Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
25. Memenuhi Janji


__ADS_3

Sebagian orang mengatakan bahwa janji adalah hutang. Karena itu jika kamu telah berjanji pada seseorang untuk melakukan sesuatu, penuhilah janjimu, karena dengan demikian, kamu membuktikan bahwa kamu telah mengendalikan dirimu sendiri dengan baik tanpa harus dipaksa oleh siapapun.


Eda Sally


*****


Setelah menyelesaikan misi dengan berduel di depan orang yang sangat dihormatinya, Shandra memenuhi janjinya dan bersedia dinner berdua dengan John Bruno.


Tentu saja ini kesempatan langka yang ditunggu oleh John Bruno, karena pada akhirnya apa yang ada dalam angannya selama ini akan terwujud.


John tidak puas dengan penampilannya dan terus saja mengamati bayangannya dalam cermin dan memperhatikan setiap inci tubuhnya untuk memastikan kalau penampilannya sudah sempurna.


Setelah yakin bahwa semua sudah sesuai dengan yang ia inginkan, John segera keluar dan langsung menuju mobilnya. Alaric Bruno hanya tersenyum melihat putranya berjalan menuju mobilnya. Ingin ia mengantar putranya, tetapi ia cukup tahu diri untuk tidak merusak suasana hati putranya.


John melajukan mobil dengan cukup kencang karena ingin cepat sampai restorant yang sudah ia pesan.


Untung sudah di booking dari kemarin. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengurusnya lagi.


Setelah sampai, John segera berjalan menuju ruang VIP dimana ia akan makan bersama Shandra. Ketika ia baru saja duduk, ia melihat Shandra berjalan ke arahnya.


"Apakah aku terlambat?"


"Ahmm, tidak! Aku juga baru saja sampai. Silahkan duduk." John mempersilahkan Shandra dengan sopan


"Ok. Terima kasih."


John kemudian menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Shandra.


"Apa kamu baik-baik saja? Aku mohon maaf atas duel yang terjadi kemarin. Maafkan aku jika telah menyakitimu."


"Iya! Aku baik-baik saja! Tidak masalah. Itu sudah biasa terjadi."


"Terima kasih. Aku tidak tega saat harus menyerangmu. Tapi jika aku tidak melakukannya, aku akan kehilangan kesempatan untuk dekat denganmu. Dan aku tidak menginginkan itu."


"Aku paham! Shandra menarik ujung bibirnya untuk tersenyum walaupun sangat susah untuk membentuk sebuah senyum karena wajah datarnya.


"Terima kasih."


Mereka menikmati makanan yang ada sambil terus mengobrol. Setelah selesai makan, John tidak menahan hatinya lagi untuk menunjukkan pada Shandra kejutan yang sudah ia siapkan untuknya.


"Sebelumnya mohon maaf. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Aku harap kamu tidak keberatan."


"Apa itu!"


"Boleh aku memegang tanganmu?"

__ADS_1


Shandra terlihat berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepala. John segera memegang tangan Shandra dan membawanya berjalan ke ruangan sebelah.


"Kita mau kemana?"


"Ikut saja. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."


Setelah sampai, John perlahan membuka pintu dan terlihat pemandangan yang sangat indah di depan mereka. Shandra kaget dengan apa yang ia lihat.


Nampak di depannya entah berapa ribu lilin yang menyala bertuliskan kata I Love You dan bunga-bunga cantik yang bertuliskan namanya. Ia bingung harus berkata apa.


Karena terbiasa dengan sifat kakunya, ekpspresi Shandra walaupun kaget tetap terlihat datar. Belum hilang rasa kagetnya, ia telah melihat John berlutut dihadapannya.


"A...apa yang kamu lakukan?"


John tidak menjawab pertanyaan Shandra. Ia malah membuka sebuah kotak cincin dan mengangkatnya di depan Shandra kemudian menatap Shandra dengan tatapan yang sangat mesra.


"Maukah kamu menerimaku menjadi kekasihmu?"


Shandra bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak terlalu paham dengan hal-hal yang berbau romantis seperti itu. Karena itu ia bingung harus menjawab apa dan memulainya darimana.


