
Hidup memang adalah sebuah pilihan. Tetapi alangkah baiknya apapun yang akan kita pilih untuk dijalani tidak merugikan orang lain, apalagi sampai harus menyesatkan sebuah golongan atau sekelompok orang. Sebagian orang mungkin memilih mengikuti langkah kita karena ingin bersenang-senang, tetapi mungkin ada sebagian yang melakukannya karena terpaksa. Pilihlah jalan yang benar karena hidup itu terlalu singkat untuk dihabiskan dengan cara yang salah.
Eda Sally
*****
Shandra dan John saling berpandangan kemudian segera melompat dan mencari tempat persembunyian. Bagaimana tidak? Karena itu adalah sebuah aula panjang dengan banyak tempat tidur yang berjejer untuk melakukan pesta **** milik Espen.
Semua wanita yang tidak memakai busana di dalam aula itu berteriak-teriak sambil berhamburan keluar. Sementara para pria yang tidak memakai sehelai benang pun termasuk Espen, segera mengokang senjata dan mencari keberadaan John dan Shandra.
"Aku tidak percaya ada tempat seperti ini." Ujar Shandra dengan tatapan tajam.
John segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Shandra agar jangan berbicara, karena hiruk pikuk orang-orang itu sudah berhenti, musik yang tadi memekakkan di telinga juga sudah dimatikan.
Keheningan menjalar di sekitar ruangan itu dibarengi dengan Espen dan orang-orang yang sibuk mencari keberadaan John dan Shandra.
John dan Shandra saling merapatkan tubuh dan bersembunyi di balik loker panjang yang di duga sebagai tempat orang-orang itu menaruh bajunya.
"Jangan beri ampun kepada siapa pun." Ujar Shandra dengan tatapan sungguh-sungguh yang ditanggapi dengan anggukkan kepala oleh John.
"Ada langkah orang mendekat kemari. Bersiaplah! Bisik John kepada Shandra kemudian mengecup bibir mungil itu dengan lembut.
Setelah itu, keduanya langsung siaga dengan saling membelakangi dan masing-masing tangannya memegang sepucuk senjata.
Tiba-tiba salah satu dari para pria itu mendekat ke loker dimana Shandra dan John bersembunyi. Dengan sigap John langsung membekap mulutnya dan memutar lehernya. Orang itu langsung tewas seketika.
John menahan tubuhnya dan pelan-pelan meletakkannya di lantai. Sementara Shandra tidak terganggu sama sekali. Matanya tetap awas menatap ke depan.
Salah satu dari orang-orang itu melihat ujung kaki temannya di balik loker, segera memberikan isyarat kepada yang lainnya untuk mengepung Shandra dan John.
Setelah itu, mereka mengangkat senjata dan berjalan ke belakang loker tempat Shandra dan John bersembunyi.
"Are you ready honey?" Tanya john kepada Shandra.
"Hmmm!" Jawab Shandra singkat.
__ADS_1
Setiap yang muncul di balik loker tidak lepas dari peluru Shandra dan John yang langsung bersarang di dahi atau dada, yang membuat beberapa dari mereka tidak berani maju.
Shandra memberi isyarat kepada John agar berjalan maju dan menyerang secara terang-terangan.
Shandra agak risih karena sejak tadi pria-pria yang mereka serang tidak memakai sehelai benang pun. Namun emosinya dan rasa geramnya terhadap Espen membuat ia ingin menghabisi Espen dengan tangannya sendiri.
Ketika Shandra baru akan melongokkan kepalanya, nampak dua orang yang sudah bersiaga di balik loker langsung menyerangnya tanpa senjata.
Shandra merinding ketika ia harus menghajar pria-pria itu yang tidak memakai baju sama sekali. Karena semuanya dalam keadaan telanjang, maka Shandra memiliki kesenpatan untuk menyerang mereka tepat di alat vitalnya.
Sementara John juga melakukan hal yang sama seperti Shandra. Dan karena tendangan John yang selalu mendatangkan maut, maka ia lebih cepat menyelesaikan lawannya dibanding Shandra.
