
Hidup itu terus berjalan. Karena itu tidak patut kita menoleh ke belakang ketika kita sudah mengambil keputusan untuk menatap ke depan. Memang berjalan maju tidaklah gampang, dan banyak rintangan yang harus dihadapi. Tetapi percayalah, tidak ada yang sukar jika kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.
Eda Sally
*****
Hari yang di tunggu Shandra pun akhirnya tiba. Shandra terlihat memeluk papanya kemudian mencium pipinya. Sementara papanya menahan air matanya agar tidak tumpah. Karena Shandra adalah hidupnya sendiri, dan ia tidak rela kalau harus berjauhan dengan putrinya.
Itulah sebabnya ia dulu memasukkan Shandra ke perguruan tinggi agar dady-nya jangan mendesak untuk segera mengirim Shandra ke Jerman.
Tetapi ia sendiri sudah berjanji pada dady-nya, tuan Andre untuk segera mengirim Shandra setelah menyelesaikan kuliahnya agar mengurus perusahaan mereka yang ada di Jerman.
Tuan Wilson terlihat mencium kening putri tunggalnya sambil menepuk bahunya. Ia tersenyum paksa sambil menahan air matanya. Beda dengan Shandra, ia terlihat tegar dan santai. Karena dari kecil ia sudah di didik dengan keras untuk bertahan hidup dalam situasi apapun. Ia memang terlihat sedih, tapi ia tipe orang yang susah mengeluarkan air mata. Gengsinya terlalu tinggi untuk menangis.
"Papa ikut mengantarmu ke bandara sayang." Kata papa
"Nggak usah pa. Lala bukan anak kecil." Kata Shandra menolak.
"Hei gadis kecil! Aku adalah papamu. Jadi wajar aku mengantarmu ke bandara." Kata papa tegas.
Shandra hanya menarik napas. Karena baginya tidak ada untungnya berdebat dengan papa.
Setelah semuanya beres, mereka segera menuju bandara, karena pesawat yang ditumpangi Shandra akan take of pada pukul 11.00 siang.
Terlihat Sakti yang mengemudi, dan di sampingnya duduk tuan Wilson. Sementara Shandra sendiri memilih duduk sendiri di belakang. Ia memang menyuruh papanya duduk di depan karena tidak mau melihat wajah sedih papanya.
"Sudah aku bilang jangan kesini. Buang-buang waktu saja." Gerutu Shandra sambil membuang muka dan melihat keluar.
"Tapi, aku ingin mengantar nona muda ke bandara." Kata Sakti membela diri.
"Iya! Tapi kalau kau kesini, siapa yang mengawasi anak buahmu." Kata Shandra.
"Tenang saja nona muda. Aku sudah melatih Bram selama ini, dan dia bisa diandalkan jika aku tidak ada." Kata Sakti.
"Baguslah kalau begitu." Kata Shandra.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka tiba di bandara. Sakti segera turun dan mengangkat koper yang akan dibawa Shandra. Ia kemudian mendorong koper tersebut menuju pintu masuk untuk chek in.
Tuan Wilson sudah mengusulkan pada Shandra untuk mengambil class bisnis, tapi Shandra lebih memilih class economi karena ingin berinteraksi dengan orang lain. Begitu alasannya. Padahal ia sendiri tidak pernah tersenyum pada orang lain. Aneh kan?
Setelah sampai di pintu masuk, Shandra segera memeluk papanya dan berkata;
"Jaga kesehatan pa. Jangan bekerja sampai larut malam. Jika ada sesuatu yang mengancam, jangan lupa hubungi Lala." Kata Shandra
"Iya sayang. Papa tidak akan bekerja sampai larut. Papa akan jaga kesehatan, dan papa akan selalu menghubungimu." Kata papa
"Janji ya?" Kata Shandra pada papanya seolah ingin diyakinkan.
"Iya sayang. Papa janji." Kata papa Shandra.
Shandra kemudian balik mendekati Sakti dan berkata;
"Tolong jaga papaku dengan baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Dan jangan lupa pengawasannya diperketat." Kata Shandra sambil berbisik.
"Baik nona muda. Akan aku lakukan. Aku akan sering memberikan laporan semua kegiatan kami di sini. Nona muda tidak perlu kuatir." Kata Sakti meyakinkan Shandra.
