
Kadang kita harus mengalah demi sebuah kebaikan. Mengalah bukan berarti kalah, karena kitalah pemenang yang sesungguhnya. Jika dengan mengalah dapat mengubah sebuah keadaan menjadi lebih baik, maka lakukanlah! Karena kesempatan untuk menjadi lebih baik ditentukan oleh seberapa cepat kita memberikan respon dalam menanggapi sebuah persoalan.
Eda Sally
*****
Shandra menahan amarahnya karena kejadian yang baru saja terjadi. Ia memilih pergi ke pinggir kolam dan duduk di situ. John mengejarnya dengan napas terengah-engah.
John bingung harus memulai dari mana untuk meminta maaf kepada sang istri. Ia hanya berdiri dan menatap Shandra dengan tatapan bersalah tanpa mengatakan apapun.
Shandra tidak mempedulikan John dan duduk dengan angkuhnya sambil melipat kedua tangan di dada. Jangan lupa! Wajah angkernya terlihat sangat kentara.
Walaupun aku bisa melakukan banyak hal, tetapi di depan wanitaku ini aku benar-benar mati kutu dan tidak berdaya. John.
John membiarkan Shandra untuk menenangkan hatinya. Ia berjalan dan duduk di samping Shandra tanpa mengatakan apapun.
"Jangan pernah ada di dekatku jika aku sedang marah. Aku paling tidak suka diganggu saat sedang marah. Tolong tinggalkan aku sendiri." Ujar Shandra ketika beberapa saat terdiam.
"Aku tidak akan pergi. Tolong maafkan aku." Jawab John dengan cepat sambil mencoba meraih tangan Shandra.
Shandra segera berdiri yang diikuti oleh John. Ia berjalan meninggalkan John begitu saja. John hanya mampu mengekor dari belakang tanpa mengatakan apapun.
Setelah sampai di kamar, Shandra segera naik ke tempat tidur dan tidur begitu saja.
John berinisiatif untuk naik mengikuti Shandra, tetapi Shandra segera mencegahnya.
"Tolong jangan ganggu aku. Aku ingin sendiri untuk sementara waktu." Ujar Shandra.
John segera menghentikan langkahnya dan berjalan menuju sofa kemudian membuang dirinya dengan kasar. Ia duduk dan hanya mampu menatap tubuh sang istri yang tidur tanpa beban seperti tidak ada orang.
Jadi beginikah seorang wanita jika ia sedang marah? Bagaimana aku harus membujuknya? Ah, kepalaku sakit memikirkannya. Jika ia marah seperti ini, bagaimana aku akan memeluk dan menciumnya? John.
Shandra tertidur hampir dua jam. Setelah itu, ia bangun dan tatapannya langsung tertuju pada John yang dengan setia menatapnya.
Aku ingin tertawa melihat wajahnya yang memelas seperti itu, tetapi aku akan mengerjainya terlebih dahulu. Aku ingin melihat sejauh mana ia berusaha untuk menaklukkanku. Shandra.
"Sayang, tolong maafkan aku. Aku mohon. Jangan diamkan aku seperti ini. Kamu boleh menghajarku, itu lebih baik. Tetapi jangan mendiamkanku seperti ini. Kamu membuatku tersiksa dengan keadaan seperti ini."
"Aku minta tolong, maafkan aku." Ujar John sambil berdiri dan berjalan ke arah Shandra.
__ADS_1
"Stop! Jangan mendekatiku atau aku akan keluar. Aku masih ingin sendiri. Jangan ganggu aku." Ujar Shandra sambil turun dan berjalan ke kamar mandi.
John mematung di tempatnya mendengar perkataan sang istri. Untuk sesaat ia hanya diam tanpa melakukan apapun.
John masih berdiri di tempatnya ketika Shandra keluar dari kamar mandi. Shandra tertegun menatap John yang masih berdiri di tempatnya.
"Duduklah, John! Sampai kapan kamu akan berdiri seperti itu terus?" Tegur Shandra pada John.
"Sampai wanita yang sangat aku cintai ini memaafkan aku dan mengizinkan aku memeluknya agar rasa bersalahku berkurang." Jawab John dengan semangat ketika Shandra mau berbicara dengannya.
