Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
46. Hobby yang Sama (Part 2)


__ADS_3

Memiliki hobi yang sama itu hal biasa. Tetapi memiliki kepribadian yang sama akan sulit ditemukan walau pada si kembar sekalipun. Karena isi kepala atau pemikiran dan konsep yang dimiliki tiap orang itu berbeda. Mungkin kita dapat mempersatukan sebuah persepsi untuk mencapai kata 'sepakat', tetapi itu tidak berarti bahwa kepribadian kita mulai sejalan.


Eda Sally


*****


Shandra dan John kaget karena mereka sudah ketahuan. Sebelum berbalik, keduanya saling melirik dengan ekor mata dan tanpa hitungan, keduanya melompat masing-masing ke balik tiang rumah yang tidak jauh dari mereka.


Shandra dengan cekatan menembakkan sebuah peluru, yang langsung bersarang di kaki orang itu. Keluhan panjang terdengar keluar dari mulut orang itu, dan ia langsung jatuh terduduk. John langsung menembaknya tepat di dahi ketika ia melihat orang itu masih hidup.


Setelah yakin bahwa suasana sudah aman, John dan Shandra mengendap-endap masuk ke dalam rumah yang mewah itu.


Seorang pelayan wanita yang melihat mereka langsung berteriak histeris karena melihat orang asing yang membawa senjata.


Namun, teriakan itu tidak berlangsung lama, karena di detik selanjutnya, pisau yang berada di pinggang John sudah bersarang dengan manis di leher pelayan wanita itu.


Dengan sigap John mencabut pisau itu dan berlari menaiki tangga menyusul Shandra yang terlihat membuka salah satu kamar dan mengintip.


Ketika John baru saja akan membuka salah satu kamar, tiba-tiba seorang anak buah Espen melompat dari atas dan tubuhnya menimpa John yang langsung terjatuh.


Shandra berlari ke arah mereka dan melayangkan sebuah tendangan ke arah orang yang menindih tubuh John. Orang itu langsung terlempar begitu mendapat tendangan dari Shandra.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Shandra.


"Baik!" Jawab John singkat sambil berdiri kemudian langsung memukul orang yang tadi menindihnya hingga tewas.


Baru saja mereka akan berjalan, sekumpulan pria sekitar dua puluh orang lebih berlari dengan tergesa-gesa menaiki tangga sambil menembak dengan brutal yang membuat semua barang di situ beterbangan.


John dan Shandra segera melompat dan berlindung di balik aneka patung yang berjejer rapi di ruangan paling ujung setelah beberapa kamar itu.


"Jangan keluar. Biarkan mereka menghabiskan peluru dulu." Pinta John pada Shandra.


"Kita tidak bisa terus berdiri diam seperti ini. Keluar dan balas serangan mereka." Jawab Shandra dari balik patung.


"Ok! Bersiaplah honey!" Kata John sambil menganggukkan kepala.


Tanpa hitungan, keduanya melompat keluar dengan serentak, dan tanpa ampun langsung membalas tembakan orang-orang itu. Tidak ada tembakan Shandra maupun John yang meleset. Karena setiap peluru yang keluar, selalu bersarang di tubuh puluhan pria itu.

__ADS_1


Setelah menumbangkan pria-pria itu dengan tembakan mereka, Shandra dan John menarik napas sambil saling menatap satu sama lain.


John berjalan mendekati Shandra dan memeluknya kemudian mencium bibirnya. Shandra tidak menolak ciuman John, tetap mendorong badan John dengan perlahan.


"Apa kau lupa musuh yang sebenarnya belum tertangkap?" Protes Shandra yang langsung berlari menuju ke sebuah pintu dan mendorongnya dengan perlahan. Sementara John berdiri di belakang Shandra sambil mengamati keadaan dan berjaga-jaga. Tak lupa ia memungut beberapa pisau dan tiga pucuk senjata yang masih penuh dengan peluru di tubuh orang-orang yang telah tewas itu.


Saat pintu berhasil dibuka, Shandra kaget karena kamar yang dia buka ternyata adalah sebuah ruangan aula panjang yang masih ada beberapa kamar di sisi kiri kanannya.


