Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
50. Runtuhnya Rumah Terkutuk


__ADS_3

Rumah adalah tempat paling nyaman untuk beristirahat dari segala aktifitas kita. Karena itu, jadikan rumah sebagai tempat yang membuat anggota keluarga selalu rindu untuk pulang. Karena jika rumah tak lagi menjadi tempat yang nyaman, maka semegah apapun bangunannya, ia sama sekali tidak berguna.


Eda Sally


*****


"Terima kasih, John! Kerja yang bagus." Puji Shandra ketika ia melihat tiga peluru bersarang di dada Espen.


"Kenapa tidak panggil sayang lagi?" Protes John karena baru beberapa saat yang lalu Shandra memanggilnya dengan panggilan sayang dan itu membuatnya senang.


"Jangan berlebihan, John!" Tegas Shandra pada John.


Hmmmmm! Kambuh lagi sifat dinginnya. Sabar John.


Setelah melihat tubuh Espen lemah tak berdaya, Shandra segera mencari suatu barang yang ia perlukan. Ia mengobrak-abrik meja yang berisi barang-barang Espen. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Shandra menyunggingkan senyum di bibirnya dan berjalan ke arah John.


"Ayo pulang!" pinta Shandra pada John.


"Bagaimana dengan mayat Espen honey?" Tanya John.


"Kau akan tahu setelah kita berada di luar. Sekarang kita harus segera keluar dari ruangan terkutuk ini." Jawab Shandra sambil menarik tangan John ke arah pintu.


Dengan cekatan Shandra menekan tombol untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, keduanya langsung masuk dan segera menuju ke lantai atas.


Saat tiba di lantai atas, Shandra dan John membuang napas dengan kasar ketika melihat enam orang pria sudah menyambut mereka dengan tatapan kebencian.


"Dimana tuan Espen!" Tanya salah satu dari ke enam orang itu.


"Masih merasakan sisa-sisa kenikmatan yang aku berikan sehingga ia masih terkulai dibawah." Jawab Shandra tanpa dosa.


"Kau pikir aku tidak melihat kelakuanmu di cctv?" Tanya orang itu dengan sinis.


"Jika sudah tahu kenapa bertanya? Kau membuang-buang waktuku saja." Ujar Shandra dan langsung menghajar orang itu tanpa ampun.


John yang melihat Shandra menghajar orang itu, langsung menyerang dengan jurus mematikan andalannya ke arah lima orang itu.


"Kau selesaikan mereka dan nanti cepat temui aku di depan. Aku akan mengurus sesuatu di bawah. Waktumu hanya lima menit untuk mereka berlima." Ujar Shandra sambil berlari keluar dari ruangan itu.


Shandra segera turun ke lantai satu dan mencari keberadaan para pelayan di rumah itu.


"Cepat kumpulkan semua yang bekerja di rumah ini dalam waktu dua menit.! Perintah Shandra kepada seorang wanita yang ia temui di dapur.

__ADS_1


"Baik nona!" Jawab wanita itu dengan suara bergetar karena takut.


Ia segera memanggil teman-temannya yang bersama-sama menjadi pengurus rumah Espen.


"Apakah kalian semua yang menjadi pengurus rumah di sini?" Tanya Shandra sambil menghitung mereka semuanya dan tahu bahwa mereka berjumlah dua belas orang.


"Iya nona." Jawab wanita yang tadi karena ia yang terlihat paling tua diantara mereka.


"Segera kemasi barang berharga kalian dan tinggalkan rumah ini dalam waktu lima menit, karena tuan Espen sudah meninggal dan tidak ada lagi yang akan membayar gaji kalian." Ujar Shandra dengan tegas.


"Hah? Tuan Espen meninggal?" Tanya wanita itu.


"Cepat laksanakan apa yang aku perintahkan jika masih ingin hidup. Lakukan sebelum kesabaranku habis dan kemudian membunuh kalian juga. Aku membenci orang yang terlalu banyak bertanya!" Ancam Shandra.