Shandra tidak menanggapi perkataan John. Ia berjalan menuju tempat tidur dan naik kemudian menarik kain dan tidur lagi.
John masih mematung. Kali ini ia memberanikan diri jalan ke tempat tidur dan duduk di sisi tempat tidur.
"Bangunlah! Aku ingin kita berbicara. Jangan seperti ini terus. Aku tidak bisa jika harus seperti ini." Ujar John setelah beberapa saat terdiam.
Shandra bangun dan menatap John sangat lama. Ia merasa kasihan melihat John seperti itu.
"Bicaralah! Aku akan mendengar!" Ujar Shandra pada akhirnya.
"Terima kasih sayang! Aku mencintaimu."
"Kamu harus melihat suasana sebelum marah. Aku sangat tidak suka jika kamu memarahi aku di depan orang lain. Aku adalah istrimu. Tidak pantas kamu melakukan hal seperti itu kepadaku."
"Jika kamu belum sah sebagai suamiku, maka tadi kamu sudah babak belur. Aku harap kamu tidak mengulangi hal itu lagi." Jawab Shandra.
"Maafkan aku sayang. Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku sangat menyesal. Maafkan aku." Ujar John sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Shandra.
"Berhentilah menggunakan kata maaf di depanku, karena dalam hidupku, aku benci kata maaf. Karena maaf kadang hanya digunakan orang sebagai topeng untuk melindungi kesalahannya, dan aku tidak suka." Tegas Shandra.
"Aku mengatakannya dengan tulus. Tolong jangan memikirkan yang tidak-tidak terhadapku. Aku tersiksa jika kamu seperti ini. Kamu tahu, aku sudah mencintaimu jauh sebelum kamu mengetahuinya."
"Hmmm! Jangan terlalu banyak membicarakan cinta denganku. Aku pusing mendengarnya." Ujar Shandra.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku?" Tanya John dengan penasaran.
"Tidak ada yang perlu kamu lakukan. Kamu hanya perlu diam dan tidak menggangguku selagi aku tidak ingin diganggu." Jawab Shandra enteng.
"Hah? Itu sama saja dengan kamu tidak memaafkanku." Protes John.
__ADS_1
"Dan itu caraku memberi maaf, jadi jangan protes dan jangan ganggu aku. Aku mau tidur.!" Jawab Shandra sambil menarik kain dan menutupi tubuhnya.
John tidak lagi peduli. Dengan sekuat tenaga ia mencengkram tubuh Shandra dan memeluknya dengan erat hingga Shandra sesak napas dibuatnya.
Dia mau apa sebenarnya. Aku sedang tidak ingin melayani keinginannya. Aku harus mengerjainya agar ia jangan menyentuhku. Shandra
Shandra segera mendorong tubuh John dengan sangat kuat, yang membuat John hampir terlempar. Untung ia memeluk tubuh Shandra dengan kuat.
"Jika kamu ingin aku memaafkanmu, kamu harus mengikuti syarat yang aku ajukan." Tawar Shandra saat ia sudah kehabisan napas karena John menindihnya.
"Katakan dengan cepat. Apapun akan aku lakukan agar kamu tidak marah lagi padaku." Jawab John.
"Apa kamu yakin mau melakukan apapun yang aku katakan?" Tanya Shandra.
"Iya! Katakanlah! Aku akan melakukannya." Balas John dengan cepat.
"Kamu tidak boleh tidur atau dekat denganku selama 24 jam." Ujar Shandra pada akhirnya.
"Hah? Kenapa syaratnya harus seperti itu? Aku tidak setuju. Aku tidak suka syarat itu." Jawab John dengan cepat dan melonggarkan pelukannya.
"Dan hanya itu satu-satunya syarat yang aku ajukan, jadi kamu harus setuju. Jika tidak, maka maafku tidak akan berlaku bagimu." Jawab Shandra dengan tegas.
John tidak lagi peduli dengan benteng yang coba dibuat istrinya itu. Ia langsung menerjang Shandra dengan ciuman.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1