Untuk sesaat, Shandra mematung memikirkan rencana selanjutnya. Ia takut ini adalah sebuah jebakan.


"Kamu tetap berdiri di luar dan jangan masuk, karena jika aku terjebak kamu masih bisa menolongku." Usul Shandra pada John.


"Aku tidak mau! Lebih baik terjebak bersamamu daripada nanti aku stress karena takut terjadi sesuatu padamu." Jawab John menolak usulan Shandra.


"Hmmmm! Terserah kamu saja. Ayo masuk!" Perintah Shandra pada John.


Mereka berdua masuk dengan penuh kewaspadaan, karena aula panjang dengan adanya kamar di sisi kiri kanan itu terlihat sepi dan menyeramkan. Shandra tertegun ketika matanya melihat bekas minuman di salah satu meja.


Ia mendekati meja tersebut dan mendekatkan hidungnya pada gelas-gelas itu dan mengendus dengan hidungnya. John hanya melihat dengan bingung apa yang dilakukan Shandra.


"Apa yang kamu temukan sayang?" Tanya John penasaran.


John hanya menganggukkan kepala mendengar apa yang dikatakan Shandra dan segera mengambil posisi seperti yang dikatakan Shandra.


"Sekarang kamu berjalan maju dan buka salah satu pintu kamar itu. Aku juga akan melakukan hal yang sama." Perintah Shandra.


John segera melakukan seperti yang dikatakan Shandra. Untuk hal seperti ini, ia tahu kalau istrinya lebih berpengalaman dari dirinya. Karena itu, ia tidak membantah ataupun bertanya. Walaupun ia pandai beladiri, namun taktik menghadapi musuh secara langsung seperti ini ia benar-benar mengandalkan sang istri.


Shandra yang sudah mendekati pintu, segera memasang telinganya. Seketika wajahnya berubah dengan beringas ketika tanpa sadar ia melihat ke bawah dan matanya menangkap cairan kental yang berada tepat di depan pintu.


Shandra segera berlari ke arah John dan mencolek lengan John kemudian memberi isyarat agar John mengikutinya.


"Aku yakin Espen ada di dalam. Lihat ini!" Ujar Shandra sambil menunjuk apa yang dilihatnya.


"Jangan berbicara terlalu kencang." Protes John dengan suara berbisik.


"Jangan khawatir. Kamar ini memakai peredam suara. Terbukti kalau mereka tidak terganggu sama sekali. Lagi pula, jenis pintu ini meyakinkanku bahwa ruangan ini memakai peredam suara." Jawab Shandra dengan suara normal tanpa berbisik.

__ADS_1


"Bantu aku menembak pintu ini dengan salah satu senjatamu." Pinta Shandra pada John.


"Baiklah! Tapi berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu." Jawab John dengan cemas.


"Apa kau pikir aku mau mati begitu saja? Jangan panggil aku Shandra Wilson jika aku tidak bisa menjaga diriku sendiri." Balas Shandra dengan ketus.


"Aku tahu, sayang! Aku hanya khawatir karena tidak ingin kehilangan dirimu." Jawab John.


Shandra tersenyum menanggapi perkataan John.


"Ok! Begitu aku sudah siap, kamu langsung menembak pintu itu tepat di tempat kuncinya. Setelah selesai, kita dobrak bersama-sama." Ujar Shandra.


John mengangguk mendengar penjelasan John. Begitu Shandra menganggukkan kepala, John langsung menembak pintu itu tepat di tempat kuncinya. Shandra yang sudah mengambil posisi segera menganggukan kepala lagi kepada John.


Dengan gerakan serentak tanpa hitungan, keduanya langsung mendobrak pintu tersebut yang langsung terbuka. Masih dengan posisi tetap memegang senjata dan siap ditembakan, Shandra dan John melompat masuk ke dalam dengan posisi siaga.


Namun, untuk sesaat keduanya tertegun melihat pemandangan di depan mereka. Musik yang sangat kencang membuat orang-orang itu tidak menyadari apa yang terjadi.


Shandra dan John saling berpandangan dengan bingung. Mereka tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan.


Tiba-tiba, ada sebuah teriakan yang menggema.


"Ada penyusup....!"


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Tolong like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2