
Cinta kadang sulit dipahami, bukan karena cinta itu rumit, tetapi karena hati kita masih belum yakin dengan cinta yang sedang kita jalani. Jangan pernah berhenti meyakinkan hati untuk memegang teguh janji mengenai kesucian cinta itu sendiri. Karena cinta yang didasari dengan niat yang murni, akan tetap bertahan di tengah badai dan kerasnya ombak kehidupan.
Eda Sally
*****
"Tidak apa-apa sayang." Ujar John setelah berhenti cukup lama untuk menetralkan rasa sakit yang menyerangnya.
John segera menuntaskan kegiatannya, dan dengan lembut mengecup kening Shandra sangat lama tanpa berniat turun dari posisinya.
"Aku mencintaimu, sayang. Sangat!" Bisik John dengan lembut yang membuat tubuh Shandra merinding mendengarnya karena bisikan yang sangat mesra itu.
Setelah puas mengecup Shandra, John segera turun dari posisinya dan berbaring di samping Shandra. Ia memeluk Shandra dengan sangat erat kemudian membelai rambut Shandra dengan lembut.
"Jangan pernah melirik pria lain selain aku. Jika kamu terlalu lama menatap seorang pria, aku akan membunuh pria itu di hadapanmu." Ujar John setelah berulang kali mencium rambut pendek sang istri.
"Sedangkan kamu saja jarang aku tatap, apalagi pria lain. Apa kau pikir aku hobi menatap pria?" Jawab Shandra dengan ketus.
"Maafkan aku sayang. Tapi aku cemburu. Semakin aku memilikimu, semakin aku tidak rela jika ada orang lain yang menginginkanmu. Apalagi kamu masih sangat muda dan cantik."
"Aku tidak mau kehilanganmu, sayang." Ujar John dengan lembut dan dengan perlahan mengangkat wajah Shandra yang terbenam di dadanya dan kembali mendaratkan ciuman mesra di bibir Shandra.
Shandra memejamkan mata menahan sensasi yang diberikan suaminya. Ini pengalaman pertama baginya dan itu membuatnya seperti tersengat aliran listrik ribuan volt.
"Aku masih ingin melanjutkan yang tadi. Apa aku boleh melakukannya sekali lagi?" Tanya John dengan penuh harap.
"Aku masih kesakitan, John. Jangan membuatku marah agar aku jangan sampai menghajarmu. Kamu mau cium aku sampai beribu kali terserah, tapi jangan melakukannya lagi. Itu sangat sakit." Jawab Shandra dengan ketus.
"Maaf sayang. Aku terlalu semangat sampai lupa kalau kamu kesakitan. I Love You." Bisik John sambil kembali mencium bibir Shandra dengan sangat lembut, yang membuat Shandra sampai merinding menikmati rasa itu.
Makin lama, ciuman John makin panas disertai dengan gerakan tangan yang sudah bergerilya sejak tadi.
Shandra memejamkan mata rapat-rapat dan mencoba bertahan agar jangan sampai mengeluarkan suara. John yang mengetahui bahwa Shandra sudah susah payah menahan hasratnya, segera memindahkan mulutnya ke area lain yang semakin membuat Shandra tidak bisa menahan diri.
Dengan pelan tanpa terburu-buru, John melakukan pemanasan yang membuat Shandra akhirnya mengeluarkan suara.
__ADS_1
John tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia kembali melakukan apa yang tadi pertama kali dilakukannya di area yang membuat badan Shandra menggeliat tak beraturan.
Setelah cukup lama beraksi di daerah itu, dan setelah melihat bahwa Shandra sudah siap, John dengan cepat menarik kepalanya dan langsung menyatukan tubuhnya dengan lembut dan hati-hati sekali.
Johm memacu gerakannya dengan hati-hati dan lembut. Ia tidak ingin istrinya kesakitan lagi. Shandra sampai memeluk tubuh John dengan sangat erat. Akhirnya, dengan aksi yang indah dan manis, John mengakhiri aktifitasnya.
John melemparkan tubuhnya yang kelelahan di samping Shandra yang tidak kalah lelah dengannya.