John segera berlari ke arah Shandra dan menarik Shandra untuk berdiri di belakang. Masih ada 16 pria termasuk Espen yang masih harus dihadapi John.
"Kamu berjaga di belakangku. Biar aku yang menghadapi mereka." Ujar John sambil menarik Shandra. Shandra merasa lega saat John datang untuk menangani pria-pria itu.
Aku jijik melihat mereka tanpa busana seperti ini. Mana tubuh mereka bau lagi. Shandra.
John segera menghajar orang-orang itu tanpa ampun. Ia menendang mereka di leher dan alat vital, yang membuat mereka tumbang tak berdaya.
"Aku akan membuatmu membalas apa yang baru saja kau lakukan. Berani sekali kau menyerangku di rumahku sendiri." Ujar Espen sambil berjalan maju dengan menggandeng seorang wanita yang tidak memakai busana sama sekali.
"Aku akan memberikanmu contoh cara memuaskan wanita dengan cara yang benar, karena sebentar lagi kau harus melayani wanita-wanita di sini dan istrimu itu khusus untuk melayaniku." Kata Espen sambil menidurkan wanita itu di lantai dan memuaskan hasratnya di saksikan oleh Shandra dan John.
Shandra dan John bergerak secara serentak dengan berlari ke arah Espen untuk menghajar Espen karena kelakuannya itu. Shandra ingin menghajar pria itu dengan tangannya. Karena itu, ia tidak menembaknya.
Namun, saat mereka menjejakkan kaki mereka di sebuah lingkaran keramik yang berwarna merah, tubuh keduanya langsung merosot turun seperti sedang berada dalam lift.
"Sampai bertemu di pesta yang akan aku selenggarakan." Teriak Espen dari atas.
Tubuh mereka terus turun bersama lantai yang seolah turun bersama mereka hingga akhirnya lantai itu berhenti bergerak, dan di depan mereka, terbukalah sebuah pintu.
Untuk sesaat, Shandra dan John ragu-ragu untuk keluar.
"Jangan dulu keluar. Siapa tahu ini adalah sebuah jebakan. Jadi sebaiknya kita tetap berada di sini." Ujar Shandra memperingatkan John ketika John akan menarik tangannya untuk keluar.
__ADS_1
"Tetapi akan lebih berbahaya lagi jika kita tetap berada di sini. Kita harus keluar untuk mencari jalan keluar. Lagi pula kita bisa melawan jika berada di tempat yang luas." Bantah John.
Shandra manggut-manggut mendengar perkataan John. Tanpa pertimbangan lagi, mereka langsung melangkah keluar dari pintu yang masih terbuka itu.
Tepat ketika tubuh mereka sudah berada di luar, pintu yang tadi terbuka langsung tertutup dengan cepat secara ototmatis.
Shandra dan John saling berpandangan melihat sebuah ruangan yang lebih mirip gudang. Hanya ada beberapa kursi dan dua buah meja, ditambah lagi dengan tali dan dua buah kotak besar yang entah apa isinya.
"Sepertinya ini gudang eksekusi. Kita harus hati-hati. Karena laki-laki sialan itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang jahat terhadap kita." Ujar John.
"Ayo cari jalan keluar! Balas Shandra.
Shandra dan John mengelilingi ruang kecil itu sambil meraba-raba dan mengetuk dinding untuk mencari pintu. Namun, semuanya terlihat seperti tembok tanpa pintu sama sekali.
Shandra menyerah dan berdiri sambil menaruh jari telunjuknya di dahi sambil memikirkan jalan keluarnya. Sementara John masih berupaya dengan terus mengetukkan tangannya ke tembok itu untuk mencari tahu apakah ada pintu atau tidak.
Tiba-tiba, Shandra memicingkan matanya dan berjalan ke arah John.
"Sepertinya pintu tadi kita keluar adalah pintu satu-satunya. Untuk keluar, kita harus kembali melalui lift buatan Espen itu." Ujar Shandra sambil berjalan dan mendekat ke arah pintu yang masih tertutup rapat itu.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
πππππ
__ADS_1
Mampir juga ke Novelku PERJALANAN PANJANG WANITA TANGGUHπ