Para pelayan itu segera berlari ke kamar mereka untuk berkemas begitu mendengar apa yang dikatakan Shandra.


"Ayo pergi sayang!" Ujar John yang tiba-tiba sudah muncul.


"Hmmmm! Cepat juga." Puji Shandra pada John.


John tidak menanggapi perkataan Shandra. Ia segera memeluk tubuh mungil itu dan mencium bibirnya dengan lembut.


Mereka segera keluar dan berdiri di depan pintu sambil menunggu para pelayan Espen. Tak lama kemudian pelayan-pelayan itu muncul dengan wajah pucat.


"Carilah pekerjaan di tempat lain. Jangan lagi bekerja dengan manusia jahat seperti tuan kalian yang sudah berangkat mendahului kita semua ke neraka." Ujar Shandra


"Kalian boleh pergi sekarang." Ujar Shandra lebih lanjut.


Para pelayan itu segera berlari menuju pintu gerbang dan masih berdiam di sana untuk melihat apa yang akan dilakukan Shandra.


"Bantu aku keluarkan sedikit bahak bakar dari mobil ini." Pinta Shandra pada John.


John segera melakukan apa yang diminta Shandra. Setelah selesai ia menyerahkan bahan bakar itu kepada Shandra.


"Kamu cepat keluarkan mobil yang tadi kita pakai ke depan gerbang dan tunggu aku di sana." Pinta Shandra.


"Lalu bagaimana dengan kamu? Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian." Tolak John.


"Aku akan segera ke sana setelah menyelesaikan tugasku. Cepat John!" Tegas Shandra.


John segera berlari ke arah mobil dan mengemudikan mobil itu leluar pintu gerbang. Sementara para pelayan Espen masih berdiri menatap dengan kaku dan rasa ingin tahu tentang apa yang akan dilakukan Shandra.

__ADS_1


Shandra segera menyiram bahan bakar yang tadi diambil John kemudian menyulut api dan segera membuangnya ke bahan bakar yang tadi di siramnya.


Api segera menjalar dengan cepat. Shandra yang melihat hal itu segera berlari ke arah pintu gerbang.


"Tunggu apa lagi. Cepat pergi dari sini. Apa kalian ingin mati terbakar juga?" Hardik Shandra kepada para pelayan Espen yang masih menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Shandra.


Para pelayan itu langsung berlari dengan tergesa-gesa dan mencari taksi begitu melihat api mulai menjalar ke seluruh bangunan itu.


Shandra menaiki mobil yang dibawa John. John segera menancap gas dan melarikan mobil dengan kencang begitu Shandra sudah duduk dengan sempurna.


"Cepat cari tempat yang sepi dan parkirkan mobil ini kemudian kita pulang ke hotel dengan memakai taksi." Ujar Shandra.


"Kenapa harus memakai taksi lagi? Kita harus cepat sampai ke hotel." Protes John.


"Kau ingin polisi menangkap kita karena mobil ini? Mobil ini milik Espen. Polisi pasti mengusut kematian Espen dan rumahnya yang terbakar itu. Jika mereka menemukan mobil ini di hotel, kita akan menjadi tersangka. Aku tidak mau menghabiskan bulan madu kita di penjara." Shandra menjelaskan panjang lebar.


"Ok! Aku paham." Jawab John.


Begitu melihat tempat yang sepi, John segera memarkirkan mobil itu. Shandra dengan gesit membersihkan sidik jari mereka di mobil itu untuk menghilangkan jejak. Setelah itu mereka berjalan kira-kira 200 meter dan menunggu taksi.


Tak lama kemudian sebuah taksi datang dan keduanya pun menumpang.


John segera memeluk Shandra dengan erat dan mendaratkan banyak kecupan di wajah Shandra begitu mereka telah berada dalam taksi. Sopir taksi yang melihat kelakuan mereka, nampak acuh dan bernyanyi sepanjang jalan.


"Tolong berhenti menyakiti telingaku tuan dengan suara falsmu itu." Tegur Shandra pada driver.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2