"Aku akan ingat semua yang aku ambil hari ini. Kamu wanita yang luar biasa. Selain cantik, kamu juga pandai menjaga diri. Aku sangat senang karena aku satu-satunya yang memiliki semua yang terbaik dari dirimu. Aku mencintaimu." Bisik John panjang lebar di telingan Shandra yang masih memejamkan mata dan mengatur napasnya.
"Jangan terlalu banyak baca puisi, John! Aku lapar." Ujar Shandra dengan ketus, namun mengandung kejujuran.
"Ok! Aku akan menggendongmu untuk membersihkan diri. Setelah itu aku akan memesankan sarapan untuk kita." Jawab John.
"Jangan berlebihan, John! Aku bisa jalan sendiri." Balas Shandra sambil mencoba menggerakkan kakinya untuk turun dari temlat tidur.
"Apa kamu tidak kesa..." Kalimat John terputus.
"Argh...! Sakit, John." Teriak Shandra begitu ia menggerakkan kakinya.
"Sudah aku bilang, jangan banyak bergerak dulu. Kamu pasti kesakitan." Protes John kemudian bergerak dengan cepat dan menggendong Shandra menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan tubuh mereka, John kembali menggendong Shandra dan membawanya keluar dari kamar mandi kemudian mendudukkannya di sofa.
John dengan telaten memakaikan pakaian untuk Shandra satu persatu. Shandra seperti bayi yang tidak protes sedikit pun. John kemudian menggendong Shandra dan membawanya ke tempat tidur.
Ketika mendudukkan Shandra barulah John sadar bahwa ada bercak merah yang cukup banyak di tempat tidur.
"Sayang." Ujar John terbata sambil mengecup kening Shandra sangat lama dan kemudian membawa Shandra dalam pelukannya.
Air matanya menetes begitu saja. Ia tidak tahu harus menangis atau tertawa. Di dalam hatinya ada rasa bangga yang tidak dapat ia sembunyikan karena mendapatkan istrinya dengan utuh.
Saat ketika mereka melakukan kewajiban sebagai suami istri, John tidak terharu karena ingin segera melepaskan hasratnya. Berbeda dengan sekarang. Hatinya benar-benar terharu melihat apa yang ada di depannya.
"Aku mencintaimu, sayang." Ujar John dengan suara terbata.
__ADS_1
Shandra kaget mendengar suara John yang bergetar dan kemudian mengangkat kepala dan menatap John dengan bingung karena menangis.
"Ada apa, John?" Tanya Shandra dengan heran.
"Aku hanya terharu karena kamu menjaga tubuhmu untukku. Aku mencintaimu." Ujar John sekali lagi.
"Wajar kalau aku melakukan hal itu. Dan itu wajib! Dalam keluarga Dalmiro, wanita yang menikah harus benar-benar suci. Bahkan berpegangan tangan sebelum menikah saja itu sangat tidak diperbolehkan.
"Lalu sedihnya dimana sehingga kamu bisa menangis seperti itu, John? Shandra kembali bertanya dengan heran.
"Itu yang membuatku terharu, sayang." Ujar John sambil menunjuk bercak darah di sprei yang masih basah.
Mata Shandra mengikuti arah tangan John. Ia langsung menutup tangannya ketika melihat apa yang ditunjuk John karena sejak tadi ia tidak menyadari hal itu.
Bahkan ketika ia merasa ada cairan yang keluar, ia menyangka bahwa itu akibat ******* yang ia capai.
Mungkin ini yang membuat para pria sangat mencintai wanitanya. Ah! Aku bersyukur karena terlahir dalam keluarga yang telah menjaga dan mendidikku dengan baik. Ibuku, dimanapun engkau berada, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku pun telah melangkahkan kaki menuju jalan untuk menjadi seorang ibu. Shandra.
"John, jika kamu sampai berkhianat denganku, maka aku pun akan membuatmu mengeluarkan darah seperti yang aku alami hari ini." Ujar Shandra dengan sungguh-sungguh.
"Aku sangat mencintaimu, sayang. Mana mungkin aku tega melakukan hal itu?" Jawab John dengan sungguh-sungguh.
"Ok! Terima kasih. Jika sudah selesai baca puisi, tolong pesankan sarapan. Aku sangat lapar." Ujar Shandra.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