2