
Cinta terkadang membuat kita buta dalam bertindak. Alasan dan atas nama cinta merupakan dorongan yang membuat kita lupa melihat sekeliling kita dan lebih sering fokus pada apa yang namanya cinta. Entah hal ini benar atau salah, yang pasti bahwa cinta memang selalu membutuhkan pengorbanan.
Eda Sally
*****
Shandra yang sudah terlatih di dunia mafia, telinganya dan tubuhnya akan tetap aktif dengan segala gerakan walau sekecil apapun. Hal itu tetap berlaku walaupun ia dalam keadaan tidur nyenyak.
John Bruno ternyata tidak main-main dengan apa yang ia katakan. Setelah sadar dsri tidurnya dan mengetahui bahwa Shandra sudah nyenyak, John berjalan dengan sangat hati-hati dan menaiki tempat tidur dimana Shandra sedang tidur.
Semoga harimau ini tidak bangun saat aku tidur. Rasanya sangat nyaman saat tidur di samping wanita yang aku cintai. John.
John sudah berhasil tidur di samping Shandra. Tangannya melihat jam tangannya dan sadar bahwa ini sudah hampir pagi.
Baru saja John akan memejamkan mata, telinganya menangkap gerakan yang aneh di sampingnya. John segera membuka mata dan bertindak dengan cepat, karena Shandra sudah melayangkan tinju ke wajahnya.
"Hei! Sadar! Sadar! Ini Aku." Ujar John saat berhasil menangkis tangan Shandra.
Shandra langsung duduk tanpa peduli dengan John. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa dengan menghentakkan kakinya. Ia benar-benar kesal dengan John yang tidur di sampingnya.
"Mengganggu saja. Aku masih ingin tidur." Gerutu Shandra sambil mengulurkan kedua kakinya di sofa dan kemudian tidur.
John Bruno memperhatikan kelakuan Shandra dengan gemas dan memilih tetap berbaring sambil tak puas-puasnya menatap wajah cantik istrinya.
Shandra segera memejamkan mata begitu mendapat posisi tidur yang pas di sofa tanpa mempedulikan John Bruno yang memandangnya dengan penuh cinta.
Bagaimana caranya menunjukkan darah perawan kepada keluarga Dalmiro? Apa yang harus aku lakukan? Istriku sendiri belum siap melakukan hal itu. Sementara hal itu tidak boleh ditunda, karena jika tidak kami akan mendapat hukuman. John.
John meremas rambutnya dengan frustrasi saat memikirkan hal itu. Ia kembali memandangi Shandra yang sudah kembali nyenyak tanpa dosa.
Satu jam kemudian, John memberanikan diri mendekati Shandra.
"Sayang! Bangun! Ada yang ingin aku bicarakan!" Ujar John Bruno saat sudah duduk di samping Shandra.
"Ada apa lagi? Kenapa kamu mengganggu tidurku? Aku masih ingin tidur." Ujar Shandra dengan ketus.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak ingin mengganggumu. Kamu boleh melanjutkan tidurmu. Tetapi beberapa menit lagi kepala pelayan dan beberapa orang tua akan datang mengambil kain darah perawan. Apa yang harus kita lakukan?"
__ADS_1
Shandra tiba-tiba teringat akan hal itu dan segera bangkit dari tidurnya. Ia menaikkan kakinya di atas sofa dan kemudian memandangi John dengan tatapan bingung.
"Aku benar-benar belum siap. Tolong maafkan aku. Tetapi aku juga tidak ingin dicambuk." Jawab Shandra dengan suara melemah.
"Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya sedang bingung memikirkan caranya. Kata John.
"Kenapa keluargaku harus memiliki tradisi yang aneh seperti ini? Aku benci keluarga Dalmiro yang kaku dan memiliki aturan yang tidak masuk akal." Kata Sahndra dengan kesal sambil meninju sofa.
"Apa kamu punya ide?" Tanya John dengan serius ketika ia melihat Shandra memejamkan mata.
"Diamlah John! Aku sedang memikirkannya." Jawab Shandra tanpa membuka mata.
"Aku akan membuka kunci pintu. Karena seperti biasanya kepala pelayan dan beberapa orang tua akan masuk setelah beberpa saat mengetuk pintu."