Karena John melihat bahwa Shandra hanya diam dalam kebingungan, akhirnya ia yang mengambil alih untuk berbicara lagi.


"Jika kamu belum bisa menjawabnya, izinkan aku menjadi orang yang senantiasa ada di sampingmu kapan saja dan dimana saja jika aku rindu."


Shandra nampak menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. Ia tidak terlalu suka dengan hal-hal puitis berbau melankolis.


John menurut dan bangun kemudian berdiri berhadapan dengan Shandra.


"Aku tidak keberatan jika kamu ingin bertemu denganku. Tapi harus sesuai dengan jadwalku, dan tidak bisa bebas, dimana dan kapan saja sesuai dengan permintaanmu."


"Kenapa tidak bisa?" Tanya John dengan heran.


Shandra berhenti dan menarik napas sebentar kemudian melanjutkan lagi.


"Pertama, aku tidak mau di setiap pertemuan kita ada kontak fisik, dalam hal ini saling berpegangan tangan dan lain-lain. Terus terang aku kurang suka dengan hal-hal seperti itu."


"Kedua, kamu hanya boleh menghubungiku via telepon pada jam istirahat dan setelah aku pulang kantor."


"Baiklah. Jika demikian, izinkan aku memakaikan cincin ini di jarimu."


"Taruhlah di tanganku, dan aku akan memakainya sendiri. Apa kamu lupa poin pertama untuk tidak ada kontak fisik?"


Yah! Padahal sengaja memasang cincin biar bisa pegang tangannya tapi malah ditolak.


"Oh! Sorry! Aku pikir belum berlaku malam ini." Kata John sambil meletakkan cincin tersebut di tangan Shandra.

__ADS_1


"Siapa bilang? Aturannya sudah mulai berlalu sejak kata-kata itu keluar dari mulutku."


"Okelah. Aku akan ikut apa yang kamu inginkan, asalkan aku bisa bertemu dan mengobrol berdua denganmu."


Shandra mengangguk dan tersenyum ketika John Bruno mengatakan hal itu. Ia kemudian memakai cincin yang diberikan John kepadanya.


Ya Tuhan! Senyumnya manis sekali. Bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak memeluknya? Tolong kuatkan aku ya Tuhan. Jangan sampai aku melakukan hal konyol dan merusak suasana indah tak romantis ini.


John Bruno harus mengatakan suasana indah tak romantis karena ia sudah susah payah memberikan cincin tapi tidak diberi kesempatan untuk menyematkan cincin itu di jari manis sang pujaan hati. Lalu Bagaimana mau di bilang romantis?


"Apakah kamu suka dengan kejutan yang aku berikan?"


"Aku suka. Sangat suka. Tapi lain kali jangan mengeluarkan uang untuk hal yang tidak penting seperti ini."


Hah? Tidak penting? Kalau wanita lain akan terharu dan bahkan menangis sampai berdarah karena aku seromantis ini. Sementara gadisku mengatakan bahwa ini hal yang tidak penting dan buang-buang uang. Oh God!


"Ahm! Baiklah. Aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi."


"Ok. Jika sudah selesai, aku akan pulang."


"Hah? Pulang? Kenapa harus secepat ini?"


"Cepat kamu bilang? Ini sudah dua jam. Dua jam itu menurutku waktu yang sangat lama hanya untuk sebuah makan malam."


"Ok. Kalau begitu kita pulang sekarang. Maafkan aku jika terlalu lama dan membuatmu kesal."


"Tidak. Aku tidak kesal. Aku hanya menghargai waktu karena tidak ingin waktu terbuang dengan percuma hanya untuk obrolan ringan yang tidak bermanfaat."


"Kalau begitu, lain kali jika akan bertemu, kamu yang menentukan tempat dan durasi waktu sehingga aku tidak membuatmu merasa membuang-buang waktu."


"Baik tuan Bruno. Terima kasih atas pengertiannya."


Shandra menjawab dengan bahasa yang sangat formal. Hal ini membuat John Bruno hampir gila.


Apa dia pikir aku rekan bisnisnya sehingga ia berbicara dengan sangat formal? Ini pacaran atau bertemu klien? Aku sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini. Apa dia tidak pernah paham bagaimana orang berpacaran?


Bersambung


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍


__ADS_2