Setelah selesai berpamitan, Shandra segera melangkah ke dalam untuk chek in. Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk chek in, karena setelah itu ia sudah diarahkan untuk menuju ke ruang tunggu.
Tak lama kemudian, pesawat yang membawa mereka segera lepas landas. Shandra membuka layar monitor di depannya untuk menonton karena perjalanan Indonesia-Jerman membutuhkan waktu 17 jam.
Karena sudah terlalu lama menonton, Shandra hendak mematikan layar monitor untuk tidur. Tapi sebagai seorang mafia yang sudah terlatih, ekor matanya menangkap seorang pria yang memegang pisau sambil mengikuti seorang gadis yang akan ke toilet.
Rupanya kau ingin beraksi di sini. Tak kan ku biarkan kau melakukan niat kotormu. Katanya dalam hati sambil bangun dan pura-pura ke toilet mengikuti pria tersebut.
Begitu sampai di toilet, ia melihat pria tersebut berdiri di pintu menunggu gadis yang ada di dalam toilet sambil memegang pisau. Shandra pura-pura tidak melihat.
Ketika gadis yang di dalam toilet membuka pintu, pria tersebut segera mengarahkan pisau ke perut sang gadis, namun secepat kilat Shandra menendang tangan pria tersebut sehingga pisau yang ada di tangan pria tersebut terpental dan jatuh.
Pria tersebut kaget dengan serangan Shandra yang tiba-tiba. Sementara si gadis akan berteriak, tapi Shandra menaruh jari telunjuknya di bibir agar gadis tersebut jangan berteriak.
Gadis tersebut hanya terpaku di tempatnya dan menutup mulutnya kuat-kuat dengan kedua tangannya agar suaranya jangan sampai keluar. Sementara lututnya tidak bisa diajak kompromi karena sejak tadi sudah saling bersentuhan menimbulkan irama alias gemetar.
__ADS_1
Tanpa memberikan ampun dan kesempatan, Shandra segera melumpuhkan orang tersebut dan menotoknya pada syaraf mati di lehernya yang membuat pria itu pingsan seketika. Shandra segera mengangkat pria tersebut, dan mendudukkannya di dalam toilet.
"Siapa namamu, dan kenapa kau diincar pria itu!" Tanya Shandra pada gadis tersebut.
"Namaku Bernike kak. Dia merupakan rekan bisnis kakakku. Mungkin ia dendam pada kakakku dan ingin membalas dendam, karena kakakku tidak bisa di dekati jadi kemungkinan dia ingin memanfaatkanku." Jawab Bernike.
"Oh, gitu ya. Lain kali kamu harus hati-hati. Bila perlu bawa pengawal kalau ingin bepergian. Itu demi keselamatanmu." Kata Shandra.
"Iya kak. Terima kasih atas pertolongannya. Oya! Nama kakak siapa?" Tanya Bernike sambil tersenyum.
"Shandra." Jawab Shandra singkat.
"Jangan bilang siapapun tentang kejadian ini." Kata Shandra sambil berlalu dan kembali ke tempat duduknya.
Ya ampun, cantik sekali kakak itu. Sudah cantik, pandai beladiri. Sepertinya dia cocok dengan kak Frans. Semoga sampai di Jerman aku bisa bertemu lagi dengannya. Ah bodoh! Kenapa tadi nggak minta nomor telponnya.
Shandra yang sudah kembali ke tempat duduknya, langsung tidur, karena perjalanan masih 11 jam lagi. Matanya terpejam, tapi pikirannya melayang kepada kejadian yang baru saja terjadi di toilet.
Andaikan aku tidak bergerak dengan cepat, gadis itu tentu menjadi korban. Untung aku memilih class economi. Jika tidak entah apa yang terjadi.
Shandra segera tertidur. Ia bangun ketika ada pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat akan landing. Shandra segera bersiap-siap untuk turun. Ia tidak perlu kuatir karena grandpa dan grandma-nya langsung menjemput di bandara. Katanya sudah rindu dengan cucu satu-satunya.
Ketika Shandra keluar dari pesawat, ia mendengar ribut-ribut dari dalam yang mengatakan bahwa ada pria yang ditemukan pingsan di dalam toilet.
Untung pisaunya sudah aku amankan.
Bersambung
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. Salam sehatππππ