Jadi sebaiknya kamu segera berbaring di tempat tidur. Kita akan pura-pura seolah sudah selesai melakukannya." John menjelaskan maksudnya.
"Lalu, bagaimana dengan darah perawannya?" Tanya Shandra dengan bingung.
"Kamu tidak usah memikirkan hal itu. Aku yang akan melakukannya dengan caraku. Sebaiknya kamu segera kembali ke tempat tidur.
Tanpa mengatakan apapun, Shandra kembali ke tempat tidur. Namun kali ini ia hanya duduk tanpa ingin tidur.
"Jangan mengatakan hal seperti itu sayang. Mereka adalah orang tuamu. Kamu harus menghormati mereka." Nasehat John kepada Shandra.
"Aku tahu! Aku hanya tidak suka saja dengan tradisi keluarga ini. Entah sampai kapan tradisi ini akan berakhir. Aku tidak suka hal-hal yang kaku seperti ini." Ucap Shandra dengan kesal.
"Kamu harus pura-pura tidur dan menutup badanmu dengan bedcover. Lepas baju tidurmu dan tutup badanmu. Aku tidak akan melihatnya." Kata John kepada Shandra.
Shandra bukan tidak paham dengan apa yang dilakukan oleh John. Namun ia merasa risih jika harus melepas baju di depan John. Akhirnya ia memilih masuk ke dalam bedcover dan melepasnya kemudian menarik bedcover hingga lehernya.
"Ok! Tugasmu selesai. Sekarang aku akan melakukan tugasku agar kita jangan sampai dicambuk di hari pertama pernikahan kita." Ucap John sambil melangkah ke arah meja dan meraih pisau buah.
Setelah mengambilnya, John berjalan dan duduk di sisi tempat tidur. Ia tidak berani naik karena Shandra sedang tidak memakai sehelai kain pun di tubuhnya.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya John sambil melihat jam di tangannya.
Shandra merespon pertanyaan John dengan mengangukkan kepala.
__ADS_1
"Sepuluh menit lagi. Tolong jangan berteriak atau melakukan tindakan yang aneh untuk mencegah apa yang akan aku lakukan. Ok?"
Shandra kembali mengangguk.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Biasanya setelah mengetuk pintu, mereka yang akan menjemput kain darah perawan akan menunggu selama tujuh menit.
Shandra segera meraih pisau yang ada di nakas samping tempat tidur untuk memotong pergelangan tangannya. Belum sempat ia menggerakkan pisau, John sudah memukul tangan Shandra hingga pisau yang dipegangnya terpental.
John dengan gesit memotong lengannya dan menadah darahnya dengan kain putih yang sudah disiapkan. Dengan gesit ia segera membalut luka dilengannya dan segera memakai bajunya tidurnya.
John kemudian memungut pisau yang tadi sempat jatuh dan memasukkannya ke dalam laci dengan pisau yang baru saja dipakainya. Ia juga dengan gesit meletakkan kain yang berisi darah itu diatas meja.
Ketika mendengar bunyi pintu dibuka, John dengan gesit masuk ke dalam bedcover yang dipakai Shandra untuk menutupi tubuhnya dan dengan lembut mengecup bibir Shandra.
Shandra hampir tidak bisa bernapas karena kelakuan John. Ingin ia menghajar John, tetapi kakek dan papanya serta Alaric Bruno dan kepala pelayan sudah berada di kamar.
"Jangan takut sayang. Aku hanya akan menciummu. Kamu tidak ingin kita dicambuk kan?" Bisik John dengan lembut dan kembali memperdalam ciumannya.
Shandra yang baru pertama kali merasakan hal itu merasakan tubuhnya panas dingin. Walaupun tubuhnya benar-benar tidak menolak hal itu, namun ia merasa belum siap untuk melakukannya.
"Ayo keluar! Jangan ganggu mereka. Biarkan mereka bersenang-senang. Pelayan akan mengantarkan sarapan untuk mereka. Jangan lupa bawa kain itu." Kata Andre Dalmiro lalu bergegas keluar diikuti oleh yang lain.
Shandra segera mendorong kepala John dan melepaskan batuknya ketika ia mendengar bunyi pintu tertutup.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