
Jangan pernah sia-siakan masa muda. Kejar dan kerjakan apa yang engkau inginkan di dalam hatimu, karena saat usiamu semakin bertambah, kamu akan mulai kehilangan kesempatan untuk semakin mendapatkan banyak hal baik. Jangan pernah membuang waktumu hanya demi sesuatu hal yang tidak berguna.
Eda Sally
*****
Andre Dalmiro menyuruh Shandra untuk istirahat selama dua minggu dan tidak masuk kantor pasca pernikahannya. Ia memberikan waktu kepada Shandra dan John untuk menikmati kebersamaan mereka sebagai suami istri.
Bahkan Andre Dalmiro juga telah membelikan tiket untuk cucunya bersama suaminya itu. Mereka hanya dua hari saja beristirahat di rumah karena setelahnya mereka sudah menuju ke Amsterdam untuk bulan madu mereka.
Sampai saat ini, John belum mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun dengan adanya bulan madu, John berharap keinginannya segera terkabul.
"Selamat pagi sayang." Sapa John ketika Shandra membuka mata. Ia sedang menopang tangan sambil tak puas-puasnya memandang wajah Shandra.
"Pagi." Jawab Shandra dengan suara malas.
Mereka tiba di Hotel saat subuh sehingga mereka tidur begitu saja. John sendiri melupakan keinginannya untuk menuntut haknya sebagai seorang suami. Ia tidak ingin mengganggu Shandra, karena liburan mereka di negeri Kincir Angin itu masih satu minggu lagi. Mereka menginap di Leonardo Hotel yang merupakan salah satu hotel dari sepuluh hotel termewah di Amsterdam.
Shandra segera turun dari tempat tidur dan langsung mandi. Ia sengaja kabur untuk menghindari tatapan John yang penuh keinginan itu.
Selesai mandi, Shandra langsung duduk di sofa sambil melihat menu sarapan pagi. John yang sudah selesai mandi sejak tadi, turun dari tempat tidur dan duduk di samping Shandra.
"Sayang, bisakah kau menolongku?" Pinta John.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Shandra balik bertanya sambil menatap bingung ke arah John.
"Aku mau minta tolong membersihkan lukaku yang hampir sembuh. Jangan dibalut lagi. Aku tidak nyaman." Ujar John dengan jujur.
"jika kamu sudah lapar, pesanlah sarapan dulu. Lukaku nanti saja baru dibersihkan." Sambung John.
"Aku belum lapar, John. Aku hanya melihat-lihat saja." Jawab Shandra sambil bangkit dan mengambil kotak obat yang dibawanya.
Dengan hati-hati Shandra membuka perban di lengan John dan membersihkan lukanya kemudian dibalut lagi dengan perban yang baru.
"Tidak usah diperban lagi, sayang!" Pinta John.
" Lukanya masih sedikit basah jadi harus diperban. Jika tidak akan menyebabkan infeksi. Apa kamu ingin lukamu lama baru sembuh?" Tanya shandra sambil membereskan kotak obat dan menaruhnya di meja.
Ketika ia membalikkan wajahnya, John yang sedang memajukan wajahnya langsung mengenai wajah Shandra. Bibir mereka saling bersentuhan.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan lagi, John langsung menahan tengkuk Shandra dan memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan satunya memeluk pinggang Shandra.
__ADS_1
Napas Shandra turun naik karena ulah John. Ia tidak berusaha melepaskan pelukan John. Shandra pasrah dengan apa yang dilakukan John.
"Apa aku boleh melakukannya sekarang?" Tanya John di sela-sela ciumannya.
Shandra diam tidak menanggapi perkatan John. Ia merasa tidak sanggup mengeluarkan suara karena ciuman John membuatnya sesak napas.
"Diam tanda setuju." Kata John sambil melanjutkan ciumannya. Dengan lembut ia menggendong Shandra menuju tempat tidur.
Kali ini tidak hanya bibir John yang bergerilya tetapi kedua tangannya juga tidak kalah gesit dengan bibirnya.
Shandra tidak berusaha menolak perlakuan John padanya. Dengan lembut dan secara perlahan, John memperdalam apa yang dilakukan dengan bibirnya dan tangan satunya sibuk melepas pakaian Shandra satu persatu.
Shandra yang sudah terbuai dengan perlakuan John, tidak mencegah apa yang dilakukan John. Sensasi yang diberikan John membuat Shandra pasrah, bahkan terkesan menginginkan apa yang dilakukan John.
"John, stop!." Ujar Shandra ketika John akan menyatukan tubuh mereka.
"Kenapa sayang? Please! Jangan membuatku tersiska seperti ini." Jawab John yang juga sudah tidak mengenakan sehelai kain pun di badannya.
"Aku takut, John!"
"Apa yang kamu takutkan sayang? Aku suamimu." Kata John memberi penegasan.
"Iya! Apa yang harus aku janjikan padamu?" Tanya John.
"Pertama, berjanjilah untuk tidak mengkhianatiku."
"Kedua, lakukan dengan perlahan. Aku takut sakit. Ini pasti beda dengan rasa sakit yang aku alami dalam beladiri. Jadi, jangan membuatku marah dan menghajarmu di nuansa yang kamu inginkan ini."
"Hei! Aku sudah menanti sangat lama untuk menikahimu. Kamu satu-satunya wanita yang membuatku jatuh cinta, dan aku akan selalu mencintaimu."
"Aku juga akan melakukannya dengan hati-hati karena ini juga pertama kalinya bagiku. Tolong jangan membuatku gugup sayang." Ujar John sambil kembali mencium Shandra untuk membangkitkan kembali hasrat keduanya.
Shandra memejamkan matanya ketika John memperdalam ciumannya. Tangan John juga sudah mulai beraktifitas di area lainnya. Shandra sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan suaranya agar tidak sampai keluar akibat sensasi yang diberikan John saat ini.
Ketika tangan John masih dengan santainya bermain di area yang membuat Shandra setengah mati menahan suaranya, John sudah memindahkan mulutnya ke area lain yang membuat Shandra berteriak begitu saja.
"Cepat selesaikan, John! Jangan membuatku tersiksa seperti ini." Teriak Shandra.
John yang memdapat kode, segera menghentikan aktifitas mulutnya di tempat yang tadi dan perlahan menarik kepalanya dan menyatukan tubuhnya dengan Shandra.
Shandra menjerit sambil mencakar-cakar pundak John dengan kedua tangannya. John dengan susah payah membobol pertahanan Shandra yang membuat Shandra berteriak dengan kencang. Untungnya kamar itu kedap suara. Grandpa memang sengaja menyewakan kamar VIP untuk mereka.
__ADS_1
John berkeringat ketika pada akhirnya ia berhasil menembus pertahanan yang susah payah diterobosnya. Ia berhenti sejenak untuk menahan gerakannya dan membiarkan Shandra tenang dulu. Ia tahu istrinya pasti sangat kesakitan.
"Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu." Bisik John dengan mesra di telinga Shandra.
"Apa aku boleh melanjutkannya sekarang?" Tanya John ketika ia melihat Shandra sudah mulai tenang.
Shandra menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan John.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Bisik John lagi dan langsung melakukan gerakannya dengan perlahan.
Gerakan John yang seperti itu membuat Shandra hampir gila karena kenikmatan yang diberikan suaminya. Ia semakin kuat mencengkram pundak suaminya.
"John, jangan membuatku tersiksa seperti ini." Kata Shandra dengan suara terbata karena ia merasakan tubuhnya seolah menegang.
"Aku melakukannya dengan perlahan agar kamu tidak tersakiti sayang." Jawab John.
Setelah merasakan istrinya mengalami pelepasan, John menahan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Shandra menarik napas. Setelah itu ia kembali melakukan aksinya dengan sedikit kasar.
Hal ini membuat Shandra kembali berteriak dan lebih kuat lagi mencengkram pundak John. Ia mencakar pundak John tanpa ampun.
Ketika menggerakkan tangannya untuk mencakar pundak John, Shandra tanpa sengaja memegang lengan John yang terluka.
"Arghhhhhhh, sakit sayang!" Gantian John yang berteriak. Ia langsung menghentikan aktifitasnya karena menahan sakit di lengannya.
"Ma..ma..maf!" Ujar Shandra dengan suara terbata menahan gugup dan nikmat di dalam tubuhnya